Keriuhan belum berakhir di Castellon

Restoran Tiga Pinguin itu terletak di pinggir Grao, istilah setempat untuk pantai. Kami duduk menghadap Laut Mediterania yang tenang. Meresapi hangatnya matahari sore yang berpadu dengan angin sepoi-sepoi. Minuman horchata dan kudapan tapas (snack seafood) menemani pembicaraan mengenai rencana menonton festival Maria Magdalena besok. Istri saya Naries, antusias membuka-buka brosur mengenai sejarah festival itu. Dan tentang Castellon, kota kecil yang bakal kami tinggali selama tiga bulan kedepan.

Castellon de La Plana, kota di pesisir Barat Spanyol itu, didirikan oleh Raja James I of Aragon tahun 1251.  Sudah 764 tahun umurnya, dua setengah abad lebih tua dari Jakarta.  Diapit oleh Barcelona di Utara dan Valencia di Selatan, Castellon menjadi kota kecil yang unik secara kultural. Ia ada di antara pengaruh budaya dan tradisi Catalan (Catalanion region: Barcelona dan sekitarnya) dan bangsa Castillian (berpusat di Madrid). Selain itu, ada pengaruh Bangsa Islam Moor dari Maroko yang pernah menguasai Semenanjung Iberia pada awal abad pertengahan. Kultur unik, berpadu lanskap Mediteranian yang hangat, iklim yang menyisakan musim dingin yang pendek dan kadang tanpa salju, diapit oleh pantai “Costa del Azahar” sepanjang 120 kilometer di Timur dan perbukitan tandus “Desert de las Palmes” di Barat, menciptakan karakter masyarakat yang berbeda dari Eropa bagian tengah dan utara.

Ramai senang bicara, hangat, penuh sapa, sedikit urakan dan norak serta tentu saja santai dengan waktu. Ada anggapan bahwa di daerah pesisir Mediterania, akhir pekan itu dimulai Kamis malam. Atau pernah dengar istilah siesta, tidur siang pada jam kerja selepas makan siang, untuk datang lagi sekitar pukul tiga dan pulang pukul lima sore?

Di Bulan Maret ini, mereka sedang berpesta selama seminggu penuh merayakan festival Maria Magdalena. Ini festival di Spanyol, kawan, di mana orang-orangnya memang terkenal suka pesta, dan suka makan. Tahukah bahwa menu makan malam orang Spanyol biasanya berat, berlapis-lapis dan selesainya jauh larut malam karena mereka dalam acara makan pasti berlama-lama bicara satu sama lain? Bayangkan, festival di kota pantai Mediterania, di awal musim semi: parade, makanan enak, udara hangat, bermatahari, maka romantisme Mediterania bukan isapan jempol belaka.

Saat horchata, minuman lezat campuran dari perasan tigernuts (sejenis kacang), air dan gula itu habis, hari mulai gelap. Orang-orang tua yang sebelumnya banyak berjalan-jalan sambil menuntun anjingnya pun pulang. Bergegas kami mengejar bus pulang ke rumah di Carrer Tarragona, dekat Plaza de Maria Agustina, pusat kota Castellon. Malam ini, kami telah punya agenda lain, diundang makan malam oleh teman sekelas di Universitas Jaume I asal Bangladesh. Makan malam bermenu kari, bukan Spanish dinner. Besok telah menanti petualangan sesungguhnya.

***

Sebagai kota yang sudah berabad-abad berdiri, dimanakah jejak-jejak zaman itu tampak? Yang pertama adalah Moorish Castle of Fadrell, didirikan pada awal abad 13, di bukit Desert de las Palmes, berjarak sekitar 7,5 kilometer dari kota. Bangunan tua itu adalah tempat tinggal pertama para pendiri kota Castellon sebelum dipindahkan ke tepi laut yang datar oleh para penakluk Spanish. Inilah yang menjadi latar belakang Festival Maria Magdalena, yang prosesinya berupa parade mengenang perjalanan ke lokasi di sekitar Kapel Maria Magdalena, orang kudus pelindung kota.

Walau menantang, paginya kami putuskan untuk tidak ke sana. Jauh dan transportasinya terbatas. Padahal  di sana telah dibangun taman rekreasi yang indah. Ada rute hiking keluarga, gardu pandang untuk melihat kota Castellon dan sekitarnya serta lautan biru Mediterania. Juga ada kebun Naranja (jeruk asli Valencia) yang berwarna oranye dan menjadi ciri khas hasil kebun pesisir Valencian Community.

Kami hanya jalan-jalan di kota menunggu parade. Sarapan dulu di Il Caffe di Roma, sebuah café kecil nan nyaman di Jalan Carrer Mayor, tidak jauh dari tempat tinggal kami. Menu pagi itu adalah roti khas el desayuno (sarapan) yakni magdalenas (kue cupcake yang gurih manis dengan sedikit campuran lemon), plus dengan minuman andalan, café con leche (ekspreso plus susu krim kental). Naries yang pengen coba menu lain, meminta churros dan coklat panas.

“Churros y chocolate caliente, por favor?” Katanya sedikit bergaya. Si pelayan yang ramah itu tersenyum dan membalas, “Mui bien, que mas: paella?” Ah, cukuplah, rasanya itu saja pagi ini, sebab paella cocoknya bukan buat sarapan. Churros adalah gorengan tepung terigu yang ditaburi gula, dibentuk bulat panjang. Semuanya sekitar 8 euro.

Setelah perut terisi, sambil menikmati suasana kota yang nyaman, kami melangkah sekitar 100 meter menuju bangunan gothic tertua di Castellon. Biasanya, selain City Hall, bangunan tua yang bertahan adalah gereja. Dan benar, bangunan tertua di pusat kota itu memang gereja, yakni Gereja Santa Maria yang dibangun pada akhir abad ke 13 dan direnovasi terakhir tahun 1936 oleh arsitek lokal Vicente Traver. Tampak kokoh dan masih dipergunakan untuk misa tiap minggu, walau menurut berita, kini jumlah umat yang beribadah ke gereja sedikit sekali di Castellon ini.

Di kanan kiri pintunya ada tulisan Ave Maria Gratia Plena, berarti “salam Maria penuh rahmat”, merupakan kata-kata pertama Doa Salam Maria umat Katolik. Gereja ini tidak besar dan megah. Biasa saja. Tak banyak yang tahu bahwa dulunya dari sinilah basis penyebaran agama Katolik berkembang ke daerah sekitar Castellon seperti Teruel, Bennicassim, Villareal, dan lain-lain.

Dari Gereja Santa Maria, kami menuju Ribalta Park. Taman yang rindang dan penuh pepohonan. Nyaman sekali buat bersantai menunggu parade mulai. Namun kemudian, ada keramaian. Beberapa orang pria tampak sibuk dengan wajan luar biasa besar, seukuran meja makan tampaknya. Mereka menuang air, beras, mengaduknya, memberi bumbu. Setelah diaduk rata, udang, cumi, daging ikan, kerang, dicampur ke situ, diletakkan di permukaan dengan rapi, kemudian ditutup. Setelah sekitar 45 menit, meruaplah wangi masakan yang gurih. Salah satu juru masak berseru kepada penonton dalam kalimat yang tidak kami mengerti. Orang orang lalu berbaris, mengambil piring plastik yang disediakan. Kami tak mau kalah, ikut antri sambil cengar-cengir, dan berasumsi barangkali ini gratis sehubungan dengan acara festival.

Ya, rupanya memang gratis, disediakan oleh salah satu restoran yang menjadi sponsor. Dan menunya itu lho, paella valenciana. Makanan khas Spanyol ini mirip nasi uduk jika di Indonesia, namun lauknya dimasak bersamaan dengan beras, dan diberi warna kuning dari kunyit. Awalnya berasal dari regional Valencia, karena itulah yang terkenal adalah paella valenciana, seperti yang sedang kami makan. Bedanya dengan paella daerah lain adalah campurannya yang berupa seafood, dan bukan daging ayam, sapi atau babi. Hmm…lezat sekali. Cocok dengan perut Indonesia yang motonya: tak ada nasi tak makan namanya.

Setelah kenyang, terdengar bunyi terompet tanda parade dimulai. Bergegas kami menuju Plaza Maria Agustina, dimana acara dipusatkan. Orang-orang sudah berdesakan di pinggir jalan. Wah, bakal seru.

Konsep karnaval juga dipakai dalam parade ini. Setelah diawali oleh rombongan pembuka yang membawa arakan patung Maria Magdalena, satu persatu rombongan peserta pawai lewat. Mereka berasal dari berbagai daerah di sekitar Castellon seperti Ribesalbes, Onda, Almassora, Borriana, Bennicassim, Borriol. Kostumnya mencerminkan masyarakat zaman dulu, dengan mantilla (sejenis kerudung), peineta (sasak rambut), dan gilet (sejenis rompi) bagi prianya. Ada yang berperan sebagai raja dan ratu, ada putri cantik yang diapit prajurit dan pangeran. Di lain waktu tampak kehidupan para petani. Lengkap dengan jerami dan kandang ayam. Selain itu juga tampak pria yang ditampilkan sebagai penitents (para pendosa) yang bertobat.

Yang bikin heboh dan ditunggu penonton tentu saja penari-penarinya. Gadis-gadis seksi berbusana daerah bergerak lincah dan sensual di hadapan penonton membawakan tarian tradisional yang riang gembira, dengan musik berirama lokal. Atasan putih, rok hitam lebar. Saat bergerak, rok mereka berkibar-kibar.

Juga ada rombongan yang berkostum Afrika utara, berdrama seolah-olah hendak menyerbu kota, lengkap dengan senjata dan kuda yang dihias meriah. Setiap kali sajian ditampilkan, entah tarian atau drama singkat, kerumunan massa bersorak dan bertepuk tangan. Apalagi seringkali para peserta melemparkan permen, snack kecil, bahkan suvenir kepada penonton untuk menarik perhatian.

Parade telah berlangsung kira-kira tiga jam, namun penonton belum bergerak.. Tiba-tiba banyak anak kecil berlarian sepanjang jalan seolah-olah dikejar sesuatu. Ternyata yang mengejar mereka adalah kepala banteng yang sedang menyeruduk, dipegang oleh salah seorang panitia acara. Ingat encierro (bull run) di Pamplona? Inilah imitasinya, dalam bentuk yang hanya suka-suka.

Puas menikmati parade, kami berjalan menuju Avenida de Jaume I, salah satu jalan protokol di sana. Untuk menikmati patung-patung raksasa yang dipasang di tepi jalan. Mirip ogoh-ogoh di Bali dan Ninot di Valencia. Cuma patungnya tidak tradisional, lebih kontemporer. Patung itu juga tidak akan dibakar di akhir festival.

Kami membeli sangria, minuman fermentasi buah-buahan untuk menghangatkan badan. Sambil menikmati malam yang mulai turun, kami duduk di kursi banyak banyak tersedia di pinggir jalan. Mendekati tengah malam masih ada acara puncak, yakni tarian cahaya dan kembang api yang dipusatkan di Plaza Santa Clara dan El Fadri Tower, yang konon menurut berita akan luar biasa. Malam ini di Castellon pasti akan semarak, ketika langit berwarna-warni, riuh oleh ledakan kembang api dan teriakan penonton berpesta. Besok dan lusa juga masih ada konser musik. Juga corrida de toros, adu banteng di gelanggang Plaza del Toros. Keriuhan belum berakhir di Castellon.

Dimuat di Majalah Travelounge, Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: