Jejak Tanjungpura

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Begitulah Sumpah Palapa yang terkenal dari Gajah Mada. Sumpah dalam bahasa Sanskerta itu diucapkan pada 1258 Saka (1336 Masehi) saat pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit.

Gajah Mada bersumpah tidak akan makan buah palapa (alias berpuasa) sebelum menaklukkan sepuluh daerah tersebut. Dan gaung sumpah itu sungguh luar biasa di kemudian hari. Di bawah Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit menjadi kerajaan terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada abad ke-14-15. Wilayah kekuasaannya membentang sampai ke Thailand Selatan dan Filipina*.

Bagaimana kondisi kerajaan di daerah yang disebut dalam sumpah itu saat ini? Sebagian tetap bertumbuh seperti Palembang dan Bali, sebagian lenyap ditelan zaman seperti Pahang dan Tanjungpura. Karena itulah jadi menarik kalau yang lenyap tersebut ditelusuri.

Saya beruntung: lahir dan dibesarkan di Ketapang, Kalimantan Barat, yang menjadi lokasi modern Tanjungpura. Pada pertengahan tahun lalu, sambil pulang kampung, saya menyempatkan diri menelusuri jejak Kerajaan Tanjungpura di Ketapang, yang dikenal sebagai Tanah Kayong. Kebesarannya di masa lalu masihkah dapat ditemukan sekarang?

Sebagai pembuat peta, saya terbiasa melacak penamaan suatu daerah (toponimi) yang akan ditampilkan dalam database peta. Maka, pada suatu siang di pertengahan Juli, saya menuju Desa Tanjungpura, yang terletak kurang-lebih 30 kilometer ke timur laut Kota Ketapang. Desa ini tepat di pinggir Sungai Pawan, sungai terbesar dan terpanjang kedua di Kalimantan Barat.

Matahari terik membakar kulit. Angin yang berembus hanya seperti tiupan kipas yang tak berarti. Ini musim kemarau di daerah Khatulistiwa.

***

Kata “Tanjungpura” diperkirakan berasosiasi dengan pohon tanjung yang banyak tumbuh di pinggir sungai di Kalimantan. Sebagian ahli sejarah mengatakan, menurut sejarah yang terekam, Tanjungpura merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat. Tetapi siapa pendirinya tidak diketahui walau beberapa menyebut Brawijaya (seorang bangsawan Majapahit). Dan Desa Tanjungpura, oleh para sejarawan dan berdasarkan cerita orang tua yang saya dapat sedari kecil, pernah menjadi ibu kotanya.

Pada abad ke-14, kerajaan ini diketahui menguasai wilayah di antara dua semenanjung: Tanjung Dato dan Tanjung Puting. Ini luar biasa mengingat kondisi alam Kalimantan, karena jika ditarik dengan pembatasan wilayah modern, artinya ia menguasai sebagian wilayah Sambas (dekat perbatasan Malaysia), Kendawangan di pesisir selatan, serta Sukamara dan Kota Waringin Barat di Kalimantan Tengah.

Itu berarti melintas rimba lebat, puluhan anak sungai, dan ratusan kampung. Namun sepertinya wilayah pengaruhnya terutama di pesisir pulau dan tidak sampai merambah pedalaman yang dikuasai penduduk asli Dayak.

Seorang sejarawan lokal, Gusti Iswadi, lewat buku Pesona Tanah Kayong, Kerajaan Tanjungpura dalam Perspektif Sejarah, mengatakan bahwa Tanjungpura memiliki keunikan dalam “bertahan hidup”, yang diwujudkan dengan seringnya ibu kota berpindah. Dimulai dari Negeri Baru, Sukadana, Sungai Matan, Kertapura di Nanga Tayap, Tanjungpura di Kecamatan Sungai Awan Kiri, sampai terakhir di Mulia Kerta di Kota Ketapang. Yang unik, semua lokasi itu di pinggir sungai dan nama kerajaan berganti mengikuti lokasi baru dan pengaruh keluarga kerajaan yang berkuasa.

Perpindahan itu diperkirakan akibat serangan bajak laut (dikenal sebagai lanon) dan perompak dari Selat Karimata, bukan karena bencana alam. Dengan seringnya perpindahan itu, jejak-jejak masa lalu, seperti makam raja-raja, tersebar di mana-mana.

***

Mencapai Desa Tanjungpura susah-susah gampang. Jaraknya hanya 30 kilometer dari ibu kota kabupaten. Namun sebagian dari jalan masuk masih belum diaspal. Selepas 5 kilometer, hanya jalan tanah di hutan gambut. Jalan itu kadang di beberapa bagian hanya cukup dilewati satu sepeda motor. Bakal berdebu luar biasa di musim panas, lalu terendam air setinggi lutut di musim hujan.

Biasanya di daerah Mensubuk (Lubuk Dalam), 6 kilometer sebelum desa, jalur akan putus kurang-lebih 1 kilometer akibat air pasang. Perlu rakit untuk menyeberanginya. Tapi kali ini saya beruntung. Sudah beberapa minggu hujan tidak turun.

Sepanjang perjalanan, selepas Desa Sungai Awan, saya disuguhi pemandangan khas tanah pesisir Kalimantan. Tanah gambut ditumbuhi tanaman dataran rendah, seperti pakis. Di kiri-kanan jalan, ada alur parit buatan yang airnya sangat hitam. Berpadu dengan awan yang beraneka rupa, di kejauhan tampak hutan yang tidak terlalu hijau dan bervegetasi jarang. Sisa kebakaran besar tahun 1999 dan 2001 masih terasa dengan tidak adanya lagi pohon-pohon besar.

Setibanya di Desa Tanjungpura, saya tidak langsung menuju peninggalan kerajaan. Rumah-rumah kayu, rakit apung, air sungai yang mengalir tenang, dan hutan hijau di seberang sungai adalah pemandangan yang pantas dinikmati terlebih dulu. Tampak rombongan lutung bergantungan di beberapa pohon besar berbuah. Mereka ribut sekali.

Saya teringat pengalaman masa kecil ketika berenang ke tengah Sungai Pawan ini, yang lebarnya 200-an meter, hanya memakai batang kayu. Selepas itu, melompat dari rakit apung, bersalto, lalu berkejar-kejaran di sungai. Kemudian memancing ikan baung atau tilan di bawah pohon sagu. Ah… kenangan.

Selepas menikmati es di warung kecil di pinggir sungai, saya lalu menuju monumen peninggalan kerajaan: Taman Makam. Terletak tidak tepat di pinggir jalan, melainkan di pinggir hutan yang cukup lebat. Suara burung menyambut saya ketika masuk gerbang Tanah Makam yang terbuat dari kayu berwarna kuning itu. Yang unik, sebelum masuk makam raja, ada plang yang bertulisan “Wajib Lapor ke Makam Perdana Menteri”, yang disertai anak panah menuju satu makam lain. Rupanya di alam nirwana pun protokoler masih dicoba dipakai.

Secara keseluruhan, Taman Makam cukup terawat, dengan beberapa bangunan kecil dengan nisan yang didominasi warna kuning–warna identitas Melayu. Beberapa pilar makan dikebat (bahasa lokal yang berarti diikat) dengan kain merah polos. Terdapat kira-kira 40 makam besar dan kecil. Tersusun rapi. Salah satu yang terbesar adalah makan Pangeran Iranata, keturunan Raja Giri Kesuma, raja muslim pertama Kerajaan Tanjungpura. Makam itu bersanding dengan makam permaisuri, dikelilingi makam kecil-kecil yang sepertinya anggota kerajaan.

Ke sana, saya ditemani seorang penduduk lokal, Suwar namanya, yang cukup tahu banyak tentang sejarah Kerajaan Tanjungpura. Ia teman masa kecil saya. Walau tinggal di Kota Ketapang, ia punya saudara di Desa Tanjungpura. Dengan bangga ia berkata, “Inilah raje kami dolok” (Inilah raja kami dulu).” Saya tidak tahu apakah benar dia keturunan bangsawan. Tapi, bagi dia dan keluarga, setiap menjelang hari raya Lebaran, ziarah ke Taman Makam adalah wajib.

Tapi, ketika saya tanya di mana letak bangunan kerajaannya, ia hanya menggeleng. “Dah habis dah, lapok. Abis dari kayu jak buatnye” (Sudah habis, lapuk. Karena terbuat dari kayu saja).

Memang sulit menemukan kembali peninggalan fisik dari bangunan-bangunan yang didirikan dari kayu. Tapi di lokasi yang jauh lebih ke hilir lagi, di Desa Mulia Kerta, saya masih menyaksikan bangunan Kerajaan Matan (kerajaan terakhir dari “trah” Tanjungpura).

Menurut sejarah, Kerajaan Matan sudah resmi menjadi kerajaan Melayu Islam dan tidak lagi Hindu. Didirikan oleh Panembahan Haji Muhammad Sabran pada 1876. Raja terakhirnya adalah Gusti Muhammad Saunan, yang memerintah dari 1924 sampai 1943. Karena dia yang memugar bangunan kerajaan yang masih berdiri tegak sekarang (dalam rupa museum), bangunan itu kerap disebut Keraton Muhammad Saunan.

Suwar bercerita, menurut apa yang dikisahkan orang tuanya dulu, ada kisah heroik mengenai kematian Muhammad Saunan. Kematiannya berkaitan dengan kisah tragis “penyungkupan”, yang dilakukan oleh tentara Jepang. Disebut penyungkupan karena, saat tawanan hendak dipancung, kepalanya diselubungi kain lebar seperti cungkup. Saat hendak dieksekusi, para petugas mendapati Muhammad Saunan lenyap secara misterius dari sel yang dijaga ketat. Sampai sekarang tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.

Tapi kali itu bah cerite jak, biar semangat dan buat nggenang die ngan bangge,” kata Suwar dengan logat lokal yang kental. Masuk akal juga pikir saya. Bukankah cerita sejenis selalu terdapat di mana-mana?

***

Penelitian terbaru dari Balai Arkeologi Jakarta mengungkap dugaan bahwa mungkin Tanjungpura adalah peradaban Islam tertua di Pulau Kalimantan. Dibawa dari tanah Melayu di pesisir timur Sumatera oleh para pedagang sekitar abad XI atau XII, kemudian sempat terpengaruh budaya Hindu dari Majapahit. Ketika era Majapahit berakhir, kerajaan-kerajaan kembali menjadi kerajaan Islam.

Memang, dari nama dan gelar yang dipakai, seperti gusti, panembahan, pangeran, ratu, adipati, anom, nyai, dan Muhammad, tampak bahwa pengaruh Jawa (terutama Majapahit) dan Islam sangat kental. Keunikan pemakaian gelar itu tidak menempatkan gender sebagai pembeda. Jadi saat ini dapat ditemui nama “pangeran ratu” buat pria.

Sayang sekali, seperti kebanyakan sisa kerajaan Nusantara di Kalimantan, tidak banyak peninggalan fisik dari Kerajaan Tanjungpura selain makam dan bekas kerajaan tak terawat yang telah menjadi museum. Pelapukan dan ketidakcermatan dalam perawatan telah menghancurkannya. Kebesarannya yang pernah diakui Majapahit kini seakan surut.

Tapi, di masyarakat Melayu Ketapang, kebanggaan akan asal-usul tampaknya masih kental. Pemakaian gelar gusti dan uti, yang menunjukkan kebangsawanan, masih dilestarikan. Juga masih lestarinya ikatan persaudaraan para keturunan keluarga kerajaan, yang membentuk Ikramat (Ikatan Keluarga Besar Kerajaan Matan dan Tanjungpura), dan mekanisme pemberian gelar kebangsawanan kepada tokoh berpengaruh di Ketapang. Agaknya nama besar Tanjungpura juga masih mengiang di masyarakat, tidak hanya menjadi nama Universitas Tanjungpura, Pangdam XII/Tanjungpura, atau nama jalan utama di ibu kota provinsi, Pontianak.

***

Hari sudah magrib ketika saya sampai kembali di kota. Suara azan disenandungkan dari masjid dan surau. Hujan rintik-rintik menyertai kedatangan saya. Rupanya itu alasan cuaca panas sekali tadi.

Besok saya hendak bertemu dengan teman lama yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Ia tahu banyak mengenai peta politik lokal. Mungkin saya dapat cerita trah Kerajaan Tanjungpura lainnya, seperti Kerajaan Sukadana di Kabupaten Kayung Utara atau Kerajaan Simpang di pedalaman. Rasanya nikmat sekali, bercerita mengenai suasana paling kini kampung halaman sambil mengudap kopi susu kental manis ditemani kue apam pulu pinang di warung kopi Maknyah Pincang di Pasar Baru.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo, 22/08/2010

Catatan:

*saat menulis ini, saya sengaja percaya tentang kejayaan Majapahit. Perkara dugaan bahwa Majapahit tidak pernah sebesar yang digemborkan, itu bahasan lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: