Banjarmasin – merayakan (kekalahan) sungai

Di tengah jembatan kayu belian (ulin) yang melintasi Sungai Anjir, di Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, saya melihat sebuah kapal klotok yang berjalan pelan di air coklat yang keruh.

Klotok itu kusam, senada dengan sungai yang sangat lurus ini, yang bukan sungai alami. Ia sungai kerukan, hasil bikinan pada zaman kolonial Belanda. Di Desa Anjir Pasar, 30 km dari Banjarmasin, kira-kira 35 km lagi dari Marabahan, ibukota Batola, saat itu waktu berhenti.

Berhentinya waktu, seperti sama dengan pelan-pelan berhentinya denyut kencang peradaban sungai di pulau gendut Kalimantan, setidaknya seperti yang saya lihat di Banjarmasin dan kota-kota di sekitarnya ini. Derap perubahan budaya tidak bisa dihindari.

Sejarah tumbuhnya kota-kota di Kalimantan, yang terkait erat dengan munculnya kerajaan-kerajaan kecil, tidak bisa lepas dari peran serta sungai. Bukalah peta, telusuri. Akan ditemukan bahwa hampir semua ibukota (provinsi dan kabupaten) selalu berada di samping aliran sungai.

Di Kalimantan Selatan, ada Sungai Barito. Sungai Barito memiliki dua anak sungai yang besar yaitu Sungai Nagara dan Sungai Martapura. Banjarmasin dan Martapura dilewati Sungai Martapura.

Sungai Nagara masih mempunyai cabang lagi yakni Sungai Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit dan Amas. Di aliran anak-anak sungai inilah muncul kota Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan, Rantau dan Negara.

Jika peta digelar lebih detil lagi akan tampak fenomena unik, bahwa penggunaan lahan permukiman di sebagian kota lama seperti Marabahan dan Muara Teweh, sejajar dengan sungai, dan bentuk desa-desa adalah memanjang, mengikuti aliran sungai.

Seperti misal, di Batola, akan tampak, garis-garis seperti digaruk. Ternyata itu adalah parit-parit (kanal) yang dibuat melintang tegak lurus aliran sungai. Dan desa-desa juga dibentuk mengikuti batasan kanal-kanal tersebut. Apa fungsi kanal tersebut? Sebagai pencucian untuk mengurangi tingkat keasaman rawa yang luar biasa, sehingga lahan tersebut bisa ditanami padi (setahun sekali).

Selain itu, kehidupan keseharian masyarakat dan sungai erat. Masih terlihat, bahwa segala aktivitas dilakukan di sungai. Benarkah begitu?

Pada tahun 1995 di Banjarmasin terdapat 115 sungai (dan anakannya) yang mengalir. Di tahun 2002 tinggal 70. Di tahun 2008 ini, diperkirakan hanya tinggal 57 aliran yang tersisa.

Seorang berujar pada saya di Warung Soto Yanayani di Sungai Jingah yang berada persis di tepi Sungai Martapura, bahwa saat ini, aktivitas harian yang merayakan sungai itu, ibarat tinggal sisa-sisa zaman. Sudah banyak budaya sungai yang ditinggalkan. Yang masih hanyak rutinitas biasa.

Itu hanya sisa-sisa eksotisme, sama seperti eksotisme Pasar Terapung di Pasar Kuin di Simpang Sungai Kuin dan Barito, atau kehadiran dengan gadis perawan dengan selendang terikat di bahu kiri saat subuh di sepanjang Sungai Jingah.

Banyak sungai yang juga tidak terawat lagi. Sungai tampak keruh, penuh sedimentasi dari hulu yang mengalir menuju muara. Proses sedimentasi yang sepertinya mengganggu padahal ada beberapa hal yang unik darinya, seperti munculnya Pulau Monyet di tengah sungai, atau pulau tak bernama yang berada di tengah Jembatan Barito (antara Desar Rumpiang dan Desa Batik). terpanjang di Kalimantan (1, 2 km) yang desainnya mirip Jembatan Golden Gate di San Fransisko.

Sudah tidak banyak lagi penduduk di tepi sungai yang mempunyai jukung. Sudah tidak banyak lagi transaksi dilakukan di atas perahu: pasar-pasar terapung pelan-pelan menghilang. Sudah tidak banyak lagi dermaga-dermaga penyeberangan yang menghubungkan sisi sungai dengan daerah seberang. Beberapa yang tersisa tampak sepi, dan hanya ramai di pagi hari saat anak-anak berangkat sekolah. Mulai ada anak-anak Banjar yang tidak bisa berenang.

Dan jika segala aktivitas dilakukan di sungai, bisa dikatakan, itu akibat keterbatasan akses ekonomi untuk pindah ke tempat yang lebih layak.

Transportasi sungai diganti dengan jembatan-jembatan dan jalan-jalan raya yang terus saja rusak karena struktur tanah rawa yang tidak pernah stabil.

Kota-kota sungai yang tidak punya akses darat akan sepi. Marabahan telah mengalaminya. Terujung, berbatasan dengan Kalimantan Tengah, kota ini sepertinya berjalan dengan derap waktu pembangunan yang tidak sama. Negara yang merupakan tempat lahirnya kerajaan pertama di Kalimantan Selatan tahun 1526 bahkan hanya dianggap sebagai noktah kecil di wilayah Kalimantan Selatan yang juga tidak besar.

Di pusat kota Banjarmasin, di Jalan A. Yani (mungkin ini jalan terpanjang di Indonesia yang punya hanya 1 nama, kurang lebih 100 km), dulunya merupakan sungai selebar 15 m an. Karena tuntutan pembangunan, dilakukan penimbunan sepanjang 15 km. Seseorang yang peduli pada karakteristik unik Banjarmasin sebagai water front city pasti akan menyayangkannya.

Saat sungai-sungai mulai berganti menjadi kanal, kanal berganti menjadi parit, parit menjadi selokan, dan selokan berganti menjadi jalan raya maka Kota Seribu Sungai, istilah eksotis itu sepertinya hanya jadi slogan pariwisata di Banjarmasin.

Banjarmasin, 3-4 April 2008

9 thoughts on “Banjarmasin – merayakan (kekalahan) sungai

  1. jubata cantixnya... says:

    Oppss…..MAMPIR ah…..He…he…

  2. danummurik says:

    Salam kenal sobat, memang Banjarmasin sudah be(re)volusi dari kota Seribu Sungai menjadi kota seribu got yang berbau busuk.
    By
    Inas
    http://bakumpai-dayak.blogspot.com
    http://danummurik.wordpress.com

  3. zen says:

    saya pernah di jalan kaki sepanjang 5 kilometer di jalan a yani ini. memang panjang banget.

    saya lupa nama sebuah sungayang saya temukan di sepanjang jalan palangkaraya menuju basarang, kalau tidak salah antara pulang pisau dan basarang. jarak sungai itu tak terlalu jauh dari jalan rayanya, paling sekitar 10-20 meter. ada di sebelah kiri jalan kalau dari arah palangkaraya. saya pernah di situ ngaso selama sejam.

    oya, tau gak nama jalan fly over (panjangnya sekitar 5 km tp tingginya cm 2 meter dari permukaan tanah) yang ada pada jarak sekitar 1,5 jam menjelang masuk palangkaraya kalau dari arah pulang pisang? di sekitarnya cuma tanah kosong sisa2 pohon yang terbakar.

    saya juga pernah di situ pada pukul 2 dini hari. sendirian. naik motor dari banjarmasin. bengong sekitar sejam sambil merokok. sepi banget. hening bgt. gak ada yg lewat. rebahan lihat langit.

    saya lupa nama daerahnya.

  4. juna says:

    Yah……
    apalagi yang harus kita lakukan…….kayaknya harus jd kapitalis dulu baru bisa mengembalikan banjarmasin seperti bayangan waktu kecil ku…..
    semua aksi yang ada pasti bermuatan politik, setiap orang yang memang menginginkan kebaikan buat sungai ato alam tidak pernah didengar, karena mereka tidak mempunyai kepentingan yang bisa menjadi profit…..
    setiap melihat liga italia, saya paling senang dgn liputan venesia……..
    dan selalu bermimpi, dan mungkin cuma sebatas mimpi sampai mati melihat banjarmasin bisa bersahabat dengan sungai…….
    Pemerintah daerah membuat slogan save the river, di saat itu juga IMB untuk ruko yang jelas jelas diatas sungai dikeluarkan………..
    bisa gak kasih tau APA SEH maunya mereka, apa masa depan banjar ditukar dengan kenikmatan mereka aja……?
    ijin eksplorasi dan ekploitasi batubara keluar terus, mana untuk masyarakat…..makanya saya jd yakin dgn teori 90 persen uang dikuasai 10 persen uang…….
    mana sih pembangunan yang udah diusahakan?????
    tolong dong, banjar dan sungai suatu kesatuan…..banjar ada karena sungai
    suku banjar dibilang dayak tabing karena mereka tinggal dipesisir sungai…….
    Banjarmasin jd bandar pelabuhan dahulunya juga karena sungai…….
    orang banjar terkenal sebagai suku pedagang juga karena sungai….
    kenapa kita durhaka terhadap sungai…..?

    @juna:
    sedih ya kebudayaan sungai hilang pelan2…

  5. daustralala says:

    Senang bisa tahu blog ini. Tulisannya bagus. Salam.

    @daus:
    Hanya ini yg ada di laman Pak, seadanya. Semoga berkenan. Salam juga

  6. zen says:

    dua minggu gak di-apdet, euy. beberapa kali ke sini blm ada yg baru. lagi buat peta?

    @zen: Konsistensi yg susah, ketika waktu untuk duduk menulis terbatas. Bokong memang panas, tapi itu duduk nggarap citra satelit dijadikan peta.

    Tapi hari ini ada update, zen🙂

  7. inas says:

    saya kutip tulisan anda, boleh kah ?

    inas:
    Yuppi – silakan. Lam kenal…

  8. soulharmony says:

    saya undang anda untuk bergabung bersama komunitas blogger kalsel ‘kayuhbaimbai’ (http://kayuhbaimbai.org) atau (http//aruhblogger.com). Hubungi saya di 085251534313/7718393 mari kita dukung pelaksanaa ARUH BLOGGER 2009.
    Mohon diberikan data dingsanak2 kalsel yag punya blog, dan mohon infokan event besar ini

    Salam Blogger

    chandra

  9. adie says:

    saya pengen tao bagaimana proses terbentuknya sungai-sungai yang dikalimantan selatan ini ????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: