Hujan pagi Februari

Early morning blue.
Istilah yang menyambar di suatu pagi mendung yang bergegas.
Lalu saya ingat sebuah puisi lirih ini:

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
(Pada Suatu Pagi, Sapardi Joko Damono)

Puisi itu biasa dan sederhana. Kisah tentang pagi yang sedih.
Ah, kesedihan, “selalu terasa ada pasir di dada”.

Saya tidak sepenuhnya mengerti, bagaimana sesungguhnya ingatan dan kenangan itu bekerjasama menciptakan apa yang dinamakan kesedihan.

Mungkinkah ia bekerja secara diam dan misterius seperti alam semesta ini?
Ataukah ia bekerja dengan begitu jelas sehingga kita tidak pernah menyadarinya karena langsung membaur dengan hari-hari yang dijalani?

Ada kalanya kita lupa tentang peristiwa, orang, dan banyak hal lain walaupun mereka bertahun-tahun ada disekitar kita. Mereka akan menguap begitu saja seperti air pembilas di baju-baju yang dijemur. Tidak pernah terlalu penting, tidak pernah lebih berarti daripada itu. Lenyap seiring matahari yang makin tinggi, seturut panas hari yang tidak mau kompromi.

Lain waktu, kita barangkali akan selalu ingat suatu peristiwa, orang atau kisah, yang remeh dan kecil yang mungkin saja hanya berlangsung tak sengaja begitu nun jauh disana, dalam hitungan kejap yang selintas. Tapi kita malah lalu mengingatnya, merindukannya, sepanjang usia, pagi demi pagi, siang demi siang, senja demi senja. Bahkan ketika kita mati pun, masih berusaha mengabadikannya dalam foto, wasiat, atau peninggalan-peninggalan fisik yang fana.

Apakah yang terjadi pada dia yang ingin menangis diam-diam di suatu pagi yang hujan rintik-rintik di lorong sepi itu? Kenangan seperti apakah gerangan yang begitu menyedihkannya?

Bisakah kamu menjawabnya, nduk?

3 thoughts on “Hujan pagi Februari

  1. kw says:

    lagi kangen ya?

    @kw:
    entah…

  2. Wiwin says:

    Hati mengenal kepedihannya sendiri dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya
    Di dalam tertawa pun hati dapat merana
    Dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan
    By Ita Sembiring

    @wiwin:
    huhuhu…jangan deh, kalau senang mbok orang laen juga dapat turut merasakan…

  3. Thanks a bunch for sharing this with all of us you really know what you’re talking about! Bookmarked. Kindly also visit my website =). We could have a link exchange agreement between us!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: