Ketapang – Sepenggal

kalbar-thumbnail.jpg

Seiring tugas dari kantor, kemarin selama 4 hari, 12-15 Juli, saya berkesempatan melihat Ketapang kembali. Banyak hal yang ternyata masih sama, juga banyak hal yang berubah. Saya mendapat, namun juga kehilangan. Sejak detik pertama saya merasakan hawa khatulistiwa kembali.

Memandang lanskap pesisir barat Kalimantan selama 45 menit, dari jendela pesawat Indonesian Air Transport (IAT) rute Pontianak – Ketapang, yang menyusur dari utara ke selatan, menganalogikan pemahaman saya tentang tanah lahir ini. Sepetak segi empat yang saya lihat dari kaca, menyiratkan batas pengetahuan saya tentangnya. Hanya sepotong, hanya sepenggal-penggal, dan singkat waktunya.

Kaca jendela yang buram karena kena rembesan air, masih memperlihatkan di kejauhan lekukan sungai selebar 200 an m yang banyak membentuk meander berjari-jari kira2 1 km, juga spot-spot lahan terbuka bekas penebangan hutan. Selain hutan tropika basah yang hijau dan rimbun sepanjang tahun. Memandang topografi yang landai, yang diselingi bukit-bukit 500 an m di pesisir Sukadana, dan Gunung Palung (2000 m) serta Batu Daya yang angkuh menjulang aneh di kejauhan pedalaman sana, saya seperti menonton sepotong kecil dunia masa lalu. Bedanya, dulu saya utuh bagian darinya, sekarang saya hanya sepotong kecil bagian darinya.

Manusia memang aneh, kadang semakin jauh ia pergi, semakin kuat ia ingin kembali. Sebaliknya, juga begitu.

Setelah mendarat di Bandara Rahadi Osman yang kecil, hanya bisa didarati oleh pesawat jenis Fokker, saya kembali sadar, bahwa buncah-buncah kerinduan setiap kali mampir saat pulang ke rumah, tidak lagi sama. Saya yakin, ia tidak hilang, hanya mungkin sudah bermetamorfosis, entah menjadi apa. Tidak seperti waktu kuliah di Jogja dulu. Spirit nya berbeda. Aura tanah yang saja jejak juga berbeda. Bahkan yang menjemput pun beda. Kalau dulu selalu ibu atau bapak, dan yang pertama dialami adalah rambut yang dikucel-kucel, saat ini yang menjemput orang kantor, dan dengan jabatan tangan resmi…

Untunglah, rumah saya ternyata masih sama, masih sehangat dulu. Bukan hanya rumah dalam bentuk fisik, melainkan juga rumah dalam arti batin. Udara yang sejuk, walau saat ini sudah menjadi luas dengan tambahan ruang samping dan dapur. Hmm.. di sini lima belas tahun saya habiskan usia. Ritual pertama kali yang sama, selama 11 tahun saya lakukan lagi, yakni mengelilingi rumah. Melihat apa yang berubah, apa yang berganti baru, apa yang mulai kusam dan lapuk di makan waktu.

Saat itu, sambil mengenang waktu2 yang hilang dan melihat perubahan yang telah terjadi, saya lalu teringat novelnya penulis Italia Susanna Tamaro, Va’ dove ti porta il cuore. Apakah saat pergi dulu sata telah memilih untuk mengikuti kemana hati saya membawa:

“Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus diambil, janganlah memilih dengan asal saja, tapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu”.

Entahlah, karena dorongan apa saya pergi dan meninggalkan semua kenangan dan keindahan di umur 15 tahun, untuk sekolah di Jogja. Apakah hati yang membawa? Dulu saya yakin, tapi ketika saat ini saya berdiri mematung di halaman belakang rumah dan memandang kolam dan pohon kedondong yang menjulang, serta kursi kursi melingkar yang asri…saya tidak yakin, apakah itu dorongan hati atau ego seorang anak remaja…

Tapi, lupakan lah itu.

Sepenggal ruang waktu saya di tanah lahir telah hilang, dan saya yakin tak akan terganti. Hanya akan ada pemakluman-pemakluman. Waktu empat hari ke depan, mungkin saja tidak bisa mengganti waktu belasan tahun yang lewat, tapi itulah justru yang membuat saya yakin kunjungan ini akan sangat berharga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: