Alhambra indah sekali…


Aku sedikit tersentak. Gerak dari Naries, istriku, membangunkanku dari tidur yang tak begitu lelap. Tempias hujan lamat-lamat mengetuk jendela yang basah. Udara terasa dingin. Entah kemana panas dari heater di pojok kamar Hostel Posada Dona Lupe ini. Kulihat jam. Setengah tujuh, tapi gelap masih berkuasa di luar. Menjelang akhir musim dingin, awal Maret, dan matahari rupanya masih enggan datang pagi di kota yang terletak kaki Sierra Nevada ini.

Disinilah kami sekarang. Hanya 150 meter dari Alhambra, monumen peninggalan Islam terbesar di Eropa, salah satu dari UNESCO‘s World Heritage Site yang paling dilindungi di Spanyol. Setelah penerbangan dari Barcelona semalam, ini pagi pertama kami di Granada. Kota pesisir Semenanjung Iberia: destinasi wisata nomor satu di Spanyol, yang karena nilai historisnya dikatakan sebagai “kota yang melintas zaman“.

Alhambra berasal dari kata Arabic, Al-hamra, yang bisa diterjemahkan “si kastil merah atau benteng merah“. Mulai dibangun pada abad ke-9 oleh Dinasti Nasrid, kompleks seluas 13 hektar ini sesungguhnya merupakan istana, taman dan benteng yang digabung menjadi satu. Sebagai yang terakhir, di sinilah kebesaran bangsa Moorish sebagai penguasa Andalusia selama 800 tahun masih tersisa hampir sempurna. Seindah apakah ia? Semenjak datang ke Spanyol enam bulan lalu, pertanyaan itu terus membayangiku.

Selepas mandi dan sarapan yang tersedia gratis di hostel, pada pukul setengah 9 pagi, kami sudah antri di depan gerbang, dengan tiket 12 EUR dan earphone di tangan yang disewa dengan harga 4,5 EUR. Hari telah terang, hujan telah reda. Langit bersih dan biru. Alhambra menyambut dengan hangat.

Terletak sekitar 700 m dpal di puncak bukit Al-Sabika (Spanish: Cierro de la Sabika), dilintasi River Darro, diapit Desa Putih Albayzin yang telah berusia delapan abad, biara dan gereja abad pertengahan, dan hamparan padang rumput di tepi Garnat el-Yehudi (pemukiman Yahudi), sementara di kejauhan membentang Sierra Nevada dengan salju abadi sepanjang tahun di puncaknya, membuat Alhambra seperti istana di negeri dongeng.

Tak sabar kami melangkah. Sambil menarik-narik tanganku, Naries bersenandung kecil, ditemani kicau burung, bias warna-warna lembut matahari pagi. Ia sepertinya antusias sekali bakal merasakan aura destinasi wisata yang luar biasa ini. Memandang sekeliling, kubayangkan sebuah kompleks yang begitu mengagumkan di masa lalu. Istana utama yang megah, pangeran yang tampan, putri yang anggun dan cantik, benteng yang gagah, tempat ibadah, taman hijau, dan keputren yang dijaga prajurit-prajurit. Dan kami berdua, adalah tamu dari negeri tropis yang jauh, yang datang dari belahan dunia berbeda, yang beruntung bisa menyaksikannya.

Yang terindah tentu Nasrid Palace, istana utama, tempat tinggal keluarga kerajaan. Dibangun oleh Raja Yusuf I (1333-1353) dan dilanjutkan anaknya Mohammed V (1353-1391), bangunan inilah yang menjadi magnet utama. Untuk masuk ke istana ini, walau datang pagi, kami tetap saja harus antri sesuai jam yang telah ditentukan di tiket masuk. Di depan pintu, petugas bermuka ramah namun tegas berjaga, memeriksa tiket, tas dan barang bawaan, menyetop arus masuk untuk menjaga daya tampung bangunan.

Di dalam Nasrid Palace, terdapat tiga bagian utama: Mexuar, Comares dan Court of the Lions. Di Mexuar dan Comares, karya seni bangsa Moorish terukir di dinding, langit-langit dan tiang-tiang penyangga bangunan. Begitu detil dan indah. Dalam warna-warna coklat terang. Akan tetapi, seperti kata narator dari headset yang kubawa, di beberapa bagian bangunan, pengaruh Roma dengan motif Gothic juga dapat ditemui. Dan Mexuar, sempat diubah menjadi kapel oleh penguasa Roma setelah Alhambra jatuh. Hal yang umum dijumpai ketika penguasa berganti-ganti di zaman yang berbeda.

Di Comares, pikiranku berkelana saat melihat Ambassador Hall dan Sala de la Barca. Di sinilah tempat di mana Raja Yusuf I di masa lalu mengadakan pesta kehormatan yang meriah, dengan tarian eksotis menyambut tamu-tamu penting atau melakukan perundingan politik dengan kerajaan tetangga, mungkin Cordoba atau Seville. Ukiran Baraka (bermakna: berkat/salam) berhuruf Arab di dinding,  dan ukiran di langit ruangan mengguratkan peradaban yang berjiwa seni, dengan genre Hispano-Islamic yang khas, dan oleh para ahli seperti Le Corbusier, seorang arsitek Swiss, dinobatkan sebagai “karya seni genius dari peradaban Islam yang bukan Arab”.

Langit-langitnya sering dianggap menggambarkan imajinasi akan tujuh surga. Tulisan ”Allah alone is the victor” tampak menyolok. Namun, sebaris tulisan di pojok ruangan, rasanya lebih bermakna ketika menggambarkan suasana kerendahan hati di sini, “..speak few words and you will leave in peace..”.

Ada 12 patung singa di Court of the Lions sebagai penanda pengunjung telah berada di area yang sering dianggap sebagai yang paling orisinil dan paling cantik di Nasrid Palace. Dan tak bisa dipungkiri, keindahan itu terutama dibawa oleh Cupola (langit-langit berbentuk kubah) dari Hall of Two Sisters, ruangan di dalam Court of the Lions. Karena bentuknya seperti sarang lebah madu, cupola ini lebih tenar sebagai Cupola Lebah Madu. Detilnya luar biasa, terdiri dari lebih 5.000 keping kayu yang disusun bergelantungan nan harmonis dengan sisi oktagonal. Begitu indah, tampak bersinar, apalagi saat mendapat bias cahaya dari jendela kembar di tiap sisinya. Tak heran Ibn Zamrak, seorang ilmuwan Islam abad ke-16 menggambarkannya sebagai tempat dimana jiwa-jiwa akan luruh dalam khayalan.

Di sini pula, konon legenda akan cinta terlarang yang bergelora bersemi. Antara bangsawan dari keluarga Abencerrajes dengan permaisuri (sultana). Dan sultan yang cemburu (tidak jelas Sultan siapa), lalu menghukum mati 63 ksatria dari keluarga Abencerrajes, tanpa peduli siapa sebenarnya yang berselingkuh. Darah para terhukum lalu dialirkan ke luar lewat pancuran air dari mulut 12 singa menuju River Darro. Naries bilang, ia sedikit bergidik membayangkannya: kisah seram di balik keindahan Nasrid Palace.

Kami menyusuri ruang demi ruang sambil mendengar narasi yang diceritakan secara menarik. Lalu di suatu pojok, kulihat potret diri Washington Irving. Siapa pria ini dan mengapa hanya dia orang asing yang diberi ruang khusus di sini? Tenyata, ia adalah penulis besar Amerika yang pernah tinggal di Alhambra pada abad ke-19.

Di sini, ia menulis dan menyingkap keindahan Alhambra ke seluruh dunia lewat bukunya Tales of the Alhambra (1832) yang berisi skesta, esai dan cerita pendek tentang Alhambra. Ia juga yang menulis kisah haru biru tentang penaklukan Granada di abad 15, dalam Chronicle of The Conquest of Granada (1829), sebuah buku yang begitu runtut dan detil bercerita tentang drama jatuhnya bangsa Moorish, penguasa Iberia dari Morroco (1478-1492). Suatu peristiwa besar yang mengubah wajah kebudayaan Spanyol dan Portugal menjadi seperti sekarang ini. Tapi, lalu aku bertanya-tanya lebih lanjut, dimanakah jejak nyata pengaruh Roma selain pada berubahnya fungsi ruangan dan detil di beberapa sudut bangunan?

Dan ternyata jawabannya begitu jelas: pada Charles V Palace, monumen terbesar di kompleks Alhambra, dan jadi peninggalan Roma terutuh di Iberia. Dibangun tepat bersebelahan dengan Nasrid Palace, tidak jauh dengan Benteng Alcazaba, setelah penaklukan oleh arsitek Renaissance Pedro Machuca, seorang Itali yang menjadi teman Michelangelo dan Raphael.

Sekilas bangunan ini mengingatkanku pada Colloseum di Roma. Berbentuk lingkaran, bolong di tengah-tengah dengan tiang-tiang bulat tinggi menjulang sebagai penopang. Begitu berbeda. Ada kesan bangunan ini sangat mendominasi, tapi sekaligus ia terasing karena tidak selaras dengan sekelilingnya. Menurut cerita, bangunan ini tak pernah selesai dibangun (atap sekarang adalah renovasi abad 20), karena pemberontakan yang terus berjalan memaksa dana pembangunan dialihkan untuk biaya perang. Tapi konon, ada alasan lain mengapa bangunan ini tak selesai, yakni karena si arsitek “tak tega” untuk mencemari lebih jauh arsitektur kompleks Alhambra yang sudah pasti bergenre beda dengan Roma.

Generalife sudah menunggu saat kami keluar dari Charles V Palace. Taman di utara Alhambra ini adalah tempat beristirahat keluarga kerajaan. Menyusuri promenade di tepi deretan pohon-pohon cemara (cypress) yang tersusun rapi, yang oleh brosur dikatakan sebagai “tiruan sempurna seperti adanya“, seakan kami sedang berjalan-jalan di antara lalu lalang para putri sultan di tempat tetirahnya. Taman yang begitu indah dan hijau, serta jadi penyegar di antara bangunan-bangunan berwarna coklat di kompleks Alhambra. Kami duduk di bangkunya, melihat kota dari kejauhan. Ada bangunan putih di ujung taman. Itulah pavilion sultan yang dilengkapi ruang para putri.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 14.30. Itu berarti kami mesti keluar kompleks. Jam kunjungan pagi sudah habis. Dan target berikutnya bukan tempat wisata, melainkan tempat makan. Apalah artinya berwisata jika perut lapar? Tak jauh dari pintu keluar, ada restoran yang menyajikan menu paella (nasi khas Spanyol) dan pollo y verduras (ayam dan sayuran) yang tampaknya lezat. Dan jangan lupa, tapas (gorengan dari cumi atau kepiting) di Granada kata orang adalah yang terenak di seluruh Spanyol. Setelah perut kenyang (aku makan dua potong besar paha ayam dan sepiring paella, ditambah setengah porsi kentang goreng yang kuambil dari piring Naries) kami memasang target berikutnya: Desa Putih Albayzin.

Ke Granada tanpa ke Albayzin seperti ke Paris tanpa ke Louvre. Desa Moorish ini lebih tua dari Alhambra. Ia menyimpan kisah, kesetiaan dan semangat zaman yang telah berlangsung berabad-abad. Paling tidak pada ketaatan untuk tetap membiarkan semua rumah berwarna putih dan tidak merubah bentuk bangunan. Aku sudah memandangnya dari Nasrid Palace tadi, dan terkesima: ia begitu unik, rumah-rumah begitu rapat dan jalan-jalannya begitu sempit, berelief naik turun. Dan ia sejak 1984, sama seperti Alhambra, telah dimasukkan sebagai UNESCO’s World Heritage Site.

Menyusuri lorong-lorong sempit yang berliku, kami seperti sedang mencari jalan keluar di labirin putih. Walau berbekal peta, tetap saja tak mudah karena nama jalan kadang hanya terpasang kecil di dinding rumah. Setelah beberapa kali salah jalan, dan hampir satu jam menikmati lorong eksotik yang memanjakan mata fotografer, penuh dengan bunga di jendela berteralis dan pintu abad pertengahan, akhirnya kami sampai di depan Gereja San Nicolas. Gereja ini masih satu kompleks dengan Gereja San Salvador yang dibangun di atas reruntuhan masjid bangsa Moorish waktu penaklukan.

Dari situ, terhampar pemandangan yang menakjubkan. Seperti kalender yang kulihat di toko buku Valencia, yang membayangiku selama ini. Sierra Nevada, yang berarti pegunungan hamparan salju, pegunungan tertinggi di Semenanjung Iberia dengan puncak Mulhacen (nama dari Sultan kedua terakhir Granada) setinggi 3.748 m dpal tampak menakjubkan dengan salju putihnya, menjadi latar alami bagi semua monumen-monumen penting Alhambra. Generalife di sebelah kiri berwarna putih. Deretan cemara di tengah-tengah, di atas River Darro yang menghubungkan Generalife dan Nasrid Palace. Lalu Charles V Palace di ujung kanan. Luar biasa, paduan yang nyaris tanpa cela, dengan komposisi yang mendekati simetris.

Aku dan Naries tertegun, tak puas-puas menikmati pemandangan ini. Orang-orang ramai di sekitar kami. Ada yang berjualan pernak-pernik di kain terhampar di tanah, ada yang sibuk berfoto, ada yang bernyanyi riang. Suasana sore ini begitu nyaman, lalu kubisikan di telinga Naries,  “Alhambra indah sekali ya…“

Granada, 1-3/03/2010

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo 12/12/2010

2 thoughts on “Alhambra indah sekali…

  1. gueadi says:

    Pertamaxxx,

    Salam,
    Kid Blog

  2. haitami says:

    biasanya ada photo – photonya Mas😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: