Peta pikiran

Saya pembuat peta.

Sebenar-benarnya secara keilmuan: seorang surveyor dan kartografer. Tapi, lupakan soal profesi, ini tentang peta pikiran.

Bagaimana sesungguhnya pikiran itu bekerja?

Porhyry dari Tyre, seorang filsuf Syrian yang penganut neo-platonian, pertama kali mengemukakan tentang peta pikiran. Ia berpendapat bahwa, pikiran manusia itu sebenarnya mempunyai alirannya dan dapat digambarkan dalam sebuah skema. Kemudian, secara lebih sistematis, teori peta pikiran ini dikembangkan lebih jauh oleh Dr. Alan Collins, sekitar tahun 1960-an, guna memperlihatkan jaringan semantik (semantik network) dari pemikiran manusia.

Ternyata, Collins menemukan bahwa pikiran manusia itu ibarat pohon dengan batang, cabang dan ranting, serta daun. yang saling berkaitan satu sama lain. Pikiran manusia itu bekerja secara sistematis. Ambil sebuah kata, misalnya “seks”, letakkan di tengah, maka jika dibuat suatu peta pikiran, akan ada kata-kata baru yang terhubung dengan “seks”, di sekelilingnya. Misalnya saja, “cinta”, “nafsu”, “afeksi”, “alamiah”, dan lain-lain. Terus akan ada kata yang juga terhubung lagi dengan “cinta”, misalnya “persahabatan”, demikian seterusnya.

Yang ajaib dari peta pikiran ini ialah bahwa sesungguhnya ada pola dan kecenderungan yang sama namun sekaligus unik dari setiap individu manusia saat menjabarkan “jaring-jaring” pemikirannya. Inilah yang lalu, memunculkan psikologi tingkah laku yang khas dan kenapa kita bereaksi secara acak terhadap sesuatu, namun tetap ada kecenderungan yang seragam dan sistematis.

Maka, istilah diversitas, mainstream dan non mainstream, akan abadi sepanjang hikayat manusia.

Visualisasi abstrak pemikiran inilah, bagi sebagian orang disebut “ideologi” (dalam makna yang diperluas). Yang tiap orang pasti memiliki, atau mengikuti ideologi manusia-manusia terdahulu, apapun bentuknya. Ideologi sesungguhnya sama dengan peta pikiran yang ada pada kita.

Seorang yang ahli bermain dengan pola pikir dan mempengaruhi orang, seperti pesulap, hipnoterapis, orator, ataupun psikolog, sebenarnya hanya bermain-main menggunakan peta pikiran. Orang gila pun, memiliki peta dalam pikirannya. Ia tidak menggunakan peta buta. Tapi peta yang amburadul…

Contoh peta pikiran yang lebih bersifat spasial adalah “mental map”, yakni peta pikiran yang isinya pemahaman akan ruang sekelilingnya. Mental map sangat terkait dengan daya ingat geografis. Orang yang tidak mudah tersesat dapat dikatakan sebagai orang yang punya mental map bagus.

Jadi, menurut saya, setiap individu pasti punya peta dalam dirinya, dan akan terus berkarya mengadopsi, menciptakan peta-peta baru dalam perjalanan hidupnya. Karena ia berpikir, dan karena ia ada dan terus mengada dalam ruang yang disebut dunia tempat hidup ini.

One thought on “Peta pikiran

  1. dewi says:

    mungkin karena kita membahas peta yang berbeda?😉
    karena peta yang saya bicarakan lebih menekankan pada target-target dan timing. semacam rencana.. dan ya, mungkin karena saya tidak suka berencana. keteraturan dan tahu tidak selalu menyenangkan.

    @dewi:
    hehe..mungkin yah. Semua tergantung sudut pandang..Gajah betina aja tampak seksi kalo kita berpikir sebagai gajah jantan..hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: