Menembus batas di Riam Batu

Di sebuah bukit gundul di Riam Batu, saya memandang Gunung Bunga di arah barat, yang masih hijau dengan nafas tinggal separuh. Pendakian singkat dari bawah membuat keringat sebesar jagung.

Di dusun kecil ini, yang hanya kira-kira 30 rumah, di tengah pedalaman Kalimantan Barat, kira-kira 150 km jauhnya dari Ketapang, kota kabupaten terdekat, siang itu saya berdiri diterik matahari yang menyengat.

Bahwa pada suatu hari, seputaran tempat ini akan berubah menjadi kebun sawit, membuat segalanya yang saya rasakan tidak sama dengan yang saya lihat. Induk babi dan kumpulan anaknya yang berkejaran dan tidak tahu malu menyusur kolong rumah mungkin tidak akan ada lagi. Tidak ada lagi anak kecil yang memandang dari pagar dengan malu-malu. Ia akan asyik bermain HP.

Tapi, tiap rumah barangkali akan punya parabola, seperti milik Etol, anak mantan Demung Adat, sosok yang paling kaya di kampung itu. Mereka sekampung pada Selasa malam akan bersorak menyaksikan AC Milan berhadapan dengan Manchester United, atau di lain malam ikut menangis saat KDI ditayangkan..

Dari bukit itu, sejauh mata memandang, pemandangan hijau dengan vegetasi khas hutan hujan tropis. Kelak, mungkin hanya ada hamparan sawit. Gunung Bunga, Gunung Remus, akan diisi tanaman dari keluarga palma itu.

Saya menembus batas.

Batas fisik yang sebenarnya bukan ditentukan jauh atau tidaknya perjalanan. Tapi oleh pernah tidaknya kita ke tempat itu. Batas batin yang bukan ditentukan oleh siapa diri kita, dan asal darah kita, tapi oleh seberapa jauh kita mengganggap ruang dan waktu itu sebagai rumah.

Sebelum masuk desa, saya berpapasan dengan alat berat milik perusahaan yang sedang merabas dan meratakan jalan tanah di tengah tanah milik desa. Tanah kuning yang licin digerus, tembus dari Segagap ke jalan Tanjung Asam.

Jalan itu, seperti yang saya rasakan saat menembus batas ini, membuka sesuatu di hati saya, tapi juga menutupi banyak hal lainnya. Manusia, dan hidupnya, selalu digayuti kepentingan, yang bukan melulu berdasar pada benar dan salah.

Perjalanan ini membawa nama-nama enclave permukiman melekat di kepala. Laman Satong, Nek Doyan, Manjau, Tanah Merah. Juga spot-spot kecil permukiman di Lembah Hijau, di Simpang Empat, di Simpang Marsela. Di Nanga Tayap, tempat penimbunan kayu di sepanjang tepian Sungai Tayap benar-benar hanya sisa.

Apakah Riam batu hanya akan jadi sisa hutan juga?

Barangkali.

Nanga Tayap, 02/05/2008

3 thoughts on “Menembus batas di Riam Batu

  1. enno says:

    ke kalimantan dulu cuma sampai di kotanya saja. Gak sempat ke perkampungannya. membaca ini jadi ingin ke sana lagi, bertualang sedikit..
    btw makasih sdh mampir di blog saya🙂

  2. mademoiselle says:

    blom pernah ke Kalimantan jadi tidak bisa membayangkan keadaannya secara jelas tapi membaca banyak postingan di sini kenapa selalu memberi efek merinding dan spicles ya?
    *bingung*

    @imas:
    ga ada hantunya kok merinding…;)

  3. mademoiselle says:

    hehe…
    pengolahan kata-katanya itu lhoh.
    bener-bener membangun emosi dan bikin merinding serta spicles🙂 .
    pasti ada hantunya! pasti!😀
    hehehehehehhe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: