Palangkaraya – gadis yang wangi permen

Mendadak, saya mendapat tugas ke Palangkaraya. Ibukota provinsi ke-2 di Pulau Kalimantan yang saya datangi setelah Pontianak.

——————–

prajurit-di-alun2-2.jpg

Apa kesan saya terhadap kota ini?

Apakah cukup mengenal roh kota seluas 276.300 ha hanya dalam 26 jam? Saya kira tidak. Karena itu, saya mengenang kota ini secara asosiasif, dengan membandingkannya dengan beberapa kota lain. Dan mengingatnya, secara acak, untuk momen-momen tertentu.

Tata ruang Kota Palangkaraya teratur, jaringan jalan model Amerika, jalan kotak2. Model grid. Kenapa? Jasa Bung Karno, ketika ia hendak membuat Palangkaraya jadi ibukota Indonesia. Bagus juga, sebab perencanaan kota jadi mudah. Dan saya pikir penataan kota model grid ini paling tepat, karena topografi kota yang datar dengan kemiringan lereng berkisar 0 -2 %. Perkembangan kotanya leap frog, lompat katak karena antara satu area dengan area lain dipisahkan lahan kosong/hutan yang cukup luas, seperti sedikit di luar kota, di seberang Sungai Kahayan ke arah Tempat Wisata Kumkum.

Saya sempat memotret senja di Tugu Prajurit di Bunderan Besar. Tempat yang mengingatkan pada kawasan Simpang Lima di Semarang. Menjadi Landmark kota, sekaligus CBD – nya. Semakin mirip, karena menjelang senja, di sepanjang jalan Yos Sudarso, akan bermunculan para pedagang jagung bakar yang menjajakan dagangannya di trotoar yang lebarnya luar biasa, sama lebar dengan jalannya sendiri. Menjadi tempat nongkrong para tua muda. Beberapa bule saya lihat bersantai, mungkin bule Perancis karena omongan mereka yang sengau lewat hidung. Satu-satunya mal (kalau bisa disebut mal mengingat ukurannya yang pas-pasan🙂 ) berdiri di sini sejak 2006, kata Mas Almi, tukang ojek yang jadi guide dadakan saya, yakni Palma Mal. “Biar ndak memalukan, “katanya,” masak ibukota provinsi ndak punya mal..” Dengan kamera DSLR Nikon D40, saya coba berkreasi, yang sayang, hasilnya parah…

Yang saya tangkap, istilah “merayakan sungai” bagi kota-kota di Kalimantan juga terasa di Palangkaraya. Sungai Kahayan, yang membelah Kota Palangkaraya, ibarat urat nadi kota yang utama. Air yang keruh, lebih keruh dari parit, digunakan untuk macam-macam. Rumah berjejeran di pinggir sungai, perkampungan-perkampungan kecil. Dan sederhananya, sebagai indikator lainnya, toko alat-alat pancing banyak bertebaran. Agustus begini, saat musim kemarau, agenda utama penduduk kota menjelang sore dan hari Minggu adalah memancing.

sore-di-sungai-kahayan-2.jpg

Karena saya punya guide lokal, si Almi tukang ojek yang saya catut seharian, saya jadi bertemu orang dari macam latar belakang. Saat nongkrong makan jagung bakar di Jalan Yos Sudarso, ada Bapak gendut dari BIN yang suka selingkuh (kata Si Almi di sering jadi tukang antar si Bapak “dinas” di hotel, ada dua orang intel polisi bandara yang anehnya semua orang tahu kalo dia itu intel, ada tukang parkir yang merangkap jadi ojek, tukang lap sekaligus keamanan di bandara Djilik Riwut, juga orang gila berperut buncit sekali yang konon bisa jadi maskot penglaris warung kopi. Walah…aneh-aneh.

Selain itu, di penginapan saya juga sempat mengamati TV lokal, Borneo TV milik Haji Nihin (?), salah satu orang kaya di Palangkaraya. Lumayan menurut saya, minimal keberanian untuk meliput kelokalan yang khas di Kalimantan. Liputan tentang komunitas lokal, Lew ke Lewu, juga bagus. Mirip-mirip Jejak PetualangPada waktu itu mengupas sebuah desa di Kecamatan Katingan, saya lupa namanya, yang merupakan keturunan jauh dari penduduk Banjar. Waktu hampir check out, ada film dokumenter tentang Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang meninggal tahun 1994 (?). Dalam momen sekilas itu, ada wawancara yang dilakukan Debra H Yatim, mengenai pandangan-pandangan STA tentang hidup, dan berbagai proses kreatifyang telah dijalaninya selama ini. Luar biasa semangat STA, suara bergetar karena usia tua, tidak menumpulkan pikirannya yang tajam. Saat itu, dia sedang berjuang menyelesaikan suatu buku terakhirnya. Saya lupa judulnya, hanya saya ingat kutipan terakhir di halaman buku yang dinarasikan.

” Dan hidup berjalan terus…”

kutunggu-di-kahayan.jpg

———–

Oh ya, hampir lupa, dari judul tulisan ini ada istilah gadis yang wangi permen. Ya, itu gadis pramugari Batavia Air yang muanis, putih, terawat dan bersih, dengan baju nya yang kuning muda dan jingga. Mengingatkan pada mangga muda..:). Kok wangi permen? Karena tiap lewat, saya seperti membaui permen yang segar, renyah…

Ingat Palangkaraya, ingat gadis pramugari bau permen…..

28 thoughts on “Palangkaraya – gadis yang wangi permen

  1. La Pacul says:

    keretif bangeet dah……

  2. La Pacul says:

    karya bagus banget kayaknya bisa dijadikan propasal tesis neeh…

  3. radityo says:

    mau dong alamat atau no telpnya Palma…thx

  4. gledis says:

    aq orang palangkaraya asli lo n senang banget kalau kota q di deskripsikan seperti ini ^^ thanks yah paling gak kota palangkaraya tetap menarik kan..

    @gledis:

    Hai..trims dah mampir dan ngasi komentar. Begitulah, kadang-kadang untuk mengenang momen kita perlu bernarasi. Aku berharap suatu saat kembali lagi ke Palangkaraya. Kemarin waktu ke Kalteng hanya ke Muara Teweh, tidak sempat jenguk Kahayan…

  5. eko says:

    palangka emang gak sebesar ibukota lainx di kalimantan.tapi palangka punya tata kota yg paling rapi.

  6. eko says:

    aq jg pernah mampir kesana.bahkan sempat ke kumkum and yos sudarso.tp sayang gak ke danau tahai x…..

    @eko:
    ada yang bilang bahwa ketika kita pergi ke suatu tempat baru, dan menikmatinya, suatu kali nanti kita biasanya akan ke sana lagi..
    Barangkali aja benar😀

  7. zen says:

    aku pernah ke sini. semingguan. pernah seharian menelusuri kahayan. bicara dg bapak2 tentang jenis2 kayu dan petulangannya di belantara kalimantan. saya betah di sini. jalanannya rapi. lebar. padahal kendaraan gak banyak. banyak pepohonan. singgah di sebuah toko buku yang umurnya hampir 2/3 usia kota palangkaraya, di jaga sepasang kakek-nenek yang renta. saya juga pernah ke borneo-tv, tidur di sana beberapa hari, ngobrol dg office boy-nya, pemred-nya sampai presenter2nya yang uhuk uhuk….. saya kehilangan hp di situ dan kembali karena temenku ngancam secara terbka jika hp ku ndak balik perutnya bakal kembung. saya pernah nyepi di tugu soekarno sambil menelpon seseorang lalu membacakan sepucuk sajak buatnya. saya suka kota ini. jauh lbh suka ketimbang banjarmasin yang sumpek. tapi kota ini memang seperti tak punya sejarah. gak ada bangunan tua yg bisa menghubungkan kita dg masa silam. maklumlah, ini kota yg baru dibangun pada tengahan 50-an. kota yg bebas dari bau dan beban kolonial. itulah sebabnya karno pengen kota ini jadi ibukota RI.

  8. icha says:

    Keren bgt artikel yang kmu buat…setiap kata, kalimat, alinea n baris2nya tersirat makna yang sangat berarti buat kota Palangkaraya…yup qt harus bangga n selalu mencintai Palangkaraya n membangun kota ini biar semakin maju dan selalu menjadi kota yang di kagumi olh semua daerah, bangsa n negara d seluruh duni…

  9. h_peace says:

    Setelah aku baca, tulisan featurenya keren abisss sich. tapi kalo boleh kasih masukan neh, baiknya crosscheck dulu sebelum memuat sesuatu yang berisi infomasi. Sekedar catatan neh, setauku pemilik Borneo TV bukan Haji Nihin dech Bos,… Tapi gpp lah, teruslah berkarya, berkarya dan berkarya….

    h_peace:
    hehe..betul bos. beberapa juga dah komen bukan Haji Nihin, tapi siapa gitu… Kurang teliti ngecek ke narasumber (halah, kayak reporter beneran).

  10. Louis says:

    Saya juga bukan penduduk asli Palangkaraya, tapi saya sudah 8 tahun menetap disini. awalnya memang membosankan, tapi lama kelamaan kota ini membuat betah orang-orang seperti saya yang terbiasa dengan hiruk pikuk dan kemacetan di kota besar, khususnya di jawa. Saya senang anda bisa mendeskripsikan (walaupun sangat singkat) tentang Palangkaraya. jika ada kesempatan untuk berkunjung kembali, saya dengan senang hati akan menemani anda untuk mengenal lebih dalam keindahan kota ini, lengkap dengan keunikan kultur budayanya. thanks. oh ya, selamat kenal sebelumnya.

    @louis:
    8 tahun memang waktu yang cukup untuk membuat betah…:). Terima kasih banyak tawarannya, mudah2an tahun ini bisa ke Palangka lagi, dan kita bisa ngobrol2 lebih jauh…

  11. anno' says:

    gw juga bukan penduduk asli palangka..n telah hampir 3 thn disini…
    yg gw suka emang tata kotanya dari kota ini…
    tapi gw emang gak betah disini..karena biasa tinggal di kota besar..
    gak terbiasa dg yg sepi2….n suka2 jalan2..
    n disini masih susah akses kemana2..shg gak betah dach…

    anno’:
    yap. jalan-jalan emang nyenengin boss..hehe. keep travelling

  12. Martabak says:

    … jadi yang paling diinget adalah pramugari…. Saya pernah ke beberapa kota di Indonesia rasanya cuma sedikit yang tata-kotanya bagus, dan itu rata-rata warisan koloni asing seperti Bandung, Bengkulu, Palangkaraya, Freeport. Penataan oleh pemerintahan pribumi apalagi setelah otoda terasa makin acak dan tidak terencana.

  13. pradzt says:

    Hmm… Palangka Raya, bru 2 minggu kuw tinggal dikrnakan pn4tn kerja disini. Kotanya rapi n sepi, mirip ma kmpng halamanku di Banyumas Jawa Tengah. Btw kpn ya di Palangka ada bioskop? He3x. Kayaknya kota ni bkal bisa maju spt jakarta tp dgn tata kota yg teratur deh coz dah ada kerangka tata kota yg bgs.

  14. raisa says:

    hhmmm, menarik juga cara kamu membahas soal kota asalQ, jujur dan sangat apa adanya, hahaha…

    sebagai seorang dayak asli dan orang palangka raya yang sedang merantau di kota orang demi mereguk ilmu(hahaha), Palangka Raya emang sangat-sangat rapi dan teratur🙂
    yayayaya, saya mengakui kalau sungai kahayan sudah jadi sangat kotor dan keruh bak parit dan cerita kalau sungai kahayan dulunya adalah sungai sebening kristal hanyalah tinggal cerita yang ada di benak orang tua saya tiap kali mengingat masa kecil mereka.
    tapi kebudayaannya nggak kalah keren sama budaya di daerah lain lho,tarian2nya, acara2 adatnya…udah pernah nonton blom?sayangnya kurang dipublikasikan…

    tapi apapun yang terjadi, saya tetap mencintai lewungkuh, palangka raya, petak dan danumkuh bara kakurik…hahahaha…

    c u

    to raisa:
    adek kecil yg manis🙂 – thanks dah komen ya
    btw, di ugm, masak cuma belajar sastra koreanya doang, skalian ikut dojang taekwondonya. jiwa ksatria korea ada di bela diri itu…

  15. Sentayut says:

    kalau melihat propinsi kalimantan tengah hanya di kota palangkaraya mungkin anda akan sedikit dapat momen yang luar biasa tetapi coba anda berkunjung ke pangkalan bun ibu kota kabupaten disana lengkap mau sejarah kerajaan maupun perjuangan melawan kolonialisme serta terjun payung pertama angkatan udara indonesia ada di pangkalan bun.

  16. atenk says:

    kota yang mulai ku cintai,,kota yang mulai membuatku sedih saat aku harus meninggalkannya beberapa wkt,,kota yang memperkenalkanku pada seorang gadis dayak yang manis sekali,,ntah sampe kapan aku bergelut di dunia perpajakan palangkaraya,,satu yang pasti,Palangka Raya adalah kota yang ramah,kota yang akan selalu dirindukan oleh setiap orang yg pernah berpijak di tanah ini,,tidak terkecuali aku saat aku berada di tempat yang lain nanti,,

  17. ayie says:

    thanks bos sudah dtg ke kota kecil q yang sehingga dpt membuat sapa aj yg dtg q harapkan bisa datang kembali ke bumi Tambun Bungai (istilh u Kota Palangka Raya)….,,

  18. Severino Antinori says:

    You missed many accurate facts, man.
    and please becareful to narate a real story
    this is a wide world
    and
    what do you think
    if uluh itah or some Haji Nihin himself write you this time

    Kidding

    from
    palangka raya, kota cantik…

    Severano:
    wah, basa ingglis, ga mudheng…hehe
    SOME Haji Nihin?

    Btw, emang beberapa teman dah ngasi tau kalo beberapa hal di sini keliru…:D

  19. salma says:

    pengeeeeeeeeeen banget ke Palangkaraya, kapan ya bisa ke sana,
    jemput Q duonk,,,,,,,,,,,, HeHeHe,,,,,,,,,

  20. Christ Vanhelsing says:

    wah… kt punya pglmn yang hmpr sama nih friend…, bedanya waktu itu aku cukup lama disana 5 bulan, kota ini mungil & imut skali karena cukup 1 jam saja mengelilingi kota ini. hingga sampai saat aku jumpai pujaan hatiku disini. namun sayang sekali aku hrs pindah tugas dan kekasihku harus menyelesaikan kuliahnya di STAHN TP ( 3 bln sekali aku jenguk ia sekarang ). tapi sekarang dah keren lho ada bioskopnya diPalma (katanya red). rencanaku desember nanti aku akan kesana. sudah cukup kangen rasanya sama kota cantik ini.

  21. alvon franco sinaga,AMD.Kep says:

    aq dulu kuliah 3 tahun di palangka raya…
    ada banyak kenangan dikota itu..mulai dari suka dan juga dukanya..
    Oh ya..aq memang bangga dengan kota itu,,selain bersih kotanya juga tidak terlalu bising sehingga menimbulkan ketidaknyamanan..
    Sukses selalu pembangunan kota palangka raya..
    Gbu..

  22. ifdal says:

    terima kasih infonya pak…
    Insya Allah saya akan menjadi salah satu penduduk palangkaraya karena baru2 ini dapat kabar kalo saya dapat penempatan kerja di kota ini. Jadi mohon di share aja info2 penting tentang kota ini….thanks

  23. satrio says:

    Indah Memang Palangkaraya,….. senyuman itu selalu mengingatkanmu pada kesetianmu… BENO ILOVE YOU….

  24. palangkaraya….dimana gadis-gadis bertebaran mirip tawon….menunggang kuda besi sesambil narsis…wangi..dan sepona senyum khas Dayak…….
    from Bandung with……luv merely…

  25. topan_setiawan says:

    wah..baru nemu blog ini..keren bgt.dah deskripsinya mengenai palangkaraya,..lain kali klo mampir main2 ke borneo tv,kebetulan saya bekerja di sini,.kayanya asik nih klo situ jadi narsum buat liputan saya..

  26. Sahriyanto says:

    Masih banyak lgi tentang palangka raya. N sejarahnya. Cba cari buku “tjilik riwoet”. Dsna bnyak sejrahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: