Mosaik

Ternyata, kesadaran kadangkala sangat tipis bedanya dengan khayalan.

Baru saya sadari bahwa jauh di bagian terdalam, saya pernah pingin menjadi manusia urban. Punya kerjaan mantap – di perusahaan tambang multinasional, atau konsultan asing yang bonafit – Dan punya kantor bagus di gedung tinggi di tengah kota. Kantor, yang kalau malam pemandangan dari jendelanya bisa membuat berkhayal: sedang melihat seluruh isi dunia. Apalagi jika ditemani secangkir kopi hangat yang mengepulkan uap..

Ternyata, saat ini di tahun 2007, saya bukan menjadi orang kantoran yang seperti itu. Kantor saya saya hanya tiga lantai. Ukuran bangunannya juga sedang-sedang saja. Titel profesi yang tercantum di kartu nama saya pun sudah jelas mencantumkan kalo saya pegawai negeri.

Namun, walaupun hanya sebagai pegawai negeri, dengan gaji apa adanya, selama tiga tahun terakhir ini, saya merasa cukup beruntung. Saya berada di kantor pusat, dengan akses luas ke seluruh Indonesia. Dengan peralatan dan teknologi yang jauh lebih bagus dari kantor-kantor lain, apalagi jika dibandingkan keadaan di daerah.

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa kantor saya terletak di salah satu lokasi emas Jakarta. Jangankan pemandangan malam, pemandangan siangnya pun, dengan gedung-gedung menjulang tinggi, sering membuat saya tidak percaya kalo anak kampung ini bisa berada di sana. Harap maklum, masa kecil saya dihabiskan di rawa, parit, hutan, sungai, dan rumah yang berdinding kayu dan beratap sirap di pedalaman Kalimantan. Tapi dasarnya manusia memang tidak pernah merasa puas…

Di balik profesi yang keliatan aman itu, dibalik kantor yang berlokasi strategis itu, saya sadar bahwa saya hanyalah seorang pegawai biasa, dengan gaji pas-pasan untuk hidup di pinggiran kota. Beberapa kali saya mendapat email pertanyaan tentang bagaimana rasanya bekerja di Jakarta. Buat saya, jawabannya satu: tidak mudah.

Dengan menjadi masusia urban, saya mendapat sesuatu, tapi saya juga kehilangan banyak hal. Saya kehilangan sebagian dari masa lalu saya yang nyaman. Tidak bisa menyaksikan rumah saya berubah, dari kecil hingga menjadi layak dan nyaman untuk ditinggali saat ini. Saya tidak dapat menyaksikan halaman belakang saya ditumbuhi pohon rambutan yang kalau berbuah sangat banyak.

Saya kehilangan masa-masa menyaksikan kedua adik saya sekolah. Saya tidak bisa menemani ibu saya yang sedih karena mendengar bahwa adik bungsu saya memiliki penyakit dalam dan harus diterapi bertahun-tahun. Saya tidak bisa bercengkerama dengan ayah saya yang sering melucu dengan caranya sendiri, atau mendengar nasihat bijaknya langsung. Saya juga saat ini tidak bisa mendampingi ibu saya yang ternyata memiliki penyakit tumor di indung telurnya…

Banyak fragmen hidup yang lepas.

Saya tahu bahwa selama hampir tiga tahun ini saya hidup dalam dunia keinginan. Dunia seperti ini ternyata butuh banyak pengorbanan. Saya yakin, sebagian akan menikmati sepenuh hati apa yang saya alami. Tapi itulah, apakah saya bisa menjadi bagian dari mereka yang bisa menikmati gedung tinggi sementara jauh dengan orang-orang tercintanya? Saya pikir waktu yang akan memberi jawaban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: