Orang kudus dari pulau keputusasaan

damiaan1-thumbnail.jpg

Pintu gereja tua yang selalu terbuka di tikungan antara Schapenstraat dan Pater Damieenplen itu mengundang saya untuk masuk ke dalamnya pada suatu sore di awal September. Gereja Sint Antoniuskapel tidak besar. Terbuat dari batu bata merah, seperti umumnya bangunan di Leuven. Saat masuk, ada lagu mengalun dari rekaman kaset. Suasana temaram. Usai berdoa, saya berkeliling ke tiap sudut, mengagumi interior gereja yang artistik. Di satu sudut ada semacam diorama dan kisah perjalanan Pater Damiaan. Saya berhenti, membaca dan kemudian tertegun. Karena kisah tentang Pater Damiaan ini benar-benar menggugah.

Siapa Pater Damiaan? Tahun 2005, di Belgia diadakan survei oleh VRT channel Canvas (sebuah perusahaan broadcasting) Belgia terhadap 25.000 responden mengenai siapa orang terbesar yang pernah dipunyai Belgia sepanjang sejarah dan Pater Damiaan menjadi orang nomor satunya. Ia sejajar dengan Winston Churchill (Inggris), Konrad Adenauer (Jerman) and Pim Fortuyn (Belanda) untuk survei sejenis di tahun yang sama. Pater Damiaan (1840-1889) adalah nama religious dari Joseph Damien de Veuster, seorang pastor dan misionaris Katolik dari Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria yang telah dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1995 dan dikenal juga sebagai St. Damiaan dari Belgia.

Ingat Molokai? Suatu pulau di gugusan Kepulauan Hawaii yang terkenal dengan komunitas penderita lepra. Ya, Pater Damiaan adalah misionaris yang bertugas di sana hampir sepanjang hidupnya, dan ia adalah tokoh yang dikenal sebagai Santo Pelindung Penderita Lepra dari Leuven. Saat itu, sekitar tahun 1860-an lepra adalah penyakit yang dianggap kutukan, penyakit yang misterius dan ditakuti. Karena itulah para penderitanya diasingkan ke suatu tempat asing, dan Molokai menjadi salah satu yang paling terpencil. Pater Damiaan, memilih bertugas di sana sejak 1865, di usianya yang baru 25 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria Eropa berkaca mata di antara para penderita lepra? Apa yang bisa dilakukan seorang anak petani yang hanya bisa mencangkul dari Tremelo, dusun kecil di Provinsi Brabant Belgia di sebuah pulau di Samudera Pasifik yang terkutuk? Yang dilakukan oleh Pater Damiaan adalah kurang labih seperti yang dilakukan Bunda Teresa seabad kemudian di Kalkuta, India. Mendekati yang tersisih, menolong mereka, mencintai mereka dengan memberi perlindungan dan penghiburan. Di Molokai, di tempat penampungan yang sangat jorok, kotor dan bau, Pater Damiaan awalnya bertugas memimpin pelayananan kepada penderita lepra. Namun kemudian, bukan hanya pelayanan rohani, melainkan juga jasmani.

damiaan-2-thumbnail.jpg

Ia tidak hanya mendirikan rumah sakit melainkan juga menjadi perawat, yang membersihkan mereka dan borok-boroknya, menyuapi yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan menghibur yang kesepian. Pater Damiaan menjadi dokter yang berusaha menolong sebisanya. Bukan untuk menyembuhkan, melainkan meringankan sebab obat lepra baru ditemukan oleh Dokter Amuen Hansen tahun 1873 dan saat itu belum sampai ke Molokai.Jika ada yang meninggal, Pater Damiaan memberi doa dan menguburkan. Salah satu situs internet menyebut bahwa dengan melakukan itu, Pater Damiaan berusaha mendekati Tuhan. Ekstetismenya diwujudkan dengan mencari Tuhan dalam bentuk sesama yang paling tersingkir dan memanusiakannya. De Glorium Homo Vivens, kemuliaan Tuhan adalah manusia yang hidup.

Suatu pagi pada pertengahan Desember 1884, ketika sedang memasak, karena tersandung, air panas yang baru direbus tumpah di tangannya. Ia tidak merasakan apa-apa. Sejak itulah Pater Damiaan sadar bahwa ia telah sama dengan mereka yang dicintainya di Molokai. Selama 24 tahun ia menjadi saksi betapa dekat sesungguhnya manusia dengan penderitaan dan kematian (di Molokai, orang datang hanya untuk mati setelah beberapa tahun). Kini ia ada dalam fase itu.

Masih selama lima tahun, Pater Damiaan menemani para penderita lepra. Secara perlahan-lahan, tubuhnya melemah. Ia mulai membusuk. Kulit mengelupas dan menggelembung di sekujur badan, tangan, kaki dan mukanya. Bentuk mukanya yang dulu bersih, rapi dengan kumis dan janggut yang tercukur rutin, jadi menjijikan dengan gelembung dan bulatan yang aneh, terutama di sekitar mata. Namun sorot matanya yang memancarkan kedamaian dan keteguhan masih sama.

Pada tanggal 15 April 1889, Pater Damiaan meninggal di Molokai di usia paruh baya, 49 tahun. Tubuhnya yang menjadi sangat kurus di akhir hidupnya, menjadi kontras dengan semangat pelayanannya yang luar biasa. Tidak ada yang sia-sia, karena setelah kematiannya, banyak pihak tergugah untuk menjadi donor dan sukarelawan bagi perbaikan perawatan lepra di Molokai. Di Molokai, Pater Damiaan adalah penebar benih cinta kasih. Ketika benih itu tumbuh, pekerjaannya selesai. Atas jasa-jasanya, dibuat patung Pater Damiaan di Hawaii State Capitol. Patung tersebut adalah tiruan saat ia telah menderita lepra dengan pipi menggelembung dan tangan mengelupas, bukan saat ia masih segar dan gagah di usia muda.

Saya yang melihat foto-foto Pater Damiaan saat ia masih kecil, dalam kebahagiaan bersama keluarga sebelum terpanggil menjadi pastor, saat ia ditahbiskan, saat di Molokai sebelum dan sesudah terkena lepra, saat ia sedang merawat pasien, dan saat penguburannya yang sederhana, tertegun lama. Apa yang diperlihatkan foto-foto itu adalah mosaik kehidupan yang luar biasa. Sebelum pulang, di ruang bawah tanah gereja, saya menyempatkan diri menengok sebentar makam Pater Damiaan setelah dipindahkan ke Leuven dari Molokai. Makam tersebut sederhana sekali. Di dekat pintu masuk makam, ada tulisan,” The saint from the despair island”, orang kudus dari pulau keputusasaan.

Saat keluar dari pintu gereja yang didirikan oleh Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria di tahun 1329 itu, ada lima orang tua, para kakek dan nenek yang masuk dan berbicara nyaring dengan bahasa Belanda. Selalu hanya orang tua yang berminat masuk gereja, sama dengan yang saya lihat di Gereja St Peter (Sint Pieterskerk) di Grote Markt dan Gereja St Michael (Sint Michielskerk) di Naamsestraat. Di luar udara sore mulai dingin. Orang-orang, kebanyakan orang muda, mulai berdatangan ke pusat kota di City Hall dan Gereja St. Peter. Karena besok adalah puncak Leuven Kermis maka telah digelar karpet dari bunga warna-warni berukuran kira-kira 20 m x 10 m di halaman City Hall, dan suasana di Oude Markt mulai semarak dengan café-café yang dihias.

Waktu itu saya berpikir, Pater Damiaan (dan gereja Sint Antoniuskapel) memang secara fisik seakan-akan menjadi bagian lain yang sepi dan tersingkir dari semaraknya Leuven di musim panas ini, oleh semangat muda dan sekulerisme Eropa modern yang pelan-pelan menempatkan agama di pinggir. Tapi kemudian muncul pemikiran lain, bahwa bukan fisik yang harus abadi dari orang hebat, melainkan semangatnyalah yang harus abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: