Pisan Epek di Teluk Kendari

lamanday
dari jendelanya saya melihat dunia tempat hidup
dari pintunya saya keluar merayakan hidup
————-
Ingin selamanya tinggal dan bermukim di Kendari, Sulawesi Tenggara? Kata Pak Haji Bachtiar yang jadi tuan rumah kunjungan saya kali ini ke Kendari, caranya gampang. Datanglah pertama kali dengan kapal laut, dimana kapal dilabuhkan ke Teluk Kendari, di Pelabuhan Nusantara. Maka kita akan selamanya menetap di Kendari.

Perhatikan bentuk Teluk Kendari di atas peta. Jika diamati secara detil. tampak seperti dinding mulut rahim. Dengan mulut teluk yang sempit dan kemudian membulat di perutnya. Ada juga yang bilang, Teluk Kendari seperti mulut bubu (perangkap ikan), yang lubang pintu masuknya mengerucut: ikan mudah masuk, susah keluar.

Teluk Kendari saya datangi, saat sore yang biasa. Dari Hotel Dewa Bintang di Saranani, Teluk Kendari yang termasuk wilayah Kecamatan Kendari Barat tidak jauh, hanya enam kilometer. Yang saya tuju ada dua, Kota Lama dan Pisang Epek. Mengapa Kota Lama? Penasaran. Mengapa Pisang Epek? Saya suka makan.

Dan, hasilnya? Tidak ada yang istimewa. Soal eksotisme, hmm, lebih istimewa Ampenan, Lombok Barat. Jangan pula bandingkan dengan Kota Tua Batavia atau Semarang. Lorong-lorongnya tidak setua dan semisterius seputaran Semawis. Kota Lama penuh becak. Becaknya gepeng, tinggi dudukan rendah, muatnya sedikit, tidak kayak becak Jogja yang gagah – mirip-mirip becak di Kertosono, kalau dibandingkan.

Soal sensasi alam, tawar saja melihat senja di situ. Saya salah waktu kali. Senja akhir Mei, habis hujan, belum kemarau…

Lalu Pisang Epe? Haduuh, bayangkan pisang mentah, yang digepengkan, sedikit dibakar. Dicampur taburan kacang tanah, lalu disajikan dipiring dengan kuah kecap manis…Manisnya kemanisan, tapi sepat. Aneh. atau lidah saya yang kadaluarsa?

Tapi, rupanya, tidak ada yang istimewa itu, justru membuat saya menikmati kota dan Teluk Kendari ini apa adanya. Ruang psikologis netral. Yang tidak, ruang personal.

Jalan By Pass di tepian teluk yang penuh tenda-tenda makanan saat sore ke malam, dan diisi juga oleh beberapa tempat hiburan malam yang asal bikin. Jalan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta yang bersambung dari Pelabuhan Nusantara ke arah Kota Baru sebagai poros pertama. Pedagang ikan yang menggelar dagangannya semaunya di tempat mana saja yang diinginkan sehingga bau amis ikan mentah mengiringi perjalanan di beberapa tempat. Atau rumah makan seafood yang menu dan kemasannya sangat Makassar, dengan sambal campuran yang enaknya enggan pergi-pergi dari mulut. Reklamasi pinggir pantai yang memanjang.

Personal, saya suka tipologi fisik pesisir ini.

Gradasi relief yang potensial menyajikan keindahan. Laut langsung perbukitan. Jadi saat melintas, dari Kota Lama, terlihat bahwa rumah-rumah yang berada di sisi pantai akan lebih rendah dari sisi bukit. Di belahan darat teluk di seberang, terlihat deretan perbukitan hijau dengan sisa-sisa kabut habis hujan. Lanskap yang indah dan topografi yang potensial buat kemasan pariwisata jika ditata rapi.

Logat orang-orangnya sama dengan daerah Sulawesi Selatan bagian timur: kadang terdengar seperti membalikkan antara akhiran -n dan -ng, imbuhan -mi dan -ji sebagai penegas, huruf -t di akhir kata yang seringkali terucap seperti -k, atau nada naik turun di jeda suku kata.

He, jangang ko maing2 saaja. Habis uan mu..
A, biar mi..!

Maka, lalu saya juga ke Raha, Pulau Muna, 3,5 jam lagi ditempuh dengan kapal dari Kendari.

Teluk Kendari, 21/05/2008

One thought on “Pisan Epek di Teluk Kendari

  1. Unique says:

    Hmmm. Jadi ingat waktu Juni 2006, saya 3 hari di Makassar. Sendiri. Mengadu peruntungan untuk interview beasiswa Fullbright (yg sayangnya gak lulus karena kalah bersaing dg kandidat asli Indonesia Timur). Tidak sempat mencicipi Pisan Epek, tapi sempat menikmati senja di ‘pantai’ Losari tempat anak-anak muda pacaran, dan menjadi ‘baby sitter’ selama 3 jam untuk 2 anak kecil yg jauh-jauh naik becak dari rumahnya ke Pantai Losari untuk sekedar meminta receh dari pengunjung pantai…

    ahh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: