Nemberala tanpa ombak

nembrala-seperti-surga nembrala-seperti-surga-berjalan nembrala-seperti-surga-pemetik-rumput-laut-dan-keranjang

Nemberala tanpa ombak, tetap saja seperti surga.

nembrala-seperti-surga-langit nembrala-seperti-surga-pagi-abadi nembrala-seperti-surga-pemetik-rumput-laut-dan-peselancar

nembrala-seperti-surga-pemetik-rumput-laut1 nembrala-seperti-surga-babi1 nembrala-seperti-surga-biru

Nemberala – Pulau Rote, 29/03/2009

Nemberala, Masih Saja Seperti Surga

Dahulu, sebuah kapal Portugis terkena badai di Laut Sawu. Kapal itu karam tetapi penumpangnya berhasil menyelamatkan diri ke sebuah pulau di tepi Samudera Pasifik. Saat tentara Portugis itu sampai ke pulau, dia bertemu dengan penduduk lokal, seorang petani. Si petani terkejut, melihat orang kulit putih. Karena terkejutnya itu, saat salah seorang tentara tersebut bertanya di mana ia sekarang, si petani yang tidak mengerti bahasa Portugis, tergagap-gagap menjawab hanya dengan menyebutkan namanya,”Rote..Rote..” Karena itu, pulau tersebut diberi nama Rote.

Legenda itu, hanya salah satu legenda asal usul Pulau Rote (juga sering disebut Roti oleh luar negeri), salah satu pulau di Kabupaten Rote Ndao, dimana saya menginjakkan kaki sekarang. Itu diceritakan sopir L 300, yang membawa mobil penumpang dari Pelabuhan Ba’a menuju Nemberala. Ia bercerita di sela-sela dentuman music yang menggelegar dan bisa dikatakan, amat sangat berisik. Bayangkan saja lagu Vengaboys, Boom, boom, boom, boom!! diputar berkali-kali dalam angkot dengan speaker besar bersuara sumbang karena bass nya udah mulai ngaco.

Memang, hanya saya yang menjadi penumpang siang itu, dan karenanya bisa duduk di samping sopir dan ngobrol-ngobrol sepuasnya. Satu yang masih saya ingat terkait legenda sebagai turunan Portugis itu adalah,”..dan karenanya gadis Pulau Rote itu putih, berambut lurus dan cantik, tercantik di seluruh dataran Timor”. Hmm…

Sepanjang 1,5 jam perjalanan melalui jalan berlubang, di sela-sela musik tiada henti dan percakapan putus-sambung, saya melihat pemandangan yang menyiratkan kegersangan: padang rumput kering dan ranting pohon tak berdaun. Sapi-sapi kurus di padang penggembalaan tampak coklat berjejer di kejauhan. Pohon lontar di mana-mana, berbatang tunggal dan berdaun tak bercabang. Semua itu berpadu dengan langit yang sangat biru, tanpa awan. Ada kesan tersendiri melihat pemandangan itu: indah, eksotis, tapi sendu. Ah, tipikal dataran Timor…

Apa yang saya cari hingga sampai di Rote? Jawabannya singkat: menggapai Nemberala! Saat saya di Kupang melakukan survey nilai tanah selama setengah bulan, setiap orang yang ditanya mengenai destinasi wisata apa yang mendunia, selalu menjawab: Nemberala di Pulau Rote. Jadi, ketika ada waktu luang, maka saya putuskan untuk datang ke Rote, pulau seluas 1214 km2 yang juga merupakan pulau berpenghuni terbesar di perbatasan paling selatan Indonesia. Maka, ketika melihat gerbang Pantai Nemberala di depan, saya sudah merasa tidak sabar untuk menikmatinya.

Mengapa Nemberala? Tanyakan itu kepada para peselancar, dan mereka akan berkata, karena Nemberala adalah surga. Pada bulan-bulan kemarau, dimulai dari April, berpuncak di Juli Agustus dan masih berlanjut sampai September, ombak akan sangat besar di Nemberala, pantai yang terletak di barat daya Pulau Rote. Saat itulah, para peselancar dari Amerika, Jepang, Amerika Latin dan terutama Australia bagai berada di surga. Konon, kedahsyatan ombaknya nomor dua di dunia setelah Hawaii, mengalahkan Kuta yang lebih tenar. Tak heran, diam-diam, di kalangan peselancar asing, Nemberala menjadi tujuan wisata minat khusus. Bahkan, tutur office boy di penginapan, sejak tahun 80-an tanah-tanah di beberapa bagian pantai ini telah dikuasai atau disewa oleh turis Australia dan dijadikan home stay.

Tapi ini baru awal April, jadi saya tidak berharap banyak akan kehebatan ombak Nemberala. Tapi jadinya saya bertanya-tanya, masihkah Nemberala tanpa ombak seindah surga? Sore itu, setelah menaruh barang di penginapan Nemberala, saya keluar. Tentu saja berbekal peta yang saya potret di samping pintu petugas resepsionis.

Desa Nemberala adalah desa yang indah. Di tepi pantai, penuh dengan pohon kelapa yang daun-daunnya sangat lebat sehingga memberi kesan teduh. Uniknya lagi, tiap rumah dibatasi tumpukan batu setinggi pinggang orang dewasa. Sangat rapi, menjadikannya teratur.

Sore itu, saya ke pantai. Seketika saya disambut udara pantai yang hangat, berangin tapi bermatahari. Indah sekali. Ini pantai Samudera Pasifik, yang lalu tak berbatas.

Beberapa perempuan tua berjalan pelan-pelan, tertatih, membungkuk, menggapai sesuatu di dasar pantai. Saya mendekat ke salah satunya, dan menyapanya,”Permisi mama, sedang apakah?”. Ia lalu berdiri, melihat saya sambil tersenyum ditahan. Ia berkulit terang, mata yang ramah, menatap sangat terang dan karena itu saya merasa bahwa di masa mudanya ia pasti seorang gadis yang cantik. Lalu menjawab dalam bahasa lokal yang tidak saya ketahui. Yang saya tahu, ia mengangkat sesuatu yang berwarna hijau, agak berlendir dan sepertinya licin. Seketika saya sadar kalo itu adalah rumput laut.

Ya, Nemberala adalah desa yang terberkati. Saya teringat spanduk bekas perayaan Paskah di depan Gereja Immanuel, kira-kira 100 m dari penginapan, yang bertuliskan “Allah selalu membekati kita, percayalah!”. Rumput laut, menjadi salah satu penghidupan mereka selain dari pariwisata, dan yang pasti cukup besar penghasilan mereka dari situ. Itulah alasan mengapa walau dilihat sekilaspun, rumah-rumah di desa yang terletak di Kecamatan Rote Barat Daya ini lebih berada dibandingkan rumah-rumah di sepanjang jalan yang saya lewati.

Saya melihat satu dua bule mengayuh selancarnya menuju timur. Dari kejauhan ombak tampak menggulung-gulung. Belum besar, tapi cukuplah untuk mengayunkan barang sekejab dua kejab.

Pernah melihat babi yang berkeliaran di pantai? Di Nemberala, kita akan terbiasa melihat babi gemuk bergerak lincah mencari sesuatu di sela-sela karang. Sepertinya mereka mencari ikan, kerang, atau binatang laut yang tersangkut selepas pasang surut. Sering saya melihat jejeran induk babi dan anaknya yang sedang asyik mengorek-ngorek sesuatu di dasar pantai berlumut itu.

Matahari mulai turun. Senja hampir sempurna di pantai. Kapal-kapal nelayan tampak menghitam, perempuan-perempuan mulai pulang ke rumah. Saya tahu, di kejauhan arah barat daya itu ada Pulau Ndana, pulau yang tidak lagi berpenghuni kecuali para tentara yang menempati pos batas dan Samudera Pasifik di yang membentang sangat luas.

Bagi saya, inilah pantai sebenarnya. Tenang dan menghanyutkan. Tidak hiruk pikuk. Inilah Nemberala. Surga? Bagi saya yang lelah tinggal di Jakarta, iya. Bagi saya yang ingin mencari alternatif wisata pantai yang bebas dari bangunan dan kios2 penjualan barang-barang souvenir, iya.

Terus, di manakah saya akan menemukan Sasando? Ah, besok saya masih punya waktu. Sekarang saya ingin ngobrol dengan gadis resepsionis di penginapan itu. Senyumnya manis sekali.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo, 20/12/2009

10 thoughts on “Nemberala tanpa ombak

  1. Wiwin says:

    Kelihatan cantik ya, padahal yang aku dengar dari orang, di sana panas banget.

  2. ary says:

    napa diberi nama tanpa ombak?
    apa ombak emang malas menyapa di pulau kering tu?
    nuansanya emang sunyi..nyenyat

  3. lamanday says:

    [wiwin]:
    cantik emang, walau saat datang bukan musim ombak..btw, panasan pontianak lah yee…*_^

    [ary]:
    tanpa karena belum musim ombak. Kalo udah musimnya dahsyat. Surfer dari berbagai belahan dunia datang ke Nemberala…Nemberala jadi surga bagi para pencinta ombak..

  4. enno says:

    weh aku kangen mampir kesini…

    pa kabar nday?🙂

  5. Unique says:

    Udah lama dak bemaen ke blog kau Nday…kangen juga mengikuti kisah perjalananmu ke berbagai tempat🙂
    Bagus ni foto2 di Pulau Rote… serangkai foto, berjuta cerita…

  6. Sangaji says:

    perfect scene…

  7. Hery Feoh says:

    saya putra rotendao saya dukung 100% kemajuannya mf saat ini saya ada di sumtra maka saya su rindu e.. mau pulang membangun betapu… kampung di rotendao… maju trusss… rote ndao Tuhan berkati selalu

  8. lamanday says:

    haloo mas hery,
    begitulah, selalu ada tempat indah di tempat yang tidak diduga..semoga nemberala dan rote makin maju ya

  9. bela says:

    saya tinggal d nembrala sdah 10 tahun msh byak keindahan yg blum d ketahui byak org selain itu kehangatan yg d berikan oleh pendudukx tdk akan pnah d lupakan bagi setiap org yg dtang d surga kecil terselatan indonesia ini

    • lamanday says:

      ya, betul sekali bela. tapi, biarlah yang mencari yang menemukan, karena kalao sudah sangat terkenal seperti kuta bali akan terlalu ramai jadinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: