de gustibus non est disputandum: 20 & nuits un jour de pluie

20 & nuits un jour de pluie

hay, how’s life?

Cerita tentang film yang baru saja saya tonton..

ini film tentang kerinduan…

berkisah mengenai dua orang berkebangsaan perancis, yang wanita perancis asli sedang yang pria keturunan Vietnam . Ia pincang karena kekejian rezim, dan digambarkan sebagai pelarian politik yang sial. Sedang si wanita, tidak digambarkan secara detil siapa dia dan latar belakangnya.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja di apartemen si lelaki di dekat menara Eiffel. Entah sebelah mana menara, mungkin sebelah utara atau selatan, karena matahari tidak pernah terlihat dari jendela yang mengarah ke menara….

Seperti kisah klasik, keduanya adalah manusia-manusia urban, kaum yang teralienasi, kesepian walau hidup di tengah hiruk-pikuk kota metropolis paris. Masih melanjutkan kisah klasik tersebut, keduanya tertarik, saling jatuh cinta.

Hanya yang membuat film ini menjadi menarik, sekaligus indah dan menggugah karena yang menyatukan perasaan mereka sesungguhnya adalah kenangan dan keinduan akan sebuah pulau tropis, jawa..

Dalam setiap rabaan, desah, lenguh, dan gerakan naik turun percintaan mereka – ada mungkin puluhan scene, terdeskripsikan secara kilas balik mengenai eksotisme jawa – terutama jogja – yang tergambar lewat petualangan si wanita: ketika ia mendaki merapi lewat jalur kinahrejo jalur ini begitu saya hapal, maklum empat kali memuncaki merapi, dan menjadi kerdil di hadapan alam – jadi ketika melihat film ini, serasa mengalami sensasinya sendiri..), atau ketika ia mengikuti acara labuhan merapi dan ratu laut selatan.

Bunga yang ditabur abdi dalem keraton, ditiup angin selatan menuruni gunung kendit atau mengalun mengikuti ombak pantai parangtritis tampak indah dalam tampilan film. Adegan slow motion nya tidak membosankan.

Memang, yang membuat film ini tampak dekat di hati karena banyaknya ruang dan waktu yang akrab di jogja.

Pernah ke Candi Ijo di kawasan Prambanan, di Perbukitan Seribu?…Salah satu scene di situ menggambarkan filosofi lingga dan yoni sebagai asal muasal kehidupan.

Dan tampilan anak-anak SD berbalut baju merah putih dan ibu guru yang manis saat mereka belajar di pelataran candi begitu menyenangkan dilihat. Sudut pengambilan gambar yang selalu fotografis, mengandalkan gradasi warna bebatuan candi, ikut memberi warna yang eksotis pada arsitektur candinya. Landscape Candi Ijo ini memang bagus – saya pernah ke sana waktu awal-awal S2 dulu – di sebelah utara langsung terhampar Merapi – yang difilm tersebut selalu di ambil saat senja dengan asap yang keluar dari pucuknya, membubung tinggi – dan di sebelah selatan terhampar deretan jurang-jurang Pegunungan Seribu ….

Atau pernah ke Pos Pengamatan Merapi Babadan? Kalau pernah dan kebetulan datang ke sana ketiga senja mulai turun dan lampu-lampu rumah mulai dinyalakan seiring dengan adzan magrib berkumandang..hmmm. dan dingin mulai menggigit lewat telapak tangan sehingga tiap orang rasanya pingin menggosok telapak tangan atau mencari saku kanan kiri untuk memasukkan tangannya….Seperti surga turun ke bumi. Dan herannya, film yang disutradarai orang asing ini mampu memotong sekeping surga itu..

Dalam film ini digambarkan betapa kerinduan si tokoh wanita begitu kuat. Tidak gitu jelas mengapa ia begitu mellow…Hampir setiap sudut sudut apartemen mengingatkannya pada jawa..kebiasaan si lelaki vietnam tidur di parak-parak dan berkelambu, dan memandang ke jendela setiap senja, mengingatkannya pada seorang pria jawa pribumi penjaga pos pengamatan merapi, yang pernah menolongnya waktu tersesat, merawatnya, dan berhasil membuatnya jatuh cinta dan bercinta dengan penuh gairah di atas balai bambu…

Dan kemudian si penjaga pos ini mati, ketika merapi menggelegak karena menyelamatkan para peserta labuhan..

Dan yang membuat penasaran, ada satu gereja Katolik yang digambarkan berada di Kali Merapi, juga biara suster-suster. Tampil cukup sering, terutama mengikuti petualangan si wanita menikmati suasana merapi. Hanya di mana yang ada di dekat merapi? Arsitekturnya mirip dengan Wisma Salam atau Pertapaan Gedono. Tapi Pertapaan Gedono khan di kaki Merbabu?

Atau mungkin di Desa Salaman, dimana ada komunitas katolik yang selalu berkesenian dan terkenal di bawah pastor V.Kirjito?

Film nya memang agak idealis kayaknya, dan hanya merupakan project pribadi si sutradara. Jadi banyak adegan yang personal sekali, seenak sendiri. Suasana Kaliadem, dengan penjual-penjualnya, jadi tampak beda dengan latar Merapi. Ada juga simpang tiga, entah dimana itu, yang menampilkan rumah-rumah dari bata, berwarna coklat, dengan atap genteng kusam, dan ada kepulan asap dari dapur…kayak rumah-rumah dari dunia lain yang tampak kusam dilatari merapi – yang lagi-lagi mengepulkan asap – atau ini hanya interpretasi saya saja?

Apa yang terjadi setelah pencintaan keduanya? Si wanita kembali ke jawa, dan si lelaki yang kesepian akhirnya mencari ke Jawa juga. Mereka memang di akhir film tidak bertemu lagi: si lelaki menetap di kaki merapi, sementara di wanita menjadi pembuat tempayan/tembikar dari tanah liat (entah di mana, Bantul kali – tapi yang terkenal sih di Bayat, Klaten)..Si lelaki kemudian menemukan romantisme yang selalu diceritakan si wanita. Hanya agaknya, kisah si lelaki dengan guru SD yang manis tersebut tidak dibiarkan berkembang liar, karena si suami guru SD muncul.: ).

Dan saya pikir cara sutradara memindah-mindah scene cerdas. Putaran roda mesin pembuat tembikar si wanita seiring dengan bekas obat nyamuk baygon dari si pria yang kesepian. Atau lonceng kota paris, seketika berganti dengan lonceng gereja kecil…begitu juga dengan pemandangan jendela apartemen, dan kelap-kelip kembang api yang meriah, dengan santun bisa berganti menjadi suasana sayup pedesaan jawa…

Film ini lebih kepada penggambaran yang indah, bukan kepada karakterisasi tokohnya…Atau seperti novel, mungkin seperti biasa dibuat oleh Iwan Simatupang (Ziarah dan Merahnya Merah), dan dikatakan Agus Noor, ”cerita tanpa perlu tokoh”., yang penting bukan tokoh, dan tak penting tokoh itu siapa, karena bisa siapa saja, aku, kamu, dia, si anu, si itu….

Bagi yang senang fotografi kayaknya cocok, atau yang memang pernah punya kenangan akan Jawa dan Jogja: Merapi, keraton, malioboro, parangtritis, wayang kulit, blangkon, dll….:)

Jawa (atau Jogja) memang digambarkan hanya secara molek..Indies mooi kalo mengikuti kategorisasi seni rupa zaman Raden Saleh…Dan juga belum utuh, tanpa narasi yang cukup terutama bagi penonton awam, membingungkan kadang2.

Saya sendiri saja sering tak menangkap apa maksud sutradara, seperti ketika si tokoh wanita berada di tempat semacam laguna (ingat film Beach yang dibintangi Leonardo di Caprio?), mencebur ke laut dikejar penduduk lokal dan tiba2 marah2. Apa maksudnya? Dan apakah Jogja punya suasana seperti laguna kecil itu? Mungkin di jejeran Pantai Wediombo di Gunung Kidul paling timur ada. Atau ada pantai lain yang tersembunyi? Siapa tahu…Wong penduduk desa di pesisir selatan saja sampai saat ini masih sering melihat pulau samar2 tidak seberapa jauh dari pantai, padahal jelas-jelas setelah itu tidak ada…

Apa yang jadi pesan moral film ini? Dan apa maksud 20 itu sendiri? Entah..:)

Pesan moralnya tidak jelas juga sih – tapi kalau dicari-cari kayaknya idiom klasik:

pergilah ke mana hati membawamu, kepada kerinduan hati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: