munafito ergo sum

Setiap orang munafik, hanya kadarnya berbeda-beda.

Saya munafik, saya ada..Tentu saja istilah itu hanya bikinan saya sendiri. Tapi, ketika di Jogja, malam ini hari ini di tempat ini, itulah yang saya rasakan.

Saya ingat cerita, tentang pilihan. Tentang suatu desa terpencil dengan 100 orang penduduknya yang hidup rukun dan bahagia. Suatu waktu musim kemarau, sumur desa satu-satunya tiba2 teracuni dan 99 orang menjadi gila. Ke 99 orang ini bertingkah laku aneh, selayaknya orang gila, dengan bahasa-bahasa yang mereka sendiri pahami. Namun karena mereka saling memahami, tampak mereka tetap berbahagia dalam kegilaannya. Tertawa dan tertawa sepanjang hari.

Sedangkan yang seorang lagi ketika tahu bahwa air sumur itu beracun, maka ia tidak meminumnya dan karena itu tetap menjadi waras. Ia menjadi seorang waras diantara 99 orang gila. Hanya saja, karena ia tetap bertahan dengan perilaku lama, ia dianggap aneh oleh teman-temannya yang gila. Karena sendiri, ia sedih dan mulai kesepian, dan kadang merasa iri dengan penduduk desa lain yang bahagia dalam kegilaannya.

Jika saya atau anda yang menjadi satu orang itu, apakah yang akan dilakukan? Setia dalam kesepian dan tetap bertahan tidak meminum air sumur yang satu-satunya, atau memilih untuk minum air tersebut karena kehausan, dan kembali hidup berbahagia dalam kegilaan bersama?

Soe Hok Gie bilang, lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan..

Pram bilang, hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak pernah dimenangkan.

Saya bilang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: