Montmartre dan cincin pelangi

Seorang pemuda kulit hitam berambut gimbal mendekati saya. “For your luck brother!“. Sambil nyerocos tentang Sacré Cœur, tahu-tahu ia sudah memilin benang warna warni di jari kelingking saya. Merah, kuning, hijau seperti pelangi. Dalam sekejab terbentuk cincin yang indah, tapi dengan ekor benang menjuntai.

“Five euro please!”. Saya terkejut ,”Ha?”. Ia santai saja minta segitu, yang seharga döner durum lezat di toko kebab Turki. Tapi dengan santai juga saya lalu bilang, “One, or I give it back to you?”. Enak saja, siapa juga yang minta dibuatkan cincin. Ia bersungut-sungut. Bukan bahasa Inggris kayaknya. “Ok, but you’re a real miserly Malaysian!”. Haha, ia mengira saya Malaysia yang pelit. Tuduhan salah untuk satu euro.

Itulah pembuka perjumpaan saya dengan Montmartre di utara Paris. Inilah tempat, yang bagi sebagian seniman dikatakan sebagai Paris yang hidup. Bukan hanya Paris yang indah,  monumental, namun diam.

Ada yang bilang, Montmarte berasal dari kata Mons Martis. Artinya Mount of Mars. Wow, toponim yang keren. Sebenarnya ia hanya bukit kecil, 130 m dpl. Tapi karena Paris begitu datar, jadilah bukit rendah ini yang tertinggi. Mungkin karena itu dianggap ia berada di Mars, dan dari situ orang memang bisa melihat bumi, yakni kota Paris itu sendiri dari kejauhan.

Memasuki Montmartre di hari Minggu awal April 2010, yang dibangun Napoleon III pada abad ke-17, perasaan seperti menjejak Malioboro di Jogjakarta. Orang berwajah bahagia lalu lalang, pemusik dan statue performer di mana-mana, pelukis bertopi pet dan kanvasnya, lukisan dan souvenir unik bertebaran. Suasana nyaman buat berjalan kaki, dan berhenti-henti melihat street perfomance.

Di pinggir jalan, ada orang muka Asia melempar-lembar boneka kecil yang bisa berakrobatik di tembok. Setelah menempel si boneka akan jumpalitan lincah. Di sebelahnya, ada orang-orangan sebesar jari tangan sedang menari di atas tanah. Rancak sekali mengikuti suara music dari tape. Di tengah jalan, seorang tukang sulap beraksi. Sasaran tembaknya gadis-gadis cantik. Dan gadis-gadis akan tertawa sambil tersipu saat mawar merah yang tiba-tiba muncul dari balik rambut mereka, diberikan sang pesulap sambil membungkuk…

Atmosfer seni kontemporer langsung terasa. Inikah, nuansa Montmartre abad 19 yang hendak dilukis Camille Pissaro, dalam Boulevard of Montmartre (1897)?

Mungkin itu afmoster sama yang dirasakan pelukis Salvador Dali, Claudio Monet, Pablo Picasso dan juga Vincent Van Gogh saat berkarya dan membuka studio di sini. Atau sebaliknya, karena inpirasi dari merekalah Montmartre jadi begini? Bisa jadi keduanya, karena manusia dan alam hidupnya sebenarnya saling bertelikung dan mempengaruhi.

Di sudut suatu jalan yang lain, saya serasa berada dalam Paris, je t’aime (2006). Dalam film itu, ada seorang lelaki yang memarkir mobilnya di sudut jalan Montmartre. Ia hidup sendiri, kesepian tanpa cinta. Karena itu sering ke Montmartre menghibur diri menikmati suasana di sana.

Si lelaki merenung, bagaimana mungkin semua gadis yang lewat tampak seperti mengundang, begitu menggairahkan, cantik dan dapat “diambil”? Apa yang mengubah mereka di Montmartre sehingga tampak begitu mempesona? Saat tengah merenung, tiba-tiba seorang gadis manis pingsan di dekat mobilnya. Ia menolong dan seperti kisah klasik, sejak itu ia tidak sendiri lagi menikmati Montmartre dan keindahan Sacré Cœur dari kejauhan.

Ya, Paris, memang kota cinta. Sepasang muda mudi berciuman di ujung jalan menuju Sacré Cœur. Mereka berbeda warna kulit, yang pria hitam, yang wanita putih.

Aura pedestrian di Montmartre tak sedahsyat La Rambla di Barcelona, yang saya datangi sebulan lalu.  Tapi ada yang beda: ia kaya sisi historis yang religius. Ada sumber sejarah yang menuliskan bahwa Montmartre juga berarti mountain of the martyr. Nama itu untuk mengenang orang kudus pelindung kota, St. Denis yang dipancung di sana sekitar tahun 250 Masehi. Namun tak hanya itu, Montmartre juga punya Sacré Cœur.

Dari kejauhan, tinggi di atas, tampak Basilica of the Sacré Cœur (singkatnya Sacré Cœur) si gereja putih. Dengan kubahnya gereja katolik itu tampak seperti masjid, dan menjadi landmark yang menonjol selain Eiffel. Dibangun selama 36 tahun, dari 1876 sampai 1912, untuk mengenang 58 ribu korban perang Perancis – Prusia. Walau sudah tua gereja ini masih kokoh berdiri.

Saya mendaki puluhan anak tangga untuk sampai di sana. Sambil memandang ke atas, saya ingat bahwa di sinilah, di tahun 1534, dalam keheningan ibadah di puncak bukit yang teduh, wahyu datang kepada Ignasius Loyola untuk mendirikan Ordo Serikat Jesus bersama enam orang temannya. Kini tarekat itu menjadi tarekat Katolik terbesar dengan 21.000 anggota di 112 negara di dunia, dengan misi utamanya menyebarkan cinta kasih lewat pendidikan.

Sacré Cœur memang tidak punya detil ornamen seindah Katedral Notre Dame di jantung Paris. Tidak ada gargoyle dan ukiran gothic yang megah. Walau bergaya arsitektur Romano-Byzantine, ornamen luarnya cenderung polos. Apalagi warnanya putih. Tapi, karena berbahan dasar batuan travertine yang memancarkan calcite yang tahan pelapukan dan polusi, maka warna putihnya tak akan pudar dimakan waktu. Karena ia selalu putih itulah maka ia menjadi unik.

Patung hijau Joan of Arc yang sedang menunggang kuda, dan Raja St. Louis IX, terpatri di sisi-sisi luar gereja. Selain patrotisme, keduanya melambangkan ketaatan yang tinggi terhadap gereja. Karena itulah keduanya dibuatkan patungnya di sini.

Dari halaman Sacré Cœur, Paris terhampar di bawah. Terlihat betapa luasnya kota ini. Betapa indahnya kalau malam hari. Paris pasti akan bersolek, menjadi kota cahaya.

Di anak tangga terakhir, ada seorang penyanyi. Wajahnya menggariskan ketampanan pria Mediteranian. Ia bernyanyi sambil memetik gitar. Saat ia menyanyi, lebur dalam nyanyiannya. Merdu sekali. Tak peduli banyak orang lalu lalang di sekitarnya, sebagian mendengarkan dengan tenang. Seperti konser terbuka. Di sebelah kirinya, ada tumpukan CD yang berisi lagu-lagu yang dinyanyikan. Ia pemusik independen yang mencipta lagu sendiri.

Ia memang bukan Savage Garden yang menyanyikan lagu cinta Truly Madly Deeply (1997), yang bersetting Sacré Cœur. Tapi, seakan-akan saat ia bernyanyi, keramaian siang Sacré Cœur itu serupa senja jingga disaat sang tokoh wanita di video klip berdiri sendiri merindu sang kekasih: I’ll be your hope/I’ll be your love/be everything you need/I’ll love more with every breath/Truly, madly, deeply do..

Tak terasa saya habiskan dua jam di Montmartre dan Sacré Cœur. Kebanyakan hanya berdiam di bangku taman Sacré Cœur. Merasakan lembut belaian angin Paris. Saya menikmati betul suasana di sana. Tak peduli orang bilang, Paris adalah kota yang sudah jenuh dengan agama dan karena itu, monumen seperti Sacré Cœur hanyalah simbol basa basi masa lalu. Tidak peduli tempat ini semakin penuh orang. Biasanya saya cukup lagak berkomentar kritis terhadap banyak hal. Kali ini saya pingin jadi benar-benar turis.

Jika Sungai Seine adalah kalung, dan rentetan Louvre, Eiffel, Notre Dame, Musée d’Orsay, adalah taburan permata utama, maka Sacré Cœur ibarat permata terakhir di ujung untaian.

Dalam dua jam itu saya lupa tentang si penjual cincin kulit hitam. Tapi pas turun, saya lihat dia sedang membikinkan cincin pelangi buat seorang gadis cantik berwajah Eropa Timur. Mungkin kali ini ia akan berhasil mendapat lima euro. Keduanya tertawa bersama dengan riangnya selepas si pembuat cincin membisikkan sesuatu di telinga si gadis.

Paris, 01/04/2010

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu 26/09/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: