Surat buat Jess

Jess,
Tahu? Namamu mengingatkanku pada Honda Jazz. Jazz yang berwarna merah. Selalu berkilat karena sering dilap.

Juga seorang gadis usia seperempat abad yang menyukai musik jazz. Jazz adalah hidup dan matimu. Dengan earphone berisi lagu Jamie Cullum yang tidak pernah lepas dari rambut setengah ikal. Rambut ikal, yang berombak dan setengah pirang.

Yap, Jess, empat hurut yang tegas. Selesai.

Apakah benar dugaanku?

Di dunia absurd, di dunia maya, suatu waktu kapan yang aku juga sudah lupa, aku tersesat ke rumah mu.
eit, apakah hati yang membawa ke rumahmu itu?

hehe..tentu tidak segitunya.
Tersesat, siapa yang tahu kemana kita akan singgah kan?

Rumah yang menyenangkan ya..
tentu saja, menyenangkan, salah satunya karena foto2nya luar biasa.
Terlebih aku merasa dekat, dengan beberapa hal yang kamu ceritakan. Tidak semua, karena kalau kubilang semua, pasti aku berbohong..
Aku menyukai foto2mu tentang Sintang. Lepaskan dari tema yang monoton, sunset dan sungai (itu Kapuas atau Melawi?), maka kurasakan aku pulang kembali ke rumah
Ya rumah, karena sungai adalah rumah bagi mereka yang pernah dibesarkan olehnya..

Kamu pernah mandi dan berenang di sungai? Mengapungkan batang kayu, dan kemudian menghayutkan diri dari satu seberang ke seberang lain?
Kamu mungkin pingin, tapi toh ayahmu pasti tidak memperbolehkannya. Apa kata dunia, kalo anak bungsu kesayangan W****, berhitam dan berlumpur? Atau justru abang dan kakakmu yang melarang, atau kakakmu yang masih saja cantik di usianya yang hmm..mendekati 40? …

Foto mu tentang ayahmu (entah obituarinya, ataupun foto hitam putih mu) – menunjukkan betapa hangat kalian. Aku memang tidak pernah tahu, mengenai kamu dan keluarga mu sebelumnya. Karena aku memang tidak dibesarkan di Sanggau, ketika ayahmu menjadi orang besar di sana. Aku kecil, ingusan, berlumpur, hitam dekil, korengan (heheh..) di Ketapang…
Turut berduka cita, sedalam-dalamnya. Telat, maaf.

Juga meriam karbit. Anak lelaki sungai mana yang tak pernah bermain meriam? Hmm..Jika ada Kapuas dan Landak, maka di Ketapang ada Sungai Pawan..Gelegar meriam dari buluh betung,
setiap magrib ketika berbuka puasa. Saat itu, bunyinya tidak nostalgik, tapi saat membaca kisah mu, kenapa rasanya berbeda…

Juga cerita mu tentang Jogja dan Borobudur. Menyukai Jogja karena kenangannya, atau karena melankoli nya? Sebelas tahun di sana, cukup membuatku rindu setiap kali menikmati senjanya, dan galau menyaksikan perubahannya sekarang..

Jess,
senang Pram? Aneh juga, banyak yang suka Pram.
Bagaimana kalau kubilang jangan terlalu?
Seperti kita juga tidak boleh terlalu menganggap Che sebagai ikon yang ideal.
Atau buku Kahlil Gibran yang membuat jadi terlalu melankolis.

Kamu akan protes?

Maafkan ya.

Pram dan karyanya buat manusia jadi gelisah. Pemberontak. Akan selalu merasa gagah, namun seringkali teralienasi. Atau malah kadang tercipta perasaan inferior, tertindas yang berlebihan? (maaf, kalau salah) – sesuatu yang justru sangat dibenci Pram.

Walau juga akan jadi sangat kritis.
Tapi toh, ucapan,” Nak Nyo..Kita telah kalah, sebaik-baiknya, sehormat-hotmatnya”, kini jadi ucapan khas kaum heroist… Pram memang hebat.
Ucapannya dikutip di mana2..Semangatnya jadi inspirasi banyak kaum muda.

(Aku bilang kamu jangan terlalu suka Pram. Karena akan tambah lagi satu temanku yang suka pada Pram..)

Kamu suka karakter Minkey? Boleh juga. Atau latah suka Nyi Ontosoroh?
Atau Wiranggaleng? Sayang di Arus Balik, Pram juga tak jeli mengutip sejarah. Ia lupa bahwa soal maritim, Sriwijaya lebih hebat dan lebih lama berkuasa dari Majapahit..Dan Tuban bagaimanapun belum pernah jadi sesuatu yang besar pada masanya…

Demikian Jess,
dari Sintang sampai Pram.
kalau boleh, aku pingin kenal kamu lebih dekat, walau kutahu kamu sudah berada di dunia lain. Dan kamu bahagia di sana, bukan?

(Natal ini, sepertinya aku pingin mendengar lonceng gereja di katedral)

One thought on “Surat buat Jess

  1. wiwin says:

    nice, true story isn’t it???

    Jawaban:

    Hi
    Jangan kuatir. Ia nyata, tapi ini hanya fiksi..
    Atau malah lebih bagus kalau ini tetap dianggap fiksi dari kisah nyata?🙂

    Dan tentu saja, terima kasih sudah mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: