Pantai yang punya dua matahari

Hanya nama besar pantai pasir putih, sungai hijau dan goa alam? Di selatan Jawa, ujung Ciamis, di Pananjung-Pangandaran, ancaman tsunami beradu dengan peluang wisata yang naik turun. Sementara, paduan budaya malu-malu Jawa dan Sunda menunggu di wilayah yang berarti “tanah di mana orang-orang akan datang mencari penghidupan”

Pangandaran, 3-6 April 2011

--

Menelusuri goa-goa Pangandaran

Berkunjung ke Pangandaran? Segera yang terbayang adalah pantai. Destinasi wisata andalan Kabupaten Ciamis yang terletak 222 km menuju tenggara Bandung ini memang dikenal dengan pantai landai yang indah memanjang dan ombar yang berdebur tiada henti di Laut Selatan Jawa. Kawasan wisata ini menyediakan segala keasyikan wisata air seperti berenang di pantai, bermain ombak dan luncuran yang pasti menyenangkan, naik kapal mengelilingi pesisir Cagar Alam Pananjung-Pangandaran, menyewa banana dan termasuk menikmati pesona matahari terbit dan matahari terbenam di kawasan pantai yang berdekatan. Yang terakhir ini, dimungkinkan karena Pangandaran mempunyai tanjung menyerupai buah menggantung, sehingga terbentuk dua pantai, dengan arah hadap yang berbeda:   Pantai Timur dengan pemandangan matahari terbitnya, dan Pantai Barat dengan matahari tenggelamnya. Tapi apakah hanya itu yang dimiliki Pangandaran, tanah yang sering disebut Tatar Sunda Selatan yang paling barat?

***

Angin pantai selatan Jawa tidak terlalu kencang di pagi akhir Maret 2011 ini. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh. Hujan yang turun tiba-tiba membuat saya bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Lalu berlari untuk berteduh di pondok makan di ujung Pantai Barat itu. Tidak jauh, sekitar 5 meter di hadapan saya ada gerbang Cagar Alam Pananjung.

Di dalamnyalah tujuan hari ini: goa-goa alam Pananjung. Kemarin Green Canyon di Sungai Cijulang (30 km dari Pangandaran) sudah membius saya dengan lembah sungai hijau toskanya yang eksotis. Kini, rasanya pas juga keluyuran di goa-goa alam yang kabarnya sering dijadikan lokasi syuting film, yang kaya kisah religious dan juga mistis, serta memiliki bentukan alam yang aneh-aneh.

Pada tahun 1922, Residen Priangan  itu waktu itu, Mister Everen, menghendaki adanya suatu wilayah perburuan. Maka tanjung di selatan Ciamis lalu ditanami berbagai jenis tumbuhan dan dimasukkan berbagai jenis hewan seperti rusa, banteng, monyet, burung. Sebagai hasilnya, saat ini kawasan tersebut menjadi sangat hijau dengan pepohonan yang lebat, dan dihuni oleh berbagai hewan seperti rusa, lutung, monyet dan banteng (walau yang terakhir ini sudah beberapa lama tidak terlihat lagi keberadaannya).Selanjutnya, melihat keragaman flora dan fauna di dalamnya, apalagi sejak ditemukan Bunga Raflesia Padma, maka pada tahun 1961 daerah tersebut menjadi Cagar Alam Pananjung dengan luas 530 hektar. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Alam seluas 37.70 hektar.

Udara membiaskan cahaya matahari yang dibalut bekas hujan. Suara monyet ekor panjang yang sedang bermain di pantai Cagar Alam Pananjung terasa dominan. Ditemani seorang pemandu lokal, Sudi, saya memulai perjalanan ke dalam cagar alam melalui Taman Wisata. Sebenarnya saya lebih suka menjelajah tanpa pemandu, lebih menantang. Apalagi letak goa-goa tersebut juga dipetakan dalam denah sederhana di pintu masuk. Tapi kali ini saya berpikir bahwa Pangandaran dan goa-goa alamnya pasti akan berbeda jika diceritakan oleh penduduk lokal, yang tinggal dan berinteraksi dengan segala yang ada di situ. Kekhasan suatu daerah akan terungkap lewat cerita-cerita yang berbeda dengan yang beredar, jauh lebih kaya (baca: penuh bumbu cerita), dan menarik. Sudi meminta 60 puluh ribu rupiah untuk jasanya mengantar pengunjung berkeliling. “Saya pemandu bersertifikat, dari Dinas Arkeologi waktu mengikuti pelatihan guide pariwisata Pangandaran Juni tahun lalu“, katanya meyakinkan saya.

Sudi adalah pemuda Sunda berusia sekitar 25 tahun. Berbadan tegap, agak pendek dan berkulit gelap terkena matahari. Ia tinggal di Pantai Timur Pangandaran, berdarah Jawa dari neneknya. Hampir 7 tahun ia telah menjadi pemandu di Cagar Alam Pananjung ini. Darinya saya tahu bahwa mulanya pesisir ini merupakan wilayah Kerajaan Galuh, kemudian Kerajaan Pananjung, dan Karesidanan Priangan sebelum menjadi wilayah Kabupaten Ciamis seperti sekarang ini. Nama aslinya adalah Pananjung, berasal dari kata bahasa Sunda Pangnanjung-nanjungna, berarti wilayah tanjung paling subur atau paling makmur. Agaknya, itu terkait dengan kondisi geografis Pananjung yang berombak kecil sehingga memudahkan nelayan melaut dan mendapat banyak tangkapan. Dan karena itulah, maka banyak pendatang yang mencari penghidupan, sehingga lambat laun daerah ini lebih dikenal sebagai Pangandaran, yang bisa berarti tempat menyimpan perahu (andar – bahasa Sunda) yang harafiahnya juga bisa menjadi padanan dari dua kata: pangan yang berarti makanan dan daran yang berarti pendatang.

Bersama Sudi, saya masuk ke Cagar Alam dari pintu barat. Mungkin karena Sudi telah mendapat pelatihan arkeologi maka di situs Batu Kalde, yang merupakan situs peninggalan sejarah, ia mampu bercerita dengan baik. Situs batu Kalde merupakan peninggalan Hindu di zaman Kerajaan Pananjung yang digunakan mula-mula untuk pemujaan bagi seorang Sapi Gumarang, yang dijelmakan dengan batu yang menyerupai anak sapi sebagai monumen utama, dikelilingi batu-batu agak kecil di sekelilingnya yang seakan-akan ditaruh untuk menjaga batu utama itu. Tampak terawat, bersih dari dedaunan pohon-pohon yang menaunginya. Agaknya selalu disapu. Berpagar sederhana, cuma terbuat dari dahan pohon jati. Sapi Gumarang, yang konon adalah seorang utusan bajak laut pernah merusak seluruh lahan pertanian karena permintaannya untuk meminta padi ditolak oleh Raja Anggalarang yang memerintah pada waktu itu, namun pada akhirnya mengabdi pada raja dengan ikut memberantas hama yang dibuatnya sendiri itu.

Sudi mengatakan bahwa, masyarakat Pananjung masih memelihara Situs Batu Kalde untuk mengenang sifat ksatria Sapi Gumarang dan sekaligus mengingat asal-usul mereka yang berkebudayaan Hindu agraris. Walau tentu saja, sesungguhnya yang disebut pemeliharaan tersebut hanya berupa kegiatan membersihkan situs dan akses menuju ke sana. Sudi sendiri, rupanya juga merupakan karyawan honorer yang khusus digaji untuk membersihkan situs ini.

Yang unik, di sekitar situs Batu Kalde terdapat pohon banir (akar papan) berdiameter 2 meteran yang sudah berumur ratusan tahun dan akar-akarnya tampak seperti roket sehingga oleh Sudi, pohon itu disebut pohon roket. Selain itu juga terdapat sebuah pohon yang daun-daunnya tidak sama bentuk dan coraknya antar satu dan lainnya. Dalam satu cabang, bisa terdapat daun yang berbentuk bintang segi lima, elips, cenderung bulat ataupun segitiga. Sayang sekali saya lupa nama yang disebutkan Sudi, sehingga tidak bisa menelusuri di literatur mengenai keunikan biologis tumbuhan ini.

Selepas itu saya masuk ke Goa Parat atau Keramat. Untuk masuk ke dalamnya saya harus membungkuk karena pintunya sangat rendah. Saya kaget karena di depan pintu masuk ini ada dua nisan yang cukup terpelihara. Apakah ini yang membuatnya disebut Goa Keramat? “Tidak. Di dalam nisan tiruan itu tidak ada jasad manusia sebenarnya. Ini makhom bukan makam,” kata Sudi.”Hanya untuk mengingat Syekh Ahmad dan Muhammad yang dulu menyebarkan agama Islam di Pangandaran, dan konon “moksa“ saat bersemedi di goa ini.

Yang unik dari Goa Keramat adalah bentukan alamnya yang beranekarupa. Ada stalagmit yang menyerupai unta dan kemudian agak ke dalam, kita akan menjumpai stalagmit yang menyerupai, maaf, alat kelamin pria dan wanita. Sudi bercerita bahwa bagi yang belum mendapat pasangan, bisa memegang stalagtit yang berbentuk kelamin lawan jenis sambil memohon kepada Yang Kuasa. Konon, akan terkabul. “Namanya saja kepercayaan lokal, Mas,“ katanya,“yang gampang percaya biasanya mempraktekkan, yang tidak hanya berfoto-foto saja“.

Kemudian, ada batu cekung, seperti wajan yang berisi air. Ada tetesan air yang katanya tidak pernah berhenti menetes bahkan di musim kemarau panjang, dan apabila diusapkan ke muka bisa membuat tampak selalu awet muda. Hmm…Kata Sudi, mitosnya inilah “kaca benggala” Mak Lampir, sehingga syuting film Mak Lampir pernah dilakukan di sini.

Selain itu, di dalam Goa Parat ini juga terdapat batu berbentuk paha ayam dan landak. Ya, sekeluarga landak yang jadi maskot goa. Sudi bilang landak itu pemberian turis Afrika beberapa tahun lalu, dan saat saya datang sudah ada empat ekor, Joni and Lince sebagai induk dan Ariel dan Luna nama kedua anaknya. Kok Ariel dan Luna? “Lahirnya pas kejadian yang heboh itu”, Sudi cengar-cengir menjelaskan. Di dekat pintu keluar, yang terletak di pantai timur Taman Wisata, saya sempatkan melihat lagi stalagmit yang berbentuk gajah betina dan anaknya. Wah, banyak sekali bentuk-bentuk unik di Goa Parat ini.

Dari situ, sembari berjalan menuju goa berikutnya, yakni Goa Miring, Sudi bercerita tentang legenda seorang ibu yang sangat tamak akan kekayaan duniawi sehingga tega mengorbankan anaknya ke makhluk halus. Pengorbanannya dilakukan di Goa Miring itu. Karena itu, terdapat batu yang mirip tulang punggung manusia, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dan pocong yang sedang menatap keduanya. Batu-batu itu terbentuk konon akibat kutukan. Sudi memperlihatkan batu-batu tersebut dengan menyorotkan senternya ke bagian atas goa. Entah saya yang kurang imajinatif atau apa, tak juga batu-batu yang disorot Sudi itu membentuk serupa ibu-anak dan pocong. “Begitulah, hendaknya menjadi pengingat kita bahwa meminta itu hendaknya hanya kepada Yang Kuasa, ”kembali Sudi menutup ceritanya dengan pesan moral.

Ketika kami memasuki goa berikutnya, Goa Lawang, yang pernah dijadikan lokasi syuting film silat Brahma Kumbara, dan setelah mengagumi batu berbentuk siput dan ular, mendadak senter yang dipegang Sudi mati. Padahal di dalam goa itu gelap sekali. Tiba-tiba ada bunyi benda jatuh, dan lalu desisan pelan.

“Diam di situ, Pak!”, suara Sudi tegang. Rupanya, ada ular kecoklatan jatuh dari langit-langit goa, tepat di depan kami. Seakan menghadang perjalanan. Senter saya yang tidak mati, masih sempat menyoroti ular yang kepalanya sedikit mengembang dan lebih besar dari badannya yang dalam posisi menyerang. Samar-samar saya dengar Sudi mengucapkan beberapa kata, merapal.

Entah karena rapalan atau hal lain, pelan-pelan si ular mengubah posenya dan Sudi bilang kami berdua sudah bisa lewat. Maka pelan kami berjalan sedikit di pinggir, dan tanpa diminta Sudi mulai bercerita bahwa memang penunggu Goa Lawang adalah seekor ular putih jejadian yang berkepala manusia. Waduh…Tapi, katanya dia tidak kuatir karena kami tidak melakukan sesuatu hal yang jelek. Saya sendiri, lebih percaya bahwa ular itu nyata, dia sedang berburu, mungkin berburu kelelawar, dan dia jatuh hanya karena merasakan kehadiran kami di goa yang gelap itu.

Saat keluar, tiba-tiba hujan deras. Kami terjebak di pintu keluar Goa Lawang. Suara air yang menerpa daun membuat suasana kaya dengan nuansa alam. Saat itu sekitar jam tiga sore. Masih ada rencana ke Goa Panggung. Goa yang dipercaya pernah menjadi tempat pertapaan Embah Jaga Lautan yang menjadi penghubung masyarakat Pangandaran dengan Nyai Loro Kidul, Penguasa Laut Selatan.  Tapi sayang, hujan tak kunjung reda, sementara waktu terus mendekati sore. Sudi pun pamitan pulang ke rumahnya.

***

Akhirnya hujan berhenti. Karena alasan waktu, saya memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan, tanpa ke beberapa goa lain selain mampir sebentar di Goa Panggung. Menyusuri pantai taman wisata di sebelah barat, dan pasir pantai yang basah bekas hujan, monyet-monyet ekor panjang berkeliaran mencari makan. Beberapa bule sibuk mengumpani mereka dengan kacang. Di sisi tepi hutan, beberapa ekor rusa merumput, tanpa takut-takut dengan pengunjung. Anak-anak bermain gembira, penjual layanan papan luncur sabar menunggu penyewa, nelayan mulai melaut, dan bahkan penjual makanan bersliweran menunggu senja. Pangandaran senja hari habis hujan, berawan kelabu yang melankolis, menunjukkan eksotismenya yang dulu pernah memikat pembesar Belanda di bumi Priangan.

Telah menelusuri berbagai goa yang penuh legenda di Pananjung-Pangandaran ini tak urung membuat saya berpikir, betapa terpatrinya cerita lokal di sebagian benak masyarakat Pangandaran. Secara nyata, ini menandakan keterikatan mereka dengan sejarah-budaya leluhur sangat kuat. Selain pesona wisata pantainya yang memikat, Pangandaran juga memiliki keunikan lokal lewat goa-goa alam. Mudah-mudahan hal itu tidak lalu menjadi hanya sebatas kisah mistis dan legenda seperti film-film seram dan laga yang sering syuting di situ.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu, 21/08/2011



 

3 thoughts on “Pantai yang punya dua matahari

  1. Inan says:

    Indah sekali pantai Pangandaran di Ciamis ini.

  2. ceritanya menarik banget, saya coba search gambar di gooogle..ternyata pantai-pantai di wilayah pangandaran keren banget…

  3. lamanday says:

    jadi, maenlah ke sana..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: