Trier – Roma kecil di Barat Jerman

“Was ist die älteste Stadt in Deutschland?” tanya sang guide itu kepada kami para peserta ekskursi dari Universitas Bonn. Namanya si guide Beate Kirchel, dan karena usianya ia seharusnya dipanggil Frau Beate, namun ia memilih dipanggil sebagai Beate saja.

Kota manakah yang paling tua di Jerman? Agaknya Beate hanya berbasa-basi saja kepada kami. Kami semua telah tahu bahwa, di sinilah, di tempat kami berdiri saat itu, yang diklaim sebagai kota tertua di Jerman. Nama kota itu Trier.

Pada awal Agustus 2015 itu saya mengunjungi Trier. Kota kecil ini terletak tepi Sungai Moselle di Provinsi Rhine-Palatinate, di Barat Jerman dan berbatasan dengan Luxemburg. Konon, Trier didirikan oleh suku bangsa Treveri dari wilayah Celtics (Inggris Raya) dengan nama Treuorum pada sekitar 400 tahun sebelum Masehi. Nnamun atefak-artefak yang ditemukan belakangan menunjukkan usia yang ribuan tahun lebih tua. Kemudian diokupasi oleh bangsa Romawi seabad sebelum Masehi. Namanya diubah menjadi Trevorum. Namun lambat laun berubah lagi pengucapan internasionalnya menjadi Trier seperti yang kita kenal sekarang.

“Trier, di bawah Kaisar Konstantin Agung dari Romawi menjadi salah satu kota terpenting di wilayah Western Roman Empire. Empire ini luas sekali, membentang dari Inggris, Spanyol, Afrika bagian utara, Palestina, Suriah, Yunani, Makedonia, Jerman bagian Barat, Perancis, dan tentu saja Italia. Kejayaan itu terutama pada abad ke empat setelah kelahiran Yesus Kristus”, lanjut Beate.

“Tapi apa yang menjadikannya penting? Nanti kita lihat sama-sama”.

Mukanya tak bisa menyembunyikan kebanggaan dari seseorang yang lahir, tumbuh, besar, dan mencari nafkah di Trier ini sebagai pemandu tur berlisensi dari pemerintah kota.

Frau Beate terus saja bicara, “…dan inilah Porta Nigra yang merupakan landmark kota…”sayup-sayup suaranya memelan sebab saya menjauhkan diri dari kerumunan. Ya, kami memang berdiri di depan Porta Nigra, benteng pertahanan Trier di masa lalu. Menjulang, tampak masih kokoh dan unik, dengan batu hitam yang menyusunnya.

Porta Nigra berasal dari bahasa Latin yang artinya Gerbang Hitam. Kok hitam? Apakah batunya memang hitam? Ternyata tidak, asalnya dibuat dari sandstone abu-abu, namun polusi menjadikannya hitam. Ciri khas bangunan Romawi tampak sekali. Satuan batu yang luar biasa besar. Seperti batu bata tetapi dengan ukuran yang puluhan atau ratusan kali lebih besar, bahkan ada yang beratnya sekitar 6 ton.

Dibangun sekitar abad ke dua sesudah Masehi dan merupakan satu-satunya gerbang masuk kota Trier yang tersisa. Dengan lebar 36 meter dan tinggi lebih dari 30 meter, bangunan ini merupakan gerbang terbesar di seluruh wilayah bekas jajahan Romawi di utara Pegunungan Alpen. Saya melihatnya, dan menyadari bahwa Porta Nigra bukan hanya gerbang, tapi juga tempat tinggal, dimana tampak jendela-jendela yang lorong-lorong. Barulah setelah membaca brosur wisata Trier, saya tahu bahwa Porta Nigra dulunya juga adalah biara dan juga gereja. Seorang biarawan pertapa pada abad ke 10, Simeon dari Yunani, pernah tinggal dan dimakamkan di Porta Nigra. Karena ketaatannya, ia kemudian dikanonisasi dan menjadi salah satu santo dalam agama Katolik. Pengunjung bisa masuk dan naik ke atas dengan membayar 3 euro.

Salah seorang anggota rombongan kami dari Jepang, Ayaka, karena tidak bisa naik ke atas, memilih berfoto saja dengan pria yang berkostum prajurit Romawi. Lengkap dengan jubah merah, penutup kepala besi, jumbai merah di kepala dan tentu saja pedang dan sepatu bertali ala tentara Romawi. “Biar disangka di Roma”, katanya sambil tertawa, dan kemudian bilang mau mengunggahnya di laman facebook-nya.

Porta Nigra ini hanyalah satu dari sembilan UNESCO World Heritage Sites yang ada di Trier. Uniknya lagi di pusat kota, dalam wilayah yang hanya sekitar 3 km persegi, terdapat delapan situs warisan dunia. Satu situs yang lain yakni Igel Column (Pilar Igel), situs pemakaman kuno bangsawan Romawi berada agak jauh di tepi Sungai Moselle, sekitar 8 kilo dari pusat kota.

Dalam waktu kurang dari dua jam, dan hanya dengan berjalan kaki, kita sudah bisa melihat sembilan bangunan yang berusia ratusan tahun. Saya berpikir, wah berwisatanya bakal enak sekali kalau begini. Tidak capek tapi dapat banyak. Tak heran, Trier menjadi favorit wisatawan di wilayah Jerman bagian utara, terutama mereka yang menyukai sejarah dan ingin mengetahui jejak-jejak Romawi di Jerman. Rupanya inilah yang menjadi daya tarik utama di Trier. Trier tidak hanya tua, tapi juga kaya atas situs warisan dunia.

“Trier juga disebut sebagai Roma kecil di Utara”, tambah Beate ketika disinggung mengenai banyaknya peninggalan Romawi di Trier. Terkait dengan itu, setidaknya, ujar Beate, pada zaman Kekaisaran Romawi, saat kota-kota lain belum bertumbuh seperti sekarang, Trier penting dalam dua hal, yakni dalam hal penyebaran agama Katolik dan ekspansi politik perluasan wilayah kekuasaan.

Untuk melihat itu, Frau Beate membawa kami ke Trier Dom (katedral Trier) dan Church of Our Lady, dua gereja yang juga menjadi situs warisan dunia. Di katedral yang menjadi katedral tertua di Jerman itu, penyebaran agama Katolik berkembang ke seluruh Jerman, dan ke daerah-daerah yang sekarang dikenal sebagai Belanda dan Belgia. Lanjut Beate, karena pusat penyebarannya di bagian barat Jerman, maka tak heran ketika gerakan Protestanisme melanda Jerman, Jerman bagian barat kebanyakan masih setia kepada Katolik sementara di bagian tengah dan timur beralih kepada Protestan.

Yang unik dari katedral ini adalah tamannya yang indah di halaman dalam. Bunga-bunga bermekaran, hijau daunnya tampak kontras dengan langit biru dan warna bangunan yang kecoklatan. Selain itu, di menaranya, ada tulisan Latin: Nescitis Qva Hora Dominvs Veniet yang artinya “kamu tidak tahu kapan Ia akan datang”, yang bermakna agar kita senantiasa selalu berjaga-jaga dengan doa dalam hidup kita.

Saya hanya sebentar di katedral karena rombongan beralih ke Roman Imperial Throne atau Basilika Konstantin. Bangunan ini, menurut Beate, sangat khas Romawi. Bangunan ini memperlihatkan keinginan Konstantin untuk menjadi penguasa tunggal, sehingga bangunan sebesar itu hanya punya satu ruangan yang sangat besar dan tinggi. Mirip aula sehingga dikenal juga sebagai Aula Palatina. Dibuat dari fragmen-fragmen yang diambil dari Pegunungan Pyrenees di Perancis dan dari Afrika Utara. Dari ruang inilah, komando dijalankan untuk mengamankan daerah jajahan terutama di Gallic Empire yang meliputi Jerman ke arah barat sampai ke Inggris Raya.

Bosan dengan bangunan? Mari kita ke kolam pemandian bangsawan Romawi. Ujar Beate, jika di suatu kota bekas Romawi ada pemandian mewah, sudah bisa dipastikan bahwa kota itu penting bagi para bangsawan Romawi yang terkenal dengan gaya hidupnya yang senang kemewahan. Dan Trier, malah punya dua pemandian: Imperial Baths dan Barbara Baths. Kami pun menuju Imperial Bath.

“Dulu, saat mandi disini wanitanya sudah pakai bikini lho”. Beate menjelaskan itu sambil memperlihatkan hasil publikasi penelitian para akeolog. “Jadi sebenarnya usia bikini itu sudah setua kota ini”. Kami tertawa. Tak hanya itu, lanjut Beate, ini pemandian massal, bukan pribadi. Jadi, orang yang mandi sama-sama nyemplung, dengan air hangat yang dialirkan dari saluran tertentu. Selain itu, walau namanya pemandian, reruntuhan ini dulunya dipakai juga sebagai tempat bersantai, dengan fasilitas olahraga air dan ruangan khusus untuk negosiasi antar pembesar. Kami terpana mendengar penjelasannya. Saya membayangkan betapa pada zaman itu, sehabis mandi, para bangsawan bersantai mengudap hidangan yang disajikan pelayannya. Bercakap-cakap antar mereka sementara pelayan mengelap tubuh mereka dan memakaikan pakaian kebesaran. Kemewahan khas para bangsawan penguasa.

Cukup lama kami di pemandian, dan saat keluar kami melihat keramaian di kejauhan. Ternyata ada semacam “perkemahan Romawi”, dimana banyak tenda-tenda pasukan Romawi dengan orang-orang yang berpakaian ala zaman itu. Mengingatkan saya pada komik Asterix dan Obelix, karena orang-orang itu juga membawa pedang dan tameng, dengan rambut pirang dikepang. Ada yang seolah-olah sedang berlaga, lengkap dengan kuda tunggangan dan tongkat penusuk. Kayaknya seru! Namun ketika kami hendak masuk, ternyata tidak gratis. Untuk masuk dan terlibat di dalamnya mesti bayar 6 euro per orang.

Sinar matahari terasa menyengat di Trier, padahal sudah pukul empat sore. Mungkin karena summer, dan matahari memang baru tenggelam sekitar pukul sembilan malam. Masih ada agenda menuju situs warisan dunia berikutnya yakni Roman Bridge – yang sekali lagi – disebut sebagai jembatan tertua di Jerman. Namun saya untuk memilih jalan sendiri, agar lebih bebas mengambil foto-foto yang terbatas tadi saat bersama rombongan.

Di alun-alun kota suasana masih tetap ramai. Anak-anak kecil bermain ayunan sambil berteriak, sementara orang tuanya mengawasi dengan waspada. Penjual bunga di sepeda menawarkan dagangannya dengan santai. Sepedanya diletakkan begitu saja di tengah jalan. Di sudut, seorang seniman kawat memamerkan keahliannya membentuk rupa-rupa bentuk binatang atau bangunan dengan kawat.

Di sebuah bangku di ujung jalan saya beristirahat sambil mengudap es krim Italia seharga 3,3 euro yang saya beli Restoran Calchera di ujung jalan menuju katedral. Kelezatannya memang luar biasa, atau hanya karena perasaan saya yang gembira, atau karena udara yang panas? Entahlah, sesaat saya berpikir tentang kebanggaan Beate tentang kota kecilnya ini. Ia tidak hanya bangga karena ketuaan kotanya saja, tapi ia juga bangga melihat bagaimana kota ini memelihara warisannya.

Sehabis es krim ini, saya hendak menuju Museum Karl Marx. Yap, Karl Marx bapak komunisme dan sosialisme dunia itu memang dilahirkan di Trier, pada tanggal 5 Mei 1818. Rumah kelahirannya yang terletak di Brückenstrasse 10, agak di pinggiran kota itu, menjadi Museum Karl Marx dengan pendanaan dari Friedrich Ebert Foundation. Kota ini tak hanya menjaga warisan peradaban, ia juga mengabadikan salah satu anak manusia yang pernah dilahirkan di sini, dengen menyimpan diorama kehidupan dan perjalanan karya-karya dari seorang yang dianggap paling berpengaruh pada zamannya. Mengingat itu, saya tiba-tiba menyenangi kota ini lebih dari sebelumnya.

Saya pun mengamini tulisan di Roten Haus (rumah merah) di Trier Haubmarkt (pasar/pusat keramaian):

Ante Romam Treviris Stetit Annis Mille Trecentis Perstet et Eterna Pace Frvatvr. Amen.

“Sebelum Roma, Trier berdiri selama 1300 tahun. Semoga kota ini tetap berdiri dan menikmati kedamaian abadi. Amin”

Dimuat di Majalah Travelounge, November 2015

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: