Hujan

Mengapa kebanyakan orang suka hujan dan bau tanah yang tersiram pertama kali? Semata pada suasana batin yang dibangun oleh momen itu?

Saut Situmorang, dalam puisinya: Saut Kecil Bicara dengan Tuhan, menyebut, hujan turun karena Tuhan baru saja berpesta. Sedang Sapardi Joko Damono, dengan takjub berpuisi bahwa hujan seumpama sang penyihir yang membuat kita lupa untuk mengaduh (Sihir Hujan).

Namun, tak bisa disangkal, menyukai hujan erat kaitannya dengan perasaan sendu. Kata-kata: memori, kenangan, kesedihan, kerinduan kerap hadir saat hujan turun. Pemandangan hujan dari jendela yang basah adalah momen yang indah, dan diingat. Atau pemandangan sawah di kaki gunung berkabut yang disiram hujan. Atau hujan yang menerpa pohon yang baru berbunga.

….. hujan bulan juni,
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

(Hujan Bulan Juni , Sapardi Joko Damono).

Hujan mungkin kata yang paling pas untuk menangkap berbagai macam suasana ‘lirih’ dalam perasaan manusia.

————

Saya kurang suka hujan. Mungkin karena hujan hampir membunuh saya di puncak Lawu, ataukah karena aroma bunga kopi lebih memberi suasana batin yang mengena? Atau jika hujan memang ajaib, bagaimana kalau saya katakan saya lebih suka suasana selepas hujan, bukan pas hujannya?

2 thoughts on “Hujan

  1. eva says:

    untuk saya, hujan itu jeda, segala melambat, dalam keadaan slow motion, di antara sesaknya segala yang seperti terdesak sampai membuat tersedak, dan segala yang (sok) terburuburu..

    ^_^

    salaam..

  2. lamanday says:

    @eva: hehe…butul deh va..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: