The Alchemist (1988)

Pertanda apa yang kamu cari?

The Alchemist (1988) adalah novel filosofis yang pendek. Hadir dengan kombinasi petualangan padang pasir Afrika yang eksotis, dengan fase pencarian jati diri manusia: frase klasik namun paling abadi.

Santiago, seorang anak laki2, mendapat tanda ajaib dari seorang raja Salem yang bijaksana, Melkisedek, hingga ia memutuskan berpetualang ke Mesir. Meninggalkan segala masa lalunya yang indah sebagai gembala di Spanyol untuk mencari harta karun.

Saat pergi, sang ayah hanya bilang, “Travel the world until you see that our castle is the greatest, and our women the most beautiful”. Santiago tidak tahu artinya, namun ia tetap pergi.

Selama perjalanan, Santiago menemui banyak peristiwa ajaib dan banyak orang unik. Ia juga menemui bagaimana dirinya sebagai manusia berhadapan dengan alam semesta. Betapa ringkihnya ia di satu sisi, dan betapa luas kesempatan di lain sisi. Ia yang semula mempunyai uang melimpah hasil menjual domba-dombanya, dirampok habis-habisan, jatuh miskin dan menggelandang, tapi karena itu juga ia bertemu dengan penjual kristal, bekerja padanya, dan menjadi lebih kaya dari sebelumnya.

Santiago adalah karakter optimis. Lewat ia, ada kesadaran bahwa semua hal mungkin sejauh kita ingin itu terjadi.

Barangkali ungkapan itu tampak seperti sebuah versi penyederhanaan dari filosofi dan aliran post-mistisisme new-age, tapi justru hal yang sederhana itulah yang paling berharga dan orang bijak menghargainya.

Antara Santiago dan penjual kristal ada dua kutub pemikiran berbeda. Saat penjual kristal, seorang karakter ragu-ragu yang menolak mengejar cita-citanya naik haji ke Mekkah karena terlalu takut meninggalkan segala harta benda yang ia punya, berkata, “I am afraid that great disappointment awaits me, and so I prefer to dream”, Santiago mulai sadar bahwa mereka harus berpisah.

Di titik inilah drama hidup manusia: si ragu-ragu, takut kecewa: mengorbankan cita-cita di masa depan yang belum pasti demi sebuah kenyamanan di masa sekarang; si pemberani sebaliknya. Si penjual memilih terus bermimpi indah tanpa merealisasikannya, sedang Santiago setelah bermimpi, ia lalu berjuang dalam kehidupan nyata.

Santiago percaya pada ucapan sang alkemis, saat muncul di hadapan Santiago dalam bentuk seorang raja tua, “when you want something to happen, the whole universe conspires so that your wish comes true!!”. Wujudkan mimpimu!

Itulah, tentang berkeinginan, dan bagaimana menyikapinya, semua orang pernah rasakan.

Tentang pencarian akan Tuhan, jangan repot-repot, jangan bersikeras. Hanya perlu menemukan bahagia dan berbahagialah. Ada ungkapan indah dalam novel ini: karena semua orang yang bahagia membawa Tuhan dalam dirinya.

Fatima, sosok gadis oasis Arab yang eksotis, hadir sebagai belahan jiwa Santiago. Santiago yang percaya cinta pada pandangan pertama, dan bahwa bagaimana menemukan cinta adalah soal membaca takdir dan tanda, “Fatima, Aku cinta padamu karena seluruh dunia bekerja sama membuatku dekat padamu!”

Ayah Santiago rupanya salah. Wanita tercantik di hati Santiago bukanlah wanita desa dari kedamaian lembah-lembah pegunungan jazirah Spanyol melainkan wanita gurun yang hidup di alam yang keras dan penuh perang suku barbar.

Tapi satu hal, ayahnya benar, untuk tahu betapa indahnya rumah kita sendiri, pergilah dahulu, lalu pulang dan tinggallah di kemudian hari. Ruang dan waktu yang berjarak membuat lebih objektif.

Di akhir novel, Santiago menemukan hartanya. Bukan di piramida tapi di bawah pohon tempat ia biasa beristirahat. Bukan di tempat jauh, tapi di tempat ia berasal.

Tapi, ia juga tahu bahwa bahwa hartanya adalah di Fatima di mana hatinya berada, dan bahwa harta itu juga sesungguhnya adalah “the journey itself, the discoveries we made, and the wisdom we acquired”.

——–

6 thoughts on “The Alchemist (1988)

  1. wiwin says:

    Seperti yang pernah kudengar sebelumnya;
    Cinta, impian, masa depan, dan penemuan jati diri…
    Setiap orang punya cara yang unik untuk menemukannya, dan proses itu adalah pengalaman spiritualitas yang paling berharga….. bagi masing-masing pribadi yang juga unik..

    @wiwin:

    Setuju. Eh, tumben, jadi bijak Win?
    Hehe…

  2. kundhel says:

    kangen malem malem journey ke sendang sono !!! zaman jadi bonek hehehehe.

    @kundhel:
    halah sampeyan, mbonek karo e** ning bukit kelam ya malah lebih seru tho…hihihi

  3. zen says:

    ah, buku ini lagi…. huhuhu!

    ayo abis ini cari chasing rumi alias memburu rumi.

    @zen:
    buku bagus yang mainstream memang akhirnya membosankan karena terlalu sering diulas dan diulang ..
    Mau apa lagi, hehe..

  4. sadhana says:

    Brur tolong carikan Laila Majnun yang ditulis Nizami Ganzavi, english version are prefer. Juga Student Hidjo oleh mas Marco Kartodikromo ye. Nanti kutukar dengan sosis babi 4 kilo lah.

    @sadhana:
    Student Hijo? Benar mau nyari Brur? Hampir keseluruhan dari buku novel tipis itu cuma kisah percintaan Raden Hijo, seorang bangsawan Jawa yang digambarkan selalu jadi idaman para raden ajeng pribumi (Wungu dan Biru), maupun para noni-noni Belanda (Betjse dll). Jika disajikan secara menyentuh seperti Mendut-Ponocitro atau Minke-Annelies sih malah bagus. Tapi, si Hijo ini semi-PK pada zamannya. Nasionalisme pra-indonesianya memang ada, tapi yah, nempel aja…

    Laila Majnun nantilah aku carikan ye..

  5. zen says:

    student hidjo itu emang gak romantis macam minke-annelies, tp kalo diperhatikan dg cermat permainan bahasanya yang plastis, satire dan kadang sarkas, Student Hidjo pantas dibaca, loh. Beberapa sarjana asing berkaliber macam Ben Anderson dan Rudolf Mrazek bahkan ngacak2 novel ini sebagai contoh bagaimana bahasa merupakan medan wacana yang penuh sengkarut kuasa. saya masih ngincar karya Marco yang lain, “Semarang Hitam”.

    @zen:
    Yup, tiap karya, apalagi klasik, memang patut dibaca karena akan berisi sesuatu, paling tidak ia akan mencerminkan zeitgeist… Tapi, wah..kalo dah masuk ke analisis sosio-linguistik, mending tak serahkan ke ahlinya…(yo sampeyan zen..)…:)

  6. cya says:

    Tapi, ia juga tahu bahwa bahwa hartanya adalah di Fatima di mana hatinya berada, dan bahwa harta itu juga sesungguhnya adalah “the journey itself, the discoveries we made, and the wisdom we acquired”.

    lho..
    me berhenti pada pengertian dia nemu hartakarun berupa uang, seolah-olah harta yang dia cari itu hanyalah keping-keping emas bukannya perjalanan itu sendiri, penemuan dan kebijaksanaan yang diperoleh dari perjalanan itu.

    makanya jadi sebel sama buku ini
    udah jauh-jauh… eh, hartanya cuman emas aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: