Sabbatum Magnum

Sebuah sms masuk. “Selamat paskah y. Tetapi aku sdh tidak merayakannya lagi saat ini :-)”

Pesan itu hadir selepas misa. Saya mencoba melupakan kata-kata itu. Sulit. Ada kisah-kisah di balik kata-kata tersebut. Yang saya tahu, seperti ceritanya, pahit. Saya hanya optimis, bahwa senyum emoticon di ujung kalimat itu mewujud, dengan pilihan terbaik baginya.

Ini kali, malam paskah di Yogya. Lilin-lilin harapan dinyalakan, dan cahaya itu didoakan bersama air berkat yang dikebaskan. Misa Paskah Pertama, Sabbatum Magnum, Sabtu Sunyi. Saat dimana Jesus turun ke dunia orang-orang mati, sebelum besok kembali lagi ke dunia ini.

Selamat Paskah.

3 thoughts on “Sabbatum Magnum

  1. zen says:

    di jogja toh?

    @zen: libur, dolan jogja zen. kota ini saja yang kukenal🙂

  2. sadhana says:

    Salam buat Yogya ya brur. Romansa kota ini begitu indah. Pahit getir, tawa canda, kelegaan dan kehilangan. Awal 99 ditemani yuyun n tompel juga ku tandai awal petualangan dengan sendal model wiro sableng. hingga kini modelnya tetap dengan brand sedikit elit ( Eiger mania ). Komedi satir, harus menginap numpang dibale kampung karena motor yang kupake dengan tompel bocor. Berat juga rintangan mengunjungi sendangsono. Rute yogya, kalibawang , sendangsono n kerkof saat ini menjadi kerinduan semata. Btw, bu Sarono masih cerewet ga??? Tragedi tompel menggencet anak kucing n cucian bona yang sering bertapa.

  3. erra says:

    Judulnya mengundang orang buat nge-klik.. Padahal postingnya udah lama ya. Hehehe…
    Selamat paskah y..
    Sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: