Leuven, Belgium: Jejak kaki di negeri musim panas

Minggu sore itu, saya beruntung. Suasana Oude Markt di tengah kota Leuven, di seputaran Grote Markt begitu indah. Angin tidak kencang. Matahari bersinar cerah, sinarnya yang tembus diantara pohon-pohon sejenis cemara dan bangunan-bangunan yang membatasi Oude Markt (pasar tua) membuat bayang-bayang yang memanjang.

Café De Becks, yang biasa menjadi tempat kumpul mahasiswa-mahasiswa Amerika Latin, di dekat patung wanita bersandar di kursi tengah pelataran, tidak lagi terlalu ramai dengan penggila Formula 1 yang telah usai disiarkan, walau bendera hijau kuning Brasil, serta hitam merah kuning Jerman dan Belgia masih berkibar-kibar.

Jadi senja yang hangat di musim panas akhir Agustus itu tidak terlalu hiruk pikuk. Apalagi, di hari pertama menjejakkan kaki di Leuven tersebut saya bertemu beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang bersekolah di Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven), yang juga sedang menikmati minuman di Café De Becks. Sebagai bentuk ucapan selamat datang, salah seorang mentraktir saya dengan segelas bir Stella Artois, bir asli Leuven dan merajai pasaran Belgia, yang telah terkenal sebagai salah satu negara penghasil bir terenak di Eropa.

Bertemu sesama orang Indonesia dan bicara bahasa Indonesia, di antara kerumunan beragam bahasa lain, dengan mayoritas orang-orang putih, mata biru dan rambut emas, rasanya menyenangkan bagi saya yang baru pertama kali ke Eropa ini. Atas undangan dan beasiswa VLIR (Vlaamse Interuniversitaire Raad) Belgia saya mengikuti kursus singkat mengenai Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh di Spatial Application Division Leuven (SADL) KU Leuven.

Minggu adalah hari bersantai bagi warga Leuven. Apalagi Minggu di musim panas. Hampir semua toko tutup, termasuk supermarket yang menjual bahan pokok. Yang masih buka hanyalah café-café minuman dan makanan siap saji. Itupun hanya di seputar pusat kota, di seputaran Grote Markt atau dikenal luas sebagai Great Market Square. Walau banyak pengunjung luar kota datang ke Leuven untuk bersantai, kebijakan menutup toko tidak berubah.

Saya yang kelaparan karena belum sempat makan apa-apa sewaktu tiba di Brussels National Airport siang harinya, terpaksa membeli pitta. Pitta adalah makanan Yunani yang terbuat dari daging domba diiris kecil-kecil, plus saos yang asam sekali, tomat, dan kentang goreng di warung Turki. Sedikit aneh menurut lidah saya. Karena toko-toko tutup, saya tidak bisa membeli nasi atau beras dan juga perlengkapan harian di Leuven pada hari pertama.

Jadi, dua kesan pertama terhadap Leuven adalah betapa indah, dan indikasi bahaya terhadap perut Melayu ini selama dua minggu ke depan akibat makanannya.

Leuven dan Grote Markt

Selama menjadi visiting scholar, saya merangkap turis. Turis Asia yang mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kota ini. Setiap pulang kursus pukul lima sore, di senja hari, setelah menaruh buku-buku pelajaran di KU Leuven International Student House Holleberg, di Schapenstraat 37, saya mengambil kamera dan buku catatan, memakai sepatu trekking dan sweater, kemudian berjalan kaki memutari kota. Matahari musim panas tenggelam pukul sembilan malam, jadi waktu berburu saya cukup panjang.

Leuven (resmi), Louvain (Perancis) atau Lowen (Jerman) adalah kota kecil, 30 km di timur Brussel, dan menjadi ibukota dari Provinsi Brabant yang berbahasa Belanda (Flemish). Leuven sendiri, sebenarnya secara geografis merupakan aglomerasi dari lima wilayah yakni Leuven, Haverlee, Kessel Lo, Wilsele, dan Wijgmaal. Letaknya yang berada hampir di tengah Belgia, membuat kota kecil ini menjadi ramai akan pelintas antar kota, antara Flanders (daerah berbahasa Belanda) di utara, Wollonia (daerah berbahasa Perancis) di selatan, serta Liege di timur (daerah berbahasa Jerman).

Walaupun kecil, Leuven mengandung sejarah yang panjang. Kota ini dibangun sebagai pusat perdagangan Flanders oleh Dutcy of Brabant di abad 11, seiring dengan perkembangan sebagai salah satu pusat keagamaan (Katolik) dan arsitektur di Belgia. Banyak gereja dibangun dengan gayanya masing-masing.

Salah satunya adalah Gereja St Peter di Grote Markt, yang merupakan gereja Katolik terbesar di Leuven. Gereja ini awalnya dibangun pada tahun 986 dengan ciri Romawi. Sempat hangus pada kebakaran tahun 1176 dan dibiarkan selama hampir 300 tahun, barulah oleh seorang arsitek Gothic, Sulpicius van Vorst, gereja ini dibangun lagi. Selain ornamen luar yang indah, dengan atap yang runcing bergaya kastil, yang membuat gereja ini menjadi fokus perhatian pengunjung adalah interior bangunan yang sangat indah dengan patung-patung klasik, serta adanya dua karya seniman klasik Belgia Dirk Boits, yakni The Last Supper dan The Martydom of Saint Erasmus.

Sejajar dengan St Peter, hadir bangunan yang sering dianggap sebagai Landmark kota, yakni Standhuis (City Hall) yang dibangun tahun 1439. Bangunan ini juga bergaya Gothic, dengan ornamen-ornamen yang sangat banyak di dinding-dinding luarnya. Saat pertama melihatnya, saya terpana dengan patung-patung kecil yang melekat di sepanjang dinding Standhuis, berpadu dengan pilar-pilar, serta ceruk-ceruk hiasan yang sangat rapi tersusun. Iseng-iseng saya menghitung berapa patung yang ada, dan hasil hitungan saya 232. Benar? Ternyata tidak. Karena setelah dicek di buku, jumlah keseluruhan patung adalah 236 buah.

Halaman Standhuis yang luas, dengan area pandang yang menyeluruh karena menjadi meeting point, adalah tempat favorit untuk bersantai. Kendaraan bermotor tidak diperbolehkan masuk. Yang boleh hanyalah sepeda, namun itupun biasanya dituntun oleh yang punya. Bangku-bangku disediakan di beberapa tempat, beberapa punya taman kecil dengan bunga yang berwarna-warni. Sangat nyaman menikmati suasana di sana ketika kaki lelah dibawa berjalan, sebelum kemudian pergi minum ke Oude Markt yang dijuluki sebagai “the greatest bar of western Europe”.

Orang-orang lalu-lalang dengan langkah yang pelan, sebagian sibuk jepret sana sini (seperti saya di hari pertama, maklum turis). Banyak keluarga muda membawa bayinya dengan kereta dorong, sementara orang-orang tua biasanya berombongan. Berbagai suku bangsa dan bahasa di sini: Belanda, Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Afrika, bahkan juga Arab dan China. Pasangan-pasangan, umumnya masih muda, bermesraan tanpa malu dan ragu. Saling tertawa, memandang, berpelukan dan lalu berciuman. Hmm…

Tidak jauh dari Standhuis, ke arah Stasiun Leuven, di sepanjang Bondgenotenlaan, kita akan menyaksikan deretan toko-toko mode, pusat kosmetik dan souvenir-souvenir. Trotoar yang begitu lebar di kedua sisi jalan, menjadikan acara windows shopping sangat nyaman dilakukan.

Namun bukan soal mode yang membuat saya berhenti lama di sebuah sudut jalan dekat Ladeuze Plein. Melainkan soal coklat segar. Ya, coklat yang masih hangat, bukan coklat seperti yang biasa kita lihat. Saya yang pingin mencicipi, mumpung di Eropa, jadi urung melihat harganya yang cukup mahal, antara 18 sampai 35 Euro. Whella, masak mau makan coklat aja harus membayar minimal 226 ribu rupiah? Tapi, setelah berlalu dari toko itu, saya jadi agak menyesal jika membayangkan kelezatannya…

Oh ya, bagi yang pernah ke Brussel, pasti tahu Grand Place atau Grote Markt-nya Brussel – yang menjadi daya tarik utama turis selain Atomium. Suasana gang sempit dengan café di kanan-kiri, papan promosi tegak berdiri di pinggir jalan, dengan macam-macam makanan dan minuman yang mengundang selera, rupanya juga ada di Leuven, yakni di Munstraat, gang kecil di belakang Standhuis.

Sayang, di Munstraat ini, tidak ada Manekin Pis, bocah kecil sedang pipis yang menjadi simbol kecil Brussel yang sangat mendunia, atau statue perfomer (penampil jalanan yang menjadi patung), seperti yang saya lihat di Grand Place ketika field trip ke Brussel di Minggu kedua.

KU Leuven, dari roh kota sampai bus umum

Walau hanya sekejab menjadi bagiannya, saya menyadari bahwa roh kota kecil yang indah ini adalah KU Leuven. Prof. Jos Van Orshoven, yang menjadi supervisor saya, mengatakan bahwa,”Kota ini unik. Ia berkembang untuk menghidupi dan dihidupi mahasiswa. Akan menjadi sunyi saat libur semester, dan menjadi hiruk pikuk saat perkuliahan dimulai”.

Dengan kurang lebih 30.000 mahasiswa, untuk kota yang hanya punya luas 14.371 acres atau sekitar 5.748 hektar ini, bisa dibayangkan betapa besar pengaruh KU Leuven dan mahasiswanya. KU Leuven sendiri merupakan universitas Katolik tertua di dunia yang didirikan pada tanggal 9 Desember 1425 oleh Duke John IV dan diotorisasi oleh Paus Martin V. Keberadaan KU Leuven sebagai universitas yang mempunyai kurang lebih 11.000 mahasiswa asing, membuat Leuven sangat internasional.

Properti KU Leuven terdapat di seluruh bagian distrik kota, termasuk ke Haverlee, seperti studentenresidenties (asrama mahasiswa), universitaire gebouwen (gedung administrasi dan perkuliahan), rumah sakit, restoran dan taman kampus, serta gereja kampus. Semuanya tersebar di mana-mana. Bangunan tempat saya kursus Celestijnenlaan 200 E tersebut berada di bagian kampus yang dinamakan Arenberg III, tidak jauh dari jalan kolektor Koning Boudewijnlaan di Haverlee.

Setiap mahasiswa dari luar Leuven bisa memperoleh kamar bersubsidi di asrama dengan biaya sewa 150–300 euro per bulan, tergantung ukuran kamar, ketersediaan kamar mandi dan dapur. Saya dan teman-teman sesama peserta kursus, juga mendapat fasilitas itu di Holleberg, Schapenstraat 37, tidak jauh dari Sint Antoniuskapel, gereja kecil yang mempunyai kisah luar biasa (lihat Pater Damiaan dan Pulau Keputusaan).

Keistimewaan lain adalah adanya kartu pas bagi mahasiswa KU Leuven untuk naik bis umum. Ke mana pun dan sejauh apa pun, selama masih di wilayah Leuven, dengan hanya memasukkan kartu pas tersebut kita tidak akan dikenakan biaya. Lumayan, sebab sekali naik bus bermerk De Lijn tersebut biayanya satu euro, kira-kira Rp 12.750,00. Saya beruntung, sebab dipinjami kartu pas oleh teman yang sedang kuliah di KU Leuven. Sehingga setiap pergi dan pulang kursus, tidak perlu mengeluarkan biaya.

Setiap pagi, pukul 8.24 pagi, di depan Gereja St. Quinten, saya sudah di halte. Dan pasti, sebelum 8.30 bus De Lijn No 2 Jurusan Station – Haverlee tersebut sudah datang. Selain sangat tepat waktu dan punya halte perhentian yang dipatuhi, bus De Lijn tersebut juga sangat bagus manajemennya. Pintu masuk dan keluar dibedakan. Yang unik, kursi-kursinya telah ditandai. Antara pria dan wanita tidak dibedakan.

Kategori pembeda bukan gender melainkan kapabilitas, ada penumpang biasa, manula dan kaum difabel. Saya heran, seringkali kursi lipat buat difabel yang ditaruh di tengah bus, tidak digunakan oleh penumpang, dan dibiarkan kosong. Begitupun dengan tempat duduk manula. Penumpang yang kebetulan ada di dekat situ lebih memilih berdiri. Mau tidak mau saya jadi membandingkan dengan suasana ketika naik bus umum di Jakarta.

Kastil Arenberg dan Sungai Dyle

Tia Mahdi, teman di Jogja yang mengambil masternya di KU Leuven, bilang kepada saya untuk menyempatkan diri berjalan kaki menyusuri Sungai Dyle dari Kampus Arenberg III ke tempat tinggal saya, dan tidak naik bus.

Di suatu sore di awal September, saya menyusuri Sungai Dyle, atau Dijle dalam bahasa Belanda, dari barat ke timur menuju pusat kota. Sungai Dyle ini bebas dari sampah hingga tampak bersih walau airnya tidak jernih.

Sepanjang tepian, ada taman-taman yang ditumbuhi pohon-pohon rindang, berjajar, dengan rumput-rumput dan pagar hidup yang terpangkas rapi. Begitu hijau, Di bawah pohon yang daunnya menggantung sampai ke tanah, mahasiswa membaca buku sambil tiduran. Yang lain duduk di kursi panjang. Orang-orang tua berjalan sambil menarik tali anjingnya. Suasana enak sekali, karena udara yang hangat.

Tepat di salah satu tepian Sungai Dyle, berdiri bangunan Arenberg Kastell, di Kardinal Mercierlaan 94. 3001 Heverlee. Kastil ini dibangun oleh Antoon Van Croy, seorang bangsawan Brabant, pada abad ke 16 dengan gaya Gothic klasik dan sedikit Rennaisans saat diperbaharui. Sore itu langit yang cerah, berwarna kebiruan dengan kluster awan-awan kecil membuat kastil tampak berpedar karena bias koloid matahari dari pepohonan.

Dari kejauhan, menara kastil Arenberg hitam karena menutupi matahari barat. Yang membuat kastil ini unik dan selalu diingat adalah keberadaan taman di halaman depannya yang indah dengan bunga warna-warni, dua menara kembar di kanan dan kiri, serta bunyi loncengnya yang rutin menyapa. Ada juga selokan lebar, yang ramai dengan angsa putih dan bebek yang berenang. Sejak 1916, Kastil Arenberg diserahkan kepada KU Leuven dan digunakan sebagai tempat perkuliahan mahasiswa dari Fakultas Sains Terapan.

Dari peta tata ruang yang diperlihatkan Prof Jos kepada para peserta training, tampak bahwa kawasan Arenberg di sepanjang Sungai Dyle ini merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan daerah resapan air.

Ketika SADL mengadakan program geo-caching (sejenis permainan kelompok menggunakan Global Positioning System (GPS) Navigasi untuk tracking dan memecahkan berbagai persoalan navigasi), ke daerah Herrent di barat Leuven, saya makin menyadari bahwa kebijakan tata ruang benar-benar dipatuhi. Lahan-lahan pertanian dipertahankan dengan subsidi penuh pemerintah sehingga petani-petani tidak tergoda untuk menjualnya. Tidak ada lahan yang dibiarkan terlantar, walaupun itu milik privat. Saat geo-caching inilah, saya melihat “jiwa” lain Leuven dalam memaknai lingkungan hidup (baca Bereklauw, Sisi Lain Leuven)

Kermis

Walau maju dan internasional, Leuven punya tradisi yang tetap dipertahankan selama berabad-abad: Kermis. Acara tahunan sejak abad ke-19, yang hanya diselenggarakan tiap musim panas ini, cukup unik. Tahun ini berlangsung dari tanggal 31 Agustus – 23 September, dengan puncak acara tanggal 3 September.

Apakah Kermis? Bayangkan pasar malam di Indonesia, dan gambaran tentang Kermis mulai hadir di pikiran kita. Ada komedi putar, rumah hantu, rumah jebakan, kios ketangkasan (tembak sasaran sebesar kelingking dan lempar gelang), kios makanan tradisional. Di Kermis ini, orang-orang berpesta. Malam semua permainan aktif, sedang siang hanya sebagian. Dari balita sampai nenek-kakek, semua datang ke Kermis.

Pada puncak acara Kermis, di Hari Senin tanggal 3 September, diantara deretan kios-kios yang berderet panjang mengikuti jalan-jalan di seputaran Grote Markt, saya melihat satu kios makanan yang pada plang namanya tertulis Bami (bukan Bakmi), Nasi Goreng, dan Loempia (bukan Loenpia).

Yang jual berwajah Asia, tapi bukan Indonesia, melainkan dari Vietnam. Rupanya, setelah saya tanya-tanya sama penjualnya, seperti yang di supermarket, istilah nasi dan bami goreng menjadi label yang umum di Belgia. Harga per porsi 4 euro untuk nasi dan mie, dan 1,3 euro untuk loenpia. Saya membeli seporsi nasi goreng dan sebatang loenpia. Rasanya, boleh juga. Inilah pengalaman saya makan nasi goreng dan loenpia terjauh. Hari itu perut saya bahagia.

“Malam hari adalah saat terbaik menikmati hangatnya minuman di Leuven”. Demikian tulisan di De Blauwe Schuit, sebuah pub di Wismarkt 16 tidak jauh dari kawasan Grote Markt. Sehabis menikmati Kermis, saya bersama teman dari Filipina dan Ekuador masuk ke pub yang berarti Kapal Biru itu. Satu-satunya pub yang masuk dalam brosur pariwisata Leuven itu memang bagus.

Di De Blauwe Schuit, meja kursi, lampu, botol minuman ditata dengan cermat sehingga terkesan artistik dan mencerminkan interior kapal pesiar. Suasana menyenangkan, dengan sinar lampu yang temaram, lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang easy listening. Di luar, masih sayup-sayup terdengar kembang api luncur yang meledak di udara di atas Standhuis. Saya berharap, sisa lima hari ke depan, masih akan sama menyenangkan dengan hari ini.

Untuk selamanya

“Sayang, di Leuven tidak ada Sungai Kapuas,” demikian isi SMS saya kepada Tia di Indonesia, pada hari terakhir saya di Leuven. Mitos bahwa jika kita ke Pontianak dan menyempatkan diri minum dari air Sungai Kapuas yang membuat kita kembali ke sana, tidak bisa saya lakukan di Leuven.

Negeri Senja mungkin hanya rekaan dalam karya Seno Gumira Ajidarma. Tapi, di Leuven, walau bukan senja romantis di pantai berpasir putih, banyak hal yang saya temui di waktu matahari tua di akhir Agustus dan awal September itu. Yang saya bawa pulang bukan hanya coklat Cote d Or dan Alpine, melainkan juga kenangan yang tak terlupakan.

“Dua minggu untuk selamanya..,”, mengikuti salah satu judul filmnya Riri Riza. Sebelum pulang ke Indonesia, saya sudah merindukan untuk suatu saat datang kembali pada kehangatan senja di Leuven.

Dimuat di Koran Tempo, edisi Minggu, 6 Januari 2008

6 thoughts on “Leuven, Belgium: Jejak kaki di negeri musim panas

  1. Odop says:

    Wow… Kisah perjalanan yang membuat saya terpukau. Kapankan diriku bisa berkunjung ke Eropa seperti Anda???
    Doakan saja

  2. akurini says:

    Salam ya sama Tia. Dan selamat berkunjung ke Leuven. Kapan-kapan mampirlah…

    salam,

    rini

  3. lamanday says:

    Cuma Leuven at a glance.

    Odop, ada waktunya, semua akan genap. OK man!

    Rini, terima kasih ya dah mampir. Tia, sekarang lagi ada kerjaan sama UN Habitat. Karena aku jarang ke Jogja, jarang ketemu. Salammu akan kusampaikan.

  4. hanz pr says:

    bung nday
    cuman satu kata: great!!!

    salam dan berkat
    hanz pr

  5. Vethree Riau says:

    asyik banget nich Share ceritanya kapan ya bisa kesana. Pengen….

  6. Anonymous says:

    I’ve learned a lot from your blog here,I loved this! Great job! I’m subscribing! Welcome to my Web:SMALLVILLE DVD BOX SET 1-9 Seasons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: