Pada waktu, pada ruang, pada peristiwa

Sebelum matahari terbenam, langit itu meredup lalu memerah semau-maunya. Juga angin, yang bertiup tidak kompromi. Saya berdiri, di ujung jalan utama kota kelahiran ini. Di antara kursi dan meja dari kayu yang kosong. Di antara beton-beton persegi yang ditanam untuk mencegah abrasi pantai.

Apakah saya merasa sendu setelah datang kembali ke sini dari Jakarta? Tidak. Datar saja perasaan ini memandang kapal nelayan di kejauhan. Pada sebuah kapal tempat main, apakah yang masih tertaut di kepala yang gampang lupa ini? Deretan mereka menghitam di batas cakrawala barat.

Laut yang surut, menunjukkan pohon api-api yang ditanam, dan telah tumbuh setengah meter. Pasir lumpur yang hitam, hanya akrab bagi ikan yang punya kaki, biasa berjalan di lumpur pekat yang berair sedikit. Namanya bekatul, pernah dengar?

Kelapa menjulang, gundul tak berdaun disambar petir.

Pada waktu ada ketika yang terasa. Pada ruang ada kenangan yang tergenang. Pada peristiwa itu, di antara mereka keduanya abadi.

Awal Mei yang patut dirayakan. Pulang ke rumah, hangat.

Sungai Jawi, 03/05/2008

6 thoughts on “Pada waktu, pada ruang, pada peristiwa

  1. zen says:

    mulih, mulih, mulih. itu ritus yang bisa menjadi sesuatu yang hebat jika diselenggarakan secara kolektif. macam mudik itu, ritus yang –bagi saya– rasanya mirip seperti sebuah festival raksasa. tapi mulih seperti yang sampeyan ceritakan ini, lebih personal; dan karenanya hanya sampeyan yang tahu seberapa besar dayanya. kepulangan seseorang dengan kepulangan orang lain pasti berbeda. bahkan, kepulangan yang satu bisa berbeda dengan kepulangan yang lain bahkan bagi orang yang sama dan ke alamat yang sama. setiap kepulangan itu punya dayanya sendiri-sendiri.

    **baca laporan sampeyan ini kok ya saya ingat setting tempat dan ruang psikologis dalam cerita “Tegak Lurus dg Langit”-nya Iwan Simatupang; cerita ttg kepulangan seorang ayah dan suami setelah bertahun-tahun lenyap tanpa kabar usai ikut berjuang dalam revolusi**

  2. hyperventilated says:

    Jarang-jarang lho orang tidak merasa sendu saat pulang ke kota kelahiran. Kok bisa ya… Btw, settingnya di Pontianak kan? (sy sampe ng-google loh)

  3. enno says:

    indah sekali pemandangan itu nday🙂

  4. lamanday says:

    @zen:
    Mungkin benar zen, soal ruang psikologis itu. Pulang, rumah, ternyata saat ini ternyata tidak lagi benar2 fisik bagiku. Setiap tempat, bisa menjadi rumah, setiap tempat bisa kupulangi…(yah, walau, untuk any case tidak gitu2 amat sih.. hehe..)
    @mya:
    Mungkin karena ritual pulangku saat ini lebih mekanis ya (robot kali..), dan sendu rasanya kurang pas ketika pulang itu lebih bernuansa pertemuan yang hangat.
    Bukan di Pontianak, tapi di Ketapang, kota yang jaraknya 400 km ke selatan. Di Pontianak memang ada tempat juga yang namanya Sungai Jawi, tapi saat itu, setting nya di Ketapang, yang juga punya kampung kecil yang bernama Sungai Jawi. Mau ke sana?🙂
    @ennO:
    Warna senja, siapapun yang moto, pasti indah. Walau statis, karena gradasi warnanya itu2 juga🙂

  5. mademoiselle says:

    mari kita pergi…
    karena tanpa pergi, kita tidak akan pernah pulang.😀
    potonya bagus! merah…
    dan lagi-lagi, spicles🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: