Mozaik Dayak (2008)

Saya sedang terkesima pada para manusia yang berumah di pohon, pada Irian Jaya’s People of the Trees, sebuah artikel antropologis dari National Geographic terbitan Bulan Februari 1996, ketika buku baru berjudul Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat Edisi I: Maret 2008 datang lewat paket kilat.

Seorang sahabat mengirimkannya beberapa hari yang lalu.

Kisah dan foto-foto luar biasa tentang Suku Korowai dan Kombai, yang disajikan dengan memikat oleh George Steinmetz itu sepertinya harus menunggu sebentar.

Buku Mozaik Dayak adalah hasil penelitian etnolinguistik dari Institut Dayakology yang berpusat di Pontianak. Hasil riset tentang Dayak yang mendalam selama tujuh tahun di seluruh wilayah Kalimantan Barat, dari Kabupaten Ketapang yang paling selatan, hingga Kapuas Hulu yang paling utara-timur di perbatasan Malaysia.

Riset luar biasa. Setidaknya karena tingkat kesulitannya. Tiap orang yang pernah berdiam di Kalimantan Barat, terutama di kampung-kampung orang Dayak, akan tahu hal ini: bahwa identitas sebagai Dayak adalah sesuatu yang ambivalen. Di suatu waktu, identitas itu akan sangat jelas terdefinisikan dan diakui, di waktu lain sebaliknya. Dan bahwa Orang Dayak satu dengan lainnya, bisa saja sangat sama, bisa saja sangat berbeda, tergantung persepsi dan pemahaman akan siapa dirinya. Bahwa sangat mungkin satu subsuku akan memiliki banyak bahasa yang berbeda satu kampung dengan kampung lain.

Dan bahwa darah, soal genetika, akibat politik, pernah tidak menjadi dasar seseorang itu beridentitas Dayak atau bukan.

Apa yang dibawa buku setebal 351 halaman, dilengkapi peta dan softcopy berupa CD ini?

Satu: dokumentasi deskripsi singkat subsuku Dayak yeng terdiri dari 151 subsuku utama dan 100 sub subsuku.
Dua: peta persebaran subsuku dan bahasanya (168 bahasa), serta kisah/dongeng/mitos singkat mengenainya.
Tiga: Klasifikasi baru yang berbeda dengan klasifikasi terdahulu versi Tjilik Riwut (1979), Roth (1968), ataupun Malinckrot (1928).

Bagaimana diversifikasi itu dikenali? Mungkin bisa ditanyakan pada telinga yang menangkap bunyi dan aliran sungai.

Bahasa dan sungai (dan kadang gunung) menjadi sesuatu yang vital dalam pendefinisan subsuku Dayak.

Bahasa karena dari beberapa kata utama lah subsuku dibedakan (ada 473 kosa kata dasar yang diteliti dalam riset ini).

Dari aspek bahasa, subsuku Dayak di Kalimantan Barat dapat dibedakan menjadi subsuku penutur Melayik, Bidayuhik, Ibanik, dan Uud Danumik.

Sungai karena di aliran sungailah umumnya permukiman/kampung Dayak didirikan.

Ada puluhan sungai besar, dan ratusan anak sungai yang terbentuk oleh proses geomorfologi di daratan aluvial di hampir seperlima bagian pulau. Dari pegunungan Iban, yang oleh Indonesia dinamai Pegunungan Kapuas Hulu, sebagai hulu Sungai Kapuas, sampai dataran rendah berpaya berlumpur di Air Hitam di Tanjung Keluang yang menjadi salah satu muara aliran Sungai Kendawangan.

Jadi, dalam mengenal subsuku Dayak, kita dituntun pertanyaan mendasar (yang masih perlu dikembangkan lagi): bagaimana cara ia berucap, dan tinggal di sungai/gunung mana ia?

Selintas, bahasa Melayik akan memiliki tingkat kemiripan tinggi dengan bahasa Melayu/Indonesia. Subsuku yang menggunakannya diantaranya Dayak Salako di Kabupaten Sambas yang mempunyai bahasa dialek Badame Jare. Dayak Salako berdiam di Pegunungan Poe (perbatasan Indonesia-Malaysia), di Daerah Aliran Sungai Bantantan (anak Sungai Sambas) sehingga daerah tempat tinggal mereka disebut Binua Bantanan.

Bahasa Bidayuhik, merupakan bahasa yang dituturkan mayoritas subsuku Dayak Bakati, Kanayatn yang umumnya berdomisili di Kabupaten Landak, Bengkayang, Pontianak di aliran Sungai Mempawah, Sungai Landak beserta anakannya. Tidak sulit mengenali para penutur Bidayuhik ini karena saat berbicara dengan mereka kita akan mendengar kata-kata yang diucap dengan konsonan ganda [tn, kng, pm].

Sedangkan subsuku penutur Ibanik misalnya Dayak Iban, Dayak Ketungau, Dayak Mualang, dan Dayak Desa yang persebarannya berada di wilayah-wilayah Kalimantan Barat bagian utara, di deretan Pegunungan Kapuas (Baik Hulu maupun Hilir) yang kadang juga dikenal sebagai Pegunungan Iban; mulai dari Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sintang, hingga Kapuas Hulu. Ciri khas bahasa ini adalah vokal [ai] di belakang suatu kata. Salah satu aliran sungai yang cukup banyak permukimannya adalah Sungai Ketungau (yang lalu menjadi nama subsuku di situ).

Sedangkan bahasa Uud Danumik, adalah bahasa untuk subsuku utama Uud Danum (berarti hulu sungai) yang berdiam di Pegunungan Schawner di dekat Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di selatan Kabupaten Sintang, yang sebagian wilayahnya dilewati Sungai Serawai. Ciri khas bahasanya adalah geseran pada beberapa konsonan seperti bunyi [s] yang dituturkan [sh].

Tentu saja, dengan adanya migrasi maka persebaran subsuku tersebut juga ke mana-mana, dan sebagai akibatnya batasan penanda sungai kadang menjadi tidak sepenuhnya relevan, walau tetap bisa dijadikan patokan.


Saya teringat mandau yang dulu dengan santun selalu tergantung di dinding kamar selama tinggal di Jogja. Kini di Jakarta, tidak ada mandau, hanya ada selembar bulu ruai hadiah seseorang gadis di Pontianak.

Itu membuat tanya pada legenda tentang orang Dayak, yakni mereka sebagai pemburu kepala. Adakah itu disinggung, barang selintas, dalam buku ini?

Perjanjian Damai Tumbang Anoi di tahun 1904 yang menghapus ritual mengayau, sepertinya punya jasa besar bagi masih lestarinya banyak diversifikasi subsuku Dayak tersebut.

Namun, sebaliknya:

“Mungkinkan justru dengan adanya ritual kayau itu, etnis Dayak jadi tersebar ke seluruh wilayah karena proses memburu dan melarikan diri dari kejaran dan lalu pembukaan perkampungan baru menjadikan diversifikasi dialek, norma dan tatacara hidup, yang ujung-ujungnya adalah pendefinisian jatidiri sebagai subsuku Dayak yang baru?”

Jika melihat data topinim (nama geografis), mungkin jawabannya: iya. Pegunungan Iban, yang membentang sampai Kalimantan Timur dan domisili subsuku ini yang sampai ke Brunei dan Sabah, dan mitos betapa merekalah pemburu kepala terbesar dan penguasa dataran tinggi Borneo, mungkin saja sinyalemen bahwa kayau memegang peran cukup dominan bagi beragamnya subsuku Dayak. Begitu juga dengan nunculnya enclave perkampungan Subsuku Hibun di aliran Kapuas di dekat Terentang, yang notabene terpisah ratusan kilometer dari komunitas induknya di Kabupaten Sanggau, tepatnya di seputaran Pusat Damai.

Namun, fakta lain mengungkapkan bahwa kayau hanyalah salah satu penyebab migrasi beberapa subsuku Dayak dari tempat komunitas asli mereka. Masih ada soal historis dan politik etnis yang barangkali lebih berperan.

—-
Burung ruai hanya bisa diambil bulunya kalau ia sudah mati. Saya pandangi lagi selembar bulu berwarna coklat kehitaman itu. Lalu beralih pada motif daun paku, yang lazim ditemui di karya seni Dayak: tatto ataupun ukiran kayu. Saya lupa apa maknanya bagi mitologi orang Dayak.

Saya teringat perjumpaan dengan seorang dari Dayak Liboy di daerah Gunung Niut, Sanggau Ledo, di dekat perbatasan Malaysia. Saat itu, ia sedang menjaga pintu masuk Air Terjun Riam Berasap, air terjun tujuh tingkat di Sungai Sebungkau (?). Dayak Liboy adalah salah satu subsuku Dayak yang kalau bicara bahasanya sama sekali tidak berakar kepada suku kata atau kata dasarnya dari bahasa Melayu, dan seperti burung berkicau karena intonasi yang naik turun. Seumur-umur saya tidak pernah menjumpai bahasa Dayak yang seperti itu. Maka, saya hanya bisa bingung karena tidak mengerti satupun ucapannya.

Ibarat itulah, saat buku ini selesai, saya sadar betapa nol besar pengetahuan saya tentang Dayak. Sama seperti saya baru tahu bahwa Suku Korowai dan Kombai itu baru ditemukan 30 tahun lalu, dan rumah pohon mereka bisa setinggi 50 an meter di atas tanah, bahwa mereka (pernah) kanibal, dan anjing yang tidak bisa memanjat juga dibawa naik dan diajak tinggal di atas.

—————-

Pingin tahu lebih jauh tentang Dayak dan pemberdayaan komunitas adat di Kalimantan Barat? Bukalah ini dan ini.

[laman itu bahasa mana? – laman = kampung dalam beberapa bahasa, seperti Dayak Lamantawa di Kabupaten Melawi dan Dayak Lemandau di perbatasan Kabupaten Lamandau di Kalimantan Tengah..; laman bisa juga diartikan sebagai rumah]

19 thoughts on “Mozaik Dayak (2008)

  1. linna jubata says:

    Bg, nice review…akhirnya sudah tahu yah keberagaman subsuku Dayak dan bahasa Dayak di kalimantan barat, ribet yah….duh tebalnya gak bukunya…tape deh bacanya Bg, yadi tuh pakarnya…Udah baca tentang pemberitaan “panasnya pontianak, panasnya politik” di tulis oleh andreas harsono jurnalist senior, melalui pendekatan teori ‘jemie davidson’ kalo tidak salah…analisisnya boleh juga??buka jak Bg blognya, Untung pontianak saat ini musim penghujan bukan panas tapi dingin…yah setidaknya sang pembaca merasakan kesejukan..he…e…O ya bg, belum bise posting yang baru gik ndak mood…he..e
    OK deh Bg, Gbu yah…

  2. the produkgagal says:

    ” Kini di Jakarta, tidak ada mandau, hanya ada selembar bulu ruai hadiah seseorang gadis di Pontianak. ” Wai bujor siket brur🙂, perikse gak lok bulu ape nyan wkwekwkewkewkewek, takotnye bulu burung yang lain bah.

    @brur:
    Aha.
    haha…poor bro.
    Membaca penguasaan, dan interest pembaca, salah satu ya dari komennya. Dan ternyata, seperti ane duga, ente peka banget soal ini (juga dari komen2 yg sebelumnya). Kenapa? Hohoho…
    Persepsi benar akan sesuatu, bukan cuma yang ada di kepala kita yang kecil ini!

  3. enno says:

    pengen ke kalbar lagiii… hiks…

  4. theprodukgagal says:

    hihihiihihihi, maklum merangsang stimulasi otak kiri wkwkwkkwke.

  5. theprodukgagal says:

    maklum, masih dalam golongan pitekantropus kempolmulus brur. terlalu peka tapi ye paling sering membuat semuanya menjadi peka, rangsangan otomatis.🙂

  6. John Ariyo says:

    bg penulis yang kreatif, boleh gak aku minta tolong?… sejauh mana perkembangan karya musik daerah di kalimantan barat? nih aku di jogja. makasih ya.

  7. John PANGALAYO says:

    Untuk Lina Jubata (komentator pertama di blog ini)…saya sarankan jangan menggunakan kata “Jubata”. tahu gak arti “Jubata” itu sendiri apa???
    jangan menggunakan nama itu semau hati. thank’s!

    • Lina says:

      ame bera2 lkoa, kde ina’ satuju man dama’y koa bare’lah alasanny….
      diri’ sabaya diri’ sling mnasehati…..kde ada ng salah, mnta maap boh….

  8. Dwi says:

    Saya senang sekali membaca tulisan Anda. Saya karena tugas senantiasa mengunjungi tempat-tempat di mana antara dayak dan suku lain berjalan, kadang seiring, kadang melintas…..

  9. yusuf says:

    duh…suka banget baca post anda

    sepertiya di tulis dengan sangat mendalam…

  10. Severino Antinori says:

    Once time I worked in Kabupaten Lamandau, and I realized they named themselves Dayak Tomon, not Lemandau.
    River Lamandau itself is a great artery of colourful livings among them.

    Severino:
    Yapp, adanya perbedaan persepsi dari komunitas Dayak sendiri mengenai siapa dan apa nama baku dari identitas diri mereka itulah yang disebut para menulis buku ini sebagai (salah satu) kesulitan terbesar dalam melakukan klasifikasi mengenai keberagaman sub suku Dayak. Tidak heran, dari waktu ke waktu klasifikasi mengenai keragaman sub suku Dayak selalu berubah. Sebabnya? Banyak hal, dan itu yang menarik sebenarnya.

    Btw, pasti seru berada di pedalaman Kalimantan yah..Salam

  11. Hi salam kenal, bagus banget blognya.. saya minggu lalu baru pulang dari Pontianak, saya juga sangat tertarik dgn suku Dayak yang luar biasa hebat. ada info lagi gak mengenai dayak? share ya..email ku d_cavanna@yahoo.com

    thanks..

    regards,

    debby

  12. Anonymous says:

    Jadi kangen mo pulakng ka Kalimantan. He he…

  13. Sebuah review yg cukup mendalam. Selamat ya. Terus terang saya belum pernah membaca bukunya, tapi sepertinya buku itu sangat menggoda. Karya etnolinguistik lazimnya sangat menggoda bagi para penggemar etnology maupun linguistik. Saya jadi pengin memilikinya suatu hari nanti.

  14. lamanday says:

    dari sisi data menggoda, tapi dari sisi penyajian, seperti hanya membaca laporan statistik..
    hehe..

    salam kanal boh

  15. revanz says:

    daan ape jua toe……
    tapi bagus juga lah untuk pengetahuan….
    coz na gw sendiri orng sana asli…

  16. uray nerry says:

    kalbar,,, aku rindu pengen pulg ke tanah asal ku

  17. puro says:

    kalau nak mesan keti caranya menyadik ?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: