Sudah dong… sepuluh menit lagi aku telpon, key?

Malam kemarin, ada seorang yang berbagi tangisnya dengan saya. Jangan keliru, saya tidak menangis, kami tidak menangis bersama, hanya ia yang menangis.

Ia, mungkin saat ini sahabat wanita terbaik yang saya miliki. Waktu telah menguji persahabatan kami, dengan banyak kejadian-kejadian kecil dan singgungan sejarah pertemuan. Di samping banyak sahabat- sahabat yang lain juga terbaik bagi saya. Mendengar ia menangis di telpon, rasanya sedikit aneh. Seperti de javu. Dulu di Jogja, saya pernah pacaran selama setahun dengan seorang gadis, yang keakrabannya dimulai ketika gadis itu menangis di ujung telepon…Dan putus juga dengan tangisan di ujung telepon.

Kali ini, saya mendengar ia mengisak. Banyak yang salah hari ini, da****, ujarnya. Tumben, gadis sehalus dia bisa juga memaki. Ia tidak mau bercerita apa masalahnya, dan saya juga tidak memaksanya. Saya pikir, tiap orang berhak punya rahasia kecil, dan berhak untuk tidak berbagi dengan orang lain. Masalah kantor? Masalah keluarga? Kalau soal pacar, saya pikir bukan, karena ia selama ini selalu terbuka dengan saya. Atau mungkin juga?ūüôā Sebab, kemarin dulu ia pernah bilang, sedang menunggu mukjizat sebelum keberangkatannya ke Belanda untuk studi lanjut. Apakah tangisannya karena mukjizat itu tidak kunjung hadir sementara waktu kepergiannya semakin dekat? Tidak tahu juga.

Ketika ia mulai tidak lagi menangis, dan isakannya tidak lagi seru, barulah kami bisa bicara banyak, walau tetap dengan nada yang lirih…Aneh juga, suara saya jadi lembut saat menenangkan dia. Atau begitu memang kalau seorang pria bicara dengan seorang gadis yang sedang menangis?

Yang dibicarakan justru hal-hal kecil, yang remeh-remeh, dan tidak ada artinya sama sekali kalo dingat. Tentang apa yang dilakukannya seharian, tentang rumah kos barunya, tentang kerjaan kantor, dan bergosip ria tentang bos-bos di kantornya yang aneh-aneh. Ia lalu tertawa kecil, waktu saya bilang pengalaman saya dengan banyak gadis yang menangis, dan de javu saya tersebut.

Nasib kamu deh…jadi pendengar wanita menangis mulu, katanya. Saya yakin ia tersenyum kecil saat bilang begitu.

Selama hampir setengah jam, beberapa kali ia bilang terima kasih. Yang masih kemudian dilanjutkan dengan sms yang mengucap terima kasih juga. Hmm….Saya malah heran, apakah dengan hanya mendengarkan wanita menangis, bagi mereka itu suatu yang patut diterima kasihi? Siapa tahu, namanya¬†juga wanita…:)

Ternyata persahabatan heteroseksual itu memang ada. Saya percaya itu, walau ada yang bilang, antara pria dewasa dan wanita dewasa, persahabatan yang indah itu hanya tipis bedanya dengan cinta. Pendapat yang aneh menurut saya, dan menurut pengalaman saya selama ini. (Saya punya beberapa sahabat wanita, sebagian malah baru saja menikah, dan masing-masing dari kami masih berhubungan dengan baik…). Tapi mungkin saja teman itu benar, dari perspektif dan pengalaman pribadinya.

Wah2, baru saja saya mau mikir apa lagi akan saya ceritakan, masuk ke hape saya, sms dari sahabat saya ini.

‘wooi..gi ngapain? Ak ma gun lg maem pizza neh..yummy..Hehhe..’

Dasar, bikin kepingin¬†saja. Ah, saya lega, ia sudah baik-baik saja sekarang. Balas sms ny dulu nih….

2 thoughts on “Sudah dong… sepuluh menit lagi aku telpon, key?

  1. hanz says:

    great bung
    hanz pr

  2. lamanday says:

    If it happens..so it happened.
    Ada ide, munculah kata.
    Demikian bung, bukan suatu yang besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: