Lalu, pukul tiga

Lalu, pukul tiga, dan kita masih berdiam. Dari jendela kaca rumahmu, saya lihat sisa hujan di luar. Masih menyisakan dingin. Orang-orang berjalan dengan tangan di saku dan kerah yang menutupi leher. Kota tropis ini, ternyata masih tak begitu ramah saat Maret.

Sengaja tak saya jawab pertanyaan itu. Saya ambil gelas, mereguk teh tanpa gula yang kamu buat, sedikit pahit. Tergigit sejumput batang teh, getir tawar.

Sebiru apa langit yang kita cari. Langit kita, langitmu, apakah sama. Apakah masih ada gunanya tahun-tahun itu?

Hidup, dalam anganmu, mungkin seperti rentang hari, yang kadang-kadang kamu lihat kalau sore di lamannya.

Pagi, adalah masa kecil bahagia, langit menuju terang, warna matahari muda, dan pohon yang mulai tumbuh. Kita isi dengan senang-senang bermain layangan.

Siang, lalu ada pertemuan, kita bersepakat bersama. Punya anak, barangkali kembar, tumbuh gagah dan cantik, mereka besar dengan langit yang biru. Pohon itu berbunga lalu berbuah. Tapi, senja datang dan salah satu dari kita mati, ada kesedihan dalam langit yang sudah tua, daun daun meranggas.

Hingga akhirnya, malam datang, tidak ada matahari di langit yang menggelap: dua kuburan salib bersanding. Pohon itu tidak berdaun lagi.

Tapi, dalam kenyataan ini, apakah ada perkenan bakal seperti itu?

Tidak ada jawaban, juga. Terperikan warna pucat, di bening kaca yang ternyata tidak, matamu berembun. Saya tahu, bahwa kalau sudah begitu, akan lebih sunyi lagi ruang yang kita tempati ini. Hanya, tidak ada tangis. Kamu tidak lagi cengeng.

Ah sialan, pukul tiga, kita masih berdiam, dan kehampaan ini terasa aneh.

Beginikah dramatisasinya, nduk? *nyengir iseng, sambil makan mi instan*

6 thoughts on “Lalu, pukul tiga

  1. Nduk says:

    Kalo memang masih aku saja yang kau panggil Nduk…

    Waktu baca tulisan ini, kenapa yang terasa hanya kekosongan..
    yang menggetarkan tulang-tulang….
    dingin….
    membekukan ujung-ujung syaraf…

    bukankah warna dunia adalah proyeksi dari pikiran kita????!!!!
    merah biru atau kelabu hitam-nya tergantung warna dasar apa yang kita pilih, kan???…..

    Aku melihat senja sebagai cerminan kebijaksanaan, kebahagiaan karena telah melewati pagi dan siang yang lengkap….
    warna jingga, biru, kuning, dan orange-nya mencerminkan kedamaian…..menjelang gelap
    gelap yang menjanjikan pagi yang baru…

  2. zen says:

    no comment, bro! biar “kalian” saja yg bercakap2.

    btw, settingnya di mana tuh?

  3. nadya says:

    dilukis aja langitnya bareng2 ^_^

    halo, maaf ganggu “pukul tiga” kalian. hanya ingin bilang makasih, senang sekali rasanya dikunjungi dan dikomentari oleh lamanday yang tulisan2nya sangat kusukai. salam kenal!

  4. sawungkampret says:

    bujor e adak nye nyan te brur.
    adak sedih gian mah warne idop te. mun gian lebih baik jalan sidharta gautama menjadi kiblat semue manusie. yang merasa semua dalam hidup ialah belenggu.

  5. lamanday says:

    @sawungkampret, zen, nadya, nduk:

    hoho..itu dimaksudkan bukan percakapan lamanday dengan si nduk, coba cermati frase

    “Hidup, dalam anganmu, mungkin seperti rentang hari, yang kadang-kadang kamu lihat kalau sore di lamannya”

    Lamannya, bukan laman saya.
    “nya” disini menunjuk lamanday.

    Jadi, yang sesungguhnya terjadi adalah ada seseorang yang menyatakan bahwa si nduk kadang di sore hari melihat gambaran tentang hidup di laman si lamanday,

    Bukan si lamanday menyatakan bahwa si nduk melihat gambaran tentang hidup di laman miliknya.

    Artinya, si orang pertama, saya, dalam tuturan ini bukan lamanday.
    Melainkan sosok yang punya kisah dengan si nduk, yang nduk tahu siapa.

    Artinya lagi, ini dimaksudkan sebagai percakapan antara seseorang itu dengan si nduk, bukan antara lamanday dengan si nduk.

    Cuma memang, seperti di frase closing-nya, ini didramatisasi hehe…

  6. komang says:

    rasanya menyenangkan memiliki langit masing-masing. tak peduli biru, jingga, merah atau apalah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: