Perjalanan Mimpi ke Athena

Pesawat Ryan Air yang saya tumpangi dari Dusseldorf, Jerman sebentar lagi mendarat di Bandara International Eleftherios Venizelos, sekitar 30 kilometer dari pusat kota Athena. Dari jendela, terbentang gugusan pulau memanjang dan garis pantai putih kecoklatan dibalut biru cyan lautan, dipadu gundukan pohon zaitun di tanah berbatu yang begitu tipikal daratan Aegean. Seketika saya disergap rasa yang ajaib. Ada perasaan berdebar-debar bahwa saya akan memasuki lorong waktu impian sejak kecil.

Athena adalah ingatan tentang banyak hal. Kota penuh dewa-dewi gagah dan cantik: Athena yang bijaksana, Poseidon sang penguasa lautan, Zeus sang Dewa tertinggi, Loki yang culas. Tentang asal ilmu pengetahuan, paham kenegaraan, filsuf Plato dan Socrates, tentang legenda kuda Troya.  Begitu banyak tentang, hanya untuk sebuah kota. Kota dimana kisah-kisah imajiner bertemu dunia modern yang nyata.

Perasaan itu makin kuat dalam Airport Bus Rute X95 menuju Syntagma Square. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit. Sepanjang jalan, saya merenungkan kepercayaan yang mengajarkan bahwa yang di depan mata itu sesungguhnya masa lalu. Sedang masa depan itu masih di belakang kita karena belum terlihat.

Di Athena, apa yang bakal saya jejaki adalah masa lalu, yang peninggalannya tetap agung dan gagah setelah ribuan tahun. Masa depan sepertinya tahu diri, ragu-ragu seakan ia hanyalah pengganggu keagungan dan kejayaan dunia lampau. Tapi perubahan tak terlawan, waktu berlalu, dan manusia hidup untuk masa depan, bukan? Belum memutari kota saja, pikiran saya sudah berkelana.

Dari Hotel Athens Backpacker, sekitar 500 meter dari bus station, setelah check in dan menaruh barang, saya memulai perjalanan impian itu: menengok kuil para dewa, lalu menyesap kehidupan kota.

Pukul tiga sore, berbekal peta saya menuju Acropolis. Terletak di bukit berbatu 150 meter di atas permukaan laut, Acropolis berumur lebih dari 3.000 tahun. Berasal dari kata Acron yang berarti perbatasan dan polis yang berarti kota. Kawasan 3 hektar ini merupakan tempat berdirinya beberapa monumen dan bangunan prasejarah bangsa Yunani kuno (21 buah), saat pengaruh Byzantium, Persia dan Ottoman memberi warna bagi budaya Yunani.

Untuk masuk ke Acropolis, pengunjung dikenakan biaya retribusi 12 euro. Pelajar dan mahasiswa gratis. Harga segitu tidak mahal karena sekaligus sebagai tiket terusan bagi beberapa spot wisata lain di sekitar Acropolis dan berlaku selama 3 hari. Saya tapaki jalan menuju Acropolis yang penuh imaji. Sepanjang jalan, pokok-pokok zaitun tumbuh di bebatuan berundak-undak. Warna kecoklatan berselang seling dengan warna hijau. Seakan sama setelah ribuan tahun karena tak satupun tampak bangunan modern yang berdiri di sekitarnya, yang ada reruntuhan. Rute dibuat dari batu alami yang disusun rapi.

Terbayang suatu laku perziarahan ke entitas yang lebih tinggi. Saya teringat kisah para Pandawa yang mengalami ujian saat mendaki Mahameru untuk bertemu dewa-dewa di surga setelah menangi perang Baratayudha. Dan apakah ini masih jalan yang dilalui Santo Paulus saat hendak berkhotbah di Aeropagus  dan lalu berdebat dengan para filsuf tentang konsep ketuhanan di masa kekristenan awal?

Di puncak bukit terhampar area yang datar dengan beberapa bangunan kuno berukuran besar. Inilah Acropolis. Saya disambut Propylaea, gerbang yang menjadi pintu masuk Acropolis. Pengunjung mesti mendaki anak tangga yang cukup banyak di antara pilar-pilar raksasa. Saya merasa agak familiar dengan bentuknya. Dan memang, setelah saya baca panduan wisata Acropolis, rupanya inilah bangunan yang menjadi inspirasi Bradenburg Gate di Berlin, yang dulunya pernah menjadi gerbang masuk kota Berlin pada abad ke-18. Siapapun yang memasuki Propylaea akan menyadari bahwa apa yang ada di balik gerbang ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Awan yang bergantung dan hamparan luas memberi suasana yang dramatis, menggambarkan dimensi kekuatan alam semesta. Di sebelah kanan,  Parthenon berdiri dengan gagah. Bangunan persegi panjang berukuran 70 x 30 meter persegi ini fungsi utamanya sebagai kuil pemujaan bagi Dewi Athena sang pelindung kota. Megah dengan pilar-pilar yang mendominasi, berdiri tegak sebagai lambang demokrasi.

Saat saya datang, Parthenon sedang direnovasi. Masa lalu bertemu upaya pelestarian bagi masa depan. Diperkuat dengan pancang-pancang besi, agar tidak semakin goyah. Sejak dibangun sekitar seribu tahun  sebelum Masehi, bangunan ini telah ditempa berbagai kejadian. Dirusak saat Athena diserbu bangsa Persia dalam Perang Plataea (479 SM), kemudian dibangun lagi oleh kaum Athenean (pemuja dewi Athena) di tahun 447 SM, kemudian diubah menjadi Gereja Parthenos Maria pada abad ke-6 Masehi oleh pengikut Kristen yang sedang tumbuh. Bahkan mungkin sedikit yang tahu bahwa Parthenon pernah menjadi masjid di bawah imperium Ottoman sekitar akhir abad ke-15. Kini ia tinggal reruntuhan yang menyisakan keagungan peradaban masa lalu.

Disamping nilai sejarahnya yang luar biasa, keagungan Parthenon semakin jelas pada cella. Cella adalah ukiran eksterior pada atas bangunan yang menggambarkan prosesi Panatheanic Games, suatu festival empat tahuan penduduk Athena yang melibatkan event olahraga, prosesi religius keagamaan, dan pertunjukan budaya. Seorang tour leader dengan rinci menjelaskan makna ukiran-ukiran itu.

Tak akan habis rasanya mengagumi Parthenon yang bergaya Doric (arsitektur Yunani klasik yang dicirikan kolom-kolom dan pilar yang dominan) dan bangunan-bangunan kuno disekitarnya. Saat berdiri di dekat Erechtheion, kuil untuk memuja Athena dan Poseidon di bagian utara Acropolis, tampaklah hiasan-hiasan berupa Carytids, yakni patung-patung wanita yang berfungsi sebagai pilar.

Dari pinggir Erechtheion, saya memandang lepas ke kota Athena. Bangunan rumah putih warna marmer. Bendera Yunani berkibar dengan keras ditiup angin. Tak jauh, tampak Dyonisius ancient theater, tempat di masa lalu masyarakat berkumpul untuk menonton pertunjukan. Setelah renovasi, terangkai kursi-kursi dari batuan yang disusun setengah lingkaran. Tembok tinggi menjulang sebagai pembatas arena. Bayangkan ribuan orang bersorak saat seorang orator ulung tampil mempertunjukkan keahliannya berpidato.

Sekitar dua jam saya habiskan waktu di Acropolis. Memuaskan mata dengan bangunan-bangunan spektakuler. Tapi, Athena tak hanya menyuguhkan Acropolis.

Sore mulai menjelang. Turun dari Acropolis, saya menikmatinya dalam labirin lorong-lorong berundak yang legendaris, Plaka. Singgah di sebuah tavern dan memesan Greek Salad dengan feta chesse. Ciri khas masakan Mediterranean, pasti ada minyak zaitun dan keju. Tak kenyang, saya kemudian juga pesan Gyross (daging domba yang dimasak dengan bumbu rempah yang kental) dengan harga 5 euro. Enak sekali.

Memutari Plaka, sampailah saya di Monastiraki, melting point di kaki Acropolis yang terkenal dengan flea marketnya. Burung-burung merpati beterbangan dengan bebasnya. Di suatu sudut, penjual pitta ramai dikerubungi turis, sementara penjual buah di gerobak mengingatkan saya akan penjual buah kaki lima di Indonesia.

Saya lalu memasuki Athens Flea Market itu, membeli Evil Eye Charms yang berwarna biru terbuat dari kaca marmer. Mitosnya, akan menjaga keberuntungan kita dari Matiasma, pengaruh jahat yang selalu mencari celah untuk mengganggu. Di toko Pericles, penjualnya bertanya apakah saya dari Indonesia. Ketika saya jawab, ia langsung menyambut dengan berkata bahwa di usianya yang mendekati 60 tahun, ia telah 50 kali berkunjung ke Bali. Bayangkan, 50 kali! Melihat muka saya yang hanya setengah percaya, ia terbahak-bahak dan berkata, tak ada untungnya dia berbohong. Ditunjukannya topeng-topeng Bali dan Jawa, bambu yang diukir motif khas Indonesia dan Bali. Bagi dia dan istrinya, Bali ibarat surga. Begitulah, bagi si penjual, surga itu nun jauh di suatu negeri tropis.

Terus Athena ini apa? Mungkin puisi berjudul Athens dari Kostas Kayotakis, penyair terkenal Yunani bisa menggambarkannya: A sweet hour. Athens sprawls like a hetaera offering herself to April. Sensuous scents are in the air, the spirit waits for nothing any more. Bahwa Athena seperti perempuan berkelas yang menggoda, dengan wangi yang membangkitkan perasaan nyaman bagi yang berdekatan dengannya, tapi hanya sekejab dan ia lalu pergi lagi.

Saya pun ingin mencecapinya lebih jauh. Maka perjalanan saya teruskan ke Pysry, sudut kota yang terkenal dengan pasar yang ramai dan Gereja Byzantium yang berusia ratusan tahun. Dan tentu saja tak akan saya lewatkan momen pergantian prajurit jaga di Syntagma Square.  Malam nanti, telah menunggu sensasi memutari Acropolis dari pinggir kawasannya, melihat Parthenon yang bercahaya disinari lampu penerang.

Dimuat di Majalah Travelounge, Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: