Suatu Siang di Kota Tangan Terlempar

Malam telah turun, kabut yang ditiup angin tampak melayang. Permukaan air Sungai Scheldt yang bergoyang menampakkan pantulan sinar rembulan yang berpedar malu-malu. Di keremangan, duduk seorang raksasa di bawah pohon maple dekat dermaga kecil di pinggir sungai yang terletak di depan sebuah kastil yang tidak terlalu megah. Memiliki leluhur dari Rusia, raksasa yang bernama Druoon Antigoon itu dianugerahi raut muka yang aneh, secara alami berkesan kejam dan pemarah, dengan rahang kotak yang keras dan jidat yang lebar, dan sorot mata kelabu yang penuh rahasia. Kulitnya pucat, kasar dengan bulu yang serabutan. Tangannya besar, penuh otot dan bekas luka sayatan. Di genggamannya ada pedang, yang sepertinya dibuat dengan kasar, bukan seperti pedang para ksatria yang halus dan indah. Pedang itu penuh bercak gelap, dan kemungkinan besar, telah sering digunakan.

Mata si raksasa Antigoon tak henti mengawasi alur sungai yang mengarah ke pemukiman penduduk di ujung sungai sana. Gelisah, seringkali terlihat ia bersumpah serapah. ”Sudah berhari-hari dan tak ada kapal yang lewat. Sial!”, ia menggerutu lagi dengan raut muka semakin masam. Berkata-kata sendiri bahwa kesialannya ini barangkali ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu saat ia merampok dan kemudian memotong tangan seorang pedagang Romawi dari Brabant, kota kecil yang terletak tak jauh di utara.

Tiba-tiba terdengar suara air permukaan sungai yang pecah. Bayang-bayang memanjang mulai tampak. Rupanya ada kapal kecil yang membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari penduduk kota akan merapat ke dermaga kecil tempat ia menunggu. Sontak raut muka Antigoon berubah menjadi cerah. Ia bangkit dan menyeringai kejam.

***

Bukan seringai yang saya lihat di muka Prof. Hubeau, seorang guru besar Sosiologi dari University of Antwerp yang hari itu menjadi guide wisata dadakan. Melainkan senyum hangat yang ditujukan kepada kami, para peserta pelatihan tentang Land Management dari KU Leuven yang sedang studi ekskursi ke Antwerp. Antwerp, kota yang terletak sekitar 56 kilometer di utara Brussels, Belgia.

Saat itu kami sedang berada di MAS (Museum aan de Stroom) yang terletak di Port Antwerp. Bangunan unik setinggi 60 meter ini merupakan museum terbesar di Antwerp yang memiliki koleksi sekitar 500.000 buah, yang mencerminkan sejarah kota Antwerp. Berisi koleksi seperti lukisan, memorabilia, dan benda-benda antik yang berharga sejak zaman pendudukan Gallo-Romawi, ekspansi Spanyol, kedatangan kaum Yahudi Eropa, pendudukan Perancis, Jerman dan Belanda, sampai saat ini di era perdagangan berlian yang menjadi primadona.

Di lantai tertinggi museum, Prof. Hubeuau bercerita bahwa bagi sebagian turis, Antwerp adalah kota besar terindah di area Flanders (area yang penduduknya berbahasa Belanda), di negeri Belgia. Kota ini, yang juga kota terbesar kedua di Belgia setelah Brussels, adalah kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa Barat setelah Amsterdam. Jadi, kehidupan kotanya ditopang oleh perdagangan dan lalu lintas barang. Terutama lewat Sungai Scheldt yang membentang sejauh 350 kilometers dari dataran tinggi Perancis dan bermuara di North Sea.

Sambil mendengar tuturannya, saya melihat sekeliling dari ketinggian. Memandang kagum scenery kota Antwerp dan lanskap atap bangunannya yang indah. Tampak menara gereja Cathedral of the Virgin Mary Antwerp dan bangunan penting seperti City Hall menonjol menjulang. Mempesona, apalagi jejeran kapal-kapal di sepanjang Sungai Scheldt yang membelit kota, berjejer rapi dan menjadikan lanskap unik yang jarang ditemukan di belahan Belgia yang lain.Saya membatin, ini memang konsep pembangunan river-front city yang diterapkan dengan baik.

Kami tidak lama di situ karena perjalanan berlanjut ke sudut lain Antwerp. Jika di Eilandje Quarter yakni di Port Antwerp dan MAS kita terutama melihat konservasi dan tata kota, bangunan dan benda-benda, maka di area Central Station kita melihat sisi lain Antwerp, yakni pluralisme yang hidup dan menyatu dengan keseharian kota. Tepatnya antara penduduk lokal Flanders yang mayoritas Kristen dan kaum Jewish (Yahudi). Kawasan sekeliling Antwerp Central Station adalah kawasan Jewish. Ditandai dengan banyaknya sinagoga, restoran dan sekolah khusus Jewish, dan seringnya kita melihat mereka lalu-lalang dengan pakaian hitam-hitam pekat. plus topi dan rambut dikuncir bagi kaum laki-lakinya.

Menurut Prof. Hubeau, Antwerp adalah kota di Eropa dengan kaum Jewish terbanyak. Saat ini ada sekitar 15.000 orang, dan mayoritas dari mereka adalah kaum Jewish Haredi, yang walau masih ortodoks tapi lebih moderat, dan sisanya adalah Jewish Hasidim yang ultra-ortodoks. Mereka masih mempraktekkan tradisi kehidupan kaum Jewish yang relatif otentik, namun dengan gaya tersendiri sehingga mereka disebut secara khusus yakni “Jewish Antwerp” atau dalam bahasa Belanda-nya “Joods Antwerpen”.

“Kami sudah lama berinteraksi, sejak awal abad 16. Jadi walau pada awalnya sering terjadi pertikaian, karena perbedaan ideologi, gaya hidup, dan yah, karena eksklusivitas mereka, itu tidak menjadikan  mereka musuh,” tuturnya.

Walaupun apolitis, kaum Jewish mendominasi sektor perekonomian di Antwerp. Mereka memiliki toko-toko berlian di tengah kota yang terkenal sebagai pusat jual beli berlian berkualitas tinggi di Eropa. Toko-toko berlian bertaburan di sekitar stasiun seperti di Pelikaanstraat. Saya yang yakin harga berlian tersebut pasti selangit, hanya bisa melongok dari kaca luar karena hari itu adalah Hari Sabtu, yang menurut kepercayaan mereka adalah Hari Sabat yang dikhususkan bagi Tuhan saja, sehingga kegiatan lain selain keagamaan dikesampingkan.

Bagi saya, yang menarik bukan hanya keindahan berlian mereka. Tetapi bagaimana pemerintah kota Antwerp yang didominasi mayoritas Flemish saat ini berhasil mengatur kehidupan masyarakat yang heterogen ini tanpa adanya gejolak yang berarti. Mengingat pengaruh ekonomi kaum Jewish yang besar, agaknya yang menjadi benteng utama pluralisme itu adalah ekonomi kota yang stabil. Ini tersirat dikatakan Prof. Hubeau. Walau Belgia secara politik rentan karena segregasi regional yang menajam antara komunitas Flanders (komunitas penduduk berbahasa Belanda) di utara, dan minoritas Wallonia (penduduk berbahasa Perancis) di selatan, serta komunitas East Cantons di Liege yang berbahasa Jerman di tenggara Belgia, situasi di Antwerp seakan-akan tidak terpengaruh.

Tak terasa sudah lepas tengah hari dan perut pun lapar. Seakan ingin menegaskan semangat keberagaman yang sudah jadi keseharian, kami dibawa ke restoran Portugis di daerah yang dikenal sebagai “immigrant corner” atau “Borgerhout”, yang menjadi tempat bermukim sekitar 30.000 imigran. Saya lihat di area tersebut, suku bangsa membaur. Ada wajah Eropa Timur, seorang pria berambut pirang duduk dan tertawa-tawa dengan seorang pria lain berwajah Arab dan seorang wanita Belanda. Lalu lewat seorang wanita Timur Tengah yang berjilbab hitam menyeberang jalan. Dan di dalam restoran, percakapan dalam bahasa Portugis bercampur dengan bahasa Belanda. Memang menurut statistik tahun 2010, 36% warga Antwerp adalah imigran dari seluruh pelosok dunia.

Kami disajikan menu Cozido A Portuguesa, makanan ala Portugis dengan pork, dan sayuran seperti sawi asin, dan nasi yang pulen ditaburi kuah seperti kanji. Musah, seorang teman Muslim dari Kamerun, hampir saja kecolongan dengan menu itu. Untunglah ketika menu datang, Prof. Jos dari KU Leuven yang mendampingi kami iseng bertanya siapa diantara kami yang memiliki pantangan terhadap makanan tertentu karena alasan agama atau kesehatan. Musah langsung curiga dan bertanya-tanya. Akhirnya dia hanya makan ayam goreng biasa. “Untunglah, tadi itu hampir saja,” dia berkata sambil tertawa lega.

Selepas bersantap, sebelum melanjutkan perjalanan kembali, Prof. Hubeau berkata, “Sekarang kita akan pergi ke Historich Centrum, tempat yang paling disukai turis dan paling banyak toko suvenirnya”. Dia bercerita bahwa area inilah destinasi utama turisme di Antwerp dan menjadi meeting point penduduk Antwerp. Belum sah datang ke Antwerp jika belum ke Historich Centrum.

Grote Markt (main square) tak bisa dipungkiri adalah daya tarik utama di Historich Centrum, terutama karena area terbuka ini dikelilingi oleh banyak bangunan dengan arsitektur yang klasik dan indah. Dan ciri khas bangunan-bangunan tersebut adalah adanya dinding di muka rumah dengan kayu palang yang menjulang ke atas. Saya jadi ingat kota-kota di Jerman, terutama di daerah Muenster, North Rhine Westphalia, tempat saya menyelesaikan studi dulu. Bisa jadi, pengaruh Prussia juga masih tersisa di Antwerp. Salah satunya Stadhuis (City Hall), dibangun sekitar pertengahan abad ke-16 oleh arsitek Flemish Rennaissance yakni Cornellis Floris de Vriendt. Keindahan gedung Stadhuis ini terutama karena menaranya yang menjulang, dipadukan dengan logo dan lambang berwarna emas, serta bendera yang banyak dipasang.

Suasana cerah sore itu tampak membuat semua orang bergembira. Para seniman jalanan, baik yang necis dengan jas dan piano, maupun yang agak kumal dengan gitar butut, tampak bersemangat bersenandung untuk mengais rejeki dari para turis. Pada suatu waktu lain, saya melihat gadis-gadis berpakaian tradisional datang dengan kereta kuda, lalu menari-nari dengan ceria dan penuh tawa. Suasana sontak menjadi riuh.

Jika ingin menyewa sepeda untuk menjelajahi kota, kita dapat menghubungi bagian informasi yang terletak di dekat Grote Markt itu. Atau jika ingin bersantai sejenak, banyak kafe dan restoran di seputaran Grote Markt. Ada juga makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Papan daftar menu dipasang dengan provokatif, menggoda turis untuk singgah. Saya tak melewatkan kesempatan singgah di Irish Pub, untuk menyegarkan tenggorokan dengan minuman dingin. Saya pernah baca, alasan Irish Pub begitu marak dan terkenal dan hampir ada di tiap kota besar di Eropa adalah karena selain suasana yang dibuat nyaman dan bersahabat, orang Irlandia dikenal sebagai perantau yang melankolis, senang bernostalgia tentang tanah air Irlandia nun jauh di sana, dan karena itulah mereka selalu butuh tempat berkumpul dimanapun mereka berada. Jadi tak heran, dimana ada perantau-perantau Irlandia, pasti ada Irish Pub.

Selain City Hall, landmark kota yang lain adalah Katedral Santa Perawan Maria (Catedral of the Virgin Mary) yang terletak tak jauh dari Sungai Scheldt. Bangunan bergaya gothic ini mulai dibangun pada tahun 1352, dan baru selesai setelah 229 tahun kemudian di tahun 1521. Suatu periode panjang hanya untuk mendirikan sebuah bangunan. Dan itupun, menurut brosur wisata yang saya baca, masih ada yang kurang sempurna dari pembangunan gereja itu. Menaranya baru satu yang jadi dari dua buah yang direncanakan semula. Keindahan gereja ini, adalah pada arsitekturnya yang menjulang tinggi, ciri khas bangunan gereja di Eropa Barat. Saya ingat Gereja Koln yang juga berarsitektur sama, dan Gereja Squadra La Familia di Barcelona yang tidak kunjung selesai dibangun yang saya datangi tahun lalu. Di dalam gereja ini juga terdapat karya unik yakni tripthych (lukisan altar yang umumnya terdiri dari tiga panel) dan lukisan indah seperti The Resurrection of Christ (Kebangkitan Kristus) karya pelukis ternama Antwerp, Pieter Paul-Rubens yang terkenal dengan gaya Barock-nya.

Namun, dari semuanya itu, ada suatu monumen yang tampak ikonik tepat di depan City Hall. Patung seorang pria hijau yang sedang mengayunkan tangan, seakan-akan sedang melemparkan sesuatu. Siapa dia, dan mengapa dia dimonumenkan di situ?

***

Seringai si raksasa Antigoon menghilang ketika kapal tersebut merapat ke dermaga. Berganti dengan raut muka kejam tanpa belas kasihan. Dengan berteriak ia memanggil si pemilik kapal untuk keluar. Rupanya Antigoon berniat merampok isi kapal tersebut. Namun ia tidak tahu, kapal tersebut sesungguhnya kapal yang berisi seorang Jenderal Romawi, Silvius Brabo, seorang teman dekat Caesar, penguasa Kota Brabant dan ketujuh anak buahnya yang sengaja datang untuk menumpasnya. Kabar adanya raksasa perampok di Sungai Scheldt yang telah memotong banyak tangan penduduk telah mengusik sang penguasa.

Tiba-tiba dari dalam kapal, Brabo, dengan pedang terhunus melompat dan menyerang.  Pedangnya mengayun keras ke arah leher Antigoon. Namun dengan gampang Antigoon yang memang sangat kuat menepiskan serangan itu dengan pedangnya. Brabo terhuyung. Salah satu anak buah Brabo, Aleyns, kemudian mengambil busur dan memanah Antigoon tepat di lehernya. Antigoon sempoyongan, namun ia semakin marah dan masih sempat membanting dua anak buah Brabo yang lain dan melukai sisanya dengan pedang sebelum terjatuh. Melihat kesempatan itu, Brabo langsung melancarkan serangan. Diayunkan pedangnya tepat ke dada Antigoon. Darah menyembur seketika, namun Antigoon masih mencoba berdiri. Namun tak lama, si raksasa ambruk dan tewas. Membalaskan tindakan Antigoon sebelumnya, Brabo kemudian memotong pergelangan tangan Antigoon dan melemparkannya ke Sungai Scheldt. Dan ia berkata,”Kota ini sudah bebas dari Si Jahat sekarang, dan setiap orang dan penduduk kota, dapat berdagang dan hidup dengan bebas”.

***

Dan demikianlah, ujar Prof. Hubeau sebagai penutup tur singkat itu, bahwa patung pria hijau di tengah fountain (air mancur kecil) yang sedang berpose melempar sesuatu itu adalah monumen perunggu yang menggambarkan legenda Brabo saat menumpas kejahatan raksasa Antigoon, dibangun oleh  pematung Jef Lambeaux tahun 1887. Tambahnya, jika ingin melihat potongan tangan yang terlempar, kita dapat melihatnya di Meir Square dan di Central Station. Hanya saja, yang di stasiun posisinya menengadah ke atas dan dinamai “Peaceful Hand” atau tangan damai.

Terlepas dari kebenarannya, sebagian percaya bahwa Antwerp beroleh nama dari peristiwa itu: Ant berarti tangan, Werpen berarti melempar.  Jadi, dengan cerdas, legenda itu dikemas sebagai asal muasal Antwerp, dengan Brabo sebagai pendiri kota Antwerp (walau nama Brabo sebenarnya telah terlebih dulu diabadikan sebagai nama kota tetangga yakni Brabant), dan monumen itu sebagai lambang kebebasan, termasuk kebebasan berdagang dan berkehidupan di kota Antwerp. Saya lalu berpikir, barangkali mitologi Brabolah yang sesungguhnya menjadi  inspirasi dan zeitgeist (semangat zaman) kota Antwerp dalam menata kehidupan bermasyarakatnya. Mitologi memang dapat dijadikan ikon kota sekaligus pemanis pariwisata disuatu kota. Bagi pengunjung, lebih mudah mengingat sejarah yang dibalut mitologi daripada sejarah kota yang biasa-biasa saja.

Dari patung Brabo, kami lalu menuju tepi Sungai Scheldt. Ingin melihat tata sungai yang rapi di sepanjang esplanade-nya. Namun yang kami lihat justru pesta kaum homoseksual di sebuah kapal pesiar yang sedang berlabuh. Ada bendera pelangi di buritan kapal. Dalam hati saya membatin, kebebasan berekspresi seperti ini barangkali juga salah satu buah dari kultur kota yang dinamai “potongan tangan yang dilempar ke sungai” ini. Tidak akan ada yang seperti itu agaknya, andai yang menang dalam pertarungan adalah Si Raksasa Druon Antigoon. 

Dimuat di Koran Tempo Minggu, 17 November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: