Pada banyak perhentian..

Entah kenapa, selalu ada perasaan lain setiap saya berada di perhentian: bandara, stasiun, terminal, pelabuhan…

Saya ingat waktu berada di Schipol Airport di Amsterdam. Dunia asing. Perasaan sepi di tengah keramaian. Orang-orang lalu lalang, semua sibuk. Semua seperti bayangan, berkelebat di kanan-kiri. Tulisan-tulisan bercahaya. Pesawat KLM membeku di landasan, sedikit basah akibat hujan yang sebentar. Momen itu, melekat erat.

Apalagi ketika saat ini, bandara menjadi ruang publik yang lebih sering saya kunjungi daripada mall, atau bahkan gereja. Perjalanan kantor, ke luar pulau, tentu saja menggunakan pesawat. Hiruk pikuk Soekarno Hatta, atau modernnya Brussel National Airport, atau sepi dan sederhananya Bandara Beringin di Muara Teweh, jadi perhentian yang jarang saya lupakan. Senja yang tampak di sayap Piper Navajo ketika saya melakukan survey udara di langit Pengunungan Muller, ketika mendarat di Bandara Beringin, sampai saat ini masih menjadi pemandangan luar biasa bagi saya.

klm.jpg sayap-navajo.jpg

Dulu, suara peluit kapal di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, selalu menyisakan rasa yang lain ketika akan bertolak ke Pelabuhan Pontianak. Dan saya ingat, setelah menaruh tas, saya dan teman-teman selalu berada di geladak untuk melihat daratan yang ditinggalkan. Seakan yang pergi akan berada di dunia yang lain. Seakan yang pergi meninggalkan sesuatu yang sudah usang dan menjemput gairah yang baru. Ada perasaan entah kapan kembali…

Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil bagi saya sebentuk representasi yang paling ajaib dari suasana pelabuhan:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali.
Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri
dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam.
Ada juga kelepak elang
menyinggung muram,
desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan.
Tidak bergerak
dan kini tanah dan air
tidur hilang ombak.
Tiada lagi.
Aku sendiri.
Berjalan
menyisir semenanjung,
masih pengap harap
sekali tiba di ujung
dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat,
sedu penghabisan bisa terdekap.

Saat ini, saya lebih sering berada di perhentian kereta api. Menunggu kereta datang, dengan sorot cahaya yang sangat terang dari kejauhan. Suaranya seakan merayap dari jauh. Di Jatinegara dan Stasiun Tugu. Peluit masinis, dan suara pengawas kereta yang memberitahukan kedatangan kereta, jadi soneta yang berulang. Saya ingat banyak film dan lagu yang suka menggambarkan stasiun sebagai tempat romantis dimulai atau berakhirnya kisah percintaan. Ingat film Pacar Ketinggalan Kereta (1989) karya sang Maestro Teguh Karya?

Yang paling kurang mempunyai kesan pada saya adalah terminal bus. Hanya ini yang saya ingat: tubuh lelah, baju kumal, dan tas ransel besar 30 kg di punggung para pendaki. Sebab, dari 30 kali pendakian yang pernah saya lakukan, terminal selalu menjadi rumah sementara: mandi, buang hajat, bersih-bersih, juga tidur.

Apa yang membuat tempat perhentian itu berkesan? Mungkin karena selalu ada gairah yang dinamis pada perhentian. Orang-orang yang bergegas, dan selalu punya tujuan.

Atau juga sifatnya yang antara. Sebagai penghubung banyak hal. Satu ruang ke ruang lain. Satu waktu ke waktu lain. Suatu peristiwa ke peristiwa lain. Dari satu kenangan ke kenangan lain. Dari yang ditinggalkan dan akan didatangi. Penghubung antar harapan. Atau mungkin karena bagi sebagian orang seperti saya yang sampai hari ini belum punya tempat tinggal tetap, tempat perhentian seperti itu juga bisa menjadi rumah.

Entah.

Yang pasti, akan masih banyak perhentian yang akan saya datangi, apapun itu.

4 thoughts on “Pada banyak perhentian..

  1. kw says:

    waduh nikmat sekali kau merayakan hidup, dari satu tempat ke yang lain…🙂

    @kw:
    haha..merayakan untuk merayu hidup agar memberikan gairahnya. Begitu boss?

  2. sadhana says:

    Untuk terminal, dalam perjalananku berarti ” merasa kosong”. Karena setiap kali pulang dari menjenguk dataran tinggi gunung, sehabis mandi dan makan juga sekedar mengganti baju yang bersih, itu berarti harus iri. Pada rekan2 yang sumringah karena sehabis terminal ini kehangatan rumah menunggu mereka. Bertemu keluarga sehabis itu lelap tertidur. Sedangkan saya berarti pulang ke kamar kost, sepi dan hanya rindu memandang foto orang tua dan saudaraku. Sendirian pegal2 jauh dari sahabat dan kerabat.

    @sadhana:
    Semi-affirmatif!😀

  3. sadhana says:

    Untuk sekarang saja dimana waktu untuk pulang kerumah dapat ditempuh dalam tempo 30 menit rasanya sudah capek menjalani. Sehingga entah kenapa 2 kali tawaran untuk pindah dari kota ini, yang hanya begini saja, dengan tak ragu saya tolak. Sudah cukup rasanya menjadi pribadi yang mahal untuk sekedar pulang, menjenguk dapur dan mengalami atmosfer sarapan bersama orang tua. Semoga kelelahan ini tidak kau rasakan kawan, teruslah terbang dan tetaplah berkisah, karena dari kisahmu yang menjadi mataku memandang luas dunia.

    @sadhana:
    Iya, nih masak berjalan terus, burung blekok saja pulang ke rumahnya..😀
    btw, brur, coba cermati, sebenarnya, kita semua perantau…hanya beda2. Ada yang perantau luar negeri, ada yang luar pulau, ada yang luar kota, ada yang luar rumah, atau hanya luar kamar…(yang terakhir ini momennya waktu kita SD dan diusir – atau sudah malu – dan kagak boleh lagi sekamar sama umak bapak hihihi..)

  4. Meirani says:

    Orang yang bergegas di pemberhentian tidak selalu ada tujuan. Mereka hanya menuju arah. Meninggalkan tanah jauh. Menuju satu titik yang masih berbentuk tanda tanya besar.

    Jangan terlalu menikmati pemberhentian. Karna disana justru tidak memberi kepastian.

    @mei:

    Justru itu mei, dengan asumsi yang sama dengan poin terakhirmu, maka cerita tentang perhentian ini ditulis. Siapa yang tidak “lelah” ketika berjalan, berhenti, berjalan lagi, berhenti lagi..Tapi, itulah, satu2nya cara menikmatinya adalah dengan bersahabat dan mencoba menikmati apa yang termakna dengan perhentian dan perjalanan itu…
    Eh, tapi apakah memang ada kepastian? Bukankah yang ada hanyalah keyakinan?….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: