Aruh Buntang, Prosesi Dayak Manyaan

Sumber: KOMPAS Sabtu 27 Oktober 2007.

M Syaifullah

Rumah Padir Luit di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pekan kedua Juli lalu menjadi pusat perhatian warga. Saat itu di rumah kayu berukuran 10 x 10 meter tersebut digelar prosesi langka etnis Dayak Maanyan yang disebut aruh buntang atau mambuntang.

Buntang adalah salah satu tahapan penting dalam perjalanan hidup masyarakat Dayak Warukin terkait dengan kematian. Aruh (upacara) itu bertujuan mengangkat arwah orang yang meninggal dari alam kubur ke alam roh yang penuh kesempurnaan sekaligus menjadi simbol bakti, hormat, dan tanggung jawab keluarga dan warga terhadap mendiang.

Kali ini warga menggelar prosesi bagi mendiang ayah dan kakak Padir Luit. Ritual itu sebenarnya bagian dari religi Hindu Kaharingan yang dianut sejumlah suku Dayak, tetapi Padir yang menganut agama Katolik tetap menjalankannya.

Dalam ruang tengah rumah Padir disusun beberapa altar sesaji yang berisi beras, kelapa, gula merah, ayam kampung, telur, lemang, ketupat, semangka, pinang, nanas, dan ketan. Suguhan diletakkan di sekeliling tiang bambu yang sudah disiapkan.

Pada puncak tiang bambu tersebut digantungkan beberapa ancak (tempat sesaji dari bambu). Semua sesaji dipaparkan setelah puncak ritual berupa pemotongan kambing, babi, dan ayam dilaksanakan.

Upacara mambuntang saat itu berlangsung lima hari. Ritual dipimpin tiga perempuan balian—rohaniwan Kaharingan yang sekaligus warga suku Dayak Maanyan—yang diundang tuan rumah.

Mereka tampil dengan mengenakan tapih bahalai (kain batik) yang dikenakan seperti sarung. Namun, kain itu dililitkan ke tubuh mereka hingga batas dada. Untuk bagian kepala, para balian mengenakan tutup kudung yang terbuat dari kain batik.

Tampilan para balian terlihat semakin khas karena bagian dada, lengan, dan tangan mereka dipupuri kapur putih. Salah satu di antara mereka, Jenjab (73), yang menjadi balian raden utama bahkan menyematkan sebilah keris di punggungnya.

Ketika memimpin upacara maranggai, ketiga balian raden tersebut duduk mengelilingi sesaji sambil bamamang (membaca mantra) diiringi tetabuhan gendang, gong, dan kenong. Bunyi gemerincing gelang dadas dan gelang kuningan yang berasal dari tangan mereka memperkuat nuansa ritual saat itu.

Penghormatan

Kegiatan buntang kemudian dilanjutkan dengan penggelaran sejumlah tarian, seperti tari giring-giring yang ditampilkan beberapa pemuda dan anak-anak dalam suatu balai di pekarangan rumah tersebut. Hampir setiap malam ditampilkan tarian dayak yang bermakna penghormatan terhadap benda pusaka peninggalan para leluhur mereka, seperti balanai (tempayan), baju rajah, tombak, sumpit, tanduk rusa, dan mandau.

Benda-benda itu digantungkan di tengah balai bersama gelas tanduk kerbau berisi tuak. Semuanya menyertai tengkorak manusia berumur lebih dari 200 tahun. Tengkorak itu diduga hasil ngayau (pemenggalan kepala)—sebuah tradisi yang telah diakhiri lewat perjanjian damai para kepala suku Dayak di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894.

“Sejak itu tengkorak (kepala) hanya disertakan dalam setiap ritual, sedangkan korban sesembahan diganti ayam, babi, kambing, dan paling tinggi kerbau,” kata Rumbun, Kepala Adat Dayak Maanyan Desa Warukin.

Pada hari kelima, sesi akhir ritual, kegiatan itu diwarnai pantun. Di balai adat seorang tetua adat duduk di atas gong besar menghadap ke sesaji. Dia didampingi beberapa pemuka adat yang lain. Mereka pun kemudian berbalas pantun. Setelah itu, prosesi diisi dengan acara memutus tali penggantung gelas tanduk kerbau dan meminum tuaknya secara bergantian. Lalu, prosesi kuda gawi.

Ritual yang terakhir ini dilakukan di ruang depan rumah Padir oleh lima balian laki-laki yang disebut balian bowo. Mereka mengenakan tapih bahalai sebatas pinggang. Beberapa bagian tubuh mereka ditandai titik putih, dihiasi kalung rantai manik-manik, dan taring babi hutan. Kepala ditutupi laung (ikat kepala dari kain batik).

Sambil bamamang, para balian menampilkan tarian magis yang melelahkan sambil mengelilingi sesaji, seperti beras, tempayan tuak, dan dupa kemenyan. Di atas sesaji tersebut dipasang daun janur dan tapih bahalai. Dalam prosesi ini kelima balian memadu gerak tangan saat membunyikan gelang bowo, sambil bergantian meniru gerakan kuda melompat-lompat kecil.

Gerakan-gerakan itu tampak begitu lincah mengikuti irama gendang, kenong, dan gong hingga pagi menjelang. Mambuntang berakhir setelah para balian mengajak minum tuak bersama.

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: