Waktu-waktu Mataram

Kamis, 28 Februari 2008
Pukul 13.32 WITA

Bandara Selaparang baru saja diguyur hujan saat saya mendarat. Hujan sebentar. Kata orang, jika kita pergi atau datang ke suatu tempat diawali hujan yang sebentar, maka perjalanan itu direstui.

Sebelumnya, dari jendela pesawat terlihat pulau ini dari atas. Tidak sama seperti delapan tahun lalu, saat memandangnya dari Selat Lombok. Yang sama hanyalah perasaan antusias karena kembali menginjakkan kaki di pulau yang eksotis ini.

Saat turun, mata saya terpancang pada sebuah plang papan berwarna kuning. Ada susunan angka di sana. Angka koordinat! Penanda yang baru kali ini saya lihat di sebuah bandara. Jadi teringat signature email saya yang juga berupa koordinat geografik dalam lat long. Mudah-mudahan si penggagas tahu bahwa, untuk area yang cukup luas seperti bandara ini, koordinat tersebut harusnya merupakan centroid, dan bukan asal koordinat sebuah titik acak saja.

Tapi ah, itu terlalu teknis. Biarlah.
Yang penting: Lombok, saya kembali.

Pukul 21.30 WITA.

Jalan Udayana yang terletak tidak jauh dari bandara masih ramai. Ramai karena jalan ini merupakan tempat kaum muda Mataram menghabiskan malam. Banyak warung tenda dan lesehan, orang muda yang berkelompok, dan deretan kumpulan sepeda motor yang berderet. Tiap jenis merek menempati tempatnya sendiri. Saya ingat Jalan Pahlawan di Semarang, Jalan Yos Sudarso di Palangkaraya, Kompleks MTQ di Pekanbaru, atau Jalan Laksda Adisucipto dan Malioboro di Yogyakarta. Tiap kota yang punya gairah muda pasti punya tempat seperti ini.

penjual.jpg kuta2.jpg

Rasa pedas sambal terasi plecing kangkung masih membekas di lidah. Juga ikan gurame saos madu yang kami makan di Restoran Kalisari tadi. Saya memutari kota telah dengan perut kenyang, dan itu membuat mata dan pikiran saya lebih detil memperhatikan kota ini.

Pak Agus, yang malam itu mentraktir saya makan, bercerita tentang bagian kota Mataram, Cakranegara. “Ini kota dalam kota. Sangat teratur”. Konsep konsolidasi tanah, di mana penataan bangunan dan akses jalan menjadi prioritas penataan kota, terlihat jelas. Jangan kira ini atas jasa pemerintah. Bukan. Model kota seperti ini telah ada sejak zaman raja-raja dulu. Tipikal penataan kota grid, model modern Amerika ini, ternyata telah diterapkan

Sangat banyak ruas jalan yang berupa perempatan. Dua lajur jalan utama yang sejajar, arah utara-selatan, selalu terhubung dengan jalan konektor. Aksesibiltas merupakan hal utama yang diperhatikan saat mengadakan pembangunan kota.

————————————————————

Jumat, 29 Februari 2008.
17.05 WITA.

Saya berada di Sekotong, sebuah desa kecil di bagian selatan Lombok Barat. Tempat ini adalah rekomendasi pertama ketika saya bertanya mengenai dimana tempat yang indah, dengan lanskap pegunungan dan laut yang menyatu, dan alami.
Sore itu, saya menyusuri pesisir barat Pulau Lombok, mengiris sudut pulau dari sisi yang lain.

Saya memburu senja yang mengintai di sebelah kiri, melewati kampung-kampung masyarakat Suku Sasak. Bukan yang tradisional karena di Lombok Barat, desa asli Suku Sasak telah tidak ada, berganti dengan permukiman-permukiman semi permanen, seperti yang biasa dilihat di daerah-daerah pedesaan dan sub urban di berbagai belahan Indonesia.

Oleh Sofian, orang Sasak dari Gerung yang jadi teman perjalanan sore itu, saya ditunjukkan pura tertua di Pulau Lombok yakni Pura Gunung Pengsong. Pura itulah yang menjadi awal dari keunikan religius di wilayah pesisir Barat.

jembatan.jpg kuta.jpg

Pulau Lombok bagian barat, yang mencakup Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, merupakan wilayah unik. Di wilayah inilah pengaruh Islam dan Hindu bertemu.

Pulau Lombok bagian barat merupakan bekas daerah kekuasaan Raja Karangasem. Masih banyak penduduknya memeluk agama Hindu, bernama khas Bali, dan memiliki rumah yang berpagar berukir dan berselimutkan kain hitam putih seperti papan catur. Pura banyak dan tersebar di berbagai tempat.

Kebudayaan Sasak yang Islam, datang dari arah timur, lewat pengaruh Kerajaan Selaparang di Lombok Timur dan Kerajaan Pejanggik di Lombok Tengah.

Saya melihat pantai lagi, kini pantai dengan pasir putih berbatu yang benar-benar lembut. Laut menghampar di depan saya dengan deretan gili yang juga berpasir putih. Jangan kira gili hanya Gili Air, Meno dan Trawangan. Di Sekotong, masih ada gili lain yang indah dan menawarkan pesona bawah air yang alami, salah satunya Gili Nanggu.

Tidak jauh jadi resort Sundancer yang terkenal, di atas tebing, terbentang di hadapan saya sebuah lanskap indah yang menghadap laut. Laut biru. Angin berhembus pelan. Pasir yang putih dan batu-batu halus. Inilah Sekotong

Di kejauhan tampak deretan pegunungan Rinjani yang membentang. Sepercik kenangan terungkit. Ingat trekking mendaki Rinjani, kedinginan di puncaknya, hamparan lembut permukaan Danau Segara Anak, dan angkuhnya Gunung Batujai si putra mahkota Rinjani.

Titik-titik hitam yang merupakan sudut jaring-jaring penangkaran mutiara tampak berlajur dan berderet teratur di permukaan laut yang biru. Satu dua perahu nelayan lewat di sekitarnya.

Ada tempat bernama Elak-elak yang berarti lidah. Di sini, daratan meruncing, memanjang yang menjorok ke laut. Sebuah tanjung kecil. Di situlah, sore itu saya melihat matahari terbenam di antara deretan pulau kelapa. Surga kecil.

Pukul 19.45 WITA

Gerung, ibukota Lombok Barat sepi. Ini memang kota kecil, tidak seperti Mataram. Di tengah-tengah kami sudah ada ares, salah satu makanan khas Lombok yang sekilas mirip daging. Ini bukan daging melainkan inti batang pisang.

Oleh Lalu Sofyan, rupanya saya diajak makan ke rumahnya, di belakang pegadaian Lombok Barat. “Ini bisa disebut begibung,” katanya. Begibung adalah kata yang bisa dimaknai sebagai acara berkumpul dan makan bersama antara tuan rumah dan tamunya. Tanda keakraban dan penerimaan terhadap tamu.

Karena lapar dan enaknya hidangan yang disajikan, tidak satupun dari kami yang tidak menambah nasi.

Di situ, ada tambahan cerita tentang bagaimana orang Sasak terbelah menghadapi serbuan pariwisata dan pengaruh globalisasi. Resistansi akibat agama berhadapan dengan impian menjadikan Lombok seperti Bali. Lalu, yang maknanya kira-kira sama dengan raden di Jawa, menjadikan Sofyan fasih bicara tentang bagaimana karakteristik orang Sasak itu sebenarnya.

————————–

Sabtu, 1 Maret 2008.
Pukul 13.05 WITA

Jumadir, tukang ojek carteran yang bertampang preman habis mabuk, mengantar saya ke Ampenan, kota lamanya Mataram.

Kota tua ini kuyu. Tak terawat. Sebuah klenteng kecil tampak menonjol sendirian di simpang jalan dekat pantai Ampenan yang kumuh. Klenteng berwarna merah darah, kontras dengan bangunan-bangunan sekitarnya yang pucat, dengan cat-cat yang mengelupas.

Jalan Yos Sudarso, ibarat jalan tua yang tersia-sia. Salah satu ruas jalan yang merupakan Pecinan-nya Mataram itu kini lusuh. Toko-toko tampak tidak bergairah untuk buka. Sebagian malah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mungkin penduduk dulu yang bermukim di situ lelah. Dan lebih tertarik untuk mencari hidup ke arah darat. Kucing buduk tampak mengais makanan sisa di tong sampah yang hitam. Anjing kerempeng berjalan sendirian menyeberang jalan.

Tak heran, saat benar-benar di pinggir laut, bangunan-bangunannya semakin merana. Di pagar pembatas darat dan laut, beberapa potong pakaian berkibar. Di kejauhan tampak beberapa perahu. Suasana panas, matahari terik membuat warung makan yang saya datangi tetap panas walau sudah di bawah atapnya. Ada tulisan yang terbaca,”Melayu Ampenan, mau masuk ijin dulu!”.

Di Ampenan inilah saya mendapat sms. “Sore nanti, jadi ke Sade dan Kuta. Trus, malamnya ke Senggigi”. Sepertinya, desa tadisional Lombok, pantai di selatan Praya itu, serta gemerlap kehidupan malam Lombok masih akan membuat pulau wisata ini tampak eksotis saja di mata saya.

Ampenan yang tua saya tinggalkan.

One thought on “Waktu-waktu Mataram

  1. Unique says:

    Nday,
    Saya kagum akan kefasihanmu bertutur dengan teliti tentang suatu tempat yg pernah kau kunjungi. Kira-kira 1.5 bulan lalu saya juga ke Lombok dan berkunjung ke beberapa tempat yg kamu tuliskan, tapi mata saya tidak menangkap detil sebanyak yg bisa kau kisahkan ulang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: