Setahun…

Sudah setahun kami menjalani. Hari berlari cepat, waktu berjalan lambat.

Sesudah pernikahan – di tanggal ini tahun lalu – tiga bulan aku dan Naries bersama-sama di Spanyol. Kata beberapa orang, itu bulan madu yang luar biasa. Tiga bulan penuh di Spanyol, Eropa! Tentu saja, kami  benar-benar bersyukur. Waktunya pas, kesempatan seperti itu pun jarang didapat. Tak mudah merencanakan dan mewujudkannya. Tapi hidup memang baik pada kami.

Semua indah pada waktu-Nya.

Mengagumi Ninot – menyusuri Valencia dan makan Paella di lorong pusat kota saat Fallas; kehujanan salju di tengah jalan antara Madrid – Castellon; menikmati cantiknya Park Guell-nya Gaudi di Barcelona; mendaki reruntuhan benteng bangsa Moor yang eksotis di  Morrela – kota tua di puncak bukit; terkesima memandang Alhambra dan Sierra Nevada dari Gereja San Nicholas Granada; terhenyak melihat adu banteng saat festival Maria Magdalena.

Tiga bulan bukan hanya itu.

Kami tinggal di Castellon de La Plana, 63 km di utara Valencia. Kota kecil di pantai timur Spanyol. Banyak hal remeh di sana yang membuatku merindukan masa itu.

Hobi kami membeli Naranja – jeruk lokal berwarna oranye. Januari dan Februari adalah musim panen Naranja, dan pesisir Mediterrania Valencia seperti surga jeruk. Ladang-ladang luas menguning, pinggir-pinggir jalan yang memanjang, penuh pohon jeruk dengan buah bergantung. Aku selalu ingin memetiknya – satu saja – tapi tak pernah berani. Penakut di negeri orang karena tak mau masuk kantor polisi. Sekilo di Carrefour Express juga kurang dari 1 euro, tak mahal.

Aku menyukai masakan Naries, dan kebiasaannya memasak Kitimoto – istilah teman Tanzania buat pork (Spanyol: carne de cerdo) – yang dibumbui lalu di-oven dengan kentang dan sayuran seperti paprika dan brokoli. Bagiku – subjektif tentu saja – itu makanan terenak di dunia. Hampir tiap hari, tiap siang ia memasakkanku. Pas saat aku pulang dari UJI, kampusku, kubuka pintu pasti ia sedang di dapur, menunggui bunyi kriiiing dari alarm oven tanda masakan sudah siap. Setelah itu, kami makan bersama di meja yang kecil, di kamarku yang juga kecil. Selalu, porsiku dua kali, eh kadang tiga kali lipat banyaknya dari porsinya.

”..di kampus kan mikir, jadi otaknya juga perlu dikasi makan, ga cuma perut”. Ah, memang alasan suami tukang makan yang sangat suka masakan istrinya.

Juga seringnya kami bermain pingpong di gedung olahraga kampus. Berdua, single. Di antara banyak pertandingan aku hanya menang sekali. Tiap kalah, aku berkilah sengaja mengalah.

Dan juga kebiasaan kami menyusuri pantai Mediterrania saat sore di akhir pekan. Bergandengan tangan, merasakan angin dari lautan. Di Grau Castellon atau di Platja-nya Bennicassim. Lalu singgah minum orchata di Cafe Pinguin. Kadang kami main gendong-gendongan di pantai. Ia yang aku gendong. Bisa semaput Naries kalau menggendongku. ”Tak gendong, kemana-mana…”, kata Mbah Surip.

Dan juga kebiasaan kami melongok ke toko 2 euro di depan Gereja tiap minggu. Semua barang di sana seharga 2 euro, apa saja. Di hari Minggu selain toko kelontong milik orang Cina, hanya toko itu yang buka.

Tiga bulan yang menyenangkan. Tidak kurang walau bulan pertama kami bergantian terkena flu yang parah. Tidak luntur walau sejatinya aku masih tiap hari ke kampus dan berkutat dengan mata kuliah dan tugas. Tetap luar biasa walau kami tak sempat ke Salamanca atau ke Pegunungan Pyrennes di perbatasan Perancis. Spanyol memang tempat wisata idaman, negara yang menjadi paling terkunjungi oleh turis nomor tiga di dunia dan nomor dia di Eropa setelah Perancis.

Tapi, di atas semua itu ada yang sebenarnya paling indah.

Kebersamaan kami.

Tiga bulan yang tiap detiknya kami selalu bersama. Saling mengenali karakter masing-masing secara lebih intim. Beradaptasi satu sama lain, lewat berbagai kegiatan yang dilewati bersama dengan teman-teman ataupun dalam kamar yang kecil sekali. Yang tidak kedap suara sehingga suara temanku yang menelpon istrinya terdengar jelas dari kamar sebelah. Juga kalau ada yang mandi dan memasak di dapur. Dalam kamarku itu, kami bertengkar kecil, berdamai lama. Cerita tentang film yang baru saja kami tonton – aku ingat, film animasi Up (2009) yang meraih dua Oscar 2010 bahkan sudah lima kali ditontonnya. ”Russel dan Dug lucu…” ungkapnya. Film ini gambarnya colorful, temanya mengharukan, menyentuh sekaligus lucu. Beberapa kali ia sampai tertawa di sampingku yang sedang mengerjakan tugas. Dan aku tergoda menonton adegannya, dan lalu kami tertawa bersama.

Itulah, dalam kebersamaan itu kami menjalani banyak hal, berkompromi banyak hal, saling menularkan kebiasaan.

Hanya saja pesta pasti berakhir.

Selepas tiga bulan, kami terpisah di bandara Frankfurt. Bandara tersibuk di Jerman. Masa cuti Naries habis dan ia balik ke Indonesia untuk berkerja lagi. Sementara aku akan tinggal Jerman, pindah universitas. Tepat pada hari pergeseran waktu musim semi di Eropa: 1 jam lebih maju dari sebelumnya. Kami yang tidak tahu bahwa waktu dipercepat menjadi kaget setiba di bandara. Perpisahan pun menjadi tiba-tiba: aku mesti bergegas mengejar kereta balikku yang sejam lebih cepat. Sehingga untuk mengantarnya ke ruang tunggu pun tidak bisa. Perpisahan yang terencana jadi mendadak. Tapi juga jadi tidak melankolis. Belakangan aku tahu, Naries menangis di ruang tunggu.

Sudah sembilan bulan selepas hari itu. Sekarang aku tinggal di Münster – barat Jerman.

Kebersamaan kami tidak lagi fisik.

Kamarku sekarang yang jauh lebih luas terasa semakin luas karena tidak ada Naries lagi yang menemaniku. Di sini tak ada pantai. Aku tidak pernah lagi makan Kitimoto – tak ada oven. Lalu seakan-akan kota ini kaku, tak sehidup tiga bulan di Castellon, tak eksotis. Ada Naranja di Minimarket Edeka, lebih mahal dan tak segar. Tidak ada orchata dan Cafe Pinguin. Ingatan peristiwaku pun pendek di sini: semua mengalir seperti adanya, terlepas begitu saja.  Hanya salju yang menyadarkanku, ada sisi lain kota ini yang juga memukau.

Betapa berharganya tiga bulan itu. Terasa biru. Jika memandang pasangan yang bergandengan tangan menyusuri jalan bersalju dari jendela kamar. Melihat pepohonan menjadi putih, rumah-rumah menjadi putih waktu Natal. Dan Weihnachmarkt – pasar Natal – yang ramai dengan makanan, minuman dan pernak-pernik Natal merangkap ingatanku padanya, berharap ia bersamaku.

Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Kami merayakannya dengan sederhana. Saling memberi selamat dari jauh. Berdoa bersama untuk menjadi pasangan yang terbaik bagi yang lain. Tanpa bisa memeluk atau merangkul hangat. Tidak apa-apa, kami masih punya banyak tahun-tahun mendatang untuk merayakannya. Tidak lagi di flat yang kecil, tapi di rumah yang hangat. Dan tidak lagi berdua. Hari-hari akan dimeriahkan oleh buah hati yang akan meramaikan keluarga kecil kami. Kami saling menyayangi, mendukung dan percaya, jadi orang tua yang hebat.

Akan ada kebersamaan lagi. Tidak hanya tiga bulan, tidak hanya di Spanyol.

Selamat hari jadi.

Münster, 02/01/2011

2 thoughts on “Setahun…

  1. dwi says:

    suka dengan cerita2 mas handi yang diselipi romantisme dengan istri🙂 Salam kenal ya buat mbak Naries🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: