Mengalami hari

October 19, 2009 - 2 Responses

castellon sunrise in castellon

bici castellon in a corner of maria magdalena

Castellon, 09-10/2009

entre la montana y la playa

October 10, 2009 - 5 Responses

Di suatu sore yang berlangit biru, saya pergi ke Benicassim, desa kecil di utara Castellon. Letaknya tidak jauh, hanya 15 km dari Castellon. Bisa ditempuh 15-20 menit menggunakan bis Mediterranio.

Dan ternyata, inilah kota yang untuk beberapa saat secara personal membuat saya merasa konyol tinggal di Jakarta.

Dari dulu, selalu ada keinginan untuk tinggal di sebuah rumah, dengan pantai di halaman depan dan perbukitan hijau di halaman belakang.

Rumah yang tidak besar, tapi bertaman. Taman hijau yang cukup luas, dengan satu dua pohon peneduh berdaun lebat, beberapa kursi dan sebuah meja kecil di bawahnya. Pagarnya juga pagar tanaman merambat.

Di Benicassim, saya menemukan itu hampir di semua sudut kota. Kota yang didesain untuk tempat tinggal. Diciptakan untuk nyaman ditinggali.
Kota ini memanjang, membujur dari utara ke selatan, di sepanjang pantai Laut Mediterrania.

Ia, berada di kaki bukit kecil, tidak tinggi tapi cukup untuk membuat suasana teduh. Bukitnya di arah barat kota, dan laut di arah timur kota. Paduan yang sempurna. Bagaimana tidak?

Bayangkan, jika engkau berumah di situ, tiap pagi engkau akan menemukan cahaya matahari menembus jendela kamarmu dari lautan. Cahaya yang membangunkan mu dari sela-sela gorden. Engkau akan bangun dengan segar dan berterima kasih atas kedatangan hari yang baru.

Lalu, duduklah di terraza, hiruplah udara yang sangat segar sambil menyeruput coklat hangat atau susu manis. Sambil membaca koran pagi, atau hanya mengobrol dengan istri atau anak tercinta.

Kemudian, di sore hari, engkau tidak akan tersengat panas matahari karena engkau terlindungi oleh bukit-bukit yang memanjang. Ah, sesungguhnya kata tersengat tidak pernas pas untuk Benicassim. Tidak pernah ada udara yang terlalu panas dan atau terlalu dingin di pesisir timur Spanyol.

Ya, itulah impian saya, yang klise dan barangkali semua orang juga begitu.

Saya menyusuri Grau, di jembatan coklat dari kayu yang disusun memanjang mengikuti alur pantai. Menikmati angin yang lembut, hanya menyibak rambut, dan tidak membuat matamu terganggu dengan kelilipan terus menerus. Lalu duduk di bangku kayu, melihat orang-orang di kejauhan memancing. Saya lempar batu pipih, mencoba membuat pantulan satu dua di atas air. Kadang berhasil kadang tidak.

Malam menjelang, dan Benicassim gelap. Gelap yang dimulai pukul delapan. Lampu-lampu dinyalakan, dan saat itu saya telah berada di sebuah bar milik orang Tunisia. Bar yang kecil, tapi nyaman. Saya teringat bar milik Jeremy, di Blueberry Nights. Hangat. Bersahabat.

Segelas Amstel? Ah, tidak. Saya tidak suka bir. Saya hanya pesan segelas coklat plus susu, yang hangat.

Quiero un chocolate con leche, por pavor..caliente..

Dan, sms masuk. Suasana tiba-tiba jatuh ke dalam melankolia. Saya baca sms itu, sms yang rindu dari seorang yang jauh.

Benicassim, kota di Mediterrania, coklat hangat, malam sejuk dan sms rindu, paduan yang sempurna buat engkau merasa biru, bukan?

Cuma sesaat, sebab sebentar lagi pukul sembilan, dan karena bis terakhir menuju Castellon 10 menit lagi akan datang.

Benicassm, 08/10/09

Por la tarde…

September 18, 2009 - 5 Responses

Sabtu itu, saya berdoa di sebuah gereja tua, Catedral de Castellon. Ini misa pertama saya di Spanyol.

Gereja di Calle Mayor ini penuh. Bukan karena banyak yang hadir, tapi karena gerejanya memang kecil, hanya memuat sedikit orang. Bangunannya kokoh, walau tampak tua.

Ia terletak tidak jauh dari Plaza Maria Agustina, tempat di mana hampir tiap sore saya duduk dan menikmati malam yang pelan-pelan turun.

Hmm..bahasanya Valenciano, yang berbeda dengan bahasa Spanyol pada umumnya: tak satu patah kata pun saya mengerti.Saya juga satu-satunya orang berwarna yang ada di situ.

Por la tarde, di suatu sore itu, saya berdoa.

Castellon, sekilas…

September 12, 2009 - Leave a Response

Castellon di musim panas, cerita tentang apa?

Mungkin ada baiknya kalo ini adalah cerita tentang kota kecil yang indah dan selalu bermatahari di pinggir laut Mediterrania.Kota di pedalaman Spanyol, di tengah antara Barcelona dan Valencia. Dua kota besar milik bangsa Catalan, bangsa yang punya sejarah panjang dan kebanggaan identitas yang tinggi. Kota yang gersang, diapit lautan dan deretan pengunungan yang membatasi ke arah barat.

Dan saya sekarang jadi bagian kota kecil itu. Kota yang serasa bukan Eropa. Terlalu panas, dan terlalu santai. Pernah lihat bahwa pada saat siesta, toko apapun tutup selama tiga jam? Ah, siesta, sama seperti di Italia, cara menikmati hidup dengan merayakan waktu-waktu tidur siang. Hmm..

Bangunlah pagi-pagi, kau hanya menemukan gelap. Aktivitas hampir semua dimulai menjelang siang. Atau, kalaupun ada hanyalah anak-anak muda yang baru pulang dari pesta di Grau, istilah mereka untuk pantai. Tapi lihat, matahari benar memanjakan kota ini, seperti Eropa tengah, ia di musim panas juga terbenam di waktu-waktu selepas kita di negara tropis sudah makan malam.

Ah, Castellon.

Sampai

September 1, 2009 - Leave a Response

SAMPAI JUMPA DI CASTELLON, SPAIN!

Bali jiwa

August 25, 2009 - Leave a Response

Kuta-Bali, saya hanya ingat ini:

di suatu kota pantai
di suatu hari kemarau
di suatu keasingan rindu
di suatu perjalanan biru.

Puisi yang bisa dari Umbu Landu Paranggi.
Kata, kata, kata..

mencari jiwa yang akan pergi jauh…

Bali, 2-6/08/09

abadi pagi itu

July 1, 2009 - 3 Responses

gembul

Sawah kekuningan, kabut, pepohonan, matahari ufuk timur. Abadi pagi itu, denganmu..

Prambanan, 28/06/09

Nemberala tanpa ombak

April 4, 2009 - 6 Responses

nembrala-seperti-surga nembrala-seperti-surga-berjalan nembrala-seperti-surga-pemetik-rumput-laut-dan-keranjang

Nemberala tanpa ombak, tetap saja seperti surga.

nembrala-seperti-surga-langit nembrala-seperti-surga-pagi-abadi nembrala-seperti-surga-pemetik-rumput-laut-dan-peselancar

nembrala-seperti-surga-pemetik-rumput-laut1 nembrala-seperti-surga-babi1 nembrala-seperti-surga-biru

Nemberala – Pulau Rote, 29/03/2009

Keluarga Maniking

April 4, 2009 - Leave a Response

gadis-kecil-senja-maniking

Seorang gadis kecil berjalan diam-diam di antara air yang terjebak di pantai berbatu Maniking, tidak jauh dari Oesapa.
Lalu, ayah dan kakak lelakinya menyusul. Mereka mencari ikan, kerang, dan kepiting kecil yang terjebak di air.
Untuk makan malam.

senja-maniking1

Di cakrawala, berjejer di kejauhan bagan-bagan nelayan pencari ikan. Siluet keluarga itu bergerak. Suasana sayup.

Maniking – Kupang, 26/03/09

Senja Teluk Kupang

April 4, 2009 - One Response

lumut-dan-siluet-senja-makan-meting siluet-di-pasir-panjang-gadis-kecil

Teluk Kupang, dengan Pasir Panjang dan tradisi makan meting.
Menikmati senja dan aroma pantai – yang benarkah begitu-begitu saja?

lumut-di-pasir-panjang siluet-di-pasir-panjang-makan-meting1

Teluk Kupang, 11/03/2009

Roti Jambu dan Cinta…

February 13, 2009 - 2 Responses

ALLAH DAN ROTI

Ibu: “Tahukah engkau bahwa Allah ada di sana ketika engkau mencuri roti dari dapur?”

“Ya”

“Dan Ia mengawasimu sepanjang waktu?”

“Ya”

“Kaupikir, apa yang Ia katakan kepadamu?”

“Ia berkata, ‘Tidak ada orang lain di sini, hanya kita berdua – ambillah dua’.”

(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

============

Allah yang bagaimanakah yang ditampilkan Pater Anthony de Mello SJ dalam kisah itu (dari tuturan sang anak)?

Saya ingat pengalaman masa kecil. Dulu, di sebelah rumah saya, di halaman tetangga, berdiri sebuah pohon jambu air yang berbuah lebat. Tiap kali musim, pohonnya seperti dihiasi benda-benda kecil berwarna-warni: dari hijau pupus sampai merah darah. Banyak sekali, menggantung di mana-mana. Ranum dan matang. Tentu saja, sebagai anak kecil yang nakal, pemandangan seperti itu sangat menyenangkan…

Di rumah yang empunya pohon, ada seorang nenek yang tampangnya selalu berkerut. Selalu duduk di teras rumah, seolah mengawasi semua anak kecil yang bermain di halaman dekat rumah itu. Menyeramkan boleh dibilang. Anak-kecil di sekitar takut padanya. Suatu waktu, mungkin itu sore hari, sehabis bermain di tepi sungai, saya tergoda melirik buah jambu itu karena rumahnya tampak sepi. Si nenek yang biasanya duduk di singgasananya juga tidak ada. Sepertinya semua penghuninya sedang keluar. Sementara saya sendiri mengendap-endap menuju pohon jambu itu, teman-teman menuju lapangan untuk bermain bola.

Dengan lincah saya memanjat pohon itu, dan asyik nangkring di atasnya. Satu demi satu buah yang ranum saya ambil. Ternyata, tak dinyana, si nenek tau-tau ada di bawah pohon dan melihat saya dengan tajam. Alamak!

“Turun..”

Mati saya pikir, pasti nenek bilang ke Bapak dan saya dimarahi. Sampai di bawah, nenek itu memandang mata saya. Gemetar.

“Kau kecil-kecil dah suka ngambil ya…Mana temanmu? Kenapa hanya sendiri? Cepat panggil teman-temanmu dan panjat sepuasnya sebelum anakku (si empunya rumah) datang..”

Seketika, gemetar saya hilang, lalu bergegas memanggil teman-teman.

……

Cerita de Mello, yang saya baca pertama kali sewaktu sekolah di Jogjakarta itu mengingatkan pada sosok nenek yang berpihak pada saya. Sosok yang lemah hati kepada kesalahan seorang anak kecil yang baru kenal dunia yang dilakukan dengan polos karena naluri ingin buah jambu yang ranum. Sosok yang membiarkan pohon jambunya dipanjati kami anak-anak yang nakal, sekaligus sosok yang berani mengakali agar kami gembira. Sosok yang ternyata kata teman-teman saya yang lebih tua, dulu suka memberi kue-kue ke tiap anak yang main ke rumahnya tiap Hari Natal untuk dibawa pulang. Sosok yang beberapa tahun setelah itu, saat meninggal dunia, yang melayat termasuk preman kampung yang disegani.

Allah, menurut de Mello, dari sudut pandang seorang anak kecil, ternyata lembut hati, sangat pemurah dan baik hati. Si anak juga beranggapan, bahwa Allah tahu karena roti ini milik Ibu si anak yang juga sayang pada si anak, maka tidak apa-apa mencurinya.

“Ambillah, Aku yang menyuruhmu. Ibu mu pun tahu, kalau Aku akan berbuat ini padamu..”

Bukan kah itu suatu pemakluman yang sangat lembut, sangat manusiawi?

Tapi apakah Allah benar-benar begitu? Allah seperti apa yang diajarkan agama kepada kita? Bisakah kita sebagai anak kecil sepolos itu memandang Allah, dan benarkah?

…….

['Ries, cinta akan memaklumi kekonyolan yang masih sepolos kanak-kanak"]

Waktu jalan, aku tidak tahu apa nasib waktu..

January 18, 2009 - 6 Responses

Ke sinikah jalan yang tak pernah ada ujung itu? Rumah-rumah apung di Nanga Pinoh, yang berderet rapi, tampak kecoklatan bercampur warna perak. Sedikit terombang-ambing karena riak kapal yang lewat.

Hari ini 25 Desember, Hari Natal. Saya mengingatnya. Rindu sekali padanya. Tapi, terasa hari akan jadi malam.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja
Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan

Aku Ini Binatang Jalang masih terbuka. Ah, rumah apung. Saya memandang lebih lama,
dan tahu bahwa ada yang tetap tidak diucapkan

Karena, saya tidak tahu, apakah jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
selanjutnya tidak ada burung-burung asing, buah-buah pandan ganjil

Saya tutup buku itu. Pulang menembus jalan berlubang menuju Sintang.

Nanga Pinoh, 25/12/08

January 15, 2009 - One Response

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
….

Sungai salju

November 15, 2008 - 2 Responses

Rasanya aku tidak ingin berjalan di tepi sungai salju lembah gunung yang airnya mengalir pelanpelan tanpa akan berhenti sampai bertemu anakanak sungai menuju muara nun jauh di kaki samudera. Pada pagi yang hening dimana suara burung musim salju tidak senyaring musim panas yang akan selalu hanya sebentar tapi penuh gairah akan hidup yang selalu akan tampak menyenangkan karena akan punya panas yang membakar hangat yang menenteramkan. Hanya berdiri menikmati dingin memandang kejauhan pucukpucuk yang sedikit biru tapi tetap tak sebiru langit ketika musim angin tidak bertiup. Sambil merasakan betapa gemetar betapa gentar jika sungai salju ini habis kususuri tanpa pernah tanpa akan bermain pasir di pantai tanpa pernah samasama melihat pelangi tanpa pernah ada kamu kelak dalam banyak perjalananku.

[...]

Oafd Rawas

November 12, 2008 - Leave a Response

Afdeling Palembangsche Boven Landen, Oafd Rawas.
Di Jembatan Lesing, Sungai Megang, air yang keruh.
Lagi-lagi, di tempat yang antah, terra incognita.

Musi Rawas, 11/11/08

Manusia Pasir Bromo

October 31, 2008 - 2 Responses

Di Cemoro Lawang, disaksikan Pura Luhur Poten, sambil membawa beban Mapapahit, orang-orang Tengger menapakkan kakinya di pasir Bromo yang menakjubkan.

Hidup diantara sepuluh gunung. Hidup diantara pasir, rumput tipis, kawah, kebul Semeru dan awan rendah bulan Agustus. Hidup sebagai petani bawang, yang ditingkahi deru jeep carteran dan derap kaki kuda sewaan.

Sore, Supadi si joki kuda yang agak tuli memberi kartu namanya, yang hanya bertuliskan SUPADI, tanpa alamat atau nomor telepon. Sementara si penjual bunga edelweiss yang entah-siapa-namanya, menunggu di atas kawah. Merayu agar bunga dibeli, lalu dilempar ke kawah mengepul, dan permohonan dibisikkan pelan-pelan. Seorang ibu mengulurkan minuman kaleng dengan harga empat kali lipat lebih mahal.

Esoknya, Warno si ojek motor lincah menembus Segara Wedi Kidul, memutari Batok, lalu mendaki Penanjakan di subuh berkabut. Ia tahu semua tentang Bromo.

Juga Sum, lelaki paruh baya, sopir omprengan dari Madura yang mengingatkan pada tukang becak di Pasar Merdeka. Lalu Adi, lelaki asal Malang, yang telah 17 tahun jadi resepsionis di Hotel Cemoro Indah, dan rasanya selalu menyimpan nomor-nomor telepon tamunya yang bertampang kaya.

Manusia-manusia di pasir Bromo. Yang hidup darinya.

Barangkali, hanya kali ini kita bertemu. Besok, dunia sudah punya cerita lain.

[Sambil menulis ini, saya masih ingat saja, sorot mata gadis manis berwajah teduh yang membeli bunga di puncak Penanjakan. Saat yang lain sibuk melihat munculnya matahari dan heboh berfoto diri, ia hanya duduk tenang saja menikmati suasana, di samping ibunya yang sudah tua. Sorot mata itu, sorot mata yang entah bermakna apa]

Bromo, 18-19/10/08

Kabut di Muara

October 21, 2008 - 3 Responses

Kabut turun tidak seharusnya. Di Muara Sungai Siduk, tempat yang tidak pernah diingat dalam, pun oleh para penglaju peraih durian dari Sukadana, yang setiap hari melintasinya saat musim buah.

Tempat yang sangat biasa. Hanya, subuh itu, kabut singgah di situ, diantara langit yang biru-laut yang biru, dan putih yang pedar. Dari kaki Gunung Palung di timur menuju Selat Karimata di barat.

Menuju laut, dilatari matahari, seorang nelayan berdiri di perahunya. Mendayung pelan-pelan untuk kemudian menebar jala. Ia sendirian di subuh berkabut tipis itu.

Siduk, 03/10/2008

[cepatlah pulang, sebelum tempat-tempat yang tak pernah habis menakjubkan, kudatangi lagi tanpamu!]

Toraja: hidup adalah merayakan kematian

October 7, 2008 - 8 Responses

Seperti banyak kisah lain, ini juga tentang sebuah kota, kota dimana pagi selalu berkabut. Kota diantara gunung, yang punya udara yang penuh bau matahari. Kota yang juga punya senja indah yang memerah, seperti pipi gadis cantik yang tersipu setelah dirayu dengan bergairah oleh pangeran tampan dari negeri yang jauh.

Inilah, kota dengan seribu gereja di kaki gunung, seribu kerbau di sawah yang hijau dan babi di kandang belakang rumah, seribu tugu batu dari masa purba, seribu atap yang melengkung, seribu patung di dinding cadas dan seribu aroma arwah.

Hidup adalah abadi di kota ini, kota yang jadi ibukota kematian, yang akan memberikan rasa begitu asing yang akrab bagi tiap orang yang datang padanya.

Sekarang dan masa depan sepertinya hanya ada untuk masa silam di sini.

Benar, ini memang tentang kota kami, yang punya banyak tempat untuk merayakan kekalnya tubuh dan kekalnya jiwa.

Karena kami, manusianya, adalah kami yang hidup dari perayaan perjalanan keabadian: meniti tangga dari langit untuk turun ke bumi. Dan karenanya, saat mati, kami kembali mendaki tanahtinggi.

Ini tana toraja, tanah para bangsawan…

Toraja, 20-21/09/08

-

Memandang kabut dari kaca bus Alam Indah pada akhir September 2008, rasanya waktu imajiner saya berhenti. Subuh itu, di ketenangan danau buatan di lingkar patung Pong Tiku, pahlawan Toraja, serta dilatari Gereja Sion I peninggalan Belanda dan Gunung Buntu Burake (1.094 meter di atas permukaan laut/mdpl), saya memasuki Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Makale, yang mendapat julukan “kota dengan seribu menara gereja”, di bukit itu belum beraktivitas. Jalan-jalan masih sunyi. Lampu-lampu jalan masih menyala.

Tapi, destinasi terakhir bukan Makale, melainkan Rantepao, berjarak 250 kilometer dari Makassar. Perjalanan 13 kilometer dari Makale menuju ibu kota pariwisata Tana Toraja itu seakan hanya menegaskan satu hal: ini bukan perjalanan biasa. Dengan bayang-bayang tradisi kematiannya yang unik, saya tembus batas ruang imajinasi masa kecil tentang Tana Toraja–yang paling teringat dan mencekam–tentang mayat yang bisa berjalan menuju kuburnya di gunung batu.

Apakah betul? Atau apakah perjalanan kali ini hanya menegaskan komentar seorang teman yang pernah ke sini, “… hanya melihat sisa-sisa orang hidup?” Turun di depan Hotel Indra Toraja, hari sudah terang.

Suatu tempat itu luar biasa atau tidak, boleh jadi sangat personal, hanya soal persepsi. Dengan mengubah sudut pandang, kita pasti menemukan bahwa suatu tempat selalu mempunyai daya tarik yang tersembunyi, walaupun sudah begitu terkenalnya. Di Tana Toraja, terus terang, ada dua pilihan: eksplorasi destinasi turisme yang telah tenar atau mencoba lebih dalam menemukan zeitgeist, roh zaman manusia yang terpancar dari interaksinya dengan alam lingkungannya.

Saya tahu, pilihan kedua itu muluk sekali, tapi itulah yang kadang menarik ketika melakukan perjalanan. Walau membekali diri dengan literatur mengenai Tana Toraja, tidak mungkin sebagai the outsider dengan seketika saya menemukan zeitgeist tersebut. Karena itu, perlu kompromi dengan diri sendiri: datang saja ke destinasi wisata, nikmati lama-lama, berinteraksi dengan orang lokal, serta memaksa diri mencatat banyak detail kecil, deskripsi dan nuansa.

Pertama yang saya lakukan adalah menginventarisasi kata-kata kunci tentang Tana Toraja, antara lain Kete’ Kesu, Batutumonga, tongkonan, tau tau, tedong. Maka dari itu, dengan sepeda motor sewaan, saya mulai keluyuran. Strategi kali ini adalah mengunjungi tempatnya: Kete’ Kesu.

Kete’ Kesu merupakan desa tradisional tertua nan unik di Kecamatan Sanggalagi dengan hanya 20 keluarga. Menurut brosur pariwisata yang saya baca, desa ini paling lengkap menyajikan segala sesuatu tentang tradisi merayakan kematian di Toraja.

Pelan-pelan saya daki Bukit Buntu Kesu, sebuah bukit berbatu di barat desa, dengan ketinggian 927 mdpl. Di Buntu Kesu, di dinding-batu terpapar banyak sekali tulang dan tengkorak manusia. Sebagian tergeletak begitu saja karena peti mati atau erong (peti mati yang diukir kepala binatang, misalnya ular naga dan babi), sebagai tempat penyimpanannya, sudah hancur dimakan usia. Wajar saja, menurut literatur, umur kubur batu di Kete’ Kesu ini sudah mencapai 700-an tahun. Sangat banyak, tersaji mulai kaki bukit sampai pertengahan bukit.

Hari memang sudah sore, tapi matahari masih cukup terang untuk tidak membuat saya merinding walaupun sendirian. Suasananya tidak semencekam di Londa, gua di Desa Sandan Uai, yang mempunyai banyak cabang dan jauh masuk ke perut bukit. Gua alam itu adalah tempat banyak tengkorak diletakkan begitu saja dalam ceruk-ceruk gua, dan untuk masuk ke dalamnya, saya mesti dipandu penduduk setempat yang membawa lampu minyak agar tidak tersesat.

Di pertengahan Bukit Buntu Kesu terdapat ceruk gua yang diteralis. Menurut kabar, isi ceruk gua tersebut pernah akan dicuri turis, karena itu, terpaksa diteralis. Di dalamnya terdapat beberapa tau-tau, patung-patung dari kayu nangka yang merupakan miniatur orang meninggal. Tau-tau itu duduk rapi berjejer. Tau-tau dibuat semirip mungkin dengan aslinya, juga diberi pakaian yang merupakan pakaian kesukaan si orang mati selama hidup. Menurut tradisi Toraja, hanya turunan bangsawan yang dapat dibuatkan tau-tau dirinya. Salah satunya adalah tau-tau Nek Rendah, yang diberi baju warna ungu. Di sebelah Nek Rendah, ada suaminya yang berjas lusuh, berkacamata, dan sedang memegang tongkat. Sorot mata mereka tajam melihat saya. Mereka adalah bangsawan Sarunggallo.

Saya teringat kedatangan saya hari sebelumnya di Desa Lemo. Suatu destinasi wisata yang sangat terkenal dengan deretan tau-tau di ketinggian dinding-batu. Dari kejauhan tampak anak-anak laki dan perempuan Desa Lemo duduk di pinggir bukit. Mereka sedang bermain-main. Satu di antaranya menyanyikan lagu-lagu berbahasa Toraja. Suaranya mengalun, seakan mengikuti angin mengitari lembah-lembah dan puncak-puncak bukit yang datarannya sawah–yang hijau terhampar.

Di Lemo, ada kira-kira 75 lubang batu, dengan 45 buah tau-tau. Saya penasaran dengan tau-tau di Lemo karena keunikan posisi tangannya yang menengadah, dengan telapak menghadap ke atas, seolah-olah sedang memohon pertolongan. Rupanya ini pertanda bahwa dalam alam mati pun, mereka masih selalu minta kepada keturunannya yang masih hidup agar mendoakan dan melakukan upacara bagi mereka. Inilah yang membedakan tau-tau di Desa Lemo dengan di Desa Kete’ Kesu.

Di Desa Kete’ Kesu, saya bertemu dengan Toni, penduduk asli yang berambut gondrong dan merupakan pemegang kunci tongkonan, rumah adat keluarga. Letak tongkonan tepat di tengah deretan tongkonan lain, dengan tanduk tedong (kerbau) yang paling banyak. Saya dibawa masuk ke tongkonan yang sekaligus museum pribadi itu, lalu berkenalan dengan suasana batin dan suasana masa lalu Toraja versi Toni.

Di pojok ruangan yang pengap dan penuh barang-barang tua, saya lihat tau-tau seorang ibu tua. Patung itu diberi baju dan kain tenun berwarna gelap. Yang unik adalah adanya batang rokok yang terselip di jari tangannya. Siapa dia?

Dengan bersemangat, Toni menjawab bahwa itulah tantenya, J.T. Sarunggallo, si perokok berat, yang kerap dipanggil Tante Takdung. Yang menarik, Tante Takdung adalah penjahit bendera Merah-Putih pertama yang dikibarkan di Tana Toraja pada zaman pergerakan kemerdekaan dulu. Penjaga museum keluarga itu menambahkan, hampir seluruh keluarga si tante adalah pejuang melawan Belanda. Omnya, yang saat itu menjabat Kepala Distrik Masamba, bahkan mati ditembak Belanda karena melindungi warga yang sedang diburu Belanda. Rupanya, selain Pong Tiku, yang telah menjadi pahlawan nasional, Tana Toraja punya pejuang-pejuang lokal yang tidak tercatat sejarah.

“Mengapa kami akrab dengan perayaan kematian?” Ucapan Toni itu awal dari penjelasan panjang-lebarnya bahwa kematian adalah sesuatu yang asing tapi akrab bagi masyarakat Tana Toraja. Asing, karena dunia orang mati adalah dunia yang tak terjangkau oleh manusia yang hidup, tapi akrab karena keseharian mereka terpusat pada segala aspek yang muaranya adalah perayaan kematian. Bahkan, kerbau, yang sehari-hari digunakan untuk membajak sawah (mayoritas penduduk Tana Toraja adalah petani), dimaknai sebagai kendaraan arwah si mati sehingga setiap upacara kematian pasti selalu disertai dengan pengorbanan kerbau.

Sama seperti masyarakat Toraja pada umumnya, masyarakat Toraja Selatan (Toraja Sa’dan) di seputaran Rantepao dan Makale yang mempercayai Aluk Todolo (berarti agama orang dulu), selama hidupnya merasa diberi tugas mempersiapkan perjalanan ke alam lain, yakni puya (alam Nirwana) tempat Puang Matua bersemayam. Mereka menganggap diri mereka berasal dari sana dan turun ke bumi menggunakan sebuah tangga bambu. Karena puya dianggap berada di tempat tinggi di atas bumi, bagi masyarakat Toraja, saat meninggal, alangkah baik jika mereka semakin mendekat puya, dengan dimakamkan di bukit-bukit yang tinggi.

Masih berkaitan tentang perlunya upacara kematian, Toni juga bercerita tentang siri’ mate, yakni tradisi malu, demi harga diri keluarga. Menurut kepercayaan Aluk Todolo, jenazah yang dimakamkan tanpa ada perayaan dan pengorbanan hewan (babi dan tedong) akan mempermalukan leluhur yang sudah berada di puya sekaligus keturunannya yang masih di bumi. Bahkan ada istilah bagi orang yang kematiannya tidak dirayakan, yakni tadibaa bongi, yang berarti orang yang jenazahnya dikubur malam-malam secara sembunyi-sembunyi. Suatu istilah yang menyatakan rasa pengecut, yang akan menurunkan derajat keluarga.

Bahkan, tutur Toni, kesempurnaan upacara mati di dunia akan mengkondisikan juga bagaimana status si mati: sebagai bombo (arwah gentayangan) atau tomembali puang (arwah yang telah kembali jadi dewa). Rupanya mitos adanya mayat hidup yang berjalan menuju makamnya itu muncul dari keberadaan bombo, yakni jenazah yang tidak disertai dengan upacara. “Apakah memang pernah ada kejadian itu?” tanya saya. Toni hanya tertawa. “Itu hanya bualan orang-orang,” katanya.

Di Desa Kete’ Kesu, saya menikmati malam turun. Deretan tongkonan beratap perahu dari bambu yang diganti setiap 30 tahun, ditopang tulak somba yang berbentuk salib, ukiran pa’barre allo (lingkaran matahari lambang kehidupan), serta pemandangan menhir-menhir zaman purba (yang juga ada di Bori) dan danau buatan di antara sawah-sawah hijau serta Buntu Kapolang (1.333 mdpl) nun jauh di barat laut membuat suasana sunyi yang turun pelan-pelan di Kete’ Kesu terasa sangat syahdu.

Saya bayangkan, pada suatu waktu dulu–dan mungkin juga sampai nanti–di Kete’ Kesu pasti dilakukan upacara adat dengan meoli (teriakan khas), mabadong (nyanyian lirih mirip ratapan), dan arak-arakan ma’palla (arak jenazah) yang riuh. Di tanah ini, zeitgeist-nya barangkali adalah merayakan hidup dengan memuliakan kematian.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu, 30/11/2008

Adzan di Bontoa

October 1, 2008 - Leave a Response

Di Bontoa

Empang udang, di kejauhan gunung-gunung kapur. Salah satunya pastilah ada Bantimurung.

Rumah panggung yang tinggi, beratap seng, beratap silang. Anak-anak para pelaut Makassar yang tetap bermain, walau tahu ayah-ayah mereka akan berlayar selepas Ramadhan.

Suara adzan memanggil untuk sholat Jumat. Dan lalu orang-orang yang bergegas…

Bontoa, Maros, 19/09/2008

Selamat Idul Fitri 1429 H

October 1, 2008 - Leave a Response

Lebaran, pulang.