Gunung Palung

 

gpalung1.jpg

Ada waktu ada laku. Suatu waktu saya pasti akan menjenguknya kembali.

Tahun 1999, nama Taman Nasional Gunung Palung (1.116 m. dpl) sebagai tempat konservasi orang utan di Kalimantan Barat mulai dikenal. Hal itu seiring masuknya banyak peneliti luar, salah satunya Dr. Cheryl Knott, Ass. Prof dari Dept. Antropology Harvard University, yang melakukan riset dan sekaligus proyek penyelamatan orang utan yang tersisa akibat illegal logging.

Saya beruntung bisa ke sana pada Agustus 1999, lewat Desa Tanjung Gunung kira-kira 75 km dari kota kelahiran saya, Ketapang. Taman Nasional ini membentang di lima kecamatan (Matan Hilir Utara, Sukadana, Sandai, Simpang Hilir, Nanga Tayap) dengan luas kurang lebih 90.000 ha atau 900 km2.

Bukan pekerjaan gampang menembus hutan selama 10 jam, digigit pacat babi yang luar biasa rakus, melintas puluhan batang kayu tumbang dan sungai kecil, guna mengunjungi base camp penelitian di Resort Cabang Panti, sebuah pusat penelitian alam dengan fasilitas stasiun penelitian, pondok kecil tapi nyaman dan perpustakaan. Cabang Panti ini sebuah lokasi yang nyaman sekali. Di tepi sungai kecil selebar 6 meter, pecahan dari Sungai Matan yang berair jernih dan ber-ikan luar biasa banyak.


Yang membuat saya terkagum-kagum adalah dedikasi para peneliti luar tersebut. Keseriusan mereka dalam mengamati keseharian orang utan sungguh luar biasa. Dari subuh, mereka akan melacak dan membuntuti orang utan yang menjadi target. Mencatat detil kegiatan mereka dari jam ke jam. Kapan mereka pindah pohon, turun ke tanah, bercengkerama, menyusui, bersosialisasi antar mereka, kawin atau bahkan (maaf) membuang kotoran. Kotoran tersebut akan diambil sebagian, dimasukkan kantong sampel dan kemudian diteliti lebih jauh di stasiun.

Saya katakan luar biasa karena daya jelajah orang utan yang tidak menentu dalam mencari makan dan membuat sarang. Bisa sampai radius 10 km. Bayangkan jika setiap hari orang utan membuat satu sarang baru di satu pohon yang berbeda, betapa letihnya pekerjaan yang dilakukan para peneliti tersebut. Belum lagi mereka harus menandai setiap pohon yang menjadi sarang orang utan tersebut dengan kertas-kertas berwarna-warni sesuai dengan klasifikasi masing-masing orang utan. Ketika ada kesempatan berbicara dengan para peneliti tersebut, juga dengan beberapa jagawana dan peneliti lokal terasakan betapa lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan sumber daya hayati yang dipunyai. Penebangan hutan marak, saat itu sudah mendekati stasiun, kira-kira tinggal berapa belas kilometer lagi dari Cabang Panti. Memang saya melihat sendiri betapa di beberapa aliran sungai, seperti Sungai Siduk yang bermuara ke Selat Karimata, ada rakit-rakit kayu yang siap kirim menunggu musim hujan. Juga kemah-kemah para penebang kayu di pinggir sungai beberapa kilometer dari Cabang Panti.

Namun terlepas dari ancaman buat orang utan tersebut, ketika saya di Resort Cabang Panti itulah saya bisa merasakan dengan lepas suasana hutan tropis yang asli. Saat malam tiba, bunyi-bunyian hewan nocturnal berkumandang dengn lantangnya. Sungguh bukan suasana malam yang senyap, karena dari detik ke detik suara jengkerik yang ditingkahi teriakan hewan sering sekali terdengar. Apalagi ketika pagi menjelang. Suasana pasar Taman Eden segera tercipta. Burung-burung berkicau dengan riuh sementara tupai dan kera ekor panjang berlompatan dari dahan ke dahan, dari satu pohon ke pohon lain. Luar biasa, surga menjenguk saya sebentar…

Tapi apakah suasana seperti itu masih ada saat ini? Sudah hampir delapan tahun berlalu sejak 1999. Terus terang saya tidak tahu. Ketika proyek air bersih mulai dilaksanakan tahun 2003, untuk mencukupi kebutuhan air bersih kota Ketapang, pipa mulai ditembusi dari Air Terjun Riam Berasap, suatu air terjun setinggi 20 m menuju kota. Apapun niatan baik tersebut, yang pasti kehidupan liar di Gunung Palung tergganggu akibat jalan yang mulai dibuka – yang mungkin saja disusul dengan pembalakan liar yang ditengarai sudah 80 %.

Saya mendengar kegiatan konservasi di Gunung Palung mulai ditangani oleh suatu Balai khusus yang berafiliasi dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang. Sementara pelan-pelan para peneliti luar menjadi partner kerja saja. Apakah 2.200 orang utan di Gunung Palung masih sebebas dulu menjalani kehidupannya? Wallahualam…

2 thoughts on “Gunung Palung

  1. Nareswari says:

    Tampilannya jauh lebih menarik dari blogspot. tulisannya jauh lebih bobot dari budiman-jr. Gaya penuturan dalam tulisan yang memikat. Gunung Palung, serasa pembaca telah diajak masuk menelusuri tapak di dalamnya, di tengah belantara dengan sejuta keindahannya yang perawan.

    nice …

  2. joey says:

    bagaimana caranya bisa menjadi relawan digunung palung?????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: