Kematian di sore hari

Dengan cara berdiri yang miring, penuh keangkuhan dan rasa percaya diri, torero si matador menatap toro yang terengah-engah. Tajam seperti ujung pedang pembunuh yang terhunus, teracung dan jubah yang telah dikembangkan. Sementara darah mengucur dari punggung toro, si corrida, yang telah berlubang. Luka itu akibat tusukan tombak picadores dari atas kuda beberapa menit sebelumnya.

Lalu, sepersekian detik dan satu tusukan pedang ke jantung, dan semua akan selesai. Semua yang dimulai pada pukul 17.00, di matahari barat. Death in the afternoon, seperti kata Hemingway.

Tiga matadores, dua picadores, tiga banderilleros dan enam corrida seberat 400-600 kilogram. Enam kali kematian para banteng jantan yang memang dibiakkan untuk binasa di ujung pedang.

Plaza de Toros de Castellon, 10/03/2010

==

Perjalanan, bagaimanapun bentuknya, adalah pertemuan, dialog dengan sesuatu yang lain, bukan hanya dengan dunia luar melainkan juga dengan diri sendiri. Proses itu, sayangnya tidak datang tiap saat dan seringkali terjadi pada momen ketika kita bersentuhan dengan sesuatu yang tidak biasa, tidak sehari-hari dialami. Seperti yang saya alami ketika duduk di kerumunan penonton pertunjukan adu banteng pada awal Maret 2010 lalu di Plaza de Toros de Castellon, Spanyol.

Saya beruntung menyaksikannya bersama Naries, istri saya, karena saat itu kebetulan ia mendapat kesempatan menjenguk saya di Castellon. Pasangan Indonesia nonton adu banteng, jarang-jarang, bukan?

Dosen saya di Universitat Jaume I, Professor Ricardo Queros, mengatakan bahwa menonton pertunjukan ini setidaknya butuh dua hal: pemahaman kultural dan ketahanan perut yang tidak mual melihat darah. Untunglah, di rumah kami sudah membaca banyak literatur mengenai tradisi tersebut, dan makan kenyang.

Adu banteng (bullfighting, tauromachy, atau corrida te toros) merupakan sebuah pertunjukan tradisional yang unik dan bisa dikatakan sangat melekat pada Bangsa Spanyol. Walau sesungguhnya ia tidak hanya dimainkan di Spanyol, melainkan juga di sebagian wilayah Portugal, Perancis selatan, Meksiko dan sebagian negara Amerika Selatan. Namun secara khusus, bagi para Spaniards (bangsa Spanyol di Jazirah Iberia), pertunjukan ini telah menjadi kebanggaan identitas yang khas, membedakannya dengan suku bangsa dan wilayah lain di daratan Eropa. Jadi saya sadar, saat menontonnya, walaupun hanya sekilas disitulah saya bakal bersentuhan dengan jiwa bangsa Spanyol sebenar-benarnya, setidaknya dalam hal kultural.

Pertunjukan ini telah berlangsung sangat lama sejak zaman prasejarah. Awalnya diperkirakan merupakan bentuk pemujaan dan sekaligus pengorbanan bangsa Romawi (yang waktu itu menguasai Semenanjung Iberia) kepada Dewa Mitrhas, dewa perangnya mereka. Namun seiring zaman, ia kemudian menjadi tradisi yang melambangkan eksotisme, keberanian, kejantanan, dan semangat pantang menyerah bangsa Spanyol.

Dalam adu banteng, dibalik tiket yang mahal dan pemahaman keliru para penonton penggembira, yang berteriak riuh saat menyaksikan banteng menyeruduk angin dari kibasan kain merah matador, atau bergumam kecewa saat tusukan pedang meleset dari pundak di banteng, atau mencemooh keras huuu saat matador berlari terbirit-birit menyelamatkan diri dari kejaran banteng, atau menutup mata dengan takut saat tandukan banteng merobek pinggang sang matador, sebenarnya tersimpan pengorbanan, usaha dan tekad yang luar biasa tangguh dari para pelaku dan pelestarinya, dan itu telah bertahan berabad-abad lamanya merentang zaman.

Klasiknya tradisi ini di Spanyol, dapat ditelusuri dari bagaimana mereka menyiapkan pertunjukan adu banteng. Banteng yang akan diadu adalah banteng dari ras khusus yang berasal dari dan hanya dibiakan di ranch tertentu. Umumnya, banteng tersebut berasal dari ranch di kawasan Andalusia, di pesisir selatan Spanyol. Misalnya saja dari ranch Miura di Seville yang sangat legendaris. Banteng-banteng Miura ini sangat tenar di dunia per-matador-an karena sangat agresif, telah terbukti mampu bertahan lama di arena dan bahkan membunuh banyak matator.

Banteng-banteng di sana dipelihara secara khusus, diberi makan tertentu, sedari kecil sudah disiapkan untuk bertarung dan diberi nama sesuai dengan karakternya. Hanya banteng jantan pilihan yang menunjukkan agresivitas dan fisik yang sehat dengan bobot rata-rata setengah kuintal yang boleh masuk ke arena. Saat mentas pun, hanya banteng yang telah berusia tiga tahun (novilla) atau di atas tiga tahun (corrida) yang diizinkan. Begitu juga dengan kuda. Hanya kuda dengan ras khusus seperti ras Andalusian dan Lusitano yang diizinkan bertarung dengan banteng. Ini, saat saya tanyakan lagi kepada Prof. Ricardo, dimaksudkan untuk menjaga kualitas pertarungan sekaligus menyelamatkan nyawa si matador dengan memberinya kuda yang tidak takut terhadap banteng yang ganas.

Selain itu, walaupun karakter adu banteng modern saat ini “hanya” berasal dari pertengahan abad ke-18, keklasikannya juga dapat dilihat dari desain pertunjukan . Desain gelanggang (plaza de toros) dan durasi adegan tidak berubah sejak dulu. Posisi tempat duduk juga unik, dengan istilah sol (matahari) dan sombra (bayangan). Istilah ini menunjukkan posisi penonton, menghadap atau membelakangi matahari. Gelanggang pertunjukan didesain dengan warna, komposisi dan struktur yang selalu sama, di manapun lokasinya. Berbentuk bundar, dengan pasir berwarna kuning, dikelilingi tembok pembatas berwarna kemerahan, yang berpintu tempat masuknya matador dan pengiringnya. Tepat di hadapan pintu itu, ada suatu panggung khusus tempat duduk seseorang yang menjadi pengawas pertunjukan, seseorang yang sudah punya nama besar di dunia matador, dan sangat dihormati di arena.
Di sisi lain gelanggang, terdapat pintu masuk banteng. Di atasnya, terdapat panggung terbuka. Disitulah tempat para pemusik (peniup terompet dan penabuh genderang) yang selain sebagai penyemarak suasana juga sebagai penanda jeda dan bergantinya adegan, sekaligus pengharu biru perasaan penonton saat menyaksikan adegan-adegan seru di arena.
===
Tepat pukul lima sore, saat matahari tidak terlalu menyengat, genderang dan terompet dibunyikan. Penonton berdiri. Tepuk tangan bergemuruh mengikuti paseillo, iring-iringan yang diawali tiga orang torero (matador) sang menjadi lakon utama, banderilleros (asisten matador), diikuti para picadores di atas kuda yang diselubungi pelindung dan terakhir para rejaonedores. Suasana sontak bergairah. Tak terasa tangan Naries tahu-tahu sudah menggamit lengan kiri saya.

Para torero gampang dikenali dari pakaian yang ketat tapi fleksibel, mencirikan pakaian tradisional Andalusia (yang dianggap sebagai ibukota pertunjukan ini karena hampir semua matador dan banteng hebat berasal dan dididik di seputaran Sevilla, Granada, Cordoba, Malaga, Almeria, kota-kota provinsi di negara bagian Andalusia). Para matador mengenakan montera (topi) dan setelan ‘jas’ yang flamboyan, traje de luces (jas cahaya) berwarna emas, yang seakan bersinar jika diterpa matahari senja. Hari itu torero yang mentas adalah Alejandro Talavante, Daniel Luque dan Ruben Pinar. Ketiganya cukup punya nama di dunia matador. Bahkan, Daniel Luque dianggap penerus Juan Belmonte (1892–1962), matador terbesar sepanjang sejarah.

Setelah penghormatan berakhir, diawali bunyi terompet, dimulailah adegan pertama ritual yakni tercio de varas. Seekor banteng berwarna hitam tiba-tiba berlari kencang masuk ke arena, dengan nafas mendengus-dengus, beringas dan tampak garang sekali. Segera, para asisten berkerumun menguji kekuatan, kecepatan dan agresivitas si banteng. Mereka berlari-lari di sekitarnya sambil mengeluarkan suara mengganggu, sementara si matador, Alejandro, mengawasi dari tepi arena. Setelah mendapat gambaran, si matador lalu turun ke arena mengusik si banteng agar menyeruduk muleta (kain) berwana pink yang dikembangkan. Adegan ini berlangsung kira-kira lima menit, dan disinilah kesan pertama penonton terhadap si matador dibangun: seberapa lincah ia beradaptasi dengan gerakan si banteng. Setelah itu, seorang picador memasuki arena, dengan kuda yang penuh diselimuti peto (pelindung) sambil membawa vara (tombak panjang). Melihat itu, Naries berkata,”Iihh…curang, beraninya dari atas kuda..”.

Banteng, yang terusik dengan kehadiran picador, dengan beringas lalu menyeruduk kudanya. Rupanya, kesempatan itulah yang dimanfaatkan picador untuk menusukkan tombaknya sekitar tiga menit, di morillo, bagian lembut di pundak banteng yang menjadi tanda dimana tusukan pedang matador nantinya. Kejam karena tombak itu tetap ditekan-tekan sampai darah muncrat, dan inilah awal dari betapa berdarahnya pertunjukan ini.

Ketika darah mulai mengalir deras, terompet dan genderang dibunyikan sebagai tanda dimulainya adegan kedua: tercio de banderillas. Maka para banderilleros masuk sambil membawa banderillas, stik berbulu-bulu warna cerah (hijau, kuning, putih, atau biru) yang berujung runcing. Di hadapan banteng yang terengah-tengah, banderillero lalu berdiri dengan mengacungkan dua buah stik ke atas, dan berlari menuju banteng yang juga berlari mendekatinya. Penonton tampak tegang. Dan ketika jarak diantara mereka tinggal semeter, sambil meliukkan badan pada timing yang tepat guna menghindari tandukan banteng, banderillero melompat dan menusuk pundak banteng guna menancapkan banderillas. Penonton bersorak, memberi tepuk tangan meriah. Sementara rombongan di belakang saya tidak henti bersuit dan berteriak, banteng di arena juga semakin beringas dengan darah yang semakin banyak di badan banteng, sebagian menetes-netes dan membasahi tanah di arena. Penonton semakin bergairah.

Lalu, tibalah pada adegan utama: tercio de muerte. Pertarungan satu lawan satu antara banteng dengan matador. Si matador berjalan pelan ke tengah arena, membekali diri dengan pedang runcing dan sebuah muleta merah. Sebenarnya banteng yang buta warna tidak akan mengenali warna apa muleta-nya, namun warna merah selalu digunakan pada adegan ini sebagai tradisi dan untuk menyamarkan darah banteng. Sambil berputar ke seluruh penonton, pas di hadapan panggung kehormatan, matador mengangkat topinya dengan anggun, lalu meletakkan topinya di tanah, mengibaskan lengannya sambil membungkuk dan bersiap.

Bagian ketiga yang akan mempertontonkan atraksi menghindar (faena) inilah yang paling mendebarkan. Matador berdiam di satu tempat, dengan sikap berdiri yang kaku penuh gaya. Ia berkonsentrasi penuh terhadap gerakan banteng, sekecil apapun. Lalu, muleta dikembangkan, memprovokasi banteng. Dan ketika banteng menyerang, dengan lembut ia hanya mengeser salah satu kakinya, mengibaskan muleta dengan tangkas, menghindar dengan sangat tipis. Kadang ketika banteng sedang di samping badan, ia lalu menepuk pantat banteng dengan cepat sambil membalik badan. Luar biasa. Tak terasa, saya selalu bertepuk tangan menyaksikan adegan yang indah dan penuh gaya ini.

Tiba-tiba terompet dan genderang berbunyi lagi, kali ini dengan nada yang lain, lebih lirih dan menghentak. Matador berjalan agak menjauh dari banteng. Ia lalu berdiri membentuk kuda-kuda. Kaki kiri di depan, tangan teracung ke depan, dengan pedang tipis berujung silang tajam yang lurus terhunus ke arah banteng. Punggung matador melengkung. Matanya tajam memperhatikan gerakan banteng maju mundur. Banderillas yang kemerahan terkena darah bergoyang-goyang tergantung di pundak banteng. Kini, banteng itu tampak menyedihkan. Nafas yang mendengus bukan lagi nafas kemarahan, tapi seperti nafas menuju mati. Dan ketika dirasa sudah siap, sambil berlari secepat kilat pedang tersebut ditusukkan melewati pundak banteng, langsung ke arah jantung. Jika tusukan itu sukses, yang tampak hanya tinggal gagang pedang saja. Seluruh badang pedang sepanjang setengah meter masuk ke dalam tubuh banteng. Penonton berteriak riuh, sambil tegang menunggu berapa lama banteng akan rubuh. Setelah ditusuk, banteng seakan-akan panik, tampak bodoh dan bingung, berusaha garang tapi kelihatan sekali bahwa kakinya sudah goyah dan gerakan kepalanya tidak menentu. Dan akhirnya, ketika banteng itu rubuh dan tewas di antara matador dan banderilleros yang mengelilinginya, penonton berdiri, melambaikan-lambaikan tangan atau alas tempat duduk sambil berteriak-teriak. Lalu, pertunjukan akan berulang dengan matador kedua, Daniel Luque dan dilanjutkan oleh Ruben Pinar.

Banteng memang diharuskan mati dan berdarah-darah di arena. Itulah mengapa pertunjukan ini dibagi dalam tiga tahap, dan mengapa seakan-akan banteng itu dikeroyok di arena. Tapi, untuk beberapa kejadian, matador dapat mengampuni nyawa si banteng, dengan tidak menusuknya, jika dianggap banteng itu mampu memberikan perlawanan yang luar biasa, tidak kenal lelah dan selalu agresif. Dan jika ini terjadi, si banteng akan dikembalikan ke ranch-nya, tidak akan diadu lagi, dibiarkan hidup dengan diberi setifikat khusus, lalu ia akan berbiak guna menghasilkan keturunan petarung unggul.

===
Seorang matador akan bertarung melawan dua ekor banteng, jadi dalam sehari akan ada enam kali pertunjukan adu banteng. Selain enam ekor banteng yang tewas, memang tidak ada matador yang terluka. Namun beberapa hari setelahnya, saya mendengar bahwa di Valencia (63,7 km ke utara) ada dua orang matador yang dibawa ke rumah sakit akibat tandukan si banteng. Keduanya terluka parah di bagian perut dan dada. Dalam pertunjukan ini, memang nyawa taruhannya. Dan memang harus ada kematian di gelanggang, demikian kata Ernest Hemingway, yang pernah tinggal di Madrid, Spanyol pada era 1930-an. Dalam Death in the Afternoon, sebuah buku non-fiksinya, ia secara apik menggambarkan tradisi, perayaan dan kebesaran adu banteng di Spanyol tersebut, dan mengapa lelaki Spanyol menggemari adu banteng: “Every man’s life ends the same way. It is only the details of how he lived and how he died that distinguishes one man from another.”

Saat keluar dari gelanggang, hari sudah gelap dan lampu sorot di arena telah penuh menggantikan cahaya matahari senja. Udara masih dingin, walau saat itu sudah masuk awal musim semi. Orang-orang bergegas pulang, sebagian berjalan menuju Centro Ciudad karena malam itu masih bagian dari Festival Maria Magdalena, orang kudus pelindung kota, yang diselenggarakan satu minggu penuh di Castellon.
Mengingat darah yang tak henti mengucur dari si banteng dan kematiannya yang begitu dramatis, saya tak heran jika kontroversi akan pertunjukan ini marak di mana-mana. Bahkan menurut jejak pendapat terakhir hanya sekitar 30% dari penduduk Spanyol yang masih menyukai pertunjukan ini. Alasannya jelas, telah ribuan banteng, ratusan kuda dan manusia yang terbunuh di arena.

Dalam satu hari pertunjukan, pasti ada enam ekor banteng yang mati. Dan biasanya, adu banteng yang berlangsung dari Maret sampai Oktober, selalu dilaksanakan selama seminggu sampai sepuluh hari di satu kota dalam satu festival. Jadi, dalam festival Maria Magdalena yang berlangsung seminggu terdapat 42 ekor banteng yang mati. Dan itu baru di satu festival di satu provinsi dari 52 provinsi di seluruh Spanyol, negara yang dikenal sangat menggemari festival.

Tentangan yang paling ekstrim adalah dari Pemerintah Catalunya: Barcelona, Girona, Zaragoza, dan daerah-daerah kecil di sekitarnya. Mereka melarang pertunjukan diadakan di seluruh wilayahnya, tidak terkecuali di pelosok-pelosok. Slogan mereka, “Kekejaman bukan kultur kami!”. Agaknya, faktor perbedaan kultural, ketegangan historis, pertentangan politik dan “ketidaksukaan akan semua hal berbau Spanyol” mendasari hal itu. Tapi itu soal politik dan saya tidak mau berpikir lebih jauh ke arah situ. Yang saya tahu, bahwa ucapan penutup Prof. Ricardo mungkin benar.

”Handi, jika kamu tinggal di Spanyol tapi belum pernah melihat adu banteng dengan mata kepala sendiri, orang bilang kamu belum benar-benar di Spanyol. Jadi, saran saya, lihat sekali, sesudah itu jangan lagi..” Sambil tersenyum profesor Catalan tua itu berkata, dan walau tidak perlu dijelaskan, saya tahu mengapa ia tersenyum. Sama juga seperti saya tahu bahwa bagi Naries, menonton pertunjukan seperti ini tidak bakal diulanginya lagi. Terlalu berdarah-darah, katanya.

Perjalanan kali ini benar-benar sebuah perjalanan kultural yang abstrak. Kaki saya tidak melangkah jauh, tapi pikiran saya berkelana. Saya mencoba menjumpai alam pikiran orang-orang Spanyol yang berteriak oleeee setiap kali matador berhasil berkelit dari tandukan banteng, dan berdiri memberi aplaus tiap kali seekor banteng ambruk dan tewas di arena. Saya bisa memahami gairah mereka. Tapi, tetap saya tidak tahu, apakah dengan itu saya menyukai pertunjukan ini atau tidak.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu, 06/06/2010

2 thoughts on “Kematian di sore hari

  1. haitami says:

    Mas, saya sangat suka tulisan – tulisannya

  2. Iya, betul sekali…
    ‘Tetap saya tidak tahu, apakah dengan itu saya menyukai pertunjukan ini atau tidak’

    Biarkann seperti adanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: