Jembatan di Desa Api

Empat orang anak kecil bermain-main. Yang satu perempuan, ia paling kecil, berumur lima atau enam tahun. Tiga anak lelaki lain lebih besar. Kulit mereka hitam, karena sering terpanggang matahari di tepi Selat Makassar ini. Mereka anak pesisir, anak laut.

Pipi si gadis kecil celemotan dengan warna putih. Sepertinya itu sejenis pupur, yang umum dioles wanita-wanita di Penajam ini setiap sore. Rambutnya dikuncir dengan pita merah muda. Dasternya ungu muda, bertotol putih, yang bergambar Dessy, pacarnya Donal Bebek, di bagian depan. Dessy sedang tersenyum, tapi gadis kecil itu pelit senyum.

Mereka sedang bermain layang-layang. Tangan si anak lelaki lincah menarik nilon, mengulur, menyentak, guna memancing angin mendorong layang-layang ke atas.

Mereka bermain di jembatan kayu yang sangat panjang. Ada lima ratus meter dari bibir daratan menuju ke laut. Jembatan itu, seluruhnya terbuat dari ulin, atau belian. Kayu yang luar biasa, bermutu tinggi. Tahan air, karena justru dengan direndam ia akan makin kuat.

Jembatan ini menghubungkan darat dengan laut, bukan darat dengan darat.

Sepertinya, pasang surut di pesisir ini tidak tanggung-tanggung. Sehingga perlu dibuat sejenis dermaga yang memudahkan berlabuh. Tapi, sore itu tidak ada kapal yang melabuh. Sebagian terdampar di tengah lumpur campur pasir yang coklat.

Ini Desa Api-Api. Desa nelayan dari Suku Bugis, yang pernah berjaya. Dibuktikan dengan bangunan permanen depot Pertamina, dengan tulisan Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN) Koperasi Perikanan Rindang Buaya, yang dijadikan pengisian bahan bakar bagi kapal yang hendak melaut. Juga ada tempat pelelangan ikan di selatannya, yang jika dilihat dari ukurannya, pasti cukup ramai.

Tapi, saat itu, tidak terlihat aktivitas nelayan yang mengayam jaring seperti umum ditemui jika tidak melaut. Tidak ada perahu dan kapal yang sedang diperbaiki. Jembatan kayu tersebut patah di tengah-tengah.

Angin juga sepertinya malas bertiup karena berulang kali layang-layang anak-anak tersebut turun karena gagal menangkap angin. Matahari masih memanggang bumi, Benuo Taka ini, dengan panasnya.

Waru, Penajam Paser Utara, 28/08/08

One thought on “Jembatan di Desa Api

  1. enno says:

    Apakah kamu pernah berpikir untuk mengikutsertakan foto-foto perjalananmu ke sebuah kontes foto? wah kemarin Garuda Airways bikin kontes tuh… aku pun baru tau setelah penjurian sudah dimulai. Sayang, telat ngasih tau dirimu, Nday ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: