Rosa Mystica

Salatiga tidak jauh lagi. Tapi perjalanan dari Jogja ke Semarang, mengunjungi adik bungsu yang sakit, dan sekarang pulang menuju Salatiga, tidak bisa dibilang dekat jika dilaju dalam sehari, dengan sepeda motor. Selepas Tuntang saya mampir ke suatu tempat, melintasi perkebunan karet yang rapi. Pertigaan Karanglo lalu PLN Jelok.

Ke Rosa Mystica.

Saat itu bukan 1951. Saya bukan Juan Diego, dan bulan itu juga bukan Desember. Lagipula, tidak ada bukit batu karang di Desa Delik. Bukit kecil tempat berdiri ini juga tidak bernama Teyepac Hill. Ia tidak akan tiba-tiba ditumbuhi mawar juga. Hanya ada pelataran yang tidak luas. Gua yang buatan. Angin yang malas bertiup.

Tidak ada orang lain di Rosa Mystica.

Entah kemana teman seperjalanan saya tadi itu. Mungkin ke bawah, ke mata air Banyuurip. Ia memang suka menghilang tiba-tiba. Sesaat, dunia terasa sangat sunyi. Tanpa suara. Tanpa bising. Sama seperti ketika saya duduk, keletihan di pinggir Danau Taman Hidup Gunung Argopuro, di tahun 2001. Kesunyian yang pekat saat telinga seperti tersumbat. Dan yang terdengar hanya dengung di kepala.

Tanda salib. Doa panjang didaraskan…

—-

Sekarang

Saya ingat bahwa di tahun 2004 itu, hari belum sore. Saya berharap masih bisa ikut misa di Paulus Miki. Tidak terlaksana, karena langsung pulang ke Jogja.

Juga, setelah dipikir-pikir, mungkin berlebihan kalau kesunyian di Rosa Mystica sepekat itu. Perasaan saja. Mungkin karena lelah. Dengung itu hanya dengung mesin PLN. Dan saat ini, di Jakarta, di tengah pertengahan bulan, saya ingin ke Rosa Mystica.

Tidak terlaksana. Padahal, ini bulan Mei.

5 thoughts on “Rosa Mystica

  1. enno says:

    hey nama yg bagus ya…🙂

  2. zen says:

    di jakarta? mampir veteran……

  3. hyperventilated says:

    Di deket Tuntang? Wah, lumayan deket dengan rumah saya…tapi malah belum pernah kepikiran ke sana tuh. Jadi penasaran. Apa ke Rosa Mysticanya saya wakilin aja? Hehehe…

    @hyperventilated:
    Titip salam buat si ibu y

  4. sawungkampret says:

    Hihihihihihihi, salatiga hati beriman.
    Makin tahun makin panas karena banyak pohon rindang ditebang.
    Kawah candradimuka tempat belajar ngeli, ngelmu laku mili
    Hunting nasgorbat malam2 melawan dingin atau tak puas2 nengok merbabu menjemput fajar.
    Mun mampir salam kan buat kanjem Ibu di Kerep ya brur.
    Putranya yang bandel ini masih blom bisa sowan. Masih belajar berjalan dan
    mendewasakan diri di kota ini. Alasan sebenarnye bah, maseh nyaman bise nguntap nasi ayam, kwe tiaw babi dan nasi chap cai brur. Adak ade ak yang senyaman khun thien te. Pe agik amoy nye, hen piaw liang. Hehehehe.

    @brur:
    msh suke pergi diam2 datang diam2 e? hoho .aok. nyen am brur, kau jd khuntieners sejati…usah pergi, biar selalu ade t4 numpang tiduk hehe

  5. ryan says:

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: