Morella, desa bangsa Catalan.
Morella, 17/10/2010
Morella, desa bangsa Catalan.
Morella, 17/10/2010
Di suatu sore yang berlangit biru, saya pergi ke Benicassim, desa kecil di utara Castellon. Letaknya tidak jauh, hanya 15 km dari Castellon. Bisa ditempuh 15-20 menit menggunakan bis Mediterranio.
Dan ternyata, inilah kota yang untuk beberapa saat secara personal membuat saya merasa konyol tinggal di Jakarta.
Dari dulu, selalu ada keinginan untuk tinggal di sebuah rumah, dengan pantai di halaman depan dan perbukitan hijau di halaman belakang.
Rumah yang tidak besar, tapi bertaman. Taman hijau yang cukup luas, dengan satu dua pohon peneduh berdaun lebat, beberapa kursi dan sebuah meja kecil di bawahnya. Pagarnya juga pagar tanaman merambat.
Di Benicassim, saya menemukan itu hampir di semua sudut kota. Kota yang didesain untuk tempat tinggal. Diciptakan untuk nyaman ditinggali.
Kota ini memanjang, membujur dari utara ke selatan, di sepanjang pantai Laut Mediterrania.
Ia, berada di kaki bukit kecil, tidak tinggi tapi cukup untuk membuat suasana teduh. Bukitnya di arah barat kota, dan laut di arah timur kota. Paduan yang sempurna. Bagaimana tidak?
Bayangkan, jika engkau berumah di situ, tiap pagi engkau akan menemukan cahaya matahari menembus jendela kamarmu dari lautan. Cahaya yang membangunkan mu dari sela-sela gorden. Engkau akan bangun dengan segar dan berterima kasih atas kedatangan hari yang baru.
Lalu, duduklah di terraza, hiruplah udara yang sangat segar sambil menyeruput coklat hangat atau susu manis. Sambil membaca koran pagi, atau hanya mengobrol dengan istri atau anak tercinta.
Kemudian, di sore hari, engkau tidak akan tersengat panas matahari karena engkau terlindungi oleh bukit-bukit yang memanjang. Ah, sesungguhnya kata tersengat tidak pernas pas untuk Benicassim. Tidak pernah ada udara yang terlalu panas dan atau terlalu dingin di pesisir timur Spanyol.
Ya, itulah impian saya, yang klise dan barangkali semua orang juga begitu.
Saya menyusuri Grau, di jembatan coklat dari kayu yang disusun memanjang mengikuti alur pantai. Menikmati angin yang lembut, hanya menyibak rambut, dan tidak membuat matamu terganggu dengan kelilipan terus menerus. Lalu duduk di bangku kayu, melihat orang-orang di kejauhan memancing. Saya lempar batu pipih, mencoba membuat pantulan satu dua di atas air. Kadang berhasil kadang tidak.
Malam menjelang, dan Benicassim gelap. Gelap yang dimulai pukul delapan. Lampu-lampu dinyalakan, dan saat itu saya telah berada di sebuah bar milik orang Tunisia. Bar yang kecil, tapi nyaman. Saya teringat bar milik Jeremy, di Blueberry Nights. Hangat. Bersahabat.
Segelas Amstel? Ah, tidak. Saya tidak suka bir. Saya hanya pesan segelas coklat plus susu, yang hangat.
Quiero un chocolate con leche, por pavor..caliente..
Dan, sms masuk. Suasana tiba-tiba jatuh ke dalam melankolia. Saya baca sms itu, sms yang rindu dari seorang yang jauh.
Benicassim, kota di Mediterrania, coklat hangat, malam sejuk dan sms rindu, paduan yang sempurna buat engkau merasa biru, bukan?
Cuma sesaat, sebab sebentar lagi pukul sembilan, dan karena bis terakhir menuju Castellon 10 menit lagi akan datang.
Benicassm, 08/10/09
Sabtu itu, saya berdoa di sebuah gereja tua, Catedral de Castellon. Ini misa pertama saya di Spanyol.
Gereja di Calle Mayor ini penuh. Bukan karena banyak yang hadir, tapi karena gerejanya memang kecil, hanya memuat sedikit orang. Bangunannya kokoh, walau tampak tua.
Ia terletak tidak jauh dari Plaza Maria Agustina, tempat di mana hampir tiap sore saya duduk dan menikmati malam yang pelan-pelan turun.
Hmm..bahasanya Valenciano, yang berbeda dengan bahasa Spanyol pada umumnya: tak satu patah kata pun saya mengerti.Saya juga satu-satunya orang berwarna yang ada di situ.
Por la tarde, di suatu sore itu, saya berdoa.
Castellon di musim panas, cerita tentang apa?
Mungkin ada baiknya kalo ini adalah cerita tentang kota kecil yang indah dan selalu bermatahari di pinggir laut Mediterrania.Kota di pedalaman Spanyol, di tengah antara Barcelona dan Valencia. Dua kota besar milik bangsa Catalan, bangsa yang punya sejarah panjang dan kebanggaan identitas yang tinggi. Kota yang gersang, diapit lautan dan deretan pengunungan yang membatasi ke arah barat.
Dan saya sekarang jadi bagian kota kecil itu. Kota yang serasa bukan Eropa. Terlalu panas, dan terlalu santai. Pernah lihat bahwa pada saat siesta, toko apapun tutup selama tiga jam? Ah, siesta, sama seperti di Italia, cara menikmati hidup dengan merayakan waktu-waktu tidur siang. Hmm..
Bangunlah pagi-pagi, kau hanya menemukan gelap. Aktivitas hampir semua dimulai menjelang siang. Atau, kalaupun ada hanyalah anak-anak muda yang baru pulang dari pesta di Grau, istilah mereka untuk pantai. Tapi lihat, matahari benar memanjakan kota ini, seperti Eropa tengah, ia di musim panas juga terbenam di waktu-waktu selepas kita di negara tropis sudah makan malam.
Ah, Castellon.
Kuta-Bali, saya hanya ingat ini:
di suatu kota pantai
di suatu hari kemarau
di suatu keasingan rindu
di suatu perjalanan biru.
Puisi yang bisa dari Umbu Landu Paranggi.
Kata, kata, kata..
mencari jiwa yang akan pergi jauh…
Bali, 2-6/08/09

Sawah kekuningan, kabut, pepohonan, matahari ufuk timur. Abadi pagi itu, denganmu..
Prambanan, 28/06/09

Nemberala tanpa ombak, tetap saja seperti surga.


Nemberala – Pulau Rote, 29/03/2009
Nemberala, Masih Saja Seperti Surga
Dahulu, sebuah kapal Portugis terkena badai di Laut Sawu. Kapal itu karam tetapi penumpangnya berhasil menyelamatkan diri ke sebuah pulau di tepi Samudera Pasifik. Saat tentara Portugis itu sampai ke pulau, dia bertemu dengan penduduk lokal, seorang petani. Si petani terkejut, melihat orang kulit putih. Karena terkejutnya itu, saat salah seorang tentara tersebut bertanya di mana ia sekarang, si petani yang tidak mengerti bahasa Portugis, tergagap-gagap menjawab hanya dengan menyebutkan namanya,”Rote..Rote..” Karena itu, pulau tersebut diberi nama Rote.
Legenda itu, hanya salah satu legenda asal usul Pulau Rote (juga sering disebut Roti oleh luar negeri), salah satu pulau di Kabupaten Rote Ndao, dimana saya menginjakkan kaki sekarang. Itu diceritakan sopir L 300, yang membawa mobil penumpang dari Pelabuhan Ba’a menuju Nemberala. Ia bercerita di sela-sela dentuman music yang menggelegar dan bisa dikatakan, amat sangat berisik. Bayangkan saja lagu Vengaboys, Boom, boom, boom, boom!! diputar berkali-kali dalam angkot dengan speaker besar bersuara sumbang karena bass nya udah mulai ngaco.
Memang, hanya saya yang menjadi penumpang siang itu, dan karenanya bisa duduk di samping sopir dan ngobrol-ngobrol sepuasnya. Satu yang masih saya ingat terkait legenda sebagai turunan Portugis itu adalah,”..dan karenanya gadis Pulau Rote itu putih, berambut lurus dan cantik, tercantik di seluruh dataran Timor”. Hmm…
Sepanjang 1,5 jam perjalanan melalui jalan berlubang, di sela-sela musik tiada henti dan percakapan putus-sambung, saya melihat pemandangan yang menyiratkan kegersangan: padang rumput kering dan ranting pohon tak berdaun. Sapi-sapi kurus di padang penggembalaan tampak coklat berjejer di kejauhan. Pohon lontar di mana-mana, berbatang tunggal dan berdaun tak bercabang. Semua itu berpadu dengan langit yang sangat biru, tanpa awan. Ada kesan tersendiri melihat pemandangan itu: indah, eksotis, tapi sendu. Ah, tipikal dataran Timor…
Apa yang saya cari hingga sampai di Rote? Jawabannya singkat: menggapai Nemberala! Saat saya di Kupang melakukan survey nilai tanah selama setengah bulan, setiap orang yang ditanya mengenai destinasi wisata apa yang mendunia, selalu menjawab: Nemberala di Pulau Rote. Jadi, ketika ada waktu luang, maka saya putuskan untuk datang ke Rote, pulau seluas 1214 km2 yang juga merupakan pulau berpenghuni terbesar di perbatasan paling selatan Indonesia. Maka, ketika melihat gerbang Pantai Nemberala di depan, saya sudah merasa tidak sabar untuk menikmatinya.
Mengapa Nemberala? Tanyakan itu kepada para peselancar, dan mereka akan berkata, karena Nemberala adalah surga. Pada bulan-bulan kemarau, dimulai dari April, berpuncak di Juli Agustus dan masih berlanjut sampai September, ombak akan sangat besar di Nemberala, pantai yang terletak di barat daya Pulau Rote. Saat itulah, para peselancar dari Amerika, Jepang, Amerika Latin dan terutama Australia bagai berada di surga. Konon, kedahsyatan ombaknya nomor dua di dunia setelah Hawaii, mengalahkan Kuta yang lebih tenar. Tak heran, diam-diam, di kalangan peselancar asing, Nemberala menjadi tujuan wisata minat khusus. Bahkan, tutur office boy di penginapan, sejak tahun 80-an tanah-tanah di beberapa bagian pantai ini telah dikuasai atau disewa oleh turis Australia dan dijadikan home stay.
Tapi ini baru awal April, jadi saya tidak berharap banyak akan kehebatan ombak Nemberala. Tapi jadinya saya bertanya-tanya, masihkah Nemberala tanpa ombak seindah surga? Sore itu, setelah menaruh barang di penginapan Nemberala, saya keluar. Tentu saja berbekal peta yang saya potret di samping pintu petugas resepsionis.
Desa Nemberala adalah desa yang indah. Di tepi pantai, penuh dengan pohon kelapa yang daun-daunnya sangat lebat sehingga memberi kesan teduh. Uniknya lagi, tiap rumah dibatasi tumpukan batu setinggi pinggang orang dewasa. Sangat rapi, menjadikannya teratur.
Sore itu, saya ke pantai. Seketika saya disambut udara pantai yang hangat, berangin tapi bermatahari. Indah sekali. Ini pantai Samudera Pasifik, yang lalu tak berbatas.
Beberapa perempuan tua berjalan pelan-pelan, tertatih, membungkuk, menggapai sesuatu di dasar pantai. Saya mendekat ke salah satunya, dan menyapanya,”Permisi mama, sedang apakah?”. Ia lalu berdiri, melihat saya sambil tersenyum ditahan. Ia berkulit terang, mata yang ramah, menatap sangat terang dan karena itu saya merasa bahwa di masa mudanya ia pasti seorang gadis yang cantik. Lalu menjawab dalam bahasa lokal yang tidak saya ketahui. Yang saya tahu, ia mengangkat sesuatu yang berwarna hijau, agak berlendir dan sepertinya licin. Seketika saya sadar kalo itu adalah rumput laut.
Ya, Nemberala adalah desa yang terberkati. Saya teringat spanduk bekas perayaan Paskah di depan Gereja Immanuel, kira-kira 100 m dari penginapan, yang bertuliskan “Allah selalu membekati kita, percayalah!”. Rumput laut, menjadi salah satu penghidupan mereka selain dari pariwisata, dan yang pasti cukup besar penghasilan mereka dari situ. Itulah alasan mengapa walau dilihat sekilaspun, rumah-rumah di desa yang terletak di Kecamatan Rote Barat Daya ini lebih berada dibandingkan rumah-rumah di sepanjang jalan yang saya lewati.
Saya melihat satu dua bule mengayuh selancarnya menuju timur. Dari kejauhan ombak tampak menggulung-gulung. Belum besar, tapi cukuplah untuk mengayunkan barang sekejab dua kejab.
Pernah melihat babi yang berkeliaran di pantai? Di Nemberala, kita akan terbiasa melihat babi gemuk bergerak lincah mencari sesuatu di sela-sela karang. Sepertinya mereka mencari ikan, kerang, atau binatang laut yang tersangkut selepas pasang surut. Sering saya melihat jejeran induk babi dan anaknya yang sedang asyik mengorek-ngorek sesuatu di dasar pantai berlumut itu.
Matahari mulai turun. Senja hampir sempurna di pantai. Kapal-kapal nelayan tampak menghitam, perempuan-perempuan mulai pulang ke rumah. Saya tahu, di kejauhan arah barat daya itu ada Pulau Ndana, pulau yang tidak lagi berpenghuni kecuali para tentara yang menempati pos batas dan Samudera Pasifik di yang membentang sangat luas.
Bagi saya, inilah pantai sebenarnya. Tenang dan menghanyutkan. Tidak hiruk pikuk. Inilah Nemberala. Surga? Bagi saya yang lelah tinggal di Jakarta, iya. Bagi saya yang ingin mencari alternatif wisata pantai yang bebas dari bangunan dan kios2 penjualan barang-barang souvenir, iya.
Terus, di manakah saya akan menemukan Sasando? Ah, besok saya masih punya waktu. Sekarang saya ingin ngobrol dengan gadis resepsionis di penginapan itu. Senyumnya manis sekali.
Edisi cetak dimuat di Koran Tempo, 20/12/2009

Seorang gadis kecil berjalan diam-diam di antara air yang terjebak di pantai berbatu Maniking, tidak jauh dari Oesapa.
Lalu, ayah dan kakak lelakinya menyusul. Mereka mencari ikan, kerang, dan kepiting kecil yang terjebak di air.
Untuk makan malam.

Di cakrawala, berjejer di kejauhan bagan-bagan nelayan pencari ikan. Siluet keluarga itu bergerak. Suasana sayup.
Maniking – Kupang, 26/03/09

Teluk Kupang, dengan Pasir Panjang dan tradisi makan meting.
Menikmati senja dan aroma pantai – yang benarkah begitu-begitu saja?

Teluk Kupang, 11/03/2009
ALLAH DAN ROTI
Ibu: “Tahukah engkau bahwa Allah ada di sana ketika engkau mencuri roti dari dapur?”
“Ya”
“Dan Ia mengawasimu sepanjang waktu?”
“Ya”
“Kaupikir, apa yang Ia katakan kepadamu?”
“Ia berkata, ‘Tidak ada orang lain di sini, hanya kita berdua – ambillah dua’.”
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)
============
Allah yang bagaimanakah yang ditampilkan Pater Anthony de Mello SJ dalam kisah itu (dari tuturan sang anak)?
Saya ingat pengalaman masa kecil. Dulu, di sebelah rumah saya, di halaman tetangga, berdiri sebuah pohon jambu air yang berbuah lebat. Tiap kali musim, pohonnya seperti dihiasi benda-benda kecil berwarna-warni: dari hijau pupus sampai merah darah. Banyak sekali, menggantung di mana-mana. Ranum dan matang. Tentu saja, sebagai anak kecil yang nakal, pemandangan seperti itu sangat menyenangkan…
Di rumah yang empunya pohon, ada seorang nenek yang tampangnya selalu berkerut. Selalu duduk di teras rumah, seolah mengawasi semua anak kecil yang bermain di halaman dekat rumah itu. Menyeramkan boleh dibilang. Anak-kecil di sekitar takut padanya. Suatu waktu, mungkin itu sore hari, sehabis bermain di tepi sungai, saya tergoda melirik buah jambu itu karena rumahnya tampak sepi. Si nenek yang biasanya duduk di singgasananya juga tidak ada. Sepertinya semua penghuninya sedang keluar. Sementara saya sendiri mengendap-endap menuju pohon jambu itu, teman-teman menuju lapangan untuk bermain bola.
Dengan lincah saya memanjat pohon itu, dan asyik nangkring di atasnya. Satu demi satu buah yang ranum saya ambil. Ternyata, tak dinyana, si nenek tau-tau ada di bawah pohon dan melihat saya dengan tajam. Alamak!
“Turun..”
Mati saya pikir, pasti nenek bilang ke Bapak dan saya dimarahi. Sampai di bawah, nenek itu memandang mata saya. Gemetar.
“Kau kecil-kecil dah suka ngambil ya…Mana temanmu? Kenapa hanya sendiri? Cepat panggil teman-temanmu dan panjat sepuasnya sebelum anakku (si empunya rumah) datang..”
Seketika, gemetar saya hilang, lalu bergegas memanggil teman-teman.
……
Cerita de Mello, yang saya baca pertama kali sewaktu sekolah di Jogjakarta itu mengingatkan pada sosok nenek yang berpihak pada saya. Sosok yang lemah hati kepada kesalahan seorang anak kecil yang baru kenal dunia yang dilakukan dengan polos karena naluri ingin buah jambu yang ranum. Sosok yang membiarkan pohon jambunya dipanjati kami anak-anak yang nakal, sekaligus sosok yang berani mengakali agar kami gembira. Sosok yang ternyata kata teman-teman saya yang lebih tua, dulu suka memberi kue-kue ke tiap anak yang main ke rumahnya tiap Hari Natal untuk dibawa pulang. Sosok yang beberapa tahun setelah itu, saat meninggal dunia, yang melayat termasuk preman kampung yang disegani.
Allah, menurut de Mello, dari sudut pandang seorang anak kecil, ternyata lembut hati, sangat pemurah dan baik hati. Si anak juga beranggapan, bahwa Allah tahu karena roti ini milik Ibu si anak yang juga sayang pada si anak, maka tidak apa-apa mencurinya.
“Ambillah, Aku yang menyuruhmu. Ibu mu pun tahu, kalau Aku akan berbuat ini padamu..”
Bukan kah itu suatu pemakluman yang sangat lembut, sangat manusiawi?
Tapi apakah Allah benar-benar begitu? Allah seperti apa yang diajarkan agama kepada kita? Bisakah kita sebagai anak kecil sepolos itu memandang Allah, dan benarkah?
…….
['Ries, cinta akan memaklumi kekonyolan yang masih sepolos kanak-kanak"]
Ke sinikah jalan yang tak pernah ada ujung itu? Rumah-rumah apung di Nanga Pinoh, yang berderet rapi, tampak kecoklatan bercampur warna perak. Sedikit terombang-ambing karena riak kapal yang lewat.
Hari ini 25 Desember, Hari Natal. Saya mengingatnya. Rindu sekali padanya. Tapi, terasa hari akan jadi malam.
Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja
Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan
Aku Ini Binatang Jalang masih terbuka. Ah, rumah apung. Saya memandang lebih lama,
dan tahu bahwa ada yang tetap tidak diucapkan
Karena, saya tidak tahu, apakah jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
selanjutnya tidak ada burung-burung asing, buah-buah pandan ganjil
Saya tutup buku itu. Pulang menembus jalan berlubang menuju Sintang.
Nanga Pinoh, 25/12/08
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
….
Rasanya aku tidak ingin berjalan di tepi sungai salju lembah gunung yang airnya mengalir pelanpelan tanpa akan berhenti sampai bertemu anakanak sungai menuju muara nun jauh di kaki samudera. Pada pagi yang hening dimana suara burung musim salju tidak senyaring musim panas yang akan selalu hanya sebentar tapi penuh gairah akan hidup yang selalu akan tampak menyenangkan karena akan punya panas yang membakar hangat yang menenteramkan. Hanya berdiri menikmati dingin memandang kejauhan pucukpucuk yang sedikit biru tapi tetap tak sebiru langit ketika musim angin tidak bertiup. Sambil merasakan betapa gemetar betapa gentar jika sungai salju ini habis kususuri tanpa pernah tanpa akan bermain pasir di pantai tanpa pernah samasama melihat pelangi tanpa pernah ada kamu kelak dalam banyak perjalananku.
[...]
Afdeling Palembangsche Boven Landen, Oafd Rawas.
Di Jembatan Lesing, Sungai Megang, air yang keruh.
Lagi-lagi, di tempat yang antah, terra incognita.
Musi Rawas, 11/11/08
Di Cemoro Lawang, disaksikan Pura Luhur Poten, sambil membawa beban Mapapahit, orang-orang Tengger menapakkan kakinya di pasir Bromo yang menakjubkan.
Hidup diantara sepuluh gunung. Hidup diantara pasir, rumput tipis, kawah, kebul Semeru dan awan rendah bulan Agustus. Hidup sebagai petani bawang, yang ditingkahi deru jeep carteran dan derap kaki kuda sewaan.
Sore, Supadi si joki kuda yang agak tuli memberi kartu namanya, yang hanya bertuliskan SUPADI, tanpa alamat atau nomor telepon. Sementara si penjual bunga edelweiss yang entah-siapa-namanya, menunggu di atas kawah. Merayu agar bunga dibeli, lalu dilempar ke kawah mengepul, dan permohonan dibisikkan pelan-pelan. Seorang ibu mengulurkan minuman kaleng dengan harga empat kali lipat lebih mahal.
Esoknya, Warno si ojek motor lincah menembus Segara Wedi Kidul, memutari Batok, lalu mendaki Penanjakan di subuh berkabut. Ia tahu semua tentang Bromo.
Juga Sum, lelaki paruh baya, sopir omprengan dari Madura yang mengingatkan pada tukang becak di Pasar Merdeka. Lalu Adi, lelaki asal Malang, yang telah 17 tahun jadi resepsionis di Hotel Cemoro Indah, dan rasanya selalu menyimpan nomor-nomor telepon tamunya yang bertampang kaya.
Manusia-manusia di pasir Bromo. Yang hidup darinya.
Barangkali, hanya kali ini kita bertemu. Besok, dunia sudah punya cerita lain.
[Sambil menulis ini, saya masih ingat saja, sorot mata gadis manis berwajah teduh yang membeli bunga di puncak Penanjakan. Saat yang lain sibuk melihat munculnya matahari dan heboh berfoto diri, ia hanya duduk tenang saja menikmati suasana, di samping ibunya yang sudah tua. Sorot mata itu, sorot mata yang entah bermakna apa]
Bromo, 18-19/10/08
Kabut turun tidak seharusnya. Di Muara Sungai Siduk, tempat yang tidak pernah diingat dalam, pun oleh para penglaju peraih durian dari Sukadana, yang setiap hari melintasinya saat musim buah.
Tempat yang sangat biasa. Hanya, subuh itu, kabut singgah di situ, diantara langit yang biru-laut yang biru, dan putih yang pedar. Dari kaki Gunung Palung di timur menuju Selat Karimata di barat.
Menuju laut, dilatari matahari, seorang nelayan berdiri di perahunya. Mendayung pelan-pelan untuk kemudian menebar jala. Ia sendirian di subuh berkabut tipis itu.
Siduk, 03/10/2008
—
[cepatlah pulang, sebelum tempat-tempat yang tak pernah habis menakjubkan, kudatangi lagi tanpamu!]