Salju dari balik jendela
December 2nd, 2010 § 2 Comments
Ditemani secangkir latte maciatto, dan hujan salju di luar, saya menonton Sang Pemimpi, dan setuju dengan Andrea Hirata:
kali ini Riri Riza mampu membuat film adaptasi novel dengan baik, tiga kali lebih baik dari Laskar Pelangi. Tiga kali itu dari Andrea Hirata, bukan penilaian saya.
Saya menyukai kesederhanaan gambar-gambarnya, kejelasan pesan moralnya, dan semangat Arai.
“Eropa, boy!”
Saya tidak tahu di bulan apa mereka sampai di Brussel, ketika salju turun dengan lebat. Tapi sekarang, Münster berselimut salju. Danau, Aasee dan hutan kecilnya, yang jadi oasis dan paru-paru kota putih. Mungkin sebentar lagi akan mengeras dan danau seluas 0,5 km persegi itu akan menjadi daratan sementara.
Münster, tak terasa sudah delapan bulan saya di sini. Kota kecil, di barat Jerman. Kota yang pernah menjadi kota paling layak huni di dunia tahun 2004 untuk kategori kota kecil versi suatu majalah gaya hidup.
Kota yang selalu hujan, sehingga di toko souvenir di seputaran Ludgeriplatz, terdapat lukisan berlatar Gereja Lambertini dan hujan, dan perempuan tua berpayung di tengah Prinzipalmarkt, pusat sejarah kota.
Seperti adanya, kini ia bersalju di bulan Desember, di temperatur minus tujuh derajat. Salju, yang membuat saya menjadi orang Gurun Sahara bertemu pantai dan laut.
Salju yang lembut seperti kapas, yang saat jatuh di jaketmu lalu menghilang. Salju yang licin setelah beberapa waktu jatuh di tanah. Salju yang bergemeretak ketika diinjak.
Salju yang membuat tangan saya mati rasa ketika memotret danau beku tadi siang.
Salju yang lebih menyenangkan ketika dilihat dari balik jendela!
Münster, 02/12/2010
fotonya kok ga ada, Mas?
keren kalau banyak teks gini
iya ni kebiasaan, kalo nulis agak banyak, males masang foto. kalo masang foto, tulisannya dikit haha..