Pantai yang punya dua matahari
May 17th, 2011 § Leave a Comment
Hanya nama besar pantai pasir putih, sungai hijau dan goa alam? Di selatan Jawa, ujung Ciamis, di Pananjung-Pangandaran, ancaman tsunami beradu dengan peluang wisata yang naik turun. Sementara, paduan budaya malu-malu Jawa dan Sunda menunggu di wilayah yang berarti “tanah di mana orang-orang akan datang mencari penghidupan”
Pangandaran, 3-6 April 2011
--
Menelusuri goa-goa Pangandaran
Berkunjung ke Pangandaran? Segera yang terbayang adalah pantai. Destinasi wisata andalan Kabupaten Ciamis yang terletak 222 km menuju tenggara Bandung ini memang dikenal dengan pantai landai yang indah memanjang dan ombar yang berdebur tiada henti di Laut Selatan Jawa. Kawasan wisata ini menyediakan segala keasyikan wisata air seperti berenang di pantai, bermain ombak dan luncuran yang pasti menyenangkan, naik kapal mengelilingi pesisir Cagar Alam Pananjung-Pangandaran, menyewa banana dan termasuk menikmati pesona matahari terbit dan matahari terbenam di kawasan pantai yang berdekatan. Yang terakhir ini, dimungkinkan karena Pangandaran mempunyai tanjung menyerupai buah menggantung, sehingga terbentuk dua pantai, dengan arah hadap yang berbeda: Pantai Timur dengan pemandangan matahari terbitnya, dan Pantai Barat dengan matahari tenggelamnya. Tapi apakah hanya itu yang dimiliki Pangandaran, tanah yang sering disebut Tatar Sunda Selatan yang paling barat?
***
Angin pantai selatan Jawa tidak terlalu kencang di pagi akhir Maret 2011 ini. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh. Hujan yang turun tiba-tiba membuat saya bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Lalu berlari untuk berteduh di pondok makan di ujung Pantai Barat itu. Tidak jauh, sekitar 5 meter di hadapan saya ada gerbang Cagar Alam Pananjung.
Di dalamnyalah tujuan hari ini: goa-goa alam Pananjung. Kemarin Green Canyon di Sungai Cijulang (30 km dari Pangandaran) sudah membius saya dengan lembah sungai hijau toskanya yang eksotis. Kini, rasanya pas juga keluyuran di goa-goa alam yang kabarnya sering dijadikan lokasi syuting film, yang kaya kisah religious dan juga mistis, serta memiliki bentukan alam yang aneh-aneh.
Pada tahun 1922, Residen Priangan itu waktu itu, Mister Everen, menghendaki adanya suatu wilayah perburuan. Maka tanjung di selatan Ciamis lalu ditanami berbagai jenis tumbuhan dan dimasukkan berbagai jenis hewan seperti rusa, banteng, monyet, burung. Sebagai hasilnya, saat ini kawasan tersebut menjadi sangat hijau dengan pepohonan yang lebat, dan dihuni oleh berbagai hewan seperti rusa, lutung, monyet dan banteng (walau yang terakhir ini sudah beberapa lama tidak terlihat lagi keberadaannya).Selanjutnya, melihat keragaman flora dan fauna di dalamnya, apalagi sejak ditemukan Bunga Raflesia Padma, maka pada tahun 1961 daerah tersebut menjadi Cagar Alam Pananjung dengan luas 530 hektar. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Alam seluas 37.70 hektar.
Udara membiaskan cahaya matahari yang dibalut bekas hujan. Suara monyet ekor panjang yang sedang bermain di pantai Cagar Alam Pananjung terasa dominan. Ditemani seorang pemandu lokal, Sudi, saya memulai perjalanan ke dalam cagar alam melalui Taman Wisata. Sebenarnya saya lebih suka menjelajah tanpa pemandu, lebih menantang. Apalagi letak goa-goa tersebut juga dipetakan dalam denah sederhana di pintu masuk. Tapi kali ini saya berpikir bahwa Pangandaran dan goa-goa alamnya pasti akan berbeda jika diceritakan oleh penduduk lokal, yang tinggal dan berinteraksi dengan segala yang ada di situ. Kekhasan suatu daerah akan terungkap lewat cerita-cerita yang berbeda dengan yang beredar, jauh lebih kaya (baca: penuh bumbu cerita), dan menarik. Sudi meminta 60 puluh ribu rupiah untuk jasanya mengantar pengunjung berkeliling. “Saya pemandu bersertifikat, dari Dinas Arkeologi waktu mengikuti pelatihan guide pariwisata Pangandaran Juni tahun lalu“, katanya meyakinkan saya.
Sudi adalah pemuda Sunda berusia sekitar 25 tahun. Berbadan tegap, agak pendek dan berkulit gelap terkena matahari. Ia tinggal di Pantai Timur Pangandaran, berdarah Jawa dari neneknya. Hampir 7 tahun ia telah menjadi pemandu di Cagar Alam Pananjung ini. Darinya saya tahu bahwa mulanya pesisir ini merupakan wilayah Kerajaan Galuh, kemudian Kerajaan Pananjung, dan Karesidanan Priangan sebelum menjadi wilayah Kabupaten Ciamis seperti sekarang ini. Nama aslinya adalah Pananjung, berasal dari kata bahasa Sunda Pangnanjung-nanjungna, berarti wilayah tanjung paling subur atau paling makmur. Agaknya, itu terkait dengan kondisi geografis Pananjung yang berombak kecil sehingga memudahkan nelayan melaut dan mendapat banyak tangkapan. Dan karena itulah, maka banyak pendatang yang mencari penghidupan, sehingga lambat laun daerah ini lebih dikenal sebagai Pangandaran, yang bisa berarti tempat menyimpan perahu (andar – bahasa Sunda) yang harafiahnya juga bisa menjadi padanan dari dua kata: pangan yang berarti makanan dan daran yang berarti pendatang.
Bersama Sudi, saya masuk ke Cagar Alam dari pintu barat. Mungkin karena Sudi telah mendapat pelatihan arkeologi maka di situs Batu Kalde, yang merupakan situs peninggalan sejarah, ia mampu bercerita dengan baik. Situs batu Kalde merupakan peninggalan Hindu di zaman Kerajaan Pananjung yang digunakan mula-mula untuk pemujaan bagi seorang Sapi Gumarang, yang dijelmakan dengan batu yang menyerupai anak sapi sebagai monumen utama, dikelilingi batu-batu agak kecil di sekelilingnya yang seakan-akan ditaruh untuk menjaga batu utama itu. Tampak terawat, bersih dari dedaunan pohon-pohon yang menaunginya. Agaknya selalu disapu. Berpagar sederhana, cuma terbuat dari dahan pohon jati. Sapi Gumarang, yang konon adalah seorang utusan bajak laut pernah merusak seluruh lahan pertanian karena permintaannya untuk meminta padi ditolak oleh Raja Anggalarang yang memerintah pada waktu itu, namun pada akhirnya mengabdi pada raja dengan ikut memberantas hama yang dibuatnya sendiri itu.
Sudi mengatakan bahwa, masyarakat Pananjung masih memelihara Situs Batu Kalde untuk mengenang sifat ksatria Sapi Gumarang dan sekaligus mengingat asal-usul mereka yang berkebudayaan Hindu agraris. Walau tentu saja, sesungguhnya yang disebut pemeliharaan tersebut hanya berupa kegiatan membersihkan situs dan akses menuju ke sana. Sudi sendiri, rupanya juga merupakan karyawan honorer yang khusus digaji untuk membersihkan situs ini.
Yang unik, di sekitar situs Batu Kalde terdapat pohon banir (akar papan) berdiameter 2 meteran yang sudah berumur ratusan tahun dan akar-akarnya tampak seperti roket sehingga oleh Sudi, pohon itu disebut pohon roket. Selain itu juga terdapat sebuah pohon yang daun-daunnya tidak sama bentuk dan coraknya antar satu dan lainnya. Dalam satu cabang, bisa terdapat daun yang berbentuk bintang segi lima, elips, cenderung bulat ataupun segitiga. Sayang sekali saya lupa nama yang disebutkan Sudi, sehingga tidak bisa menelusuri di literatur mengenai keunikan biologis tumbuhan ini.
Selepas itu saya masuk ke Goa Parat atau Keramat. Untuk masuk ke dalamnya saya harus membungkuk karena pintunya sangat rendah. Saya kaget karena di depan pintu masuk ini ada dua nisan yang cukup terpelihara. Apakah ini yang membuatnya disebut Goa Keramat? “Tidak. Di dalam nisan tiruan itu tidak ada jasad manusia sebenarnya. Ini makhom bukan makam,” kata Sudi.”Hanya untuk mengingat Syekh Ahmad dan Muhammad yang dulu menyebarkan agama Islam di Pangandaran, dan konon “moksa“ saat bersemedi di goa ini.
Yang unik dari Goa Keramat adalah bentukan alamnya yang beranekarupa. Ada stalagmit yang menyerupai unta dan kemudian agak ke dalam, kita akan menjumpai stalagmit yang menyerupai, maaf, alat kelamin pria dan wanita. Sudi bercerita bahwa bagi yang belum mendapat pasangan, bisa memegang stalagtit yang berbentuk kelamin lawan jenis sambil memohon kepada Yang Kuasa. Konon, akan terkabul. “Namanya saja kepercayaan lokal, Mas,“ katanya,“yang gampang percaya biasanya mempraktekkan, yang tidak hanya berfoto-foto saja“.
Kemudian, ada batu cekung, seperti wajan yang berisi air. Ada tetesan air yang katanya tidak pernah berhenti menetes bahkan di musim kemarau panjang, dan apabila diusapkan ke muka bisa membuat tampak selalu awet muda. Hmm…Kata Sudi, mitosnya inilah “kaca benggala” Mak Lampir, sehingga syuting film Mak Lampir pernah dilakukan di sini.
Selain itu, di dalam Goa Parat ini juga terdapat batu berbentuk paha ayam dan landak. Ya, sekeluarga landak yang jadi maskot goa. Sudi bilang landak itu pemberian turis Afrika beberapa tahun lalu, dan saat saya datang sudah ada empat ekor, Joni and Lince sebagai induk dan Ariel dan Luna nama kedua anaknya. Kok Ariel dan Luna? “Lahirnya pas kejadian yang heboh itu”, Sudi cengar-cengir menjelaskan. Di dekat pintu keluar, yang terletak di pantai timur Taman Wisata, saya sempatkan melihat lagi stalagmit yang berbentuk gajah betina dan anaknya. Wah, banyak sekali bentuk-bentuk unik di Goa Parat ini.
Dari situ, sembari berjalan menuju goa berikutnya, yakni Goa Miring, Sudi bercerita tentang legenda seorang ibu yang sangat tamak akan kekayaan duniawi sehingga tega mengorbankan anaknya ke makhluk halus. Pengorbanannya dilakukan di Goa Miring itu. Karena itu, terdapat batu yang mirip tulang punggung manusia, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dan pocong yang sedang menatap keduanya. Batu-batu itu terbentuk konon akibat kutukan. Sudi memperlihatkan batu-batu tersebut dengan menyorotkan senternya ke bagian atas goa. Entah saya yang kurang imajinatif atau apa, tak juga batu-batu yang disorot Sudi itu membentuk serupa ibu-anak dan pocong. “Begitulah, hendaknya menjadi pengingat kita bahwa meminta itu hendaknya hanya kepada Yang Kuasa, ”kembali Sudi menutup ceritanya dengan pesan moral.
Ketika kami memasuki goa berikutnya, Goa Lawang, yang pernah dijadikan lokasi syuting film silat Brahma Kumbara, dan setelah mengagumi batu berbentuk siput dan ular, mendadak senter yang dipegang Sudi mati. Padahal di dalam goa itu gelap sekali. Tiba-tiba ada bunyi benda jatuh, dan lalu desisan pelan.
“Diam di situ, Pak!”, suara Sudi tegang. Rupanya, ada ular kecoklatan jatuh dari langit-langit goa, tepat di depan kami. Seakan menghadang perjalanan. Senter saya yang tidak mati, masih sempat menyoroti ular yang kepalanya sedikit mengembang dan lebih besar dari badannya yang dalam posisi menyerang. Samar-samar saya dengar Sudi mengucapkan beberapa kata, merapal.
Entah karena rapalan atau hal lain, pelan-pelan si ular mengubah posenya dan Sudi bilang kami berdua sudah bisa lewat. Maka pelan kami berjalan sedikit di pinggir, dan tanpa diminta Sudi mulai bercerita bahwa memang penunggu Goa Lawang adalah seekor ular putih jejadian yang berkepala manusia. Waduh…Tapi, katanya dia tidak kuatir karena kami tidak melakukan sesuatu hal yang jelek. Saya sendiri, lebih percaya bahwa ular itu nyata, dia sedang berburu, mungkin berburu kelelawar, dan dia jatuh hanya karena merasakan kehadiran kami di goa yang gelap itu.
Saat keluar, tiba-tiba hujan deras. Kami terjebak di pintu keluar Goa Lawang. Suara air yang menerpa daun membuat suasana kaya dengan nuansa alam. Saat itu sekitar jam tiga sore. Masih ada rencana ke Goa Panggung. Goa yang dipercaya pernah menjadi tempat pertapaan Embah Jaga Lautan yang menjadi penghubung masyarakat Pangandaran dengan Nyai Loro Kidul, Penguasa Laut Selatan. Tapi sayang, hujan tak kunjung reda, sementara waktu terus mendekati sore. Sudi pun pamitan pulang ke rumahnya.
***
Akhirnya hujan berhenti. Karena alasan waktu, saya memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan, tanpa ke beberapa goa lain selain mampir sebentar di Goa Panggung. Menyusuri pantai taman wisata di sebelah barat, dan pasir pantai yang basah bekas hujan, monyet-monyet ekor panjang berkeliaran mencari makan. Beberapa bule sibuk mengumpani mereka dengan kacang. Di sisi tepi hutan, beberapa ekor rusa merumput, tanpa takut-takut dengan pengunjung. Anak-anak bermain gembira, penjual layanan papan luncur sabar menunggu penyewa, nelayan mulai melaut, dan bahkan penjual makanan bersliweran menunggu senja. Pangandaran senja hari habis hujan, berawan kelabu yang melankolis, menunjukkan eksotismenya yang dulu pernah memikat pembesar Belanda di bumi Priangan.
Telah menelusuri berbagai goa yang penuh legenda di Pananjung-Pangandaran ini tak urung membuat saya berpikir, betapa terpatrinya cerita lokal di sebagian benak masyarakat Pangandaran. Secara nyata, ini menandakan keterikatan mereka dengan sejarah-budaya leluhur sangat kuat. Selain pesona wisata pantainya yang memikat, Pangandaran juga memiliki keunikan lokal lewat goa-goa alam. Mudah-mudahan hal itu tidak lalu menjadi hanya sebatas kisah mistis dan legenda seperti film-film seram dan laga yang sering syuting di situ.
Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu, 21/08/2011
—
Kapal di daratan
May 17th, 2011 § Leave a Comment
Alam punya kehendak, tapi manusia memang gampang melupakannya. Seandainya Kapal PLTD Apung I di Kampung Punge Blang Cut seberat 200 ton bisa dikelola serius jadi sebuah memorial, mungkin kita bisa jadi manusia pembelajar yang lebih cerdas.
Banda Aceh, 5-6 Mei 2011
Kambing hitam
May 17th, 2011 § Leave a Comment
Di Singapore saya mengerti, iklim bukan syarat menjadi negara teratur. Yang berlindung di balik kondisi tropis hanya bangsa yang suka kambing hitam.
Joo chiat, 15-17 April 2011
Athens
February 22nd, 2011 § Leave a Comment
Cinta di ujung senja
February 11th, 2011 § Leave a Comment
Setahun…
January 2nd, 2011 § 2 Comments
Sudah setahun kami menjalani. Hari berlari cepat, waktu berjalan lambat.
Sesudah pernikahan – di tanggal ini tahun lalu – tiga bulan aku dan Naries bersama-sama di Spanyol. Kata beberapa orang, itu bulan madu yang luar biasa. Tiga bulan penuh di Spanyol, Eropa! Tentu saja, kami benar-benar bersyukur. Waktunya pas, kesempatan seperti itu pun jarang didapat. Tak mudah merencanakan dan mewujudkannya. Tapi hidup memang baik pada kami.
Semua indah pada waktu-Nya.
Mengagumi Ninot – menyusuri Valencia dan makan Paella di lorong pusat kota saat Fallas; kehujanan salju di tengah jalan antara Madrid – Castellon; menikmati cantiknya Park Guell-nya Gaudi di Barcelona; mendaki reruntuhan benteng bangsa Moor yang eksotis di Morrela – kota tua di puncak bukit; terkesima memandang Alhambra dan Sierra Nevada dari Gereja San Nicholas Granada; terhenyak melihat adu banteng saat festival Maria Magdalena.
Tiga bulan bukan hanya itu.
Kami tinggal di Castellon de La Plana, 63 km di utara Valencia. Kota kecil di pantai timur Spanyol. Banyak hal remeh di sana yang membuatku merindukan masa itu.
Hobi kami membeli Naranja – jeruk lokal berwarna oranye. Januari dan Februari adalah musim panen Naranja, dan pesisir Mediterrania Valencia seperti surga jeruk. Ladang-ladang luas menguning, pinggir-pinggir jalan yang memanjang, penuh pohon jeruk dengan buah bergantung. Aku selalu ingin memetiknya – satu saja – tapi tak pernah berani. Penakut di negeri orang karena tak mau masuk kantor polisi. Sekilo di Carrefour Express juga kurang dari 1 euro, tak mahal.
Aku menyukai masakan Naries, dan kebiasaannya memasak Kitimoto – istilah teman Tanzania buat pork (Spanyol: carne de cerdo) – yang dibumbui lalu di-oven dengan kentang dan sayuran seperti paprika dan brokoli. Bagiku – subjektif tentu saja – itu makanan terenak di dunia. Hampir tiap hari, tiap siang ia memasakkanku. Pas saat aku pulang dari UJI, kampusku, kubuka pintu pasti ia sedang di dapur, menunggui bunyi kriiiing dari alarm oven tanda masakan sudah siap. Setelah itu, kami makan bersama di meja yang kecil, di kamarku yang juga kecil. Selalu, porsiku dua kali, eh kadang tiga kali lipat banyaknya dari porsinya.
”..di kampus kan mikir, jadi otaknya juga perlu dikasi makan, ga cuma perut”. Ah, memang alasan suami tukang makan yang sangat suka masakan istrinya.
Juga seringnya kami bermain pingpong di gedung olahraga kampus. Berdua, single. Di antara banyak pertandingan aku hanya menang sekali. Tiap kalah, aku berkilah sengaja mengalah.
Dan juga kebiasaan kami menyusuri pantai Mediterrania saat sore di akhir pekan. Bergandengan tangan, merasakan angin dari lautan. Di Grau Castellon atau di Platja-nya Bennicassim. Lalu singgah minum orchata di Cafe Pinguin. Kadang kami main gendong-gendongan di pantai. Ia yang aku gendong. Bisa semaput Naries kalau menggendongku. ”Tak gendong, kemana-mana…”, kata Mbah Surip.
Dan juga kebiasaan kami melongok ke toko 2 euro di depan Gereja tiap minggu. Semua barang di sana seharga 2 euro, apa saja. Di hari Minggu selain toko kelontong milik orang Cina, hanya toko itu yang buka.
Tiga bulan yang menyenangkan. Tidak kurang walau bulan pertama kami bergantian terkena flu yang parah. Tidak luntur walau sejatinya aku masih tiap hari ke kampus dan berkutat dengan mata kuliah dan tugas. Tetap luar biasa walau kami tak sempat ke Salamanca atau ke Pegunungan Pyrennes di perbatasan Perancis. Spanyol memang tempat wisata idaman, negara yang menjadi paling terkunjungi oleh turis nomor tiga di dunia dan nomor dia di Eropa setelah Perancis.
Tapi, di atas semua itu ada yang sebenarnya paling indah.
Kebersamaan kami.
Tiga bulan yang tiap detiknya kami selalu bersama. Saling mengenali karakter masing-masing secara lebih intim. Beradaptasi satu sama lain, lewat berbagai kegiatan yang dilewati bersama dengan teman-teman ataupun dalam kamar yang kecil sekali. Yang tidak kedap suara sehingga suara temanku yang menelpon istrinya terdengar jelas dari kamar sebelah. Juga kalau ada yang mandi dan memasak di dapur. Dalam kamarku itu, kami bertengkar kecil, berdamai lama. Cerita tentang film yang baru saja kami tonton – aku ingat, film animasi Up (2009) yang meraih dua Oscar 2010 bahkan sudah lima kali ditontonnya. ”Russel dan Dug lucu…” ungkapnya. Film ini gambarnya colorful, temanya mengharukan, menyentuh sekaligus lucu. Beberapa kali ia sampai tertawa di sampingku yang sedang mengerjakan tugas. Dan aku tergoda menonton adegannya, dan lalu kami tertawa bersama.
Itulah, dalam kebersamaan itu kami menjalani banyak hal, berkompromi banyak hal, saling menularkan kebiasaan.
Hanya saja pesta pasti berakhir.
Selepas tiga bulan, kami terpisah di bandara Frankfurt. Bandara tersibuk di Jerman. Masa cuti Naries habis dan ia balik ke Indonesia untuk berkerja lagi. Sementara aku akan tinggal Jerman, pindah universitas. Tepat pada hari pergeseran waktu musim semi di Eropa: 1 jam lebih maju dari sebelumnya. Kami yang tidak tahu bahwa waktu dipercepat menjadi kaget setiba di bandara. Perpisahan pun menjadi tiba-tiba: aku mesti bergegas mengejar kereta balikku yang sejam lebih cepat. Sehingga untuk mengantarnya ke ruang tunggu pun tidak bisa. Perpisahan yang terencana jadi mendadak. Tapi juga jadi tidak melankolis. Belakangan aku tahu, Naries menangis di ruang tunggu.
Sudah sembilan bulan selepas hari itu. Sekarang aku tinggal di Münster – barat Jerman.
Kebersamaan kami tidak lagi fisik.
Kamarku sekarang yang jauh lebih luas terasa semakin luas karena tidak ada Naries lagi yang menemaniku. Di sini tak ada pantai. Aku tidak pernah lagi makan Kitimoto – tak ada oven. Lalu seakan-akan kota ini kaku, tak sehidup tiga bulan di Castellon, tak eksotis. Ada Naranja di Minimarket Edeka, lebih mahal dan tak segar. Tidak ada orchata dan Cafe Pinguin. Ingatan peristiwaku pun pendek di sini: semua mengalir seperti adanya, terlepas begitu saja. Hanya salju yang menyadarkanku, ada sisi lain kota ini yang juga memukau.
Betapa berharganya tiga bulan itu. Terasa biru. Jika memandang pasangan yang bergandengan tangan menyusuri jalan bersalju dari jendela kamar. Melihat pepohonan menjadi putih, rumah-rumah menjadi putih waktu Natal. Dan Weihnachmarkt – pasar Natal – yang ramai dengan makanan, minuman dan pernak-pernik Natal merangkap ingatanku padanya, berharap ia bersamaku.
Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Kami merayakannya dengan sederhana. Saling memberi selamat dari jauh. Berdoa bersama untuk menjadi pasangan yang terbaik bagi yang lain. Tanpa bisa memeluk atau merangkul hangat. Tidak apa-apa, kami masih punya banyak tahun-tahun mendatang untuk merayakannya. Tidak lagi di flat yang kecil, tapi di rumah yang hangat. Dan tidak lagi berdua. Hari-hari akan dimeriahkan oleh buah hati yang akan meramaikan keluarga kecil kami. Kami saling menyayangi, mendukung dan percaya, jadi orang tua yang hebat.
Akan ada kebersamaan lagi. Tidak hanya tiga bulan, tidak hanya di Spanyol.
Selamat hari jadi.
Münster, 02/01/2011
Becak di Katedral Köln
December 25th, 2010 § Leave a Comment
Ada becak di pelataran Katedral Köln. Benar-benar becak, bukan gerobak. Dengan tiga roda dan lukisan gunung dan sawah di badannya. Isinya barang-barang apa saja. Dalam karung.
Saya jadi ingat Jogja.
Becak dan barang itu milik tiga gelandangan berpakaian dan bertopi Sinterklas. Mereka pintar mencari peluang, karena sering turis mengajak mereka berfoto.
Sesuatu yang berbeda di Hari Natal 25 Desember 2010.
Köln, 25/12/2010
Alhambra indah sekali…
December 12th, 2010 § 2 Comments
Aku sedikit tersentak. Gerak dari Naries, istriku, membangunkanku dari tidur yang tak begitu lelap. Tempias hujan lamat-lamat mengetuk jendela yang basah. Udara terasa dingin. Entah kemana panas dari heater di pojok kamar Hostel Posada Dona Lupe ini. Kulihat jam. Setengah tujuh, tapi gelap masih berkuasa di luar. Menjelang akhir musim dingin, awal Maret, dan matahari rupanya masih enggan datang pagi di kota yang terletak kaki Sierra Nevada ini.
Disinilah kami sekarang. Hanya 150 meter dari Alhambra, monumen peninggalan Islam terbesar di Eropa, salah satu dari UNESCO‘s World Heritage Site yang paling dilindungi di Spanyol. Setelah penerbangan dari Barcelona semalam, ini pagi pertama kami di Granada. Kota pesisir Semenanjung Iberia: destinasi wisata nomor satu di Spanyol, yang karena nilai historisnya dikatakan sebagai “kota yang melintas zaman“.
Alhambra berasal dari kata Arabic, Al-hamra, yang bisa diterjemahkan “si kastil merah atau benteng merah“. Mulai dibangun pada abad ke-9 oleh Dinasti Nasrid, kompleks seluas 13 hektar ini sesungguhnya merupakan istana, taman dan benteng yang digabung menjadi satu. Sebagai yang terakhir, di sinilah kebesaran bangsa Moorish sebagai penguasa Andalusia selama 800 tahun masih tersisa hampir sempurna. Seindah apakah ia? Semenjak datang ke Spanyol enam bulan lalu, pertanyaan itu terus membayangiku.
Selepas mandi dan sarapan yang tersedia gratis di hostel, pada pukul setengah 9 pagi, kami sudah antri di depan gerbang, dengan tiket 12 EUR dan earphone di tangan yang disewa dengan harga 4,5 EUR. Hari telah terang, hujan telah reda. Langit bersih dan biru. Alhambra menyambut dengan hangat.
Terletak sekitar 700 m dpal di puncak bukit Al-Sabika (Spanish: Cierro de la Sabika), dilintasi River Darro, diapit Desa Putih Albayzin yang telah berusia delapan abad, biara dan gereja abad pertengahan, dan hamparan padang rumput di tepi Garnat el-Yehudi (pemukiman Yahudi), sementara di kejauhan membentang Sierra Nevada dengan salju abadi sepanjang tahun di puncaknya, membuat Alhambra seperti istana di negeri dongeng.
Tak sabar kami melangkah. Sambil menarik-narik tanganku, Naries bersenandung kecil, ditemani kicau burung, bias warna-warna lembut matahari pagi. Ia sepertinya antusias sekali bakal merasakan aura destinasi wisata yang luar biasa ini. Memandang sekeliling, kubayangkan sebuah kompleks yang begitu mengagumkan di masa lalu. Istana utama yang megah, pangeran yang tampan, putri yang anggun dan cantik, benteng yang gagah, tempat ibadah, taman hijau, dan keputren yang dijaga prajurit-prajurit. Dan kami berdua, adalah tamu dari negeri tropis yang jauh, yang datang dari belahan dunia berbeda, yang beruntung bisa menyaksikannya.
Yang terindah tentu Nasrid Palace, istana utama, tempat tinggal keluarga kerajaan. Dibangun oleh Raja Yusuf I (1333-1353) dan dilanjutkan anaknya Mohammed V (1353-1391), bangunan inilah yang menjadi magnet utama. Untuk masuk ke istana ini, walau datang pagi, kami tetap saja harus antri sesuai jam yang telah ditentukan di tiket masuk. Di depan pintu, petugas bermuka ramah namun tegas berjaga, memeriksa tiket, tas dan barang bawaan, menyetop arus masuk untuk menjaga daya tampung bangunan.
Di dalam Nasrid Palace, terdapat tiga bagian utama: Mexuar, Comares dan Court of the Lions. Di Mexuar dan Comares, karya seni bangsa Moorish terukir di dinding, langit-langit dan tiang-tiang penyangga bangunan. Begitu detil dan indah. Dalam warna-warna coklat terang. Akan tetapi, seperti kata narator dari headset yang kubawa, di beberapa bagian bangunan, pengaruh Roma dengan motif Gothic juga dapat ditemui. Dan Mexuar, sempat diubah menjadi kapel oleh penguasa Roma setelah Alhambra jatuh. Hal yang umum dijumpai ketika penguasa berganti-ganti di zaman yang berbeda.
Di Comares, pikiranku berkelana saat melihat Ambassador Hall dan Sala de la Barca. Di sinilah tempat di mana Raja Yusuf I di masa lalu mengadakan pesta kehormatan yang meriah, dengan tarian eksotis menyambut tamu-tamu penting atau melakukan perundingan politik dengan kerajaan tetangga, mungkin Cordoba atau Seville. Ukiran Baraka (bermakna: berkat/salam) berhuruf Arab di dinding, dan ukiran di langit ruangan mengguratkan peradaban yang berjiwa seni, dengan genre Hispano-Islamic yang khas, dan oleh para ahli seperti Le Corbusier, seorang arsitek Swiss, dinobatkan sebagai “karya seni genius dari peradaban Islam yang bukan Arab”.
Langit-langitnya sering dianggap menggambarkan imajinasi akan tujuh surga. Tulisan ”Allah alone is the victor” tampak menyolok. Namun, sebaris tulisan di pojok ruangan, rasanya lebih bermakna ketika menggambarkan suasana kerendahan hati di sini, “..speak few words and you will leave in peace..”.
Ada 12 patung singa di Court of the Lions sebagai penanda pengunjung telah berada di area yang sering dianggap sebagai yang paling orisinil dan paling cantik di Nasrid Palace. Dan tak bisa dipungkiri, keindahan itu terutama dibawa oleh Cupola (langit-langit berbentuk kubah) dari Hall of Two Sisters, ruangan di dalam Court of the Lions. Karena bentuknya seperti sarang lebah madu, cupola ini lebih tenar sebagai Cupola Lebah Madu. Detilnya luar biasa, terdiri dari lebih 5.000 keping kayu yang disusun bergelantungan nan harmonis dengan sisi oktagonal. Begitu indah, tampak bersinar, apalagi saat mendapat bias cahaya dari jendela kembar di tiap sisinya. Tak heran Ibn Zamrak, seorang ilmuwan Islam abad ke-16 menggambarkannya sebagai tempat dimana jiwa-jiwa akan luruh dalam khayalan.
Di sini pula, konon legenda akan cinta terlarang yang bergelora bersemi. Antara bangsawan dari keluarga Abencerrajes dengan permaisuri (sultana). Dan sultan yang cemburu (tidak jelas Sultan siapa), lalu menghukum mati 63 ksatria dari keluarga Abencerrajes, tanpa peduli siapa sebenarnya yang berselingkuh. Darah para terhukum lalu dialirkan ke luar lewat pancuran air dari mulut 12 singa menuju River Darro. Naries bilang, ia sedikit bergidik membayangkannya: kisah seram di balik keindahan Nasrid Palace.
Kami menyusuri ruang demi ruang sambil mendengar narasi yang diceritakan secara menarik. Lalu di suatu pojok, kulihat potret diri Washington Irving. Siapa pria ini dan mengapa hanya dia orang asing yang diberi ruang khusus di sini? Tenyata, ia adalah penulis besar Amerika yang pernah tinggal di Alhambra pada abad ke-19.
Di sini, ia menulis dan menyingkap keindahan Alhambra ke seluruh dunia lewat bukunya Tales of the Alhambra (1832) yang berisi skesta, esai dan cerita pendek tentang Alhambra. Ia juga yang menulis kisah haru biru tentang penaklukan Granada di abad 15, dalam Chronicle of The Conquest of Granada (1829), sebuah buku yang begitu runtut dan detil bercerita tentang drama jatuhnya bangsa Moorish, penguasa Iberia dari Morroco (1478-1492). Suatu peristiwa besar yang mengubah wajah kebudayaan Spanyol dan Portugal menjadi seperti sekarang ini. Tapi, lalu aku bertanya-tanya lebih lanjut, dimanakah jejak nyata pengaruh Roma selain pada berubahnya fungsi ruangan dan detil di beberapa sudut bangunan?
Dan ternyata jawabannya begitu jelas: pada Charles V Palace, monumen terbesar di kompleks Alhambra, dan jadi peninggalan Roma terutuh di Iberia. Dibangun tepat bersebelahan dengan Nasrid Palace, tidak jauh dengan Benteng Alcazaba, setelah penaklukan oleh arsitek Renaissance Pedro Machuca, seorang Itali yang menjadi teman Michelangelo dan Raphael.
Sekilas bangunan ini mengingatkanku pada Colloseum di Roma. Berbentuk lingkaran, bolong di tengah-tengah dengan tiang-tiang bulat tinggi menjulang sebagai penopang. Begitu berbeda. Ada kesan bangunan ini sangat mendominasi, tapi sekaligus ia terasing karena tidak selaras dengan sekelilingnya. Menurut cerita, bangunan ini tak pernah selesai dibangun (atap sekarang adalah renovasi abad 20), karena pemberontakan yang terus berjalan memaksa dana pembangunan dialihkan untuk biaya perang. Tapi konon, ada alasan lain mengapa bangunan ini tak selesai, yakni karena si arsitek “tak tega” untuk mencemari lebih jauh arsitektur kompleks Alhambra yang sudah pasti bergenre beda dengan Roma.
Generalife sudah menunggu saat kami keluar dari Charles V Palace. Taman di utara Alhambra ini adalah tempat beristirahat keluarga kerajaan. Menyusuri promenade di tepi deretan pohon-pohon cemara (cypress) yang tersusun rapi, yang oleh brosur dikatakan sebagai “tiruan sempurna seperti adanya“, seakan kami sedang berjalan-jalan di antara lalu lalang para putri sultan di tempat tetirahnya. Taman yang begitu indah dan hijau, serta jadi penyegar di antara bangunan-bangunan berwarna coklat di kompleks Alhambra. Kami duduk di bangkunya, melihat kota dari kejauhan. Ada bangunan putih di ujung taman. Itulah pavilion sultan yang dilengkapi ruang para putri.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 14.30. Itu berarti kami mesti keluar kompleks. Jam kunjungan pagi sudah habis. Dan target berikutnya bukan tempat wisata, melainkan tempat makan. Apalah artinya berwisata jika perut lapar? Tak jauh dari pintu keluar, ada restoran yang menyajikan menu paella (nasi khas Spanyol) dan pollo y verduras (ayam dan sayuran) yang tampaknya lezat. Dan jangan lupa, tapas (gorengan dari cumi atau kepiting) di Granada kata orang adalah yang terenak di seluruh Spanyol. Setelah perut kenyang (aku makan dua potong besar paha ayam dan sepiring paella, ditambah setengah porsi kentang goreng yang kuambil dari piring Naries) kami memasang target berikutnya: Desa Putih Albayzin.
Ke Granada tanpa ke Albayzin seperti ke Paris tanpa ke Louvre. Desa Moorish ini lebih tua dari Alhambra. Ia menyimpan kisah, kesetiaan dan semangat zaman yang telah berlangsung berabad-abad. Paling tidak pada ketaatan untuk tetap membiarkan semua rumah berwarna putih dan tidak merubah bentuk bangunan. Aku sudah memandangnya dari Nasrid Palace tadi, dan terkesima: ia begitu unik, rumah-rumah begitu rapat dan jalan-jalannya begitu sempit, berelief naik turun. Dan ia sejak 1984, sama seperti Alhambra, telah dimasukkan sebagai UNESCO’s World Heritage Site.
Menyusuri lorong-lorong sempit yang berliku, kami seperti sedang mencari jalan keluar di labirin putih. Walau berbekal peta, tetap saja tak mudah karena nama jalan kadang hanya terpasang kecil di dinding rumah. Setelah beberapa kali salah jalan, dan hampir satu jam menikmati lorong eksotik yang memanjakan mata fotografer, penuh dengan bunga di jendela berteralis dan pintu abad pertengahan, akhirnya kami sampai di depan Gereja San Nicolas. Gereja ini masih satu kompleks dengan Gereja San Salvador yang dibangun di atas reruntuhan masjid bangsa Moorish waktu penaklukan.
Dari situ, terhampar pemandangan yang menakjubkan. Seperti kalender yang kulihat di toko buku Valencia, yang membayangiku selama ini. Sierra Nevada, yang berarti pegunungan hamparan salju, pegunungan tertinggi di Semenanjung Iberia dengan puncak Mulhacen (nama dari Sultan kedua terakhir Granada) setinggi 3.748 m dpal tampak menakjubkan dengan salju putihnya, menjadi latar alami bagi semua monumen-monumen penting Alhambra. Generalife di sebelah kiri berwarna putih. Deretan cemara di tengah-tengah, di atas River Darro yang menghubungkan Generalife dan Nasrid Palace. Lalu Charles V Palace di ujung kanan. Luar biasa, paduan yang nyaris tanpa cela, dengan komposisi yang mendekati simetris.
Aku dan Naries tertegun, tak puas-puas menikmati pemandangan ini. Orang-orang ramai di sekitar kami. Ada yang berjualan pernak-pernik di kain terhampar di tanah, ada yang sibuk berfoto, ada yang bernyanyi riang. Suasana sore ini begitu nyaman, lalu kubisikan di telinga Naries, “Alhambra indah sekali ya…“
Granada, 1-3/03/2010
Edisi cetak dimuat di Koran Tempo 12/12/2010
Salju dari balik jendela
December 2nd, 2010 § 2 Comments
Ditemani secangkir latte maciatto, dan hujan salju di luar, saya menonton Sang Pemimpi, dan setuju dengan Andrea Hirata:
kali ini Riri Riza mampu membuat film adaptasi novel dengan baik, tiga kali lebih baik dari Laskar Pelangi. Tiga kali itu dari Andrea Hirata, bukan penilaian saya.
Saya menyukai kesederhanaan gambar-gambarnya, kejelasan pesan moralnya, dan semangat Arai.
“Eropa, boy!”
Saya tidak tahu di bulan apa mereka sampai di Brussel, ketika salju turun dengan lebat. Tapi sekarang, Münster berselimut salju. Danau, Aasee dan hutan kecilnya, yang jadi oasis dan paru-paru kota putih. Mungkin sebentar lagi akan mengeras dan danau seluas 0,5 km persegi itu akan menjadi daratan sementara.
Münster, tak terasa sudah delapan bulan saya di sini. Kota kecil, di barat Jerman. Kota yang pernah menjadi kota paling layak huni di dunia tahun 2004 untuk kategori kota kecil versi suatu majalah gaya hidup.
Kota yang selalu hujan, sehingga di toko souvenir di seputaran Ludgeriplatz, terdapat lukisan berlatar Gereja Lambertini dan hujan, dan perempuan tua berpayung di tengah Prinzipalmarkt, pusat sejarah kota.
Seperti adanya, kini ia bersalju di bulan Desember, di temperatur minus tujuh derajat. Salju, yang membuat saya menjadi orang Gurun Sahara bertemu pantai dan laut.
Salju yang lembut seperti kapas, yang saat jatuh di jaketmu lalu menghilang. Salju yang licin setelah beberapa waktu jatuh di tanah. Salju yang bergemeretak ketika diinjak.
Salju yang membuat tangan saya mati rasa ketika memotret danau beku tadi siang.
Salju yang lebih menyenangkan ketika dilihat dari balik jendela!
Münster, 02/12/2010
Salju di Münster
November 25th, 2010 § Leave a Comment
Hari ini, hujan salju pertama di Münster. Tepat sebulan sebelum Natal. Tepat saat saya membeli kartu Natal buat orang-orang tercinta di Indonesia.
Akan ada salju-salju lainnya.
Münster, 25/11/2010
Rome
November 7th, 2010 § 1 Comment
Oslo, begitu saja
October 29th, 2010 § Leave a Comment

Oslo, sepertinya semua begitu saja. Salah satu ibukota yang kecil, milik bangsa Viking di Skandinavia. Lokasi utara membuat harga mahal buat semuanya. Udara yang selalu lebih dingin. Matahari yang sangat dirindui. Hanya satu cara, bersantailah. Duduk di Port, jangan berharap terlalu banyak. Ikutlah menikmati langit yang menggelap dan memberi makan camar di ujung dermaga. Dengan patung Ro0sevelt memandang dari kejauhan. Langit di taman patung manusia Vigeland. Norway bukan hanya Oslo: keindahan fjord Norway hanya terwakili kecil oleh fjord Oslo.
Oslo, 01-03/09/2010
Montmartre dan cincin pelangi
September 26th, 2010 § Leave a Comment
Seorang pemuda kulit hitam berambut gimbal mendekati saya. “For your luck brother!“. Sambil nyerocos tentang Sacré Cœur, tahu-tahu ia sudah memilin benang warna warni di jari kelingking saya. Merah, kuning, hijau seperti pelangi. Dalam sekejab terbentuk cincin yang indah, tapi dengan ekor benang menjuntai.
“Five euro please!”. Saya terkejut ,”Ha?”. Ia santai saja minta segitu, yang seharga döner durum lezat di toko kebab Turki. Tapi dengan santai juga saya lalu bilang, “One, or I give it back to you?”. Enak saja, siapa juga yang minta dibuatkan cincin. Ia bersungut-sungut. Bukan bahasa Inggris kayaknya. “Ok, but you’re a real miserly Malaysian!”. Haha, ia mengira saya Malaysia yang pelit. Tuduhan salah untuk satu euro.
Itulah pembuka perjumpaan saya dengan Montmartre di utara Paris. Inilah tempat, yang bagi sebagian seniman dikatakan sebagai Paris yang hidup. Bukan hanya Paris yang indah, monumental, namun diam.
Ada yang bilang, Montmarte berasal dari kata Mons Martis. Artinya Mount of Mars. Wow, toponim yang keren. Sebenarnya ia hanya bukit kecil, 130 m dpl. Tapi karena Paris begitu datar, jadilah bukit rendah ini yang tertinggi. Mungkin karena itu dianggap ia berada di Mars, dan dari situ orang memang bisa melihat bumi, yakni kota Paris itu sendiri dari kejauhan.
Memasuki Montmartre di hari Minggu awal April 2010, yang dibangun Napoleon III pada abad ke-17, perasaan seperti menjejak Malioboro di Jogjakarta. Orang berwajah bahagia lalu lalang, pemusik dan statue performer di mana-mana, pelukis bertopi pet dan kanvasnya, lukisan dan souvenir unik bertebaran. Suasana nyaman buat berjalan kaki, dan berhenti-henti melihat street perfomance.
Di pinggir jalan, ada orang muka Asia melempar-lembar boneka kecil yang bisa berakrobatik di tembok. Setelah menempel si boneka akan jumpalitan lincah. Di sebelahnya, ada orang-orangan sebesar jari tangan sedang menari di atas tanah. Rancak sekali mengikuti suara music dari tape. Di tengah jalan, seorang tukang sulap beraksi. Sasaran tembaknya gadis-gadis cantik. Dan gadis-gadis akan tertawa sambil tersipu saat mawar merah yang tiba-tiba muncul dari balik rambut mereka, diberikan sang pesulap sambil membungkuk…
Atmosfer seni kontemporer langsung terasa. Inikah, nuansa Montmartre abad 19 yang hendak dilukis Camille Pissaro, dalam Boulevard of Montmartre (1897)?
Mungkin itu afmoster sama yang dirasakan pelukis Salvador Dali, Claudio Monet, Pablo Picasso dan juga Vincent Van Gogh saat berkarya dan membuka studio di sini. Atau sebaliknya, karena inpirasi dari merekalah Montmartre jadi begini? Bisa jadi keduanya, karena manusia dan alam hidupnya sebenarnya saling bertelikung dan mempengaruhi.
Di sudut suatu jalan yang lain, saya serasa berada dalam Paris, je t’aime (2006). Dalam film itu, ada seorang lelaki yang memarkir mobilnya di sudut jalan Montmartre. Ia hidup sendiri, kesepian tanpa cinta. Karena itu sering ke Montmartre menghibur diri menikmati suasana di sana.
Si lelaki merenung, bagaimana mungkin semua gadis yang lewat tampak seperti mengundang, begitu menggairahkan, cantik dan dapat “diambil”? Apa yang mengubah mereka di Montmartre sehingga tampak begitu mempesona? Saat tengah merenung, tiba-tiba seorang gadis manis pingsan di dekat mobilnya. Ia menolong dan seperti kisah klasik, sejak itu ia tidak sendiri lagi menikmati Montmartre dan keindahan Sacré Cœur dari kejauhan.
Ya, Paris, memang kota cinta. Sepasang muda mudi berciuman di ujung jalan menuju Sacré Cœur. Mereka berbeda warna kulit, yang pria hitam, yang wanita putih.
Aura pedestrian di Montmartre tak sedahsyat La Rambla di Barcelona, yang saya datangi sebulan lalu. Tapi ada yang beda: ia kaya sisi historis yang religius. Ada sumber sejarah yang menuliskan bahwa Montmartre juga berarti mountain of the martyr. Nama itu untuk mengenang orang kudus pelindung kota, St. Denis yang dipancung di sana sekitar tahun 250 Masehi. Namun tak hanya itu, Montmartre juga punya Sacré Cœur.
Dari kejauhan, tinggi di atas, tampak Basilica of the Sacré Cœur (singkatnya Sacré Cœur) si gereja putih. Dengan kubahnya gereja katolik itu tampak seperti masjid, dan menjadi landmark yang menonjol selain Eiffel. Dibangun selama 36 tahun, dari 1876 sampai 1912, untuk mengenang 58 ribu korban perang Perancis – Prusia. Walau sudah tua gereja ini masih kokoh berdiri.
Saya mendaki puluhan anak tangga untuk sampai di sana. Sambil memandang ke atas, saya ingat bahwa di sinilah, di tahun 1534, dalam keheningan ibadah di puncak bukit yang teduh, wahyu datang kepada Ignasius Loyola untuk mendirikan Ordo Serikat Jesus bersama enam orang temannya. Kini tarekat itu menjadi tarekat Katolik terbesar dengan 21.000 anggota di 112 negara di dunia, dengan misi utamanya menyebarkan cinta kasih lewat pendidikan.
Sacré Cœur memang tidak punya detil ornamen seindah Katedral Notre Dame di jantung Paris. Tidak ada gargoyle dan ukiran gothic yang megah. Walau bergaya arsitektur Romano-Byzantine, ornamen luarnya cenderung polos. Apalagi warnanya putih. Tapi, karena berbahan dasar batuan travertine yang memancarkan calcite yang tahan pelapukan dan polusi, maka warna putihnya tak akan pudar dimakan waktu. Karena ia selalu putih itulah maka ia menjadi unik.
Patung hijau Joan of Arc yang sedang menunggang kuda, dan Raja St. Louis IX, terpatri di sisi-sisi luar gereja. Selain patrotisme, keduanya melambangkan ketaatan yang tinggi terhadap gereja. Karena itulah keduanya dibuatkan patungnya di sini.
Dari halaman Sacré Cœur, Paris terhampar di bawah. Terlihat betapa luasnya kota ini. Betapa indahnya kalau malam hari. Paris pasti akan bersolek, menjadi kota cahaya.
Di anak tangga terakhir, ada seorang penyanyi. Wajahnya menggariskan ketampanan pria Mediteranian. Ia bernyanyi sambil memetik gitar. Saat ia menyanyi, lebur dalam nyanyiannya. Merdu sekali. Tak peduli banyak orang lalu lalang di sekitarnya, sebagian mendengarkan dengan tenang. Seperti konser terbuka. Di sebelah kirinya, ada tumpukan CD yang berisi lagu-lagu yang dinyanyikan. Ia pemusik independen yang mencipta lagu sendiri.
Ia memang bukan Savage Garden yang menyanyikan lagu cinta Truly Madly Deeply (1997), yang bersetting Sacré Cœur. Tapi, seakan-akan saat ia bernyanyi, keramaian siang Sacré Cœur itu serupa senja jingga disaat sang tokoh wanita di video klip berdiri sendiri merindu sang kekasih: I’ll be your hope/I’ll be your love/be everything you need/I’ll love more with every breath/Truly, madly, deeply do..
Tak terasa saya habiskan dua jam di Montmartre dan Sacré Cœur. Kebanyakan hanya berdiam di bangku taman Sacré Cœur. Merasakan lembut belaian angin Paris. Saya menikmati betul suasana di sana. Tak peduli orang bilang, Paris adalah kota yang sudah jenuh dengan agama dan karena itu, monumen seperti Sacré Cœur hanyalah simbol basa basi masa lalu. Tidak peduli tempat ini semakin penuh orang. Biasanya saya cukup lagak berkomentar kritis terhadap banyak hal. Kali ini saya pingin jadi benar-benar turis.
Jika Sungai Seine adalah kalung, dan rentetan Louvre, Eiffel, Notre Dame, Musée d’Orsay, adalah taburan permata utama, maka Sacré Cœur ibarat permata terakhir di ujung untaian.
Dalam dua jam itu saya lupa tentang si penjual cincin kulit hitam. Tapi pas turun, saya lihat dia sedang membikinkan cincin pelangi buat seorang gadis cantik berwajah Eropa Timur. Mungkin kali ini ia akan berhasil mendapat lima euro. Keduanya tertawa bersama dengan riangnya selepas si pembuat cincin membisikkan sesuatu di telinga si gadis.
Paris, 01/04/2010
Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu 26/09/2010
Jejak Tanjungpura
August 22nd, 2010 § Leave a Comment
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.
Begitulah Sumpah Palapa yang terkenal dari Gajah Mada. Sumpah dalam bahasa Sanskerta itu diucapkan pada 1258 Saka (1336 Masehi) saat pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit.
Gajah Mada bersumpah tidak akan makan buah palapa (alias berpuasa) sebelum menaklukkan sepuluh daerah tersebut. Dan gaung sumpah itu sungguh luar biasa di kemudian hari. Di bawah Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit menjadi kerajaan terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada abad ke-14-15. Wilayah kekuasaannya membentang sampai ke Thailand Selatan dan Filipina*.
Bagaimana kondisi kerajaan di daerah yang disebut dalam sumpah itu saat ini? Sebagian tetap bertumbuh seperti Palembang dan Bali, sebagian lenyap ditelan zaman seperti Pahang dan Tanjungpura. Karena itulah jadi menarik kalau yang lenyap tersebut ditelusuri.
Saya beruntung: lahir dan dibesarkan di Ketapang, Kalimantan Barat, yang menjadi lokasi modern Tanjungpura. Pada pertengahan tahun lalu, sambil pulang kampung, saya menyempatkan diri menelusuri jejak Kerajaan Tanjungpura di Ketapang, yang dikenal sebagai Tanah Kayong. Kebesarannya di masa lalu masihkah dapat ditemukan sekarang?
Sebagai pembuat peta, saya terbiasa melacak penamaan suatu daerah (toponimi) yang akan ditampilkan dalam database peta. Maka, pada suatu siang di pertengahan Juli, saya menuju Desa Tanjungpura, yang terletak kurang-lebih 30 kilometer ke timur laut Kota Ketapang. Desa ini tepat di pinggir Sungai Pawan, sungai terbesar dan terpanjang kedua di Kalimantan Barat.
Matahari terik membakar kulit. Angin yang berembus hanya seperti tiupan kipas yang tak berarti. Ini musim kemarau di daerah Khatulistiwa.
***
Kata “Tanjungpura” diperkirakan berasosiasi dengan pohon tanjung yang banyak tumbuh di pinggir sungai di Kalimantan. Sebagian ahli sejarah mengatakan, menurut sejarah yang terekam, Tanjungpura merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat. Tetapi siapa pendirinya tidak diketahui walau beberapa menyebut Brawijaya (seorang bangsawan Majapahit). Dan Desa Tanjungpura, oleh para sejarawan dan berdasarkan cerita orang tua yang saya dapat sedari kecil, pernah menjadi ibu kotanya.
Pada abad ke-14, kerajaan ini diketahui menguasai wilayah di antara dua semenanjung: Tanjung Dato dan Tanjung Puting. Ini luar biasa mengingat kondisi alam Kalimantan, karena jika ditarik dengan pembatasan wilayah modern, artinya ia menguasai sebagian wilayah Sambas (dekat perbatasan Malaysia), Kendawangan di pesisir selatan, serta Sukamara dan Kota Waringin Barat di Kalimantan Tengah.
Itu berarti melintas rimba lebat, puluhan anak sungai, dan ratusan kampung. Namun sepertinya wilayah pengaruhnya terutama di pesisir pulau dan tidak sampai merambah pedalaman yang dikuasai penduduk asli Dayak.
Seorang sejarawan lokal, Gusti Iswadi, lewat buku Pesona Tanah Kayong, Kerajaan Tanjungpura dalam Perspektif Sejarah, mengatakan bahwa Tanjungpura memiliki keunikan dalam “bertahan hidup”, yang diwujudkan dengan seringnya ibu kota berpindah. Dimulai dari Negeri Baru, Sukadana, Sungai Matan, Kertapura di Nanga Tayap, Tanjungpura di Kecamatan Sungai Awan Kiri, sampai terakhir di Mulia Kerta di Kota Ketapang. Yang unik, semua lokasi itu di pinggir sungai dan nama kerajaan berganti mengikuti lokasi baru dan pengaruh keluarga kerajaan yang berkuasa.
Perpindahan itu diperkirakan akibat serangan bajak laut (dikenal sebagai lanon) dan perompak dari Selat Karimata, bukan karena bencana alam. Dengan seringnya perpindahan itu, jejak-jejak masa lalu, seperti makam raja-raja, tersebar di mana-mana.
***
Mencapai Desa Tanjungpura susah-susah gampang. Jaraknya hanya 30 kilometer dari ibu kota kabupaten. Namun sebagian dari jalan masuk masih belum diaspal. Selepas 5 kilometer, hanya jalan tanah di hutan gambut. Jalan itu kadang di beberapa bagian hanya cukup dilewati satu sepeda motor. Bakal berdebu luar biasa di musim panas, lalu terendam air setinggi lutut di musim hujan.
Biasanya di daerah Mensubuk (Lubuk Dalam), 6 kilometer sebelum desa, jalur akan putus kurang-lebih 1 kilometer akibat air pasang. Perlu rakit untuk menyeberanginya. Tapi kali ini saya beruntung. Sudah beberapa minggu hujan tidak turun.
Sepanjang perjalanan, selepas Desa Sungai Awan, saya disuguhi pemandangan khas tanah pesisir Kalimantan. Tanah gambut ditumbuhi tanaman dataran rendah, seperti pakis. Di kiri-kanan jalan, ada alur parit buatan yang airnya sangat hitam. Berpadu dengan awan yang beraneka rupa, di kejauhan tampak hutan yang tidak terlalu hijau dan bervegetasi jarang. Sisa kebakaran besar tahun 1999 dan 2001 masih terasa dengan tidak adanya lagi pohon-pohon besar.
Setibanya di Desa Tanjungpura, saya tidak langsung menuju peninggalan kerajaan. Rumah-rumah kayu, rakit apung, air sungai yang mengalir tenang, dan hutan hijau di seberang sungai adalah pemandangan yang pantas dinikmati terlebih dulu. Tampak rombongan lutung bergantungan di beberapa pohon besar berbuah. Mereka ribut sekali.
Saya teringat pengalaman masa kecil ketika berenang ke tengah Sungai Pawan ini, yang lebarnya 200-an meter, hanya memakai batang kayu. Selepas itu, melompat dari rakit apung, bersalto, lalu berkejar-kejaran di sungai. Kemudian memancing ikan baung atau tilan di bawah pohon sagu. Ah… kenangan.
Selepas menikmati es di warung kecil di pinggir sungai, saya lalu menuju monumen peninggalan kerajaan: Taman Makam. Terletak tidak tepat di pinggir jalan, melainkan di pinggir hutan yang cukup lebat. Suara burung menyambut saya ketika masuk gerbang Tanah Makam yang terbuat dari kayu berwarna kuning itu. Yang unik, sebelum masuk makam raja, ada plang yang bertulisan “Wajib Lapor ke Makam Perdana Menteri”, yang disertai anak panah menuju satu makam lain. Rupanya di alam nirwana pun protokoler masih dicoba dipakai.
Secara keseluruhan, Taman Makam cukup terawat, dengan beberapa bangunan kecil dengan nisan yang didominasi warna kuning–warna identitas Melayu. Beberapa pilar makan dikebat (bahasa lokal yang berarti diikat) dengan kain merah polos. Terdapat kira-kira 40 makam besar dan kecil. Tersusun rapi. Salah satu yang terbesar adalah makan Pangeran Iranata, keturunan Raja Giri Kesuma, raja muslim pertama Kerajaan Tanjungpura. Makam itu bersanding dengan makam permaisuri, dikelilingi makam kecil-kecil yang sepertinya anggota kerajaan.
Ke sana, saya ditemani seorang penduduk lokal, Suwar namanya, yang cukup tahu banyak tentang sejarah Kerajaan Tanjungpura. Ia teman masa kecil saya. Walau tinggal di Kota Ketapang, ia punya saudara di Desa Tanjungpura. Dengan bangga ia berkata, “Inilah raje kami dolok” (Inilah raja kami dulu).” Saya tidak tahu apakah benar dia keturunan bangsawan. Tapi, bagi dia dan keluarga, setiap menjelang hari raya Lebaran, ziarah ke Taman Makam adalah wajib.
Tapi, ketika saya tanya di mana letak bangunan kerajaannya, ia hanya menggeleng. “Dah habis dah, lapok. Abis dari kayu jak buatnye” (Sudah habis, lapuk. Karena terbuat dari kayu saja).
Memang sulit menemukan kembali peninggalan fisik dari bangunan-bangunan yang didirikan dari kayu. Tapi di lokasi yang jauh lebih ke hilir lagi, di Desa Mulia Kerta, saya masih menyaksikan bangunan Kerajaan Matan (kerajaan terakhir dari “trah” Tanjungpura).
Menurut sejarah, Kerajaan Matan sudah resmi menjadi kerajaan Melayu Islam dan tidak lagi Hindu. Didirikan oleh Panembahan Haji Muhammad Sabran pada 1876. Raja terakhirnya adalah Gusti Muhammad Saunan, yang memerintah dari 1924 sampai 1943. Karena dia yang memugar bangunan kerajaan yang masih berdiri tegak sekarang (dalam rupa museum), bangunan itu kerap disebut Keraton Muhammad Saunan.
Suwar bercerita, menurut apa yang dikisahkan orang tuanya dulu, ada kisah heroik mengenai kematian Muhammad Saunan. Kematiannya berkaitan dengan kisah tragis “penyungkupan”, yang dilakukan oleh tentara Jepang. Disebut penyungkupan karena, saat tawanan hendak dipancung, kepalanya diselubungi kain lebar seperti cungkup. Saat hendak dieksekusi, para petugas mendapati Muhammad Saunan lenyap secara misterius dari sel yang dijaga ketat. Sampai sekarang tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.
“Tapi kali itu bah cerite jak, biar semangat dan buat nggenang die ngan bangge,” kata Suwar dengan logat lokal yang kental. Masuk akal juga pikir saya. Bukankah cerita sejenis selalu terdapat di mana-mana?
***
Penelitian terbaru dari Balai Arkeologi Jakarta mengungkap dugaan bahwa mungkin Tanjungpura adalah peradaban Islam tertua di Pulau Kalimantan. Dibawa dari tanah Melayu di pesisir timur Sumatera oleh para pedagang sekitar abad XI atau XII, kemudian sempat terpengaruh budaya Hindu dari Majapahit. Ketika era Majapahit berakhir, kerajaan-kerajaan kembali menjadi kerajaan Islam.
Memang, dari nama dan gelar yang dipakai, seperti gusti, panembahan, pangeran, ratu, adipati, anom, nyai, dan Muhammad, tampak bahwa pengaruh Jawa (terutama Majapahit) dan Islam sangat kental. Keunikan pemakaian gelar itu tidak menempatkan gender sebagai pembeda. Jadi saat ini dapat ditemui nama “pangeran ratu” buat pria.
Sayang sekali, seperti kebanyakan sisa kerajaan Nusantara di Kalimantan, tidak banyak peninggalan fisik dari Kerajaan Tanjungpura selain makam dan bekas kerajaan tak terawat yang telah menjadi museum. Pelapukan dan ketidakcermatan dalam perawatan telah menghancurkannya. Kebesarannya yang pernah diakui Majapahit kini seakan surut.
Tapi, di masyarakat Melayu Ketapang, kebanggaan akan asal-usul tampaknya masih kental. Pemakaian gelar gusti dan uti, yang menunjukkan kebangsawanan, masih dilestarikan. Juga masih lestarinya ikatan persaudaraan para keturunan keluarga kerajaan, yang membentuk Ikramat (Ikatan Keluarga Besar Kerajaan Matan dan Tanjungpura), dan mekanisme pemberian gelar kebangsawanan kepada tokoh berpengaruh di Ketapang. Agaknya nama besar Tanjungpura juga masih mengiang di masyarakat, tidak hanya menjadi nama Universitas Tanjungpura, Pangdam XII/Tanjungpura, atau nama jalan utama di ibu kota provinsi, Pontianak.
***
Hari sudah magrib ketika saya sampai kembali di kota. Suara azan disenandungkan dari masjid dan surau. Hujan rintik-rintik menyertai kedatangan saya. Rupanya itu alasan cuaca panas sekali tadi.
Besok saya hendak bertemu dengan teman lama yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Ia tahu banyak mengenai peta politik lokal. Mungkin saya dapat cerita trah Kerajaan Tanjungpura lainnya, seperti Kerajaan Sukadana di Kabupaten Kayung Utara atau Kerajaan Simpang di pedalaman. Rasanya nikmat sekali, bercerita mengenai suasana paling kini kampung halaman sambil mengudap kopi susu kental manis ditemani kue apam pulu pinang di warung kopi Maknyah Pincang di Pasar Baru.
Edisi cetak dimuat di Koran Tempo, 22/08/2010
Catatan:
*saat menulis ini, saya sengaja percaya tentang kejayaan Majapahit. Perkara dugaan bahwa Majapahit tidak pernah sebesar yang digemborkan, itu bahasan lain.
I-am-sterdam
August 18th, 2010 § 2 Comments
Berlin, di antara masa
August 18th, 2010 § Leave a Comment
Berlin, 14-15/08/10
Barcelona
March 12th, 2010 § 2 Comments
Ini, ibukota Catalonia. Kota yang dibangun oleh Hercules, 400 tahun sebelum Roma. Dan ini kota tersibuk di pesisir Mediterrania yang paling terpengaruh oleh arsitektur Romawi, sebagai Roman Military Camp.
Tapi, fakta sejarah itu tidak berpengaruh apa-apa. Barcelona tidak menjadi sesuatu yang digagah-gagahkan dan melankolis terhadap kejayaan masa lalu seperti kota bersejarah umumnya. Kota ini, malah tampak ceria 
dengan arsitektur Gaudi yang riang dan berwarna-warni di berbagai belahan kota, dan selalu bertumbuh seperti La Sagrada Familia yang entah kapan selesai dibangun.
Itu membuat Barcelona jadi menyenangkan, sangat menyenangkan. Atmosfer kota yang ramah.
—————————
Barcelona, 28-1/03/2010










