Jara Tolunggeru

Hei Bilis,

mengapa tak kau ceritakan tentang kudamu yang tak lagi berderap di padang gersang berbatu. Kuda gagah yang makin jarang menghasilkan susu terbaik dari bibit terbaik. Juga rumput di kaki gunung kering coklat kemarau yang tak tumbuh. Dan para makaka yang bergelayut liar di hutan madapangga, turun ke kampung mencuri semua

kau hanya kisahkan kuda-kuda yang pasti ada di tiap uma di tolunggeru, selalu menemani pagi dan sore di padang

identitasmu, rasa banggamu

dan gurihnya susu kuda, yang kuteguk langsung selepas diperas keponakanmu. Kau hanya bilang, betapa lezatnya jika ditambah madu hutan. Jangan direbus, jangan digula

lalu kau lihatkan anakmu yang riang
tak pernah sakit karena selalu minum susu kuda, katamu

susu kuda Bima!

mengapa kau hanya tertawa ketika seringkali dedak dan rumput pun harus dibeli dari dompu
tak mau kah kau bercerita tentang alam yang telah berubah, dan stepa desa monggo ini bukan lagi sesuatu yang ramah pada kalian, dou mbojo?

dan bahwa mungkin saja tolunggerumu ini, dusun di kaki palasma
jadi komunitas terakhir pemelihara kuda susu di bima, ketika di donggo dan wawo semua itu mulai tak ada

Hei Bilis, tak takut kalian akan kesepian?

ah
dan kau Fatimah,
kemana pula tembe nggoli, rimpu mpida itu
mengapa tak kau pakai

bukan zamannya?

Tolunggeru, Bima 15/08/08

—–
Kuda, Gajah Mada, dan Garuda Berkepala Dua

Walau terpencil, Tolunggeru luar biasa karena berhasil mempertahankan tradisi memelihara kuda perah.

“Coba, Pak, susu kudanya,” ujar Fatimah sambil memandangi saya. Tangannya sibuk menuang minuman kaleng Sprite ke dalam susu yang baru saja diperah dari induk kuda betina. Pada susu yang telah disaring ke gelas kaca itu masih terlihat serbuk-serbuk hitam, mirip ampas.

Lalu gelas itu diberikan pada saya. Sedikit ragu-ragu, diiringi tawa kecil anak laki-laki Fatimah, saya teguk susu itu. Gurih, sedikit amis, dan tentu saja juga berasa soda.

“Susu kuda segar, sehat untuk badan. Biar enak, tambah madu hutan atau, ya, Sprite ini. Oh, ya, jara banyak di sini, tiap rumah punya. Biasanya lebih dari satu,” kata Fatimah lagi, warga Tolunggeru, Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima.

Jara (dari bahasa Bima yang berarti kuda) dan susu adalah dua hal utama dari Tolunggeru. Fatimah sendiri adalah salah satu warga dusun yang penghasilannya berasal dari menjual susu kuda perah. Selain itu, ia kadang menenun tembe nggoli, sarung tradisional Dou Mbojo (orang Bima) yang terkenal itu.

Dusun di kaki Gunung Palasma ini tak jauh dari Hutan Madapangga, salah satu cagar alam bervegetasi lebat di perbatasan Kabupaten Bima dan Dompu. Letaknya cukup terpencil: 47 kilometer dari Raba, pusat Kota Bima; dan perjalanan darat 12 jam dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat.

Walau terpencil, Tolunggeru luar biasa. Ia bisa dikatakan sebagai komunitas Dou Mbojo terakhir yang berhasil mempertahankan tradisi sebagai pemelihara kuda perah. Di sekitar Tolunggeru, masih terbentang padang penggembalaan milik penduduk yang cukup luas dipagari tanaman. Kuda-kuda dibiarkan lepas, mencari rumput-rumput di sela pohon dan batu-batu vulkanik.

Dari Tolunggeru, saya kembali menyusuri pesisir Teluk Bima, menikmati banyak hal lainnya. Dan memang, Tolunggeru hanyalah pembuka dari perjumpaan-perjumpaan berikutnya dengan Bima, daerah terujung Pulau Sumbawa.

* * *

Banyak wajah Bima yang berbeda-beda. Di Muku, yang dilanjutkan ke Polibelo, pemandangan khas perkampungan petani garam terbentang. Rumah-rumah panggung berjejer rapi, berukuran sama, dengan bahan kayu dan bambu. Begitu seragam. Begitu teratur. Unik sekali. Apalagi dengan keberadaan tambak-tambak garam yang sangat luas di belakang permukiman tersebut. Petak-petak yang menghampar, datar sejauh mata memandang, jauh sampai di laut sana, seakan sudah dekat cakrawala. Di tepi jalan, banyak karung garam yang siap diangkut. Kira-kira seratus meter di depan, truk berhenti, beberapa buruh garam sigap menaikkan karung ke truk ukuran sedang. Satu-dua petani garam dengan cangkul berjalan di pematang.

Selepas dari Muku, ketika memasuki daerah Lawata, pemandangan berganti. Suasana pantai menyambut. Jalan aspal mulus persis berada di tepi laut, hanya dibatasi pagar. Tampak padang-padang penggembalaan di Bukit Sambinae yang kering cokelat di sebelah darat, perairan Teluk Bima yang biru luas di sebelah laut, dengan latar bukit-bukit di Dataran Tinggi Wawo yang puncak-puncaknya berjejer. Deretan pohon-pohon meranggas di batas antara darat dan laut. Pohon wawu di bukit dengan ribuan bunga berwarna merah di antara langit yang biru, menjulang seakan angkuh. Langit tak berawan, angin menarik-narik rambut, aroma laut. Perahu satu-dua lewat. Suasana penuh matahari. Betapa bergairah.

Air laut di perairan Teluk Bima setiap sore musim kemarau akan surut kira-kira sejauh 500 meter ke laut, setelah paginya naik sampai ke talud di pinggir jalan. Dan karena surut itulah, tercipta kebiasaan unik masyarakat Bima yang memang terkenal memiliki ikatan erat dengan kuda sejak dulu. Inilah wajah lain Bima yang sangat khas, di Ama Hami, yakni cara melatih kuda balap agar jadi jawara di pacuan.

Kuda-kuda balap dituntun perlahan dari jalan kecil di tepi bukit, atau dinaiki tanpa kapa (pelana) dengan pelan oleh pelatih dan jokinya menuju pinggir laut. Setelah sampai di lumpur, kuda-kuda dihela, seperti hendak dipecut. Dengan tali yang masih terikat dan dipegangi pelatihnya. Tampak pemandangan yang artistik. Kuda tersebut seolah bermain kejar-kejaran dengan sang pelatih. Tiba-tiba bergerak, tiba-tiba berhenti, tersentak karena tali. Lalu berlari lagi.

Suatu pemandangan yang menggetarkan. Kuda dan manusia menjadi siluet, yang bergerak, dengan latar laut yang berwarna perak. Di kejauhan tampak Pulau Doronisa (berarti kambing) yang samar-samar. Kuda-kuda membayang memanjang seakan-akan di batas cakrawala. Air memercik dari kaki-kaki kuda yang menapak di tanah. Sementara di tanah debulah yang mengepul di belakang deretan kuda, di Ama Hami ini air bercampur lumpur yang terlempar ke belakang. Dan ketika mencapai garis akhir, deretan kuda-kuda yang habis berlomba akan berbaris, berjalan pelan beriringan. Lalu, tak lama kemudian, kuda-kuda itu menuju laut. Dan ketika dimandikan, pelan-pelan punggung mereka lenyap, tinggal kepala yang masih di atas air.

Walau tidak sama, melihat kuda dan interaksinya dengan masyarakat Bima, saya teringat sebuah puisi Taufik Ismail berjudul Beri Daku Sumba: Rinduku pada Sumba seperti rindu seribu ekor kuda/yang turun menggemuruh dari bukit-bukit yang jauh…. Di sini, imajinasi saya melayang ke Sumba, pesta Nyale di pantainya, dan upacara perang di atas kuda, Pasola, yang legendaris.

* * *

Saya beruntung. Kunjungan saya ke Bima kali ini menjelang perayaan kemerdekaan yang ke-63. Suasana Raba, kota terbesar terakhir di ujung Pulau Sumbawa, jadi semarak. Bahkan di Istana Kesultanan Bima, yang saat ini menjadi Museum Asi Mbojo (yang berarti Istana Bima), suasana kemerdekaan juga terasa dengan dipasangnya umbul-umbul merah-putih di sekeliling museum. Di dalam bangunan kayu dua lantai yang dibangun pada 1927 itulah saya terpukau oleh Bima lebih jauh. Dan keterpukauan saya itu dimulai dengan pertanyaan biasa: mengapa tempat ini bernama Bima? Apakah ada kaitan dengan kisah lima Pandawa?

Ibu Nurhani, pemandu di Asi Mbojo, berujar bahwa nama Bima telah disebut dalam Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca. Artinya, Bima telah dikenal kira-kira sejak abad ke-13-14, ketika Majapahit menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Itu cocok dengan isi Bo Sangaji Kai, sebuah kitab berbahasa Arab Melayu bercampur aksara Bima kuno, mengenai asal-usul masyarakat Bima, silsilah raja dan sultan Bima, juga tentang ekspansi Bima yang menguasai daerah Sumbawa sampai ke Reo di Pulau Flores. Bo Sangaji Kai sendiri diterjemahkan oleh Siti Maryam Salahuddin, putri ketujuh sultan terakhir Kesultanan Bima, M. Salahuddin (1888-1951), bersama beberapa ahli, di antaranya filolog Henry Cambert Loir.

Jadi, dari mana asal-usul nama Bima itu? Konon, Bima berasal dari Sang Bima, nama putra kedua Maharaja Pandu Dewata, tokoh yang berasal dari Jawa. Bergelar Sangaji, Sang Bima inilah yang mendirikan Kerajaan Bima sebelum datangnya Islam di wilayah paling ujung timur Sumbawa, setelah mempersatukan para ncuhi< (tetua wilayah). Silsilah ini terpampang jelas di salah satu bagian Asi Mbojo. Saat membacanya, saya sadar bahwa ini tentu saja dari pengaruh Mahabharata (yang dibawa dari Jawa).

Yang menarik, tutur Ibu Nurhani, sebagian masyarakat Bima percaya bahwa Gajah Mada, Sang Mahapatih Majapahit, berasal dari Dataran Tinggi Donggo. Dataran di sebelah barat laut Raba ini didiami oleh suku asli Bima, yakni Dou Donggo (yang konon masih mempunyai darah murni dari para ncuhi). Di Donggo, masih dijumpai budaya paling tua, seperti rumah padi uma lengge dan baju hitam-hitam.

Benarkah begitu? Memang, sejak dulu klaim akan asal-usul Gajah Mada ini marak di berbagai belahan Nusantara. Penasaran, saya menelusuri di banyak literatur dan menemukan bahwa Gajah Mada memang pernah masuk ke Bima pada 1352 untuk melaksanakan Sumpah Palapa. Mungkin saja, kedatangan Gajah Mada dianggap sebagai pertanda keterkaitan itu. Apalagi, dalam bahasa Bima, kata mada berarti saya.

Di salah satu ruangan Asi Mbojo, saya melihat lambang Kesultanan Bima (1620-1951) yang berupa burung garuda berkepala dua, beserta keterangan-keterangannya. Bentuknya sangat mirip lambang negara kita. Dengan perisai di tengah dada, bulu sayap, dan bulu ekor. Yang berbeda hanya kepalanya yang dua itu, serta tidak ada bulu leher dan pita yang dicengkeram kaki garuda.

Iseng saya berpikir, apakah keduanya punya kaitan? Pikiran iseng itu muncul karena sebelumnya saya melihat foto-foto Sultan M. Salahuddin yang sedang bersama Ir Soekarno. Apalagi dari literatur sejarah diketahui bahwa persahabatan keduanya sangat erat. Beberapa kali Sultan M. Salahuddin, yang dulu ikut berjuang melawan Belanda, diundang ke istana, dan Soekarno juga beberapa kali berkunjung ke Bima. Mungkin saja kedekatan keduanya yang sering bertukar pikiran tentang nasionalisme Indonesia mempengaruhi keputusan Soekarno memilih burung garuda sebagai lambang, dari tiga pilihan yang diajukan oleh panitia Lencana Negara yang diketuai Muh. Yamin dan Sultan Hamid II pada 1950. Yang jelas, menurut Ibu Nurhani, burung garuda telah lebih dulu digunakan sebagai lambang Kesultanan Bima sebelum sebagai lambang negara Indonesia versi Sultan Hamid II seperti yang kita kenal sekarang.

Uniknya lagi, tangga kayu yang menghubungkan lantai satu dan dua di Asi Mbojo terdiri atas 8 dan 17 anak tangga. Saat Ibu Nurhani memberitahukan hal itu, langsung saya hitung, dan memang benar adanya. Agaknya, ketika direnovasi, jumlah anak tangganya dibuat pas dengan tanggal dan bulan kemerdekaan kita. Inilah oleh-oleh tentang wacana kebangsaan yang saya dapat dari Bima beberapa hari menjelang perayaan kemerdekaan.

* * *

Benhur melaju di jalanan Bima. Moda yang serupa andong di Jawa atau Cidomo di Lombok ini ibarat Bima itu sendiri. Khas, artistik, namun karena berkapasitas penumpang sedikit, lambat, dan punya daya jelajah terbatas, tak banyak orang yang menggunakan jasanya. Bima juga begitu, tidak banyak yang (mau) tahu betapa banyak yang bisa dinikmati di sini. Rasanya, saya ingin terus bertemu dengan wajah Bima yang lain, dengan pergi ke Gunung Tambora menelusuri jejak Kerajaan Tambora yang terkubur, masuk ke Pulau Ular, live in di Desa Donggo, menikmati puncak acara pacuan kuda tiap akhir Agustus, mandi di pemandian Maria di Wawo, atau hanya berburu kain tenun di Kampung Rabangodu dan madu asli di Kore.

Sayang, itu hanya tinggal keinginan. Sekarang saya sudah di Jakarta lagi.

Edisi cetak di Koran Tempo Minggu, 21/09/2008

One thought on “Jara Tolunggeru

  1. enno says:

    tembe nggoli, rimpu mpida…. itu maksudnya apa? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: