Gaudium et spes

Kegembiraan dan harapan.

Rasa-rasanya kata tersebut sudah lama hilang di memori saya sejak pertama kali mendengarnya. Kalau tidak salah saya mengenal idiom tersebut tahun 1998 di Yogyakarta, saat pelajaran agama Katolik oleh Romo Yudho SJ di Kolese De Britto.  Kini sudah sembilan tahun, dan tiba-tiba, suatu malam ketika saya sedang melamun, rumusan itu muncul di benak saya.

Apa gerangan?  

Entah kenapa, saya selalu menyukai kata “harapan”. Menyiratkan keteguhan, kemauan, dan adanya masa depan yang lebih baik. Saya pikir, seekstrim apapun, harapan akan menjadi sesuatu yang tak akan pernah terenggut dari kita sebagai manusia.

Tapi, kenapa ia disandingkan dengan kegembiraan? Otoritas Roma, yang saat itu dipimpin oleh Bapa Suci Paulus VI, ketika menghasilkan rumusan Konsili Vatikan II tahun 1965, tentu telah berpikir dalam. Apa arti harapan jika tanpa kegembiraan?

Mungkin agar dunia ini kemudian tidak menjadi dunia yang muram dan pemurung.

Apa gunanya harapan yang dibangun di atas kesuraman..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: