God shake Ujang! It’s just a dinner…

Dari ratusan film yang sudah saya tonton, sangat sedikit yang bisa saya ingat dengan detil, dan ingin saya komentari. Maklum. Di era milayaran informasi ini, kapasitas otak saya sebagai manusia biasa sungguh terbatas. Namun ternyata, ada kisah film yang nyempil di otak saya dan tidak mau hilang-hilang: Ujang Pantry.

——

”Dikasih minum aja mau diajak tidur, apalagi diajak makan malam”.

”God shake Ujang!… it’s just a dinner”

——

“Di matanya, aku bukan angka, bukan statistik….

——–

“Bapak tidak pernah mengerti karena Bapak tidak pernah menjadi jari…..”

——–

Ujang Pantry 1 dan 2. Film televisi yang pertama kali ditayangkan I-Sinema ANTEVE ini mampu membuat ingatan saya jadi bermuatan ratusan giga dan bermemori 1024 mb.

Saya menonton Ujang Pantry setelah menonton Jomblo. Terus terang, ada persamaan antar keduanya. Hanya, di Ujang Pantry saya mendapati cerita (sedikit) berbeda. Saya pikir kekuatan tema ceritanya tidak luar biasa. Sama seperti tema-tema populer lainnya. Berkisah tentang percintaan Ujang (Agus Ringgo Rahman) yang OB miskin, jelek, kampungan dengan seorang Nadine (Dinna Olivia) yang manajer menengah (creative director), cantik, kaya raya, terhormat. Lalu apa yang membuatnya luar biasa sehingga mendapat 5 Piala Vidia?

Bagi saya karakterisasi tokoh dan dialognya yang cerdas…

Suatu malam, Nadine mabuk. Ujang yang kebetulan ada mendapat durian runtuh. Mereka tidur bersama. Situasi jadi rumit ketika Nadine hamil. Selain beda segalanya, antar karyawan juga tidak diperbolehkan berhubungan. Apa kata dunia jika Nadine yang “kelas atas” hamil oleh Ujang yang hanya “orang kasta rendah”?

Mulanya, Nadine benci Ujang. Sama seperti ia membenci dirinya yang tidak sanggup menahan nafsu karena mabuk, atau menggugurkan kandungannya. Sedang Ujang, tak tahu malu langsung jatuh cinta, tanpa basa-basi. Dari sini cerita mulai menarik. Cara Ujang membuat Nadine jatuh cinta klise. Tapi menyentuh. Perhatian berlebihan, dengan mengantar air minum dan jamu yang super pahit buat kandungan berkali-kali, tidur di depan pintu saat Nadine lembur, atau mondar-mandir tanpa alasan penting sambil menongolkan wajah totolnya. Nadine yang mulanya sebal, lama-lama perhatian. Senyum mulai semakin sering tersimpul di bibirnya yang lembut. Sorot matanya juga melembut saat melihat Ujang. Apalagi Ujang si bodoh mempunyai pandangan hidup yang polos namun inspiratif; dan mampu membuat Nadine keluar dari masalah saat bergelut dengan iklan untuk pemasaran sabun coleknya.

Alkisah, cinta Nadine pun tumbuh pada Ujang. Jamu pahit makin rajin diminum, frekuensi obrolan makin sering, dan bukan lagi Ujang yang mencuri-curi pandang, Nadine juga. Nadine mengesampingkan rasa malunya. Nadine menekan egonya sebagai golongan kelas atas. Ujang, tentu saja tidak perlu mengesampingkan apa-apa, karena urat malunya memang tidak ada🙂. Panggilan sayang dilayangkan antar keduanya.

Kisah semakin menarik karena kerap terjadi konflik keduanya. Ternyata cinta saja tidak cukup. Apalagi jika persoalan perbedaan ‘kasta’ antar Nadine dan Ujang mewujud dalam kehidupan sehari-hari. Ujang selalu mau makan di warung (yang jorok menurut Nadine). Ujang yang selalu bersendawa tanpa merasa Nadine jijik melihatnya. Ujang yang selalu bersikap urakan, semau sendiri karena merasa tidak ada yang salah dengan itu. Ujang yang selalu protes dan benci bahasa Inggris, yang malahan selalu dipake oleh Nadine untuk mengungkapkan sesuatu, entah makian, pujian, atau keputusasaan. Konflik terjadi.

Kemudian hadir anak pemilik perusahaan yang muda, ganteng, kaya, berwibawa, simpatik dan jatuh hati pada Nadine. Nadine tergoda, dan Ujang cemburu. Ujang marah, Nadine juga marah.

Tiba2 ada berita bahwa para OB akan dikurangi tunjangannya karena perusahaan mengalami rugi sebesar 3, 8 M. Di sinilah sesungguhnya film ini bagi saya menjadi menarik. Hadirnya pemimpin perusahaan yang tegas namun realistis dan rasional, manajer HRD yang oportunis, Ujang dan Gombloh yang bodoh, teman Nadine dan Nadine sendiri yang diam dan bimbang, bagi saya adalah potret pembagian kita dalam kehidupan sehari-hari.

Pertikaian kelas, perbedaan sudut pandang yang sama2 berpijak pada kebenaran masing-masing terlihat. Bahwa bagaimanapun, ketika terjadi masalah yang pertama harus dikorbankan adalah bagian yang tidak terlalu vital. Para manajer adalah otak perusahaan, sedangkan para OB hanyalah jari. Ketika dituntut efisiensi, yang pertama tersingkir adalah yang kecil2. Sebab tanpa jari, manusia tetap hidup, sedang tanpa otak ia tidak bisa apa2. Tidak masalah jika jari yang diamputasi, tapi kalau otak?

Dialektika paham ‘sosialis’ dan paham kapitalistik dipahami dengan cara berbeda oleh Ujang dan manajer perusahaan. Saya pikir keduanya benar, karena jika Ujang berargumen menggunakan hati dan sudut pandangnya sebagai korban, para manajer beargumen menggunakan pikiran rasional dan sudut pandang sebagai ekonom. Yang tidak ada hanyalah titik temu, dan sutradara secara ‘licik’ mencoba mengelak untuk tidak mengekplorasi tema ini lebih jauh dengan membuat Nadine keguguran saat ingin menolong Ujang yang terjatuh waktu demo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: