Terima kasih

09/01/2014 § Leave a comment

Bapa di surga yang baik,
terima kasih
Saat ini Engkau beri hadiah hari jadi pernikahan kami yang menakjubkan.
Kesempatan menjadi pengantar seorang manusia kecil citra diri-Mu,
Ialah penyertaan ilahi yang sungguh terasa dalam hidup kami.

Semoga Engkau berkenan menolong kami, melindungi dia
Dalam mencintai dan menjaganya, sekarang, dalam lahirnya nanti, dan selamanya..
Memberikan orang-orang yang baik.

Hingga ia tumbuh sehat selalu, sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya.
Dan kami,
dapat mendampinginya sekuat jiwa raga kami.

Kami bertiga, engkau bertiga, kasihanilah kami. Yang lemah ini.

Amin.

Bogor, 2 Januari 2014

Antara Pototano dan Tongo

14/07/2012 § 2 Comments

Seperti gadis yang telah dipinang. Molek berhias emas, tersembunyi di selimut hijau gunung dan hutan, di pedalaman biru laut dan pantai di pantai selatanmu.

Tapi siapa yang mendapatkanmu? Kegairahan apa yang kau bawa kepada mereka yang tak peduli apapun selain persinggahan karena emas?

Sumbawa Barat, 9-13 Juli 2012

Senja di Esplanade Sungai Sarawak

27/05/2012 § 4 Comments

Subuh yang berkabut mengepung Entikong, Kalimantan Barat, pada pengujung April lalu. Meski hari masih prematur, suasana di gerbang Pos Pemeriksaan Lintas Batas telah ramai oleh ratusan orang yang hendak masuk ke Sarawak, Malaysia. Mereka sudah antre di pintu masuk, yang biasanya baru dibuka pada pukul 05.15. Kebanyakan adalah pekerja perkebunan kelapa sawit.

Saya juga antre. Bukan untuk mencari kerja, tapi hendak melancong ke Kuching, ibu kota Sarawak. “Ape you nak buat di Kuching? Berape lame?” tanya petugas imigrasi perbatasan Malaysia saat memeriksa paspor saya. Setelah saya menjawab hanya untuk berwisata, paspor langsung dicap visa social visit selama 14 hari. Separuh lebih singkat dari visa sejenis dari Singapura.

Rampung dengan urusan imigrasi, saya melanjutkan perjalanan dengan bus Eva, yang bernomor polisi Malaysia. Bus berpenyejuk udara yang membawa saya dari Pontianak, Kalimantan Barat, sejak semalam itu melaju di atas jalan beraspal mulus. Lalu lintas masih sepi. Hanya satu-dua mobil yang lewat. Sepeda motor tidak terlihat sama sekali.

Entikong-Kuching akan ditempuh sekitar dua jam. Deretan pepohonan dengan latar belakang perbukitan mendominasi awal perjalanan. Sinar matahari pagi mulai menyirami kanopi pepohonan yang masih bersaput kabut. Indah, khas pemandangan hutan hujan tropis.

 

*****

Awalnya, Sarawak adalah wilayah jajahan Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-15, saat pengaruh Majapahit pudar, Islam masuk ke sana lewat Kerajaan Brunei, yang kembali berkuasa. Dan masuk pula pengaruh Melayu dari pesisir timur Sumatera.

Atas pengaruh Inggris, Kesultanan Brunei kemudian menyerahkan Kota Kuching kepada seorang eks tentara Inggris, James Brooke. Ini adalah hadiah karena Brooke berjasa memadamkan pemberontakan penduduk lokal di Sarawak. Brooke kemudian diangkat menjadi Gubernur Sarawak. Bahkan, pada 1841, ia diberi wewenang menjadi penguasa penuh Sarawak dengan mendirikan dinasti, yang oleh bangsa Melayu disebut sebagai Dinasti Rajah Putih (1841-1946)–yang berarti “raja berkulit putih”.

Sungai Sarawak yang membelah Kuching merupakan urat nadi perkembangan kota itu serta menjadi pusat kegiatan dan perdagangan masyarakat. Di Kuching, para pedagang Cina banyak berdatangan, berbaur dengan penduduk asli Borneo, yakni Dayak di pedalaman (Bidayuh, Iban, Orang Ulu) yang masih berkerabat erat dengan Dayak di Kalimantan Barat, serta Melayu dari kesultanan-kesultanan di daerah Semenanjung Malaysia.

Nama Kota Kuching diperkirakan berasal dari pohon mata kucing yang banyak tumbuh di pinggir Sungai Sarawak. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kata “kuching” berasal dari cochin, kosakata India, yang berarti pelabuhan. Itu merujuk pada daerah yang mulai berkembang saat itu. Perantau India diduga datang paling awal dan ikut mendirikan kota ini.

Tapi, dari mana pun asalnya dan tanpa perlu ada kaitan nama Kuching dengan hewan kucing, saat ini pemerintah Sarawak dengan pintar memanfaatkan nama ibu kotanya itu menjadi brand name wisata. Mereka menggaungkan slogan yang menyebutkan bahwa Kuching adalah city of cats atau the world’s capital of cats. Juga dengan mendirikan Museum Kucing, memasang patung kucing di berbagai sudut kota, serta membuat berbagai ragam suvenir berbentuk atau bergambar kucing.

Kuching adalah kota yang lengang. Kesan kedua, kota ini sangat menghargai pluralisme. Tulisan Cina dipampang bersanding dengan Inggris dan Melayu hampir di mana-mana, termasuk untuk nama toko.

 

*****

Sesampai di terminal yang tidak besar, hanya setengah lapangan sepak bola, saya dijemput Peter House, anak pemilik homestay yang akan saya tinggali di daerah Taman Timberland. Dalam perjalanan, saya bertanya tentang penyebab sedikitnya sepeda motor di jalan. Ia menjawab sambil tertawa. Katanya, Pemerintah Kota Sarawak “agak gila” dengan memberikan pajak tahunan yang sama antara motosikal (sepeda motor) dan kereta (mobil). Itu membuat penduduk enggan memiliki sepeda motor dan lebih memilih mobil.

Saya akan tinggal di homestay dengan tarif 40 ringgit (sekitar Rp 120 ribu) semalam. Rumah penginapan Peter telah menjadi favorit bagi orang-orang Pontianak yang akan berwisata di Kuching ataupun berobat di sejumlah rumah sakit yang banyak tersebar di sana, seperti Timberland Hospital, Normah Medical Specialist Centre, dan Sarawak General Hospital.

Setelah sarapan di sebuah warung di dekat penginapan, hari itu saya berniat menjelajahi kota. Peter mengusulkan dua lokasi: Damai di Santubong dan Kuching Waterfront di pusat kota (bandar raya, dalam bahasa Malaysia).

Damai, berjarak sekitar 35 kilometer arah utara dari pusat kota, merupakan tujuan wisata terpopuler saat ini di Sarawak. Saya ke sana dengan menggunakan taksi. Sopirnya, Lua, seorang Cina Hakka (Khek), subetnis yang juga banyak bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat, berbicara dalam bahasa Melayu berlogat Cina.

Dalam perjalanan, Gunung Santubong tampak menjulang. Gunung setinggi 810 meter di atas permukaan laut itu terlihat dominan karena merupakan satu-satunya tempat tertinggi di daerah utara Sarawak yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Nama Santubong, gunung yang merupakan tempat suci suku Dayak Iban di masa lalu, berasal dari kata si-antu-bong, yang berarti kapal para roh (bong = kapal, antu = roh). Ia akan membawa roh dari orang mati ke dunia lain.

Setelah mengitari Santubong, Lua membawa saya masuk ke Damai Resort. Kawasan wisata Damai itu sudah dimiliki dan dikelola oleh swasta. Agar bisa masuk, pengunjung perlu merogoh kocek 3 ringgit (Rp 9.000) dengan imbalan bonus teh botol Sarawak. Resor itu merupakan tempat favorit turis-turis bule menginap. Tersedia homestay dengan harga bervariasi, dari 120 hingga 300 ringgit (Rp 350–900 ribu).

Jika para pengunjung ingin berjemur di pantai dan mandi di laut, mereka hanya perlu berjalan sebentar. Dan, bila mereka ingin mandi air tawar, tersedia kolam renang. Tampak beberapa pengunjung berenang agak ke tengah laut, sebagian berjemur di bawah pohon kelapa, sebagian lagi bermain banana boat. Bagi pengunjung resor yang ingin beraktivitas di luar ruang, tersedia fasilitas jungle trekking ke Gunung Santubong. Tersedia rute-rute dan pemandu.

Saya hanya duduk di bawah pohon kelapa, menikmati embusan angin. Bagi saya, suasana dan pantai di sana masih kalah eksotis dibanding pantai di Gili Trawangan, Lombok. Pasirnya juga kalah putih. Airnya tak begitu biru. Tapi yang membuat saja kagum adalah penataan ruang yang bagus dan fasilitasnya lengkap. Yang dijual bukan hanya pesona alam, tapi juga kenyamanan pengunjung.

Itu juga yang ditawarkan Sarawak Cultural Village, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Damai Resort. Di area seluas 17 hektare itu, pengunjung bisa menyaksikan kehidupan tradisional dan keseharian suku-suku yang mendiami Sarawak, seperti Bidayuh, Orang Ulu, Iban, Melayu, dan Cina. Terdapat sekitar 200 orang yang tinggal di wilayah itu. Mereka mengelola tujuh rumah tradisional, bercocok tanam, berpakaian adat, serta mengerjakan kerajinan tangan tradisional yang juga dijual kepada turis. Juga terdapat pertunjukan dan tarian adat yang mereka bawakan. Ya, seperti Taman Mini Indonesia Indah, hanya ini lebih berfokus pada etnik.

 

*****

Sekitar pukul 14.00, Lua mengantar saya ke Kuching Waterfront. Kawasan wisata favorit itu terletak di tepi Sungai Sarawak. Lapangan terbukanya (esplanade) ditata dengan rapi, menghadap ke arah matahari terbenam. Di latar belakangnya tampak astana (istana) yang beraksen Melayu dan Fort Margherita yang bergaya kolonial Inggris.

Astana yang dibangun oleh Charles Brooke (penerus James Brooke) pada 1870 itu adalah bekas kediaman penguasa Rajah Putih, yang kini menjadi kediaman resmi Yang Dipertuan Agung Sarawak. Anak-anak muda yang bermain bola dan keluarga muda dengan anak kecil yang bermain gelembung menghiasi esplanade yang diteduhkan oleh jajaran pohon. Suasana begitu hidup. Jika ingin mengunjungi Astana dan Fort Margherita di seberang sungai, kita dapat menaiki kapal klotok dengan biaya 0,5 ringgit (sekitar Rp 3.000).

Di suatu sudut, saya menjumpai seorang seniman dari suku Iban, dengan tubuh penuh tato, sedang memetik sape (gitar tradisional suku Dayak) dengan merdu. Melodi yang dia nyanyikan lembut mengiringi sore. Tak terasa, memori saya melayang ke suasana pedesaan kampung Dayak yang damai. Jika pengunjung ingin membeli suvenir Sarawak, di kawasan Waterfront inilah tempat yang tepat. Jejeran toko menjual segala jenis cendera mata, dari kaus bermotif Sarawak, tas kucing, gantungan kunci kucing, kain batik Dayak, sampai lada hitam dan teh khas Sarawak.

Berada di kawasan Waterfront, saya kembali merasa iri. Negara bagian yang juga tetangga Pontianak ini bisa “merayakan sungai” dengan pengelolaan sangat baik. Di Indonesia, begitu banyak kota yang dibesarkan dan tumbuh di pinggir sungai, misalnya Banjarmasin, Palembang, Tangerang, dan Pontianak, tapi hampir tak ada yang menjadikannya aset wisata kota nan nyaman dan murah meriah seperti di Kuching Waterfront ini.

Tapi saya malas memikirkannya. Saat ini saya hanya ingin menunggu matahari terbenam berlatar kubah Astana yang tampak megah.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu 27/5/2012

Pantai yang punya dua matahari

17/05/2011 § 3 Comments

Hanya nama besar pantai pasir putih, sungai hijau dan goa alam? Di selatan Jawa, ujung Ciamis, di Pananjung-Pangandaran, ancaman tsunami beradu dengan peluang wisata yang naik turun. Sementara, paduan budaya malu-malu Jawa dan Sunda menunggu di wilayah yang berarti “tanah di mana orang-orang akan datang mencari penghidupan”

Pangandaran, 3-6 April 2011

--

Menelusuri goa-goa Pangandaran

Berkunjung ke Pangandaran? Segera yang terbayang adalah pantai. Destinasi wisata andalan Kabupaten Ciamis yang terletak 222 km menuju tenggara Bandung ini memang dikenal dengan pantai landai yang indah memanjang dan ombar yang berdebur tiada henti di Laut Selatan Jawa. Kawasan wisata ini menyediakan segala keasyikan wisata air seperti berenang di pantai, bermain ombak dan luncuran yang pasti menyenangkan, naik kapal mengelilingi pesisir Cagar Alam Pananjung-Pangandaran, menyewa banana dan termasuk menikmati pesona matahari terbit dan matahari terbenam di kawasan pantai yang berdekatan. Yang terakhir ini, dimungkinkan karena Pangandaran mempunyai tanjung menyerupai buah menggantung, sehingga terbentuk dua pantai, dengan arah hadap yang berbeda:   Pantai Timur dengan pemandangan matahari terbitnya, dan Pantai Barat dengan matahari tenggelamnya. Tapi apakah hanya itu yang dimiliki Pangandaran, tanah yang sering disebut Tatar Sunda Selatan yang paling barat?

***

Angin pantai selatan Jawa tidak terlalu kencang di pagi akhir Maret 2011 ini. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh. Hujan yang turun tiba-tiba membuat saya bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Lalu berlari untuk berteduh di pondok makan di ujung Pantai Barat itu. Tidak jauh, sekitar 5 meter di hadapan saya ada gerbang Cagar Alam Pananjung.

Di dalamnyalah tujuan hari ini: goa-goa alam Pananjung. Kemarin Green Canyon di Sungai Cijulang (30 km dari Pangandaran) sudah membius saya dengan lembah sungai hijau toskanya yang eksotis. Kini, rasanya pas juga keluyuran di goa-goa alam yang kabarnya sering dijadikan lokasi syuting film, yang kaya kisah religious dan juga mistis, serta memiliki bentukan alam yang aneh-aneh.

Pada tahun 1922, Residen Priangan  itu waktu itu, Mister Everen, menghendaki adanya suatu wilayah perburuan. Maka tanjung di selatan Ciamis lalu ditanami berbagai jenis tumbuhan dan dimasukkan berbagai jenis hewan seperti rusa, banteng, monyet, burung. Sebagai hasilnya, saat ini kawasan tersebut menjadi sangat hijau dengan pepohonan yang lebat, dan dihuni oleh berbagai hewan seperti rusa, lutung, monyet dan banteng (walau yang terakhir ini sudah beberapa lama tidak terlihat lagi keberadaannya).Selanjutnya, melihat keragaman flora dan fauna di dalamnya, apalagi sejak ditemukan Bunga Raflesia Padma, maka pada tahun 1961 daerah tersebut menjadi Cagar Alam Pananjung dengan luas 530 hektar. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Alam seluas 37.70 hektar.

Udara membiaskan cahaya matahari yang dibalut bekas hujan. Suara monyet ekor panjang yang sedang bermain di pantai Cagar Alam Pananjung terasa dominan. Ditemani seorang pemandu lokal, Sudi, saya memulai perjalanan ke dalam cagar alam melalui Taman Wisata. Sebenarnya saya lebih suka menjelajah tanpa pemandu, lebih menantang. Apalagi letak goa-goa tersebut juga dipetakan dalam denah sederhana di pintu masuk. Tapi kali ini saya berpikir bahwa Pangandaran dan goa-goa alamnya pasti akan berbeda jika diceritakan oleh penduduk lokal, yang tinggal dan berinteraksi dengan segala yang ada di situ. Kekhasan suatu daerah akan terungkap lewat cerita-cerita yang berbeda dengan yang beredar, jauh lebih kaya (baca: penuh bumbu cerita), dan menarik. Sudi meminta 60 puluh ribu rupiah untuk jasanya mengantar pengunjung berkeliling. “Saya pemandu bersertifikat, dari Dinas Arkeologi waktu mengikuti pelatihan guide pariwisata Pangandaran Juni tahun lalu“, katanya meyakinkan saya.

Sudi adalah pemuda Sunda berusia sekitar 25 tahun. Berbadan tegap, agak pendek dan berkulit gelap terkena matahari. Ia tinggal di Pantai Timur Pangandaran, berdarah Jawa dari neneknya. Hampir 7 tahun ia telah menjadi pemandu di Cagar Alam Pananjung ini. Darinya saya tahu bahwa mulanya pesisir ini merupakan wilayah Kerajaan Galuh, kemudian Kerajaan Pananjung, dan Karesidanan Priangan sebelum menjadi wilayah Kabupaten Ciamis seperti sekarang ini. Nama aslinya adalah Pananjung, berasal dari kata bahasa Sunda Pangnanjung-nanjungna, berarti wilayah tanjung paling subur atau paling makmur. Agaknya, itu terkait dengan kondisi geografis Pananjung yang berombak kecil sehingga memudahkan nelayan melaut dan mendapat banyak tangkapan. Dan karena itulah, maka banyak pendatang yang mencari penghidupan, sehingga lambat laun daerah ini lebih dikenal sebagai Pangandaran, yang bisa berarti tempat menyimpan perahu (andar – bahasa Sunda) yang harafiahnya juga bisa menjadi padanan dari dua kata: pangan yang berarti makanan dan daran yang berarti pendatang.

Bersama Sudi, saya masuk ke Cagar Alam dari pintu barat. Mungkin karena Sudi telah mendapat pelatihan arkeologi maka di situs Batu Kalde, yang merupakan situs peninggalan sejarah, ia mampu bercerita dengan baik. Situs batu Kalde merupakan peninggalan Hindu di zaman Kerajaan Pananjung yang digunakan mula-mula untuk pemujaan bagi seorang Sapi Gumarang, yang dijelmakan dengan batu yang menyerupai anak sapi sebagai monumen utama, dikelilingi batu-batu agak kecil di sekelilingnya yang seakan-akan ditaruh untuk menjaga batu utama itu. Tampak terawat, bersih dari dedaunan pohon-pohon yang menaunginya. Agaknya selalu disapu. Berpagar sederhana, cuma terbuat dari dahan pohon jati. Sapi Gumarang, yang konon adalah seorang utusan bajak laut pernah merusak seluruh lahan pertanian karena permintaannya untuk meminta padi ditolak oleh Raja Anggalarang yang memerintah pada waktu itu, namun pada akhirnya mengabdi pada raja dengan ikut memberantas hama yang dibuatnya sendiri itu.

Sudi mengatakan bahwa, masyarakat Pananjung masih memelihara Situs Batu Kalde untuk mengenang sifat ksatria Sapi Gumarang dan sekaligus mengingat asal-usul mereka yang berkebudayaan Hindu agraris. Walau tentu saja, sesungguhnya yang disebut pemeliharaan tersebut hanya berupa kegiatan membersihkan situs dan akses menuju ke sana. Sudi sendiri, rupanya juga merupakan karyawan honorer yang khusus digaji untuk membersihkan situs ini.

Yang unik, di sekitar situs Batu Kalde terdapat pohon banir (akar papan) berdiameter 2 meteran yang sudah berumur ratusan tahun dan akar-akarnya tampak seperti roket sehingga oleh Sudi, pohon itu disebut pohon roket. Selain itu juga terdapat sebuah pohon yang daun-daunnya tidak sama bentuk dan coraknya antar satu dan lainnya. Dalam satu cabang, bisa terdapat daun yang berbentuk bintang segi lima, elips, cenderung bulat ataupun segitiga. Sayang sekali saya lupa nama yang disebutkan Sudi, sehingga tidak bisa menelusuri di literatur mengenai keunikan biologis tumbuhan ini.

Selepas itu saya masuk ke Goa Parat atau Keramat. Untuk masuk ke dalamnya saya harus membungkuk karena pintunya sangat rendah. Saya kaget karena di depan pintu masuk ini ada dua nisan yang cukup terpelihara. Apakah ini yang membuatnya disebut Goa Keramat? “Tidak. Di dalam nisan tiruan itu tidak ada jasad manusia sebenarnya. Ini makhom bukan makam,” kata Sudi.”Hanya untuk mengingat Syekh Ahmad dan Muhammad yang dulu menyebarkan agama Islam di Pangandaran, dan konon “moksa“ saat bersemedi di goa ini.

Yang unik dari Goa Keramat adalah bentukan alamnya yang beranekarupa. Ada stalagmit yang menyerupai unta dan kemudian agak ke dalam, kita akan menjumpai stalagmit yang menyerupai, maaf, alat kelamin pria dan wanita. Sudi bercerita bahwa bagi yang belum mendapat pasangan, bisa memegang stalagtit yang berbentuk kelamin lawan jenis sambil memohon kepada Yang Kuasa. Konon, akan terkabul. “Namanya saja kepercayaan lokal, Mas,“ katanya,“yang gampang percaya biasanya mempraktekkan, yang tidak hanya berfoto-foto saja“.

Kemudian, ada batu cekung, seperti wajan yang berisi air. Ada tetesan air yang katanya tidak pernah berhenti menetes bahkan di musim kemarau panjang, dan apabila diusapkan ke muka bisa membuat tampak selalu awet muda. Hmm…Kata Sudi, mitosnya inilah “kaca benggala” Mak Lampir, sehingga syuting film Mak Lampir pernah dilakukan di sini.

Selain itu, di dalam Goa Parat ini juga terdapat batu berbentuk paha ayam dan landak. Ya, sekeluarga landak yang jadi maskot goa. Sudi bilang landak itu pemberian turis Afrika beberapa tahun lalu, dan saat saya datang sudah ada empat ekor, Joni and Lince sebagai induk dan Ariel dan Luna nama kedua anaknya. Kok Ariel dan Luna? “Lahirnya pas kejadian yang heboh itu”, Sudi cengar-cengir menjelaskan. Di dekat pintu keluar, yang terletak di pantai timur Taman Wisata, saya sempatkan melihat lagi stalagmit yang berbentuk gajah betina dan anaknya. Wah, banyak sekali bentuk-bentuk unik di Goa Parat ini.

Dari situ, sembari berjalan menuju goa berikutnya, yakni Goa Miring, Sudi bercerita tentang legenda seorang ibu yang sangat tamak akan kekayaan duniawi sehingga tega mengorbankan anaknya ke makhluk halus. Pengorbanannya dilakukan di Goa Miring itu. Karena itu, terdapat batu yang mirip tulang punggung manusia, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dan pocong yang sedang menatap keduanya. Batu-batu itu terbentuk konon akibat kutukan. Sudi memperlihatkan batu-batu tersebut dengan menyorotkan senternya ke bagian atas goa. Entah saya yang kurang imajinatif atau apa, tak juga batu-batu yang disorot Sudi itu membentuk serupa ibu-anak dan pocong. “Begitulah, hendaknya menjadi pengingat kita bahwa meminta itu hendaknya hanya kepada Yang Kuasa, ”kembali Sudi menutup ceritanya dengan pesan moral.

Ketika kami memasuki goa berikutnya, Goa Lawang, yang pernah dijadikan lokasi syuting film silat Brahma Kumbara, dan setelah mengagumi batu berbentuk siput dan ular, mendadak senter yang dipegang Sudi mati. Padahal di dalam goa itu gelap sekali. Tiba-tiba ada bunyi benda jatuh, dan lalu desisan pelan.

“Diam di situ, Pak!”, suara Sudi tegang. Rupanya, ada ular kecoklatan jatuh dari langit-langit goa, tepat di depan kami. Seakan menghadang perjalanan. Senter saya yang tidak mati, masih sempat menyoroti ular yang kepalanya sedikit mengembang dan lebih besar dari badannya yang dalam posisi menyerang. Samar-samar saya dengar Sudi mengucapkan beberapa kata, merapal.

Entah karena rapalan atau hal lain, pelan-pelan si ular mengubah posenya dan Sudi bilang kami berdua sudah bisa lewat. Maka pelan kami berjalan sedikit di pinggir, dan tanpa diminta Sudi mulai bercerita bahwa memang penunggu Goa Lawang adalah seekor ular putih jejadian yang berkepala manusia. Waduh…Tapi, katanya dia tidak kuatir karena kami tidak melakukan sesuatu hal yang jelek. Saya sendiri, lebih percaya bahwa ular itu nyata, dia sedang berburu, mungkin berburu kelelawar, dan dia jatuh hanya karena merasakan kehadiran kami di goa yang gelap itu.

Saat keluar, tiba-tiba hujan deras. Kami terjebak di pintu keluar Goa Lawang. Suara air yang menerpa daun membuat suasana kaya dengan nuansa alam. Saat itu sekitar jam tiga sore. Masih ada rencana ke Goa Panggung. Goa yang dipercaya pernah menjadi tempat pertapaan Embah Jaga Lautan yang menjadi penghubung masyarakat Pangandaran dengan Nyai Loro Kidul, Penguasa Laut Selatan.  Tapi sayang, hujan tak kunjung reda, sementara waktu terus mendekati sore. Sudi pun pamitan pulang ke rumahnya.

***

Akhirnya hujan berhenti. Karena alasan waktu, saya memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan, tanpa ke beberapa goa lain selain mampir sebentar di Goa Panggung. Menyusuri pantai taman wisata di sebelah barat, dan pasir pantai yang basah bekas hujan, monyet-monyet ekor panjang berkeliaran mencari makan. Beberapa bule sibuk mengumpani mereka dengan kacang. Di sisi tepi hutan, beberapa ekor rusa merumput, tanpa takut-takut dengan pengunjung. Anak-anak bermain gembira, penjual layanan papan luncur sabar menunggu penyewa, nelayan mulai melaut, dan bahkan penjual makanan bersliweran menunggu senja. Pangandaran senja hari habis hujan, berawan kelabu yang melankolis, menunjukkan eksotismenya yang dulu pernah memikat pembesar Belanda di bumi Priangan.

Telah menelusuri berbagai goa yang penuh legenda di Pananjung-Pangandaran ini tak urung membuat saya berpikir, betapa terpatrinya cerita lokal di sebagian benak masyarakat Pangandaran. Secara nyata, ini menandakan keterikatan mereka dengan sejarah-budaya leluhur sangat kuat. Selain pesona wisata pantainya yang memikat, Pangandaran juga memiliki keunikan lokal lewat goa-goa alam. Mudah-mudahan hal itu tidak lalu menjadi hanya sebatas kisah mistis dan legenda seperti film-film seram dan laga yang sering syuting di situ.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu, 21/08/2011



 

Kapal di daratan

17/05/2011 § Leave a comment

Alam punya kehendak, tapi manusia memang gampang melupakannya. Seandainya Kapal PLTD Apung I di Kampung Punge Blang Cut seberat 200 ton bisa dikelola serius jadi sebuah memorial, mungkin kita bisa jadi manusia pembelajar yang lebih cerdas.

Banda Aceh, 5-6 Mei 2011

Kambing hitam

17/05/2011 § Leave a comment

Di Singapore saya mengerti, iklim bukan syarat menjadi negara teratur. Yang berlindung di balik kondisi tropis hanya bangsa yang suka kambing hitam.

Joo chiat, 15-17 April 2011

Hamburg

22/02/2011 § Leave a comment

Hamburg, 12/02/2010

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.