Senja di Esplanade Sungai Sarawak

Subuh yang berkabut mengepung Entikong, Kalimantan Barat, pada pengujung April lalu. Meski hari masih prematur, suasana di gerbang Pos Pemeriksaan Lintas Batas telah ramai oleh ratusan orang yang hendak masuk ke Sarawak, Malaysia. Mereka sudah antre di pintu masuk, yang biasanya baru dibuka pada pukul 05.15. Kebanyakan adalah pekerja perkebunan kelapa sawit.

Saya juga antre. Bukan untuk mencari kerja, tapi hendak melancong ke Kuching, ibu kota Sarawak. “Ape you nak buat di Kuching? Berape lame?” tanya petugas imigrasi perbatasan Malaysia saat memeriksa paspor saya. Setelah saya menjawab hanya untuk berwisata, paspor langsung dicap visa social visit selama 14 hari. Separuh lebih singkat dari visa sejenis dari Singapura.

Rampung dengan urusan imigrasi, saya melanjutkan perjalanan dengan bus Eva, yang bernomor polisi Malaysia. Bus berpenyejuk udara yang membawa saya dari Pontianak, Kalimantan Barat, sejak semalam itu melaju di atas jalan beraspal mulus. Lalu lintas masih sepi. Hanya satu-dua mobil yang lewat. Sepeda motor tidak terlihat sama sekali.

Entikong-Kuching akan ditempuh sekitar dua jam. Deretan pepohonan dengan latar belakang perbukitan mendominasi awal perjalanan. Sinar matahari pagi mulai menyirami kanopi pepohonan yang masih bersaput kabut. Indah, khas pemandangan hutan hujan tropis.

 

*****

Awalnya, Sarawak adalah wilayah jajahan Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-15, saat pengaruh Majapahit pudar, Islam masuk ke sana lewat Kerajaan Brunei, yang kembali berkuasa. Dan masuk pula pengaruh Melayu dari pesisir timur Sumatera.

Atas pengaruh Inggris, Kesultanan Brunei kemudian menyerahkan Kota Kuching kepada seorang eks tentara Inggris, James Brooke. Ini adalah hadiah karena Brooke berjasa memadamkan pemberontakan penduduk lokal di Sarawak. Brooke kemudian diangkat menjadi Gubernur Sarawak. Bahkan, pada 1841, ia diberi wewenang menjadi penguasa penuh Sarawak dengan mendirikan dinasti, yang oleh bangsa Melayu disebut sebagai Dinasti Rajah Putih (1841-1946)–yang berarti “raja berkulit putih”.

Sungai Sarawak yang membelah Kuching merupakan urat nadi perkembangan kota itu serta menjadi pusat kegiatan dan perdagangan masyarakat. Di Kuching, para pedagang Cina banyak berdatangan, berbaur dengan penduduk asli Borneo, yakni Dayak di pedalaman (Bidayuh, Iban, Orang Ulu) yang masih berkerabat erat dengan Dayak di Kalimantan Barat, serta Melayu dari kesultanan-kesultanan di daerah Semenanjung Malaysia.

Nama Kota Kuching diperkirakan berasal dari pohon mata kucing yang banyak tumbuh di pinggir Sungai Sarawak. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kata “kuching” berasal dari cochin, kosakata India, yang berarti pelabuhan. Itu merujuk pada daerah yang mulai berkembang saat itu. Perantau India diduga datang paling awal dan ikut mendirikan kota ini.

Tapi, dari mana pun asalnya dan tanpa perlu ada kaitan nama Kuching dengan hewan kucing, saat ini pemerintah Sarawak dengan pintar memanfaatkan nama ibu kotanya itu menjadi brand name wisata. Mereka menggaungkan slogan yang menyebutkan bahwa Kuching adalah city of cats atau the world’s capital of cats. Juga dengan mendirikan Museum Kucing, memasang patung kucing di berbagai sudut kota, serta membuat berbagai ragam suvenir berbentuk atau bergambar kucing.

Kuching adalah kota yang lengang. Kesan kedua, kota ini sangat menghargai pluralisme. Tulisan Cina dipampang bersanding dengan Inggris dan Melayu hampir di mana-mana, termasuk untuk nama toko.

 

*****

Sesampai di terminal yang tidak besar, hanya setengah lapangan sepak bola, saya dijemput Peter House, anak pemilik homestay yang akan saya tinggali di daerah Taman Timberland. Dalam perjalanan, saya bertanya tentang penyebab sedikitnya sepeda motor di jalan. Ia menjawab sambil tertawa. Katanya, Pemerintah Kota Sarawak “agak gila” dengan memberikan pajak tahunan yang sama antara motosikal (sepeda motor) dan kereta (mobil). Itu membuat penduduk enggan memiliki sepeda motor dan lebih memilih mobil.

Saya akan tinggal di homestay dengan tarif 40 ringgit (sekitar Rp 120 ribu) semalam. Rumah penginapan Peter telah menjadi favorit bagi orang-orang Pontianak yang akan berwisata di Kuching ataupun berobat di sejumlah rumah sakit yang banyak tersebar di sana, seperti Timberland Hospital, Normah Medical Specialist Centre, dan Sarawak General Hospital.

Setelah sarapan di sebuah warung di dekat penginapan, hari itu saya berniat menjelajahi kota. Peter mengusulkan dua lokasi: Damai di Santubong dan Kuching Waterfront di pusat kota (bandar raya, dalam bahasa Malaysia).

Damai, berjarak sekitar 35 kilometer arah utara dari pusat kota, merupakan tujuan wisata terpopuler saat ini di Sarawak. Saya ke sana dengan menggunakan taksi. Sopirnya, Lua, seorang Cina Hakka (Khek), subetnis yang juga banyak bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat, berbicara dalam bahasa Melayu berlogat Cina.

Dalam perjalanan, Gunung Santubong tampak menjulang. Gunung setinggi 810 meter di atas permukaan laut itu terlihat dominan karena merupakan satu-satunya tempat tertinggi di daerah utara Sarawak yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Nama Santubong, gunung yang merupakan tempat suci suku Dayak Iban di masa lalu, berasal dari kata si-antu-bong, yang berarti kapal para roh (bong = kapal, antu = roh). Ia akan membawa roh dari orang mati ke dunia lain.

Setelah mengitari Santubong, Lua membawa saya masuk ke Damai Resort. Kawasan wisata Damai itu sudah dimiliki dan dikelola oleh swasta. Agar bisa masuk, pengunjung perlu merogoh kocek 3 ringgit (Rp 9.000) dengan imbalan bonus teh botol Sarawak. Resor itu merupakan tempat favorit turis-turis bule menginap. Tersedia homestay dengan harga bervariasi, dari 120 hingga 300 ringgit (Rp 350–900 ribu).

Jika para pengunjung ingin berjemur di pantai dan mandi di laut, mereka hanya perlu berjalan sebentar. Dan, bila mereka ingin mandi air tawar, tersedia kolam renang. Tampak beberapa pengunjung berenang agak ke tengah laut, sebagian berjemur di bawah pohon kelapa, sebagian lagi bermain banana boat. Bagi pengunjung resor yang ingin beraktivitas di luar ruang, tersedia fasilitas jungle trekking ke Gunung Santubong. Tersedia rute-rute dan pemandu.

Saya hanya duduk di bawah pohon kelapa, menikmati embusan angin. Bagi saya, suasana dan pantai di sana masih kalah eksotis dibanding pantai di Gili Trawangan, Lombok. Pasirnya juga kalah putih. Airnya tak begitu biru. Tapi yang membuat saja kagum adalah penataan ruang yang bagus dan fasilitasnya lengkap. Yang dijual bukan hanya pesona alam, tapi juga kenyamanan pengunjung.

Itu juga yang ditawarkan Sarawak Cultural Village, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Damai Resort. Di area seluas 17 hektare itu, pengunjung bisa menyaksikan kehidupan tradisional dan keseharian suku-suku yang mendiami Sarawak, seperti Bidayuh, Orang Ulu, Iban, Melayu, dan Cina. Terdapat sekitar 200 orang yang tinggal di wilayah itu. Mereka mengelola tujuh rumah tradisional, bercocok tanam, berpakaian adat, serta mengerjakan kerajinan tangan tradisional yang juga dijual kepada turis. Juga terdapat pertunjukan dan tarian adat yang mereka bawakan. Ya, seperti Taman Mini Indonesia Indah, hanya ini lebih berfokus pada etnik.

 

*****

Sekitar pukul 14.00, Lua mengantar saya ke Kuching Waterfront. Kawasan wisata favorit itu terletak di tepi Sungai Sarawak. Lapangan terbukanya (esplanade) ditata dengan rapi, menghadap ke arah matahari terbenam. Di latar belakangnya tampak astana (istana) yang beraksen Melayu dan Fort Margherita yang bergaya kolonial Inggris.

Astana yang dibangun oleh Charles Brooke (penerus James Brooke) pada 1870 itu adalah bekas kediaman penguasa Rajah Putih, yang kini menjadi kediaman resmi Yang Dipertuan Agung Sarawak. Anak-anak muda yang bermain bola dan keluarga muda dengan anak kecil yang bermain gelembung menghiasi esplanade yang diteduhkan oleh jajaran pohon. Suasana begitu hidup. Jika ingin mengunjungi Astana dan Fort Margherita di seberang sungai, kita dapat menaiki kapal klotok dengan biaya 0,5 ringgit (sekitar Rp 3.000).

Di suatu sudut, saya menjumpai seorang seniman dari suku Iban, dengan tubuh penuh tato, sedang memetik sape (gitar tradisional suku Dayak) dengan merdu. Melodi yang dia nyanyikan lembut mengiringi sore. Tak terasa, memori saya melayang ke suasana pedesaan kampung Dayak yang damai. Jika pengunjung ingin membeli suvenir Sarawak, di kawasan Waterfront inilah tempat yang tepat. Jejeran toko menjual segala jenis cendera mata, dari kaus bermotif Sarawak, tas kucing, gantungan kunci kucing, kain batik Dayak, sampai lada hitam dan teh khas Sarawak.

Berada di kawasan Waterfront, saya kembali merasa iri. Negara bagian yang juga tetangga Pontianak ini bisa “merayakan sungai” dengan pengelolaan sangat baik. Di Indonesia, begitu banyak kota yang dibesarkan dan tumbuh di pinggir sungai, misalnya Banjarmasin, Palembang, Tangerang, dan Pontianak, tapi hampir tak ada yang menjadikannya aset wisata kota nan nyaman dan murah meriah seperti di Kuching Waterfront ini.

Tapi saya malas memikirkannya. Saat ini saya hanya ingin menunggu matahari terbenam berlatar kubah Astana yang tampak megah.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu 27/5/2012

5 thoughts on “Senja di Esplanade Sungai Sarawak

  1. nana says:

    boleh saya tau nama homestay nya si peter, dan alamatnya? krim ke email sya aja ya. thx before

    • lamanday says:

      aduuh, maaf bener nana, no telp si peter saya tidak punya. ingatan saya juga pendek ttg alamatnya, yg saya ingat hanya guesthouse-nya di dekat taman timberland.

  2. nana says:

    kalau boleh, saya juga minta no telp penginapan si peter,juga no tlp taxi nya. email k sya ya. thx before

  3. unique says:

    a good post..
    sangat bermanfaat sekali😀
    Mau menikmati liburan dengan paket wisata unik dari Sumatera Barat, kunjungi kami di TOURS MINANGKABAU
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: