Ada becak di Altstadt Muenchen

Saya pernah bertanya kepada teman Indonesia kelahiran Jerman yang saat ini menjadi pastor di Fulda, kota kecil di wilayah Hesse. “Kota apa sih yang paling ‘lebih’ di Jerman?” Ia menjawab, tentu saja Muenchen. Kota yang terletak di Bavaria ini punya segalanya. Wilayahnya paling luas dan paling kaya. Pemandangan Alpen dan wisata saljunya kelas dunia. Muenchen juga punya klub sepakbola tersukses di Jerman. Pusatnya teknologi dan ekonomi, universitas-universitas terbaik juga ada di sini.

Sapaan Guten Tag, yang berarti selamat siang, diganti jadi “Gruess Gott”. “Guten Tag tidak laku. Jadi, kalau kamu menyapa seseorang dengan Guten Tag di toko, siap-siap dapat pandangan aneh”.

Kok bisa?

Si Pastor tertawa, “Karena orang Bavaria itu tidak mau disamain. Mereka selalu ingin lebih dari yang lain. Mereka menganggap bukan Jerman yang membentuk Bavaria, tapi Bavaria-lah yang membentuk Jerman”. Saya membayangkan seragam sepakbola tim nasional Jerman yang sangat mirip dengan seragam klub Bayern Muenchen.

Ingatan akan percakapan itu selalu terbawa sampai kemudian saya bisa datang ke Muenchen untuk suatu acara dari kampus pada awal April kemarin. Saya tidak ingin membuktikan kebenaran jawaban Si Pastor karena mustahil tahu tentang zeitgeist, semangat zaman orang-orang Bavaria dalam beberapa hari di sini.  Yang saya ingin tahu sederhana saja: indahkah Bavaria di awal musim semi kali ini? Ini bukan Bulan Oktober, jadi Oktoberfest, pesta bir terbesar di dunia yang jadi magnet utama Muenchen bisa dikesampingkan.

Di pagi buta, saya sudah keluyuran di Marienplatz, kawasan Aldstat (kota tua)-nya Jerman. Lokasinya hanya sekitar 700 meter dari Hotel Maritim tempat saya menginap. Entah sejak kapan, saya mulai suka mengenali sebuah kota dengan keluyuran di pagi hari ketika kota tersebut masih sepi dan sebagian besar penghuninya masih belum beraktivitas.

Dingin yang masih tersisa tak menghalangi langkah prosesi personal dalam menikmati kota belum bangun. Lampu-lampu teras masih menyala. Kursi-kursi kafe pinggir jalan masih terbalik. Saat tiba di tujuan, saya terpaku pada bangunan berumur hampir 200 tahun, Neues Rathaus yang bergaya Flanders Gothic (gaya arsitektur gothic yang dipengaruhi Belanda). Dengan tinggi sekitar 100 meter dan atap-atap runcing, bangunan city hall itu tampak anggun mengalahkan zaman.

Tapi bukan itu yang jadi daya tariknya, melainkan Glockenspiel, menara lonceng yang diisi 32 miniatur. Tiap jam sebelas siang, 32 patung itu akan begerak menampilkan kisah tentang pernikahan seorang pangeran Bavaria, Duke Wilhem V dan Putri Renata dari Lorraine Perancis yang disambut gembira seluruh rakyat dengan berpesta. Namun, tak lama terjadi wabah penyakit, menyebar dengan ganas ke seluruh pelosok wilayah. Seorang pintar kemudian berkata bahwa hanya satu syaratnya: jangan tunjukkan kesedihan dan ketakutan, melainkan kesetiaan pada sang pangeran dengan menari di jalan-jalan pusat kota. Maka rakyat pun menari yang dipimpin oleh para pembuat kerajinan dari tembaga. Dan wabah itu hilang dengan sendirinya. Semua bersuka cita dan berpesta.

Pertunjukan berlangsung antara 10-15 menit. Tiga burung emas akan muncul di setiap akhir cerita dengan cuitan khasnya. Biasanya, momen inilah yang dijual oleh agen perjalanan atau guide lokal untuk memulai tur keliling kota. Mungkin itu mengapa orang Bavaria gemar berpesta ramai-ramai. Selain dengan guide jalan kaki, kita juga bisa mendapat guide dengan ikut Bus City Tour. Naik dari pool-nya yang terletak hanya 50 meter dari Haupbahnhof Muenchen.

Saya bertekad hendak minum kopi di Glockenspiel Caffe yang legendaris, cuma kayaknya kepagian. Andai saja saya bertahan sampe jam 11. Tapi siapa yang bisa menahan langkah untuk tidak terus jalan ke lain tempat, yang juga sama menariknya? Kawasan kota tua ini penuh dengan bangunan berumur ratusan tahun , seperti Old City Hall, yang terletak kurang dari 100 meter dari New City Hall. Serta Gereja St. Peter dimana pengunjung dapat menaiki 306 anak tangga tower-nya dengan bayar 1,5 euro buat melihat pertunjukan Glockenspiel. Kata sebuah blog yang saya baca, view-nya luar biasa. Juga ada Frauenkirche, Katedral Bunda Terkasih, yang terkenal dengan dua tower hijau bundarnya.

Di sekitar Altstadt banyak pub, bar dan restoran, dan bir adalah minuman yang tidak pernah ketinggalan. Bagi penikmat bir, pasti tahu Hofbraeuhaus yang terletak di Am Platz 9. Berdiri sejak 1589, inilah beer hall yang paling tua dan legendaris di antero Bavaria. Dimiliki oleh Duke Wilhems dan keluarganya secara turun temurun. Tong-tong bir dan wine telah siap di depan pintu, pelayan sudah mulai membersihkan meja-meja. Mereka tampak bersemangat dan antusias menyambut hari.

Beberapa pub umurnya sudah puluhan atau ratusan tahun. Ada plang yang menunjukkan usianya. Mereka kadang mengklaim sebagai bir nomor satu di Bavaria, padahal sebagai “ibukota bir”, Bavaria punya sekitar 40 tipe bir dengan 4000-an merk. Slogan main-main, save water by drinking more beer benar-benar berwujud di sini.

Perjalanan berlanjut ke Viktualienmarkt, masih bagian dari Altstadt, pasar makanan yang telah menjadi tradisi sejak abad ke-19. Hampir semua laman internet yang saya baca mencantumkan lokasi ini sebagai must-visit place saat di Muenchen. Penasaran saya, terbayang puluhan menu masakan lokal yang siap memanjakan lidah. Bayangan saya seperti open street food court, dimana makanan berjejer di tenda-tenda. Namun tenyata, bukan itu yang ada dihadapan saya pagi itu. Yang ada adalah aneka bahan makanan mentah seperti bumbu, bawang, sosis, daging, telur, sayur dan buah tradisional yang berasal dari daerah sekitar Bavaria. Ini sih pasar bahan makanan, bukan pasar makanan, kata saya bergumam.

Iseng saya bertanya ke salah satu penjualnya, apakah ada yang jual makanan siap santap? Bapaknya tampak heran, tapi terus bilang, kalau itu nanti. Sekarang belum buka. Datang lagi saja. Ah, sayang sekali, padahal saya sudah ngiler untuk makan di booth Schlemmermeyer yang menyajikan, katanya, sosis panggang terenak di Muenchen. Dan lalu beli kue di Die Schmalznudel buat bekal keliling kota. Lalu bapaknya bilang, orang Muenchen sejati itu, makan pertama jam 11 siang, menunya weisswurst (sosis putih), mustar manis, roti bretzel dan segelas besar bir.

Langkah saya teruskan ke River Isar, sungai kecil yang membelah kota. Memisahkan Muenchen barat dan timur. Di keheningan pagi, air sungai mengalir tenang dari utara ke selatan. Pantulan gedung tampak jelas di air sungai. Tidak ada sampah sedikit pun. Banyak pulau-pulau kecil di tengah sungai. Saya berjalan menyusuri promenade yang sepi, hanya ada beberapa orang berlari pagi atau bersepeda. Dari jembatan kecilnya, puncak-puncak runcing gereja atau bangunan tua menghiasi pinggir sungai. Begitu sendu, beda dengan hiruk pikuk Muenchen yang biasanya saat hari mulai beranjak siang. Pagi hari, inilah sisi lain Muenchen.

 

Di tepi River Isar, ada Deutsche Museum yang dapat dimasuki dengan membayar 11 euro buat dewasa dan 4 euro bagi anak-anak. Kata situsnya, ini museum terbesar di dunia untuk sains dan teknologi. Beragam koleksi dimilikinya, dari yang klasik sampai futuristik. Dari perkusi kuno sampai teknologi nano. Bagi anak-anak, tersedia koleksi permainan berbasis teknologi seperti ayunan dan katrol berat.

Lalu, tiba di Odeonplatz, di sisi utara Merienplatz. Di situ saya melihat becak! Iya becak turis kayak di Indonesia. Ada rombongan, mungkin dari Amerika, yang sedang dipandu oleh guide lokal bebahasa Inggris. Beberapa becak telah nangkring dengan drivernya yang masih muda-muda. Wah, tak beda dengan di Indonesia, becak sebagai kendaraan bebas polusi, juga dipakai dalam industri turisme. Entah apa sebutan becak dalam bahasa Jerman. Para penumpangnya diberi selimut untuk menahan angin dingin.

Di Maximillian Strasse, di dekat patung Raja Maximillian II, di tembok pagar ada tulisan well, I guess…some journeys begin when you arrive.  Entah siapa yang menulisnya. Rasanya betul juga, sebab perjalanan saya masih panjang di Bavaria ini. Sore nanti sehabis pertemuan, saya akan ke Schloss Nymphenburg, istana musim panas bangsawan Bavaria, yang usianya kini sudah 350 tahun dan tamannya yang sangat luas, yang jadi favorit untuk jogging atau bersepeda. Di sana ada kanal, yang dibangun karena obsesi sang pangeran pada Venice, Italy.

Setelah itu saya akan terus ke selatan, ke Mittenwald, sebuah kota perbatasan Jerman yang sangat terkenal dengan view kota tradisional Bavaria dengan latar salju di gunung-gunung. Lalu Innsbruck, Tyroll di Austria untuk menjejakkan kaki di puncak Pegunungan Alpen.

Dimuat di Majalah Travelounge edisi Juni 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: