Suatu Siang di Kota Tangan Terlempar

Malam telah turun, kabut yang ditiup angin tampak melayang. Permukaan air Sungai Scheldt yang bergoyang menampakkan pantulan sinar rembulan yang berpedar malu-malu. Di keremangan, duduk seorang raksasa di bawah pohon maple dekat dermaga kecil di pinggir sungai yang terletak di depan sebuah kastil yang tidak terlalu megah. Memiliki leluhur dari Rusia, raksasa yang bernama Druoon Antigoon itu dianugerahi raut muka yang aneh, secara alami berkesan kejam dan pemarah, dengan rahang kotak yang keras dan jidat yang lebar, dan sorot mata kelabu yang penuh rahasia. Kulitnya pucat, kasar dengan bulu yang serabutan. Tangannya besar, penuh otot dan bekas luka sayatan. Di genggamannya ada pedang, yang sepertinya dibuat dengan kasar, bukan seperti pedang para ksatria yang halus dan indah. Pedang itu penuh bercak gelap, dan kemungkinan besar, telah sering digunakan.

Mata si raksasa Antigoon tak henti mengawasi alur sungai yang mengarah ke pemukiman penduduk di ujung sungai sana. Gelisah, seringkali terlihat ia bersumpah serapah. ”Sudah berhari-hari dan tak ada kapal yang lewat. Sial!”, ia menggerutu lagi dengan raut muka semakin masam. Berkata-kata sendiri bahwa kesialannya ini barangkali ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu saat ia merampok dan kemudian memotong tangan seorang pedagang Romawi dari Brabant, kota kecil yang terletak tak jauh di utara.

Tiba-tiba terdengar suara air permukaan sungai yang pecah. Bayang-bayang memanjang mulai tampak. Rupanya ada kapal kecil yang membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari penduduk kota akan merapat ke dermaga kecil tempat ia menunggu. Sontak raut muka Antigoon berubah menjadi cerah. Ia bangkit dan menyeringai kejam.

***

Bukan seringai yang saya lihat di muka Prof. Hubeau, seorang guru besar Sosiologi dari University of Antwerp yang hari itu menjadi guide wisata dadakan. Melainkan senyum hangat yang ditujukan kepada kami, para peserta pelatihan tentang Land Management dari KU Leuven yang sedang studi ekskursi ke Antwerp. Antwerp, kota yang terletak sekitar 56 kilometer di utara Brussels, Belgia.

Saat itu kami sedang berada di MAS (Museum aan de Stroom) yang terletak di Port Antwerp. Bangunan unik setinggi 60 meter ini merupakan museum terbesar di Antwerp yang memiliki koleksi sekitar 500.000 buah, yang mencerminkan sejarah kota Antwerp. Berisi koleksi seperti lukisan, memorabilia, dan benda-benda antik yang berharga sejak zaman pendudukan Gallo-Romawi, ekspansi Spanyol, kedatangan kaum Yahudi Eropa, pendudukan Perancis, Jerman dan Belanda, sampai saat ini di era perdagangan berlian yang menjadi primadona.

Di lantai tertinggi museum, Prof. Hubeuau bercerita bahwa bagi sebagian turis, Antwerp adalah kota besar terindah di area Flanders (area yang penduduknya berbahasa Belanda), di negeri Belgia. Kota ini, yang juga kota terbesar kedua di Belgia setelah Brussels, adalah kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa Barat setelah Amsterdam. Jadi, kehidupan kotanya ditopang oleh perdagangan dan lalu lintas barang. Terutama lewat Sungai Scheldt yang membentang sejauh 350 kilometers dari dataran tinggi Perancis dan bermuara di North Sea.

Sambil mendengar tuturannya, saya melihat sekeliling dari ketinggian. Memandang kagum scenery kota Antwerp dan lanskap atap bangunannya yang indah. Tampak menara gereja Cathedral of the Virgin Mary Antwerp dan bangunan penting seperti City Hall menonjol menjulang. Mempesona, apalagi jejeran kapal-kapal di sepanjang Sungai Scheldt yang membelit kota, berjejer rapi dan menjadikan lanskap unik yang jarang ditemukan di belahan Belgia yang lain.Saya membatin, ini memang konsep pembangunan river-front city yang diterapkan dengan baik.

Kami tidak lama di situ karena perjalanan berlanjut ke sudut lain Antwerp. Jika di Eilandje Quarter yakni di Port Antwerp dan MAS kita terutama melihat konservasi dan tata kota, bangunan dan benda-benda, maka di area Central Station kita melihat sisi lain Antwerp, yakni pluralisme yang hidup dan menyatu dengan keseharian kota. Tepatnya antara penduduk lokal Flanders yang mayoritas Kristen dan kaum Jewish (Yahudi). Kawasan sekeliling Antwerp Central Station adalah kawasan Jewish. Ditandai dengan banyaknya sinagoga, restoran dan sekolah khusus Jewish, dan seringnya kita melihat mereka lalu-lalang dengan pakaian hitam-hitam pekat. plus topi dan rambut dikuncir bagi kaum laki-lakinya.

Menurut Prof. Hubeau, Antwerp adalah kota di Eropa dengan kaum Jewish terbanyak. Saat ini ada sekitar 15.000 orang, dan mayoritas dari mereka adalah kaum Jewish Haredi, yang walau masih ortodoks tapi lebih moderat, dan sisanya adalah Jewish Hasidim yang ultra-ortodoks. Mereka masih mempraktekkan tradisi kehidupan kaum Jewish yang relatif otentik, namun dengan gaya tersendiri sehingga mereka disebut secara khusus yakni “Jewish Antwerp” atau dalam bahasa Belanda-nya “Joods Antwerpen”.

“Kami sudah lama berinteraksi, sejak awal abad 16. Jadi walau pada awalnya sering terjadi pertikaian, karena perbedaan ideologi, gaya hidup, dan yah, karena eksklusivitas mereka, itu tidak menjadikan  mereka musuh,” tuturnya.

Walaupun apolitis, kaum Jewish mendominasi sektor perekonomian di Antwerp. Mereka memiliki toko-toko berlian di tengah kota yang terkenal sebagai pusat jual beli berlian berkualitas tinggi di Eropa. Toko-toko berlian bertaburan di sekitar stasiun seperti di Pelikaanstraat. Saya yang yakin harga berlian tersebut pasti selangit, hanya bisa melongok dari kaca luar karena hari itu adalah Hari Sabtu, yang menurut kepercayaan mereka adalah Hari Sabat yang dikhususkan bagi Tuhan saja, sehingga kegiatan lain selain keagamaan dikesampingkan.

Bagi saya, yang menarik bukan hanya keindahan berlian mereka. Tetapi bagaimana pemerintah kota Antwerp yang didominasi mayoritas Flemish saat ini berhasil mengatur kehidupan masyarakat yang heterogen ini tanpa adanya gejolak yang berarti. Mengingat pengaruh ekonomi kaum Jewish yang besar, agaknya yang menjadi benteng utama pluralisme itu adalah ekonomi kota yang stabil. Ini tersirat dikatakan Prof. Hubeau. Walau Belgia secara politik rentan karena segregasi regional yang menajam antara komunitas Flanders (komunitas penduduk berbahasa Belanda) di utara, dan minoritas Wallonia (penduduk berbahasa Perancis) di selatan, serta komunitas East Cantons di Liege yang berbahasa Jerman di tenggara Belgia, situasi di Antwerp seakan-akan tidak terpengaruh.

Tak terasa sudah lepas tengah hari dan perut pun lapar. Seakan ingin menegaskan semangat keberagaman yang sudah jadi keseharian, kami dibawa ke restoran Portugis di daerah yang dikenal sebagai “immigrant corner” atau “Borgerhout”, yang menjadi tempat bermukim sekitar 30.000 imigran. Saya lihat di area tersebut, suku bangsa membaur. Ada wajah Eropa Timur, seorang pria berambut pirang duduk dan tertawa-tawa dengan seorang pria lain berwajah Arab dan seorang wanita Belanda. Lalu lewat seorang wanita Timur Tengah yang berjilbab hitam menyeberang jalan. Dan di dalam restoran, percakapan dalam bahasa Portugis bercampur dengan bahasa Belanda. Memang menurut statistik tahun 2010, 36% warga Antwerp adalah imigran dari seluruh pelosok dunia.

Kami disajikan menu Cozido A Portuguesa, makanan ala Portugis dengan pork, dan sayuran seperti sawi asin, dan nasi yang pulen ditaburi kuah seperti kanji. Musah, seorang teman Muslim dari Kamerun, hampir saja kecolongan dengan menu itu. Untunglah ketika menu datang, Prof. Jos dari KU Leuven yang mendampingi kami iseng bertanya siapa diantara kami yang memiliki pantangan terhadap makanan tertentu karena alasan agama atau kesehatan. Musah langsung curiga dan bertanya-tanya. Akhirnya dia hanya makan ayam goreng biasa. “Untunglah, tadi itu hampir saja,” dia berkata sambil tertawa lega.

Selepas bersantap, sebelum melanjutkan perjalanan kembali, Prof. Hubeau berkata, “Sekarang kita akan pergi ke Historich Centrum, tempat yang paling disukai turis dan paling banyak toko suvenirnya”. Dia bercerita bahwa area inilah destinasi utama turisme di Antwerp dan menjadi meeting point penduduk Antwerp. Belum sah datang ke Antwerp jika belum ke Historich Centrum.

Grote Markt (main square) tak bisa dipungkiri adalah daya tarik utama di Historich Centrum, terutama karena area terbuka ini dikelilingi oleh banyak bangunan dengan arsitektur yang klasik dan indah. Dan ciri khas bangunan-bangunan tersebut adalah adanya dinding di muka rumah dengan kayu palang yang menjulang ke atas. Saya jadi ingat kota-kota di Jerman, terutama di daerah Muenster, North Rhine Westphalia, tempat saya menyelesaikan studi dulu. Bisa jadi, pengaruh Prussia juga masih tersisa di Antwerp. Salah satunya Stadhuis (City Hall), dibangun sekitar pertengahan abad ke-16 oleh arsitek Flemish Rennaissance yakni Cornellis Floris de Vriendt. Keindahan gedung Stadhuis ini terutama karena menaranya yang menjulang, dipadukan dengan logo dan lambang berwarna emas, serta bendera yang banyak dipasang.

Suasana cerah sore itu tampak membuat semua orang bergembira. Para seniman jalanan, baik yang necis dengan jas dan piano, maupun yang agak kumal dengan gitar butut, tampak bersemangat bersenandung untuk mengais rejeki dari para turis. Pada suatu waktu lain, saya melihat gadis-gadis berpakaian tradisional datang dengan kereta kuda, lalu menari-nari dengan ceria dan penuh tawa. Suasana sontak menjadi riuh.

Jika ingin menyewa sepeda untuk menjelajahi kota, kita dapat menghubungi bagian informasi yang terletak di dekat Grote Markt itu. Atau jika ingin bersantai sejenak, banyak kafe dan restoran di seputaran Grote Markt. Ada juga makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Papan daftar menu dipasang dengan provokatif, menggoda turis untuk singgah. Saya tak melewatkan kesempatan singgah di Irish Pub, untuk menyegarkan tenggorokan dengan minuman dingin. Saya pernah baca, alasan Irish Pub begitu marak dan terkenal dan hampir ada di tiap kota besar di Eropa adalah karena selain suasana yang dibuat nyaman dan bersahabat, orang Irlandia dikenal sebagai perantau yang melankolis, senang bernostalgia tentang tanah air Irlandia nun jauh di sana, dan karena itulah mereka selalu butuh tempat berkumpul dimanapun mereka berada. Jadi tak heran, dimana ada perantau-perantau Irlandia, pasti ada Irish Pub.

Selain City Hall, landmark kota yang lain adalah Katedral Santa Perawan Maria (Catedral of the Virgin Mary) yang terletak tak jauh dari Sungai Scheldt. Bangunan bergaya gothic ini mulai dibangun pada tahun 1352, dan baru selesai setelah 229 tahun kemudian di tahun 1521. Suatu periode panjang hanya untuk mendirikan sebuah bangunan. Dan itupun, menurut brosur wisata yang saya baca, masih ada yang kurang sempurna dari pembangunan gereja itu. Menaranya baru satu yang jadi dari dua buah yang direncanakan semula. Keindahan gereja ini, adalah pada arsitekturnya yang menjulang tinggi, ciri khas bangunan gereja di Eropa Barat. Saya ingat Gereja Koln yang juga berarsitektur sama, dan Gereja Squadra La Familia di Barcelona yang tidak kunjung selesai dibangun yang saya datangi tahun lalu. Di dalam gereja ini juga terdapat karya unik yakni tripthych (lukisan altar yang umumnya terdiri dari tiga panel) dan lukisan indah seperti The Resurrection of Christ (Kebangkitan Kristus) karya pelukis ternama Antwerp, Pieter Paul-Rubens yang terkenal dengan gaya Barock-nya.

Namun, dari semuanya itu, ada suatu monumen yang tampak ikonik tepat di depan City Hall. Patung seorang pria hijau yang sedang mengayunkan tangan, seakan-akan sedang melemparkan sesuatu. Siapa dia, dan mengapa dia dimonumenkan di situ?

***

Seringai si raksasa Antigoon menghilang ketika kapal tersebut merapat ke dermaga. Berganti dengan raut muka kejam tanpa belas kasihan. Dengan berteriak ia memanggil si pemilik kapal untuk keluar. Rupanya Antigoon berniat merampok isi kapal tersebut. Namun ia tidak tahu, kapal tersebut sesungguhnya kapal yang berisi seorang Jenderal Romawi, Silvius Brabo, seorang teman dekat Caesar, penguasa Kota Brabant dan ketujuh anak buahnya yang sengaja datang untuk menumpasnya. Kabar adanya raksasa perampok di Sungai Scheldt yang telah memotong banyak tangan penduduk telah mengusik sang penguasa.

Tiba-tiba dari dalam kapal, Brabo, dengan pedang terhunus melompat dan menyerang.  Pedangnya mengayun keras ke arah leher Antigoon. Namun dengan gampang Antigoon yang memang sangat kuat menepiskan serangan itu dengan pedangnya. Brabo terhuyung. Salah satu anak buah Brabo, Aleyns, kemudian mengambil busur dan memanah Antigoon tepat di lehernya. Antigoon sempoyongan, namun ia semakin marah dan masih sempat membanting dua anak buah Brabo yang lain dan melukai sisanya dengan pedang sebelum terjatuh. Melihat kesempatan itu, Brabo langsung melancarkan serangan. Diayunkan pedangnya tepat ke dada Antigoon. Darah menyembur seketika, namun Antigoon masih mencoba berdiri. Namun tak lama, si raksasa ambruk dan tewas. Membalaskan tindakan Antigoon sebelumnya, Brabo kemudian memotong pergelangan tangan Antigoon dan melemparkannya ke Sungai Scheldt. Dan ia berkata,”Kota ini sudah bebas dari Si Jahat sekarang, dan setiap orang dan penduduk kota, dapat berdagang dan hidup dengan bebas”.

***

Dan demikianlah, ujar Prof. Hubeau sebagai penutup tur singkat itu, bahwa patung pria hijau di tengah fountain (air mancur kecil) yang sedang berpose melempar sesuatu itu adalah monumen perunggu yang menggambarkan legenda Brabo saat menumpas kejahatan raksasa Antigoon, dibangun oleh  pematung Jef Lambeaux tahun 1887. Tambahnya, jika ingin melihat potongan tangan yang terlempar, kita dapat melihatnya di Meir Square dan di Central Station. Hanya saja, yang di stasiun posisinya menengadah ke atas dan dinamai “Peaceful Hand” atau tangan damai.

Terlepas dari kebenarannya, sebagian percaya bahwa Antwerp beroleh nama dari peristiwa itu: Ant berarti tangan, Werpen berarti melempar.  Jadi, dengan cerdas, legenda itu dikemas sebagai asal muasal Antwerp, dengan Brabo sebagai pendiri kota Antwerp (walau nama Brabo sebenarnya telah terlebih dulu diabadikan sebagai nama kota tetangga yakni Brabant), dan monumen itu sebagai lambang kebebasan, termasuk kebebasan berdagang dan berkehidupan di kota Antwerp. Saya lalu berpikir, barangkali mitologi Brabolah yang sesungguhnya menjadi  inspirasi dan zeitgeist (semangat zaman) kota Antwerp dalam menata kehidupan bermasyarakatnya. Mitologi memang dapat dijadikan ikon kota sekaligus pemanis pariwisata disuatu kota. Bagi pengunjung, lebih mudah mengingat sejarah yang dibalut mitologi daripada sejarah kota yang biasa-biasa saja.

Dari patung Brabo, kami lalu menuju tepi Sungai Scheldt. Ingin melihat tata sungai yang rapi di sepanjang esplanade-nya. Namun yang kami lihat justru pesta kaum homoseksual di sebuah kapal pesiar yang sedang berlabuh. Ada bendera pelangi di buritan kapal. Dalam hati saya membatin, kebebasan berekspresi seperti ini barangkali juga salah satu buah dari kultur kota yang dinamai “potongan tangan yang dilempar ke sungai” ini. Tidak akan ada yang seperti itu agaknya, andai yang menang dalam pertarungan adalah Si Raksasa Druon Antigoon. 

Dimuat di Koran Tempo Minggu, 17 November 2013

Hidupku lautku

Entah berapa orang yang kenal Tarempa, ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas, di Kepulauan Riau. Kampung kecil di Pulau Siantan, tak layak ia disebut kota. Sembilan jam perjalanan memakai kapal cepat dari Tanjungpinang. 24-30 jam pakai kapal perintis.

Ia pun hanya segaris lengkung di teluk yang kecil di bagian utara pulau, dengan rumah-rumah yang didirikan di pinggir laut. Hidup dari laut, hidup dengan laut, hidup di tepi laut.

Hasil laut adalah kebanggaan, melimpah tapi tak semua murah. Lebih menggiurkan dijual ke luar. Cumi murah, tapi kenapa udang mahal? Dan transportasi laut ternyata susah, dari Jemaja ke Tarempa, dari Tarempa ke Bunguran, Natuna hanya terbatas.

Orang laut, hidup bersama laut, pelan-pelan lebih mencintai darat. Gagahnya nenek moyang mereka di Gunung Kute, Pulau Matak sebagai penjelalah lautan Cina Selatan, dah hei.. mereka juga bajak laut, lanon dari Campa, beraksi Selat Malaka dan Selat Karimata di abad ke 15, serasa tak bersisa. Jalan raya dibikin di atas air, menyusur pinggiran agar lebih mudah berpergian dengan motor roda dua. Tak ada tempat untuk roda empat. Bukit hijau ditebas guna membikin akses jalan raya.  Biaya rumah mahal, setahun kontrak rumah dua kamar di bawah batu gunung pun 25 juta. Bikin rumah, hanya sepetak ratusan juta.

Sinyal selular mati hidup.

Dan lalu di ujung hari, saat duduk minum kopi dan makan mi Tarempa di pinggir laut, saya berpikir, apa yang membuat mereka bertahan, apa yang membuat sore dan pagi hari semarak dengan orang lalu-lalu menikmati pinggir laut, sebagian memancing ikan tamban, apa yang membuat tengah malam warung kopi di pasar tetap ramai dan hangat, dan bahkan membuat pendatang berdatangan di kepulauan yang dijuluki Raja Ampat dari Barat ini?

Saya yakin, ada sesuatu, yang tak terjangkau bagi saya orang asing yang naif, itu lebih dari hanya sekedar sinyal yang mati hidup. Dapatkah anak-anak kecil di Pasir Peti ini menjawabnya?

Anak di Tarempa

Tarempa, 22-25 Maret 2014

Terima kasih

Bapa di surga yang baik,
terima kasih
Saat ini Engkau beri hadiah hari jadi pernikahan kami yang menakjubkan.
Kesempatan menjadi pengantar seorang manusia kecil citra diri-Mu,
Ialah penyertaan ilahi yang sungguh terasa dalam hidup kami.

Semoga Engkau berkenan menolong kami, melindungi dia
Dalam mencintai dan menjaganya, sekarang, dalam lahirnya nanti, dan selamanya..
Memberikan orang-orang yang baik.

Hingga ia tumbuh sehat selalu, sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya.
Dan kami,
dapat mendampinginya sekuat jiwa raga kami.

Kami bertiga, engkau bertiga, kasihanilah kami. Yang lemah ini.

Amin.

Bogor, 2 Januari 2014

Antara Pototano dan Tongo

Seperti gadis yang telah dipinang. Molek berhias emas, tersembunyi di selimut hijau gunung dan hutan, di pedalaman biru laut dan pantai di pantai selatanmu.

Tapi siapa yang mendapatkanmu? Kegairahan apa yang kau bawa kepada mereka yang tak peduli apapun selain persinggahan karena emas?

Sumbawa Barat, 9-13 Juli 2012

Senja di Esplanade Sungai Sarawak

Subuh yang berkabut mengepung Entikong, Kalimantan Barat, pada pengujung April lalu. Meski hari masih prematur, suasana di gerbang Pos Pemeriksaan Lintas Batas telah ramai oleh ratusan orang yang hendak masuk ke Sarawak, Malaysia. Mereka sudah antre di pintu masuk, yang biasanya baru dibuka pada pukul 05.15. Kebanyakan adalah pekerja perkebunan kelapa sawit.

Saya juga antre. Bukan untuk mencari kerja, tapi hendak melancong ke Kuching, ibu kota Sarawak. “Ape you nak buat di Kuching? Berape lame?” tanya petugas imigrasi perbatasan Malaysia saat memeriksa paspor saya. Setelah saya menjawab hanya untuk berwisata, paspor langsung dicap visa social visit selama 14 hari. Separuh lebih singkat dari visa sejenis dari Singapura.

Rampung dengan urusan imigrasi, saya melanjutkan perjalanan dengan bus Eva, yang bernomor polisi Malaysia. Bus berpenyejuk udara yang membawa saya dari Pontianak, Kalimantan Barat, sejak semalam itu melaju di atas jalan beraspal mulus. Lalu lintas masih sepi. Hanya satu-dua mobil yang lewat. Sepeda motor tidak terlihat sama sekali.

Entikong-Kuching akan ditempuh sekitar dua jam. Deretan pepohonan dengan latar belakang perbukitan mendominasi awal perjalanan. Sinar matahari pagi mulai menyirami kanopi pepohonan yang masih bersaput kabut. Indah, khas pemandangan hutan hujan tropis.

 

*****

Awalnya, Sarawak adalah wilayah jajahan Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-15, saat pengaruh Majapahit pudar, Islam masuk ke sana lewat Kerajaan Brunei, yang kembali berkuasa. Dan masuk pula pengaruh Melayu dari pesisir timur Sumatera.

Atas pengaruh Inggris, Kesultanan Brunei kemudian menyerahkan Kota Kuching kepada seorang eks tentara Inggris, James Brooke. Ini adalah hadiah karena Brooke berjasa memadamkan pemberontakan penduduk lokal di Sarawak. Brooke kemudian diangkat menjadi Gubernur Sarawak. Bahkan, pada 1841, ia diberi wewenang menjadi penguasa penuh Sarawak dengan mendirikan dinasti, yang oleh bangsa Melayu disebut sebagai Dinasti Rajah Putih (1841-1946)–yang berarti “raja berkulit putih”.

Sungai Sarawak yang membelah Kuching merupakan urat nadi perkembangan kota itu serta menjadi pusat kegiatan dan perdagangan masyarakat. Di Kuching, para pedagang Cina banyak berdatangan, berbaur dengan penduduk asli Borneo, yakni Dayak di pedalaman (Bidayuh, Iban, Orang Ulu) yang masih berkerabat erat dengan Dayak di Kalimantan Barat, serta Melayu dari kesultanan-kesultanan di daerah Semenanjung Malaysia.

Nama Kota Kuching diperkirakan berasal dari pohon mata kucing yang banyak tumbuh di pinggir Sungai Sarawak. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kata “kuching” berasal dari cochin, kosakata India, yang berarti pelabuhan. Itu merujuk pada daerah yang mulai berkembang saat itu. Perantau India diduga datang paling awal dan ikut mendirikan kota ini.

Tapi, dari mana pun asalnya dan tanpa perlu ada kaitan nama Kuching dengan hewan kucing, saat ini pemerintah Sarawak dengan pintar memanfaatkan nama ibu kotanya itu menjadi brand name wisata. Mereka menggaungkan slogan yang menyebutkan bahwa Kuching adalah city of cats atau the world’s capital of cats. Juga dengan mendirikan Museum Kucing, memasang patung kucing di berbagai sudut kota, serta membuat berbagai ragam suvenir berbentuk atau bergambar kucing.

Kuching adalah kota yang lengang. Kesan kedua, kota ini sangat menghargai pluralisme. Tulisan Cina dipampang bersanding dengan Inggris dan Melayu hampir di mana-mana, termasuk untuk nama toko.

 

*****

Sesampai di terminal yang tidak besar, hanya setengah lapangan sepak bola, saya dijemput Peter House, anak pemilik homestay yang akan saya tinggali di daerah Taman Timberland. Dalam perjalanan, saya bertanya tentang penyebab sedikitnya sepeda motor di jalan. Ia menjawab sambil tertawa. Katanya, Pemerintah Kota Sarawak “agak gila” dengan memberikan pajak tahunan yang sama antara motosikal (sepeda motor) dan kereta (mobil). Itu membuat penduduk enggan memiliki sepeda motor dan lebih memilih mobil.

Saya akan tinggal di homestay dengan tarif 40 ringgit (sekitar Rp 120 ribu) semalam. Rumah penginapan Peter telah menjadi favorit bagi orang-orang Pontianak yang akan berwisata di Kuching ataupun berobat di sejumlah rumah sakit yang banyak tersebar di sana, seperti Timberland Hospital, Normah Medical Specialist Centre, dan Sarawak General Hospital.

Setelah sarapan di sebuah warung di dekat penginapan, hari itu saya berniat menjelajahi kota. Peter mengusulkan dua lokasi: Damai di Santubong dan Kuching Waterfront di pusat kota (bandar raya, dalam bahasa Malaysia).

Damai, berjarak sekitar 35 kilometer arah utara dari pusat kota, merupakan tujuan wisata terpopuler saat ini di Sarawak. Saya ke sana dengan menggunakan taksi. Sopirnya, Lua, seorang Cina Hakka (Khek), subetnis yang juga banyak bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat, berbicara dalam bahasa Melayu berlogat Cina.

Dalam perjalanan, Gunung Santubong tampak menjulang. Gunung setinggi 810 meter di atas permukaan laut itu terlihat dominan karena merupakan satu-satunya tempat tertinggi di daerah utara Sarawak yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Nama Santubong, gunung yang merupakan tempat suci suku Dayak Iban di masa lalu, berasal dari kata si-antu-bong, yang berarti kapal para roh (bong = kapal, antu = roh). Ia akan membawa roh dari orang mati ke dunia lain.

Setelah mengitari Santubong, Lua membawa saya masuk ke Damai Resort. Kawasan wisata Damai itu sudah dimiliki dan dikelola oleh swasta. Agar bisa masuk, pengunjung perlu merogoh kocek 3 ringgit (Rp 9.000) dengan imbalan bonus teh botol Sarawak. Resor itu merupakan tempat favorit turis-turis bule menginap. Tersedia homestay dengan harga bervariasi, dari 120 hingga 300 ringgit (Rp 350–900 ribu).

Jika para pengunjung ingin berjemur di pantai dan mandi di laut, mereka hanya perlu berjalan sebentar. Dan, bila mereka ingin mandi air tawar, tersedia kolam renang. Tampak beberapa pengunjung berenang agak ke tengah laut, sebagian berjemur di bawah pohon kelapa, sebagian lagi bermain banana boat. Bagi pengunjung resor yang ingin beraktivitas di luar ruang, tersedia fasilitas jungle trekking ke Gunung Santubong. Tersedia rute-rute dan pemandu.

Saya hanya duduk di bawah pohon kelapa, menikmati embusan angin. Bagi saya, suasana dan pantai di sana masih kalah eksotis dibanding pantai di Gili Trawangan, Lombok. Pasirnya juga kalah putih. Airnya tak begitu biru. Tapi yang membuat saja kagum adalah penataan ruang yang bagus dan fasilitasnya lengkap. Yang dijual bukan hanya pesona alam, tapi juga kenyamanan pengunjung.

Itu juga yang ditawarkan Sarawak Cultural Village, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Damai Resort. Di area seluas 17 hektare itu, pengunjung bisa menyaksikan kehidupan tradisional dan keseharian suku-suku yang mendiami Sarawak, seperti Bidayuh, Orang Ulu, Iban, Melayu, dan Cina. Terdapat sekitar 200 orang yang tinggal di wilayah itu. Mereka mengelola tujuh rumah tradisional, bercocok tanam, berpakaian adat, serta mengerjakan kerajinan tangan tradisional yang juga dijual kepada turis. Juga terdapat pertunjukan dan tarian adat yang mereka bawakan. Ya, seperti Taman Mini Indonesia Indah, hanya ini lebih berfokus pada etnik.

 

*****

Sekitar pukul 14.00, Lua mengantar saya ke Kuching Waterfront. Kawasan wisata favorit itu terletak di tepi Sungai Sarawak. Lapangan terbukanya (esplanade) ditata dengan rapi, menghadap ke arah matahari terbenam. Di latar belakangnya tampak astana (istana) yang beraksen Melayu dan Fort Margherita yang bergaya kolonial Inggris.

Astana yang dibangun oleh Charles Brooke (penerus James Brooke) pada 1870 itu adalah bekas kediaman penguasa Rajah Putih, yang kini menjadi kediaman resmi Yang Dipertuan Agung Sarawak. Anak-anak muda yang bermain bola dan keluarga muda dengan anak kecil yang bermain gelembung menghiasi esplanade yang diteduhkan oleh jajaran pohon. Suasana begitu hidup. Jika ingin mengunjungi Astana dan Fort Margherita di seberang sungai, kita dapat menaiki kapal klotok dengan biaya 0,5 ringgit (sekitar Rp 3.000).

Di suatu sudut, saya menjumpai seorang seniman dari suku Iban, dengan tubuh penuh tato, sedang memetik sape (gitar tradisional suku Dayak) dengan merdu. Melodi yang dia nyanyikan lembut mengiringi sore. Tak terasa, memori saya melayang ke suasana pedesaan kampung Dayak yang damai. Jika pengunjung ingin membeli suvenir Sarawak, di kawasan Waterfront inilah tempat yang tepat. Jejeran toko menjual segala jenis cendera mata, dari kaus bermotif Sarawak, tas kucing, gantungan kunci kucing, kain batik Dayak, sampai lada hitam dan teh khas Sarawak.

Berada di kawasan Waterfront, saya kembali merasa iri. Negara bagian yang juga tetangga Pontianak ini bisa “merayakan sungai” dengan pengelolaan sangat baik. Di Indonesia, begitu banyak kota yang dibesarkan dan tumbuh di pinggir sungai, misalnya Banjarmasin, Palembang, Tangerang, dan Pontianak, tapi hampir tak ada yang menjadikannya aset wisata kota nan nyaman dan murah meriah seperti di Kuching Waterfront ini.

Tapi saya malas memikirkannya. Saat ini saya hanya ingin menunggu matahari terbenam berlatar kubah Astana yang tampak megah.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu 27/5/2012

Pantai yang punya dua matahari

Hanya nama besar pantai pasir putih, sungai hijau dan goa alam? Di selatan Jawa, ujung Ciamis, di Pananjung-Pangandaran, ancaman tsunami beradu dengan peluang wisata yang naik turun. Sementara, paduan budaya malu-malu Jawa dan Sunda menunggu di wilayah yang berarti “tanah di mana orang-orang akan datang mencari penghidupan”

Pangandaran, 3-6 April 2011

--

Menelusuri goa-goa Pangandaran

Berkunjung ke Pangandaran? Segera yang terbayang adalah pantai. Destinasi wisata andalan Kabupaten Ciamis yang terletak 222 km menuju tenggara Bandung ini memang dikenal dengan pantai landai yang indah memanjang dan ombar yang berdebur tiada henti di Laut Selatan Jawa. Kawasan wisata ini menyediakan segala keasyikan wisata air seperti berenang di pantai, bermain ombak dan luncuran yang pasti menyenangkan, naik kapal mengelilingi pesisir Cagar Alam Pananjung-Pangandaran, menyewa banana dan termasuk menikmati pesona matahari terbit dan matahari terbenam di kawasan pantai yang berdekatan. Yang terakhir ini, dimungkinkan karena Pangandaran mempunyai tanjung menyerupai buah menggantung, sehingga terbentuk dua pantai, dengan arah hadap yang berbeda:   Pantai Timur dengan pemandangan matahari terbitnya, dan Pantai Barat dengan matahari tenggelamnya. Tapi apakah hanya itu yang dimiliki Pangandaran, tanah yang sering disebut Tatar Sunda Selatan yang paling barat?

***

Angin pantai selatan Jawa tidak terlalu kencang di pagi akhir Maret 2011 ini. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh. Hujan yang turun tiba-tiba membuat saya bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Lalu berlari untuk berteduh di pondok makan di ujung Pantai Barat itu. Tidak jauh, sekitar 5 meter di hadapan saya ada gerbang Cagar Alam Pananjung.

Di dalamnyalah tujuan hari ini: goa-goa alam Pananjung. Kemarin Green Canyon di Sungai Cijulang (30 km dari Pangandaran) sudah membius saya dengan lembah sungai hijau toskanya yang eksotis. Kini, rasanya pas juga keluyuran di goa-goa alam yang kabarnya sering dijadikan lokasi syuting film, yang kaya kisah religious dan juga mistis, serta memiliki bentukan alam yang aneh-aneh.

Pada tahun 1922, Residen Priangan  itu waktu itu, Mister Everen, menghendaki adanya suatu wilayah perburuan. Maka tanjung di selatan Ciamis lalu ditanami berbagai jenis tumbuhan dan dimasukkan berbagai jenis hewan seperti rusa, banteng, monyet, burung. Sebagai hasilnya, saat ini kawasan tersebut menjadi sangat hijau dengan pepohonan yang lebat, dan dihuni oleh berbagai hewan seperti rusa, lutung, monyet dan banteng (walau yang terakhir ini sudah beberapa lama tidak terlihat lagi keberadaannya).Selanjutnya, melihat keragaman flora dan fauna di dalamnya, apalagi sejak ditemukan Bunga Raflesia Padma, maka pada tahun 1961 daerah tersebut menjadi Cagar Alam Pananjung dengan luas 530 hektar. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Alam seluas 37.70 hektar.

Udara membiaskan cahaya matahari yang dibalut bekas hujan. Suara monyet ekor panjang yang sedang bermain di pantai Cagar Alam Pananjung terasa dominan. Ditemani seorang pemandu lokal, Sudi, saya memulai perjalanan ke dalam cagar alam melalui Taman Wisata. Sebenarnya saya lebih suka menjelajah tanpa pemandu, lebih menantang. Apalagi letak goa-goa tersebut juga dipetakan dalam denah sederhana di pintu masuk. Tapi kali ini saya berpikir bahwa Pangandaran dan goa-goa alamnya pasti akan berbeda jika diceritakan oleh penduduk lokal, yang tinggal dan berinteraksi dengan segala yang ada di situ. Kekhasan suatu daerah akan terungkap lewat cerita-cerita yang berbeda dengan yang beredar, jauh lebih kaya (baca: penuh bumbu cerita), dan menarik. Sudi meminta 60 puluh ribu rupiah untuk jasanya mengantar pengunjung berkeliling. “Saya pemandu bersertifikat, dari Dinas Arkeologi waktu mengikuti pelatihan guide pariwisata Pangandaran Juni tahun lalu“, katanya meyakinkan saya.

Sudi adalah pemuda Sunda berusia sekitar 25 tahun. Berbadan tegap, agak pendek dan berkulit gelap terkena matahari. Ia tinggal di Pantai Timur Pangandaran, berdarah Jawa dari neneknya. Hampir 7 tahun ia telah menjadi pemandu di Cagar Alam Pananjung ini. Darinya saya tahu bahwa mulanya pesisir ini merupakan wilayah Kerajaan Galuh, kemudian Kerajaan Pananjung, dan Karesidanan Priangan sebelum menjadi wilayah Kabupaten Ciamis seperti sekarang ini. Nama aslinya adalah Pananjung, berasal dari kata bahasa Sunda Pangnanjung-nanjungna, berarti wilayah tanjung paling subur atau paling makmur. Agaknya, itu terkait dengan kondisi geografis Pananjung yang berombak kecil sehingga memudahkan nelayan melaut dan mendapat banyak tangkapan. Dan karena itulah, maka banyak pendatang yang mencari penghidupan, sehingga lambat laun daerah ini lebih dikenal sebagai Pangandaran, yang bisa berarti tempat menyimpan perahu (andar – bahasa Sunda) yang harafiahnya juga bisa menjadi padanan dari dua kata: pangan yang berarti makanan dan daran yang berarti pendatang.

Bersama Sudi, saya masuk ke Cagar Alam dari pintu barat. Mungkin karena Sudi telah mendapat pelatihan arkeologi maka di situs Batu Kalde, yang merupakan situs peninggalan sejarah, ia mampu bercerita dengan baik. Situs batu Kalde merupakan peninggalan Hindu di zaman Kerajaan Pananjung yang digunakan mula-mula untuk pemujaan bagi seorang Sapi Gumarang, yang dijelmakan dengan batu yang menyerupai anak sapi sebagai monumen utama, dikelilingi batu-batu agak kecil di sekelilingnya yang seakan-akan ditaruh untuk menjaga batu utama itu. Tampak terawat, bersih dari dedaunan pohon-pohon yang menaunginya. Agaknya selalu disapu. Berpagar sederhana, cuma terbuat dari dahan pohon jati. Sapi Gumarang, yang konon adalah seorang utusan bajak laut pernah merusak seluruh lahan pertanian karena permintaannya untuk meminta padi ditolak oleh Raja Anggalarang yang memerintah pada waktu itu, namun pada akhirnya mengabdi pada raja dengan ikut memberantas hama yang dibuatnya sendiri itu.

Sudi mengatakan bahwa, masyarakat Pananjung masih memelihara Situs Batu Kalde untuk mengenang sifat ksatria Sapi Gumarang dan sekaligus mengingat asal-usul mereka yang berkebudayaan Hindu agraris. Walau tentu saja, sesungguhnya yang disebut pemeliharaan tersebut hanya berupa kegiatan membersihkan situs dan akses menuju ke sana. Sudi sendiri, rupanya juga merupakan karyawan honorer yang khusus digaji untuk membersihkan situs ini.

Yang unik, di sekitar situs Batu Kalde terdapat pohon banir (akar papan) berdiameter 2 meteran yang sudah berumur ratusan tahun dan akar-akarnya tampak seperti roket sehingga oleh Sudi, pohon itu disebut pohon roket. Selain itu juga terdapat sebuah pohon yang daun-daunnya tidak sama bentuk dan coraknya antar satu dan lainnya. Dalam satu cabang, bisa terdapat daun yang berbentuk bintang segi lima, elips, cenderung bulat ataupun segitiga. Sayang sekali saya lupa nama yang disebutkan Sudi, sehingga tidak bisa menelusuri di literatur mengenai keunikan biologis tumbuhan ini.

Selepas itu saya masuk ke Goa Parat atau Keramat. Untuk masuk ke dalamnya saya harus membungkuk karena pintunya sangat rendah. Saya kaget karena di depan pintu masuk ini ada dua nisan yang cukup terpelihara. Apakah ini yang membuatnya disebut Goa Keramat? “Tidak. Di dalam nisan tiruan itu tidak ada jasad manusia sebenarnya. Ini makhom bukan makam,” kata Sudi.”Hanya untuk mengingat Syekh Ahmad dan Muhammad yang dulu menyebarkan agama Islam di Pangandaran, dan konon “moksa“ saat bersemedi di goa ini.

Yang unik dari Goa Keramat adalah bentukan alamnya yang beranekarupa. Ada stalagmit yang menyerupai unta dan kemudian agak ke dalam, kita akan menjumpai stalagmit yang menyerupai, maaf, alat kelamin pria dan wanita. Sudi bercerita bahwa bagi yang belum mendapat pasangan, bisa memegang stalagtit yang berbentuk kelamin lawan jenis sambil memohon kepada Yang Kuasa. Konon, akan terkabul. “Namanya saja kepercayaan lokal, Mas,“ katanya,“yang gampang percaya biasanya mempraktekkan, yang tidak hanya berfoto-foto saja“.

Kemudian, ada batu cekung, seperti wajan yang berisi air. Ada tetesan air yang katanya tidak pernah berhenti menetes bahkan di musim kemarau panjang, dan apabila diusapkan ke muka bisa membuat tampak selalu awet muda. Hmm…Kata Sudi, mitosnya inilah “kaca benggala” Mak Lampir, sehingga syuting film Mak Lampir pernah dilakukan di sini.

Selain itu, di dalam Goa Parat ini juga terdapat batu berbentuk paha ayam dan landak. Ya, sekeluarga landak yang jadi maskot goa. Sudi bilang landak itu pemberian turis Afrika beberapa tahun lalu, dan saat saya datang sudah ada empat ekor, Joni and Lince sebagai induk dan Ariel dan Luna nama kedua anaknya. Kok Ariel dan Luna? “Lahirnya pas kejadian yang heboh itu”, Sudi cengar-cengir menjelaskan. Di dekat pintu keluar, yang terletak di pantai timur Taman Wisata, saya sempatkan melihat lagi stalagmit yang berbentuk gajah betina dan anaknya. Wah, banyak sekali bentuk-bentuk unik di Goa Parat ini.

Dari situ, sembari berjalan menuju goa berikutnya, yakni Goa Miring, Sudi bercerita tentang legenda seorang ibu yang sangat tamak akan kekayaan duniawi sehingga tega mengorbankan anaknya ke makhluk halus. Pengorbanannya dilakukan di Goa Miring itu. Karena itu, terdapat batu yang mirip tulang punggung manusia, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dan pocong yang sedang menatap keduanya. Batu-batu itu terbentuk konon akibat kutukan. Sudi memperlihatkan batu-batu tersebut dengan menyorotkan senternya ke bagian atas goa. Entah saya yang kurang imajinatif atau apa, tak juga batu-batu yang disorot Sudi itu membentuk serupa ibu-anak dan pocong. “Begitulah, hendaknya menjadi pengingat kita bahwa meminta itu hendaknya hanya kepada Yang Kuasa, ”kembali Sudi menutup ceritanya dengan pesan moral.

Ketika kami memasuki goa berikutnya, Goa Lawang, yang pernah dijadikan lokasi syuting film silat Brahma Kumbara, dan setelah mengagumi batu berbentuk siput dan ular, mendadak senter yang dipegang Sudi mati. Padahal di dalam goa itu gelap sekali. Tiba-tiba ada bunyi benda jatuh, dan lalu desisan pelan.

“Diam di situ, Pak!”, suara Sudi tegang. Rupanya, ada ular kecoklatan jatuh dari langit-langit goa, tepat di depan kami. Seakan menghadang perjalanan. Senter saya yang tidak mati, masih sempat menyoroti ular yang kepalanya sedikit mengembang dan lebih besar dari badannya yang dalam posisi menyerang. Samar-samar saya dengar Sudi mengucapkan beberapa kata, merapal.

Entah karena rapalan atau hal lain, pelan-pelan si ular mengubah posenya dan Sudi bilang kami berdua sudah bisa lewat. Maka pelan kami berjalan sedikit di pinggir, dan tanpa diminta Sudi mulai bercerita bahwa memang penunggu Goa Lawang adalah seekor ular putih jejadian yang berkepala manusia. Waduh…Tapi, katanya dia tidak kuatir karena kami tidak melakukan sesuatu hal yang jelek. Saya sendiri, lebih percaya bahwa ular itu nyata, dia sedang berburu, mungkin berburu kelelawar, dan dia jatuh hanya karena merasakan kehadiran kami di goa yang gelap itu.

Saat keluar, tiba-tiba hujan deras. Kami terjebak di pintu keluar Goa Lawang. Suara air yang menerpa daun membuat suasana kaya dengan nuansa alam. Saat itu sekitar jam tiga sore. Masih ada rencana ke Goa Panggung. Goa yang dipercaya pernah menjadi tempat pertapaan Embah Jaga Lautan yang menjadi penghubung masyarakat Pangandaran dengan Nyai Loro Kidul, Penguasa Laut Selatan.  Tapi sayang, hujan tak kunjung reda, sementara waktu terus mendekati sore. Sudi pun pamitan pulang ke rumahnya.

***

Akhirnya hujan berhenti. Karena alasan waktu, saya memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan, tanpa ke beberapa goa lain selain mampir sebentar di Goa Panggung. Menyusuri pantai taman wisata di sebelah barat, dan pasir pantai yang basah bekas hujan, monyet-monyet ekor panjang berkeliaran mencari makan. Beberapa bule sibuk mengumpani mereka dengan kacang. Di sisi tepi hutan, beberapa ekor rusa merumput, tanpa takut-takut dengan pengunjung. Anak-anak bermain gembira, penjual layanan papan luncur sabar menunggu penyewa, nelayan mulai melaut, dan bahkan penjual makanan bersliweran menunggu senja. Pangandaran senja hari habis hujan, berawan kelabu yang melankolis, menunjukkan eksotismenya yang dulu pernah memikat pembesar Belanda di bumi Priangan.

Telah menelusuri berbagai goa yang penuh legenda di Pananjung-Pangandaran ini tak urung membuat saya berpikir, betapa terpatrinya cerita lokal di sebagian benak masyarakat Pangandaran. Secara nyata, ini menandakan keterikatan mereka dengan sejarah-budaya leluhur sangat kuat. Selain pesona wisata pantainya yang memikat, Pangandaran juga memiliki keunikan lokal lewat goa-goa alam. Mudah-mudahan hal itu tidak lalu menjadi hanya sebatas kisah mistis dan legenda seperti film-film seram dan laga yang sering syuting di situ.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu, 21/08/2011



 

Kapal di daratan

Alam punya kehendak, tapi manusia memang gampang melupakannya. Seandainya Kapal PLTD Apung I di Kampung Punge Blang Cut seberat 200 ton bisa dikelola serius jadi sebuah memorial, mungkin kita bisa jadi manusia pembelajar yang lebih cerdas.

Banda Aceh, 5-6 Mei 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.