Oma Anna

Saya menulis ini untuk mengenang seorang Tante Anna.

Telah dua minggu ia tinggal di rumah kami di Bogor. Sebelumnya hampir setahun ia pulang kampung ke Tomohon dan Manado. Ada rumahnya di Bogor, hanya beberapa rumah di sebelah kanan rumah kami. Namun karena tak terurus, perlahan rumah itu hancur. Tiap kali hujan deras, atap yang bocor makin besar dan masuknya air merusak semuanya. Maka, ketika datang kembali ke Bogor, Tante Anna tinggal di rumah kami.

Suaminya telah meninggal belasan tahun lalu. Mereka tidak dianugerahi anak, mungkin karena menikah tua. Kami hanya tahu namanya, Om Frans.

Sebelum pulang Tomohon, di usianya yang kepala enam ini, ia tinggal sendiri semenjak ditinggal suaminya. Kami tahu, memang pernah ada saudaranya, keponakan, dan istri dari keponakan yang lain, tinggal di situ. Tapi selalu tak pernah lama, entah kenapa, mungkin Tante tidak cocok, atau mereka tidak cocok dengannya.

Padahal tangan kiri Tante sudah tidak maksimal berfungsi sejak ia terkena penyumbatan pembuluh darah dan diopname di Jakarta selama sekitar tiga minggu. Pergelangan tangannya bengkok ke kiri dan beberapa jarinya kaku susah digerakkan. Ia tidak bisa menggenggam lagi, atau membawa barang berat dengan tangan itu.

Bagi kami, walaupun sedikit cerewet, Tante Anna seorang yang punya tempat khusus di hati kami. Setidaknya Tante rajin mengajak kami bareng ke gereja di hari Minggu, atau ikut sembahyang lingkungan. Sering di Minggu subuh, ia sudah berdiri di gerbang, dengan tampilan jauh lebih modis dari yang muda-muda, menunggu kami keluar. Ia tidak pernah telat dalam soal janji, seringnya kecepatan setengah jam sebelumnya.

Tante juga sering mengantar masakan Manado ke rumah, walau makanan itu tak habis karena kami sudah punya makanan sendiri. Oma juga yang pernah bersemangat memberi nasihat ke Naries soal makanan sehat, soal apa yang sebaiknya dan jangan dilakukan, ketika Naries hamil walaupun ia belum pernah hamil dan nasihatnya sering berlebihan.

Ketika tiba saat Jojo lahir, kami ingat Tante tak mau kehilangan momen menunggu di rumah sakit. Dengan baju merah, ia setia di kursi tamu. Ia juga turut berteriak saat Jojo pertama kami diperlihatkan kepada kami di boks bayi.

Semenjak Jojo lahir, ia kami panggil Oma. Ia selalu menganggap Jojo cucunya, walau tak pernah berani mengungkapkannya secara berlebihan. Ia juga tak pernah minta menggendong bayi Jojo karena sadar tangannya tidak kuat. Tapi pernah Oma sangat kukuh ingin menggendong Jojo, Naries sudah takut saja. Hari itu Oma ngeyel sekali, pokoknya harus bisa menggendong. Untungnya Jojo tidak kenapa-napa, Oma tampak bahagia.

Rupanya, ia habis itu tak lama pulang ke Manado. Katanya cuma dua atau tiga bulan. Kenyataannya berbulan-bulan lewat, rumahnya pun terbengkalai karena tak terawat. Oma lebih sering menghubungi kami, daripada kami menghubungi dia. Menanyakan Jojo, atau memberi kabar kalau dia baik-baik saja, tetap ikut terapi untuk tangan kirinya, walau kami tak menanyakannya. Memberi tahu kalau ia belum bisa ke Bogor karena mesti merayakan ulang tahun ibunya di sana. Oma saja sudah tua, bagaimana ibunya. Pasti jauh lebih tua.

Setelah hampir setahun, tiba-tiba mendekat akhir November, Oma Anna datang. Tanpa memberi kabar. Rupanya ia akan hanya berkunjung sebentar, hendak menjual rumahnya dan menetap kembali di Manado. Jadilah ia tinggal di rumah kami, menjadi bagian keluarga, makan dari makanan yang sama, menonton acara TV dari TV yang sama.

Selama tinggal di rumah, Oma kadang kagok karena terbiasa tinggal di rumah sendiri. Ia masak di dapur di waktu Naries masak makanan buat Jojo. Ia bangun jam empat pagi buta, mandi, untuk mengikuti misa pagi saat semuanya masih terlelap. Ia duduk dimana Jojo sering bermain. Kadang ia bereaksi berlebihan saat melihat Jojo berlari ke luar atau memegang benda-benda.

Sejak dua hari lalu Oma kena flu, batuk. Kami kuatir ia akan menulari Jojo, maka aturan pun coba diterapkan agar Oma banyak istirahat, pakai masker dan tidak dekat Jojo. Jojo tidak peduli, ia tetap main di mana Oma duduk, kadang tetap panggil-panggil Oma..Oma.

Tadi siang, Naries bilang Oma kena sesak nafas karena minum obat batuk dan obat pusing kepala. Kami duga itu salah obat, kontra indikasi. Karena sesaknya lama, sorenya dibawa ke RS PMI Bogor oleh keponakannya. Naries tidak mengantar karena ada Jojo. Entah keponakan kandung atau bukan, karena Oma tidak pernah jelas kalau bercerita. Semua orang muda yang ke rumahnya selalu dibilang keponakannya.

Naries bilang ia merasa punya perasaan tidak enak tentang Oma.

Keponakannya selalu berkabar dengan Naries, tentang semua hal. Malam, ada kabar Oma masuk ICU. Oma gagal jantung. Bukan salah minum obat. Tak lama, ada kabar Oma sudah tidak sadar. Lalu, ada kabar keluarga telah dipanggil oleh dokter tentang kondisinya.

Ujungnya, ada kabar Oma telah berpulang, sekitar setengah 11 malam. Kami tak percaya.

Kata dokter, Oma kena gagal jantung akibat tumor paru-paru. Ia tidak pernah bilang, karena juga mungkin tidak tahu. Ia hanya tahu punya riwayat penyakit jantung, namun tak seorangpun dari kami tahu itu.

Sekarang ini kami bersedih. Barangkali bukan karena mengingat Oma memilih tinggal di rumah di hari-hari terakhirnya. Melewati hari-hari dengan duduk di ruang TV kami, dan doa hening di kamar tamu rumah kami. Bukan juga karena mengingat betapa baiknya Oma pada kami. Hal-hal itu membuat kami haru.

Tapi karena kami mengerti, betapa selama ini, Oma telah sendiri di banyak hal dalam hidupnya. Ia sendiri, tak punya anak, tak ada saudara tinggal serumah. Pernikahannya telat, namun itupun sangat singkat. Diantara banyak kecerewetan dan keluhannya selama ini, justru soal kesendiriannya itu yang tak pernah kami dengar. Ia hanya mengeluh soal tangannya, soal hujan, soal macetnya jalanan di Bogor.

Sakit pun ia sendiri. Sampai akhir hayatnya, tak seorang pun tahu ada tumor dalam paru-parunya yang membuatnya terkena gagal jantung. Ia juga tidak ditunggui siapa-siapa dalam meninggalnya. Bahkan mungkin karena begitu mendadak, keluarganya di Manado tak tahu perkembangannya.

Saya tidak tahu bagaimana proses Oma meninggal. Tapi ia meninggal tidak sadar, ia pasti tidak merasakan sakit. Saya juga tidak mau berandai-andai bahwa karena Oma orang baik ia sekilas seperti tersenyum saat meninggal.

Yang saya tahu, Oma Anna akan dikremasi seperti suaminya dulu. Oma tidak akan dikalungi salib dan dikubur dengan peti. Oma sudah pergi dari dunia yang kami tempati ini. Kami tidak pernah bisa tahu bagaimana perjalanannya di dunia yang lain itu.

Kami hanya berharap ada belas kasih kepadanya dari Allah Bapa – yang ia percayai dengan sepenuh jiwa raganya – kepada Oma yang punya hati tulus, seorang nenek yang tangannya gemetar saat membuat tanda salib. Yang dengan memaksa, setahun lalu diantara tatapan kuatir Naries, telah berhasil menggendong Jojo dengan tangan gemetar dan tak sempurna.

Mata saya berkaca-kaca saat menulis ini.

Selamat jalan Oma Anna. Selamat berbahagia.

Bonn. 05.12.2015

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: