Blekok yang selalu kembali…

Hari sedikit mendung. Di langit, ke arah utara tampak gelombang-gelombang awan kelabu. Sementara di selatan, langit masih tampak biru dan putih.

Sembunyinya matahari, membuat suasana Dusun Ketingan jadi redup. Pohon-pohon tinggi menutupi cahaya. Menengadah, saya memandang ke pucuk-pucuk melinjo dan johar yang saat itu penuh dengan daun hijau – tanda ia cukup air. Musim hujan, musim pepohonan berbahagia karena air melimpah.

Hari ini saya berburu foto burung blekok dan kuntul di sebuah desa biasa yang “terberkati” di Yogyakarta.

Di partisi tas lensa 18-55 mm Canon saya tergeletak. Kamera tegak di tangan kanan, talinya memutari lengan, ujungnya memanjang karena lensa 300 mm.

Saat berburu saya ingat Santiago. Saya bukan Santiago. Dan burung blekok dan kuntul yang terus beterbangan di atas kepala juga bukan tokoh-tokoh dalam The Alchemist. Tapi, ada hal-hal kecil yang menghubungkan keduanya…

Pak Tjipto, pemilik kebun yang jadi gardu pandang kesepuluh di Dusun Ketingan, tempat kami berburu, bercerita banyak tentang burung-burung itu dan kehidupannya.

pak-tjipto.jpg kepakan-sayap.jpg

“Yang di kepala dan lehernya ada bulu-bulu coklat itu blekok. Yang putih polos itu kuntul”.

Ia, mantan Ketua RT selama 7 tahun, berkisah bagaimana dusun kecil Ketingan yang merupakan dusun kebanyakan di Yogyakarta, tiba-tiba berubah dengan kedatangan burung-burung tersebut.

“Delapan tahun yang lalu, sesudah beberapa hari Sri Sultan (HB X) meresmikan jalan di dusun kami, tiba-tiba di suatu sore yang cerah, berdatangan burung-burung itu entah darimana. Tidak langsung banyak melainkan pelan-pelan, hari demi hari menjadi banyak. Mereka beranak pinak dan lalu menjadi bagian dari keluarga kami di dusun ini”.

Ya, peristiwa itu seperti membuat dusun yang berjarak kira-kira 15 km ke utara dari pusat kota Jogja itu, menjadi dusun yang terberkati. “Kebetulan saja, peristiwa dibuatnya jalan itu dan hadirnya Sri Sultan, bersamaan dengan datangnya burung. Tidak ada yang ajaib, hanya biar jadi penanda, Mas..”, ia tersenyum.

Pertanda? Mendengar ucapan Pak Tjipto, saya ingat Santiago yang memperpercayai tanda-tanda yang ada di sekelilingnya; bahwa semua ada artinya, tidak ada kebetulan di dunia ini.

Mengapa Santiago bertemu dengan Raja Melkisedek, dan mengapa Sang Alkemis memilihnya untuk mengetahui rahasia dunia? Mengapa Dusun Ketingan yang terpilih, dan bukan Dusun Cebongan yang tidak jauh dari situ? Mengapa beberapa hari sesudah diresmikan Sri Sultan?

Saya tidak bisa menjawab karena mungkin pertanyaan itu hanya retoris dan tidak butuh dijawab. Tapi, toh segala sesuatu ada alasannya…

Dari tutupan vegetasi, saya tahu bahwa dusun kecil ini penuh dengan pohon-pohon tinggi. Juga dikelilingi persawahan yang luas dan menghijau sepanjang tahun karena wilayah ini masih termasuk sabuk hijau Merapi.

Dua faktor itulah, agaknya, menurut saya, yang menjadi kunci-kunci utama, mengapa secara logis rombongan burung ini memilih bersarang di Dusun Ketingan. Pohon-pohon tinggi mereka perlukan untuk membangun sarang yang aman, sedangkan sawah mereka butuhkan untuk mencari makan: katak kecil dan binatang-binatang kecil lain di sawah.

Kisah tentang burung-burung itu masih berlanjut tentang Lurah Blekok, yakni seekor blekok terbesar yang dianggap “raja” di kumpulan pohon halaman Pak Tjipto. Setiap sore, selepas pulang mencari makan, si lurah akan turun ke dahan tertinggi, dengan terlebih dahulu berputar-putar di pohonnya. Sayapnya mengepak lebar. Kira-kira satu meteran. Dan diikuti beberapa burung yang lain…Persis seorang raja yang selalu diikuti punggawa-punggawanya. Struktur hirarki juga berlaku di kerajaan burung ini.

—-
sally-sendiri.jpg siap-terbang.jpg sally-sendiri-2.jpg

Pada Januari dan Februari, burung blekok dan kuntul akan ramai sekali. Dusun itu akan hiruk pikuk. Walau mereka bukan burung berkicau yang ribut, tapi pergerakan mereka yang dinamis dan bunyi aoook yang keluar tiap kali berkejaran atau kawin tetap saja membuat dusun menjadi semarak. Belum lagi kotoran mereka yang membuat halaman dan konblok dusun jadi penuh percak-percak putih…

Tiap pagi dan sore, pohon melinjo dan johar akan berwarna putih. Siang hari, kembali hijau, karena hanya yang sedang mengerami telur dan menjaga sarang saja yang masih tinggal. Yang sedang mengeram punya kebiasaan aneh, bulu-bulu lehernya akan mengembang sehingga ia akan tampak seperti elang. Lebih gagah sekaligus indah.

Namun, ketika masuk ke Bulan Maret, saat anak-anak mereka sudah besar dan bisa terbang, satu persatu blekok dan kuntul dewasa akan pergi selama kurang lebih dua bulan, meninggalkan Dusun Ketingan dalam keheningan seperti semula. Namun, mereka pasti kembali ke Dusun Ketingan, tempat yang mereka pilih sebagai tempat bersarang…

Saya terus mengabadikan mereka dalam gambar dan ingatan. Ingatan ini pendek, tapi foto akan memperpanjangnya. Seperti Santiago yang berusaha mengabadikan ingatannya akan Fatima dan lembah-lembah penggembalaannya lewat angin.

Yang saya tangkap seketika adalah betapa dengan hadirnya burung-burung ini, terjadi harmoni antara manusia dan sekitarnya. Ada larangan untuk sama sekali menembak, atau menangkap burung-burung tersebut. Juga untuk menebang pohon-pohon tinggi di halaman rumah. Dan itu tumbuh alami di hati masyarakat Dusun Ketingan.

Perasaan menjaga itu tumbuh seiring dengan semakin populernya Dusun Ketingan sebagai Desa Wisata Fauna andalan Kabupaten Sleman. Bulan Agustus tahun 2005, diadakan Lomba Foto Nasional tentang kehidupan burung-burung di Dusun Ketingan.

Tiap tahun, saat liburan sekolah, siswa-siswa sekolah dari Jakarta dan kota-kota besar, datang ke Ketingan untuk berdarmawisata. Belum lagi para turis asing yang sporadis berdatangan ke Ketingan. Ya, semenjak datangnya blekok dan kuntul, Dusun Ketingan telah menjadi oasis tersendiri, dan tidak lagi sama seperti delapan tahun lalu.

Matahari menjelang sore. Saya pamit dengan Pak Tjipto.

Saya teringat sebuah ucapan dari seberang pulau, “Selamat menikmati sore di Jogja”. Pesan pendek dari seorang yang punya banyak kenangan di Jogja dan menyukai senja harinya.

Membalas pesan itu, saya tulis, “Mau kuambilkan sepotong senja?” Saya ingat frase sepotong senja-nya Seno itu setelah membaca tulisan di sebuah blog sahabat: kisah tentang “sepotong senja untuk pacarku”, yang diangankannya dari sebuah dermaga tua.

Saya ingin memotong langit di cakrawala, mengabadikan senja untuknya, dengan blekok yang sedang terbang dan matahari keemasan sebagai latar, di balik rimbunan hijau johar. Saya ingin, tapi ternyata saya tidak melakukan apa-apa. Matahari senja kali itu kurang indah, tidak berwarna emas, tidak pula lembayung karena mendung.

Saya tahu, saat dia bilang, “..ditunggu senjanya..”, itu hanya ungkapan selintas, dan mungkin hanya dalam hitungan menit akan terlupakan. Atau jika pun tidak, saat ini, saya tetap tidak bisa memotong senja itu, tidak bisa…

Saya dan dia mengerti alasannya.

Huhff…

Di boncengan sepeda motor, dengan kamera menggantung saya pulang ke timur. Di belakang ada matahari barat yang kuyu di balik mendung. Melihat ke atas, saya yakin malam ini Jogja akan diguyur hujan.

4 thoughts on “Blekok yang selalu kembali…

  1. kw says:

    blekok, di kampungku masih banyak, utamanya musim hujan, dan pak tani menggarap sawah.

    @kw:
    Ya. Andai saja di mana ada sawah ada blekok, musim hujan dan pak tani punya sahabat..🙂

  2. JS Kamdhi says:

    saya sedang mempersiapkan buku bacaan
    serial burung langka
    untuk anak-anak SD
    bisa bantu
    info

  3. saya nemu anak burung baru lahir mirip blekok. gak tau bener apa ngga….
    cara merawatnya gmana yaa gan? kasian jatuh dari pohon…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: