Petualangan kecil di Alpen

Bagi seseorang dari negeri tropis, pemandangan kota-kota yang dikelilingi gunung bersalju ibarat destinasi liburan impian. Jika Anda termasuk salah satu yang mendambakan hal itu, datanglah ke Innsbruck, Austria, kota yang dijuluki ibukota Pegunungan Alpen.

Terletak di lembah Inn, kota ini dikelingi gugusan gunung berselimut salju abadi. Di sebelah utaranya Gunung Nordkette (2.246 m), di selatannya ada Gunung Patscherkofel (2.246 m) dan Serles (2.718 m). Di antara gugusan gunungnya mengalir Sungai Inn yang membelah kota seluas 104,91 km persegi itu, memisahkan kota dengan Nordkette. Mungkin karena itu, nama Innsbruck diambil dari nama sungai dan Brucke (bahasa Jerman, berarti jembatan). Innsbruck, kota yang menjadi jembatan Sungai Inn.

Pada awal April udara sudah mulai menghangat. Namun, pagi di terminal bus Innsbruck masih terlalu dingin selepas perjalalan dua jam dari Munich menggunakan bus antarkota Flixbus. Perjalanan yang tak membosankan. Pucuk-pucuk gunung bersalju, pemandangan permai pedesaan di kaki gunung, melewati kota-kota kecil seperti Mittenwald dan Garmisch Partenkirchen yang legendaris dengan lanskap salju musim dinginnya.

Apa tujuan saya ke Innsbruck? Kali ini bukan hanya meng-eksplore kota yang kabarnya telah dihuni sejak zaman prasejarah di awal Stone Age, tapi juga hiking di kaki Pegunungan Alpen. Tidak. Jangan bayangkan hiking profesional dengan peralatan lengkap. Ini hanya petualangan kecil menelusuri rute menarik dan penuh pemandangan indah.

Mengingat terbatasnya waktu, saya memilih ke Nordkette yang di lamannya disebut sebagai Jewel of the Alps dengan Nordkettenbahn (kereta luncur menuju Nordkette). Barulah setelah itu menuruni lerengnya, melewati desa-desa kecil, Alpenzoo (kebun binatang Alpen), dan terakhir menyusuri Sungai Inn di mata kakinya.

Sudah masuk musim semi, sebagian salju telah mencair, dan kaki-kaki gunung telah kembali hijau kecoklatan. Ini menunjukkan dedaunan telah kembali tumbuh setelah musim dingin. Namun salju masih membentang dengan luasnya di area puncak Alpen. Tak heran, walau musim dingin sudah lewat, bagi penggemar olahraga salju, Innsbruck menawarkan tempat berolahraga yang tetap nyaman.  Sejak dari Hungerburgbahn di area Congress, stasiun pertama untuk naik ke Nordkette, sudah banyak orang yang membawa peralatan skiing dan snowboarding. Termasuk anak-anak kecil yang dengan ributnya berceloteh apa saja.

Tiket pp-nya 33 euro sampe ke Hafelekarspitze, yang merupakan puncak tertinggi Nordkette. Kereta ternyata hanya sampe di Hungerburg, tempat perhentian pertama untuk aktivitas skiing dan snowboarding. Jika ingin melanjutkan ke Hafelekar, mesti naik kereta gantung lagi.

Saya putuskan untuk turun dulu di Hungerburg karena di sini ada cafe legendaris, Alpenlounge Seegrube & Hafelekar Restaurant. Sambil menyeruput secangkir coklat panas saya duduk di kursi bersandar santai, tepat di pinggir tebing. Memanjakan lidah di ketinggian 1.900 m sambil memandang gugusan puncak-puncak bersalju, dipadu langit abu-abu, serta warna-warni jaket para penikmat olahraga salju yang meluncur menuruni salju di sisi gunung sungguh pengalaman tak biasa. Mereka hilir mudik di sekitar café, sambil menenteng sepatu ski atau snowboard yang kebanyakan disewa dari tempat persewaan peralatan di sebelah café.

Puas di Seegrube, saya putuskan melanjutkan perjalanan. Kali ini menggunakan kereta gantung sampai Station Hafelekar, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 20 menit untuk menggapai puncaknya. Tidak jauh dari stasiun, terpasang peringatan kalo area ini adalah akhir zona aman. Pengunjung wajib waspada akan bahaya avalanche (salju longsor) tiba-tiba. Saat tiba di puncak, ada salib kecil yang jadi ikon Hafelekarspietze. Pemandangan dari sini? Menakjubkan!

Tapi, ketinggian di atas 2.200-an meter berangin kencang bukanlah tempat yang nyaman berlama-lama. Hanya sekitar 15 menit, saya sudah menggigil. Karena angin dan hujan yang tiba-tiba turun.

Bergegas saya turun menuju stasiun, langsung menuju Innsbrucker Norkettenbahnen yang menjadi awal rute jalan kaki menuruni gunung. Dari Hermann Buhl Platz, yang beroleh nama dari seorang pendaki kenamaan Innsbruck dan penggagas konservasi Alpen Austria, kota Innsbruck terhampar dengan jelas. Sungai Inn meliuk-liuk, bersilang dengan jalan dan jembatan yang membentuk kota. Padang rumput hijau dan taman-taman kota, Goldenroof and City Tower, serta menara gereja di kawasan Altstadt tampak harmonis berpadu dengan deretan pegunungan di selatan Innsbruck.

Dengan bersemangat saya menyusuri jalan tanah berbatu. Berliku-liku menuruni jurang menuju dataran rendah. Namun jalannya sudah dibikin nyaman. Di pinggir jurang, pepohonan berjejer, seakan memagari jalan.

Ketika sampai di suatu persimpangan, saya beristirahat sambil duduk di kursi. Tak lama, datang satu rombongan. Mereka membawa bayi yang digendong di depan. Saat melintas di depan saya, salah satunya tiba-tiba menyapa dan bertanya dalam bahasa Jerman. Walau tidak begitu mengerti, nampaknya ia bertanya dimana letak Alpenzoo. Saya sebenarnya juga belum tahu arahnya, namun karena ingat bahwa di GPS arahnya ke kanan, maka dengan sok yakin saya sarankan ia ke sana. Semoga mereka tidak nyasar.

Tak lama, melintas sepeda yang ditunggangi pria paruh baya. Saya berpikir, kuat juga ini orang bersepeda di perbukitan. Jangan-jangan habis ini nenek-nenek yang lewat. Eh, beneran. Tak lama lewatlah dua orang nenek-nenek yang melangkah dengan walau sedikit terengah, tampak bersemangat sekali.

Di perjalanan, sering saya temui taman-taman bunga di dekat gazebo yang berdiri tepat di pinggir jurang. Dedaunan muda yang kehijauan segar mulai mengisi ranting dan cabang pepohonan sehabis merangggas di musim dingin. Juga ada rumah-rumah peristirahatan yang tampak kokoh.

Tidak jauh dari situ, terdapat Alpenzoo yang khusus berisi flora dan fauna khas gugusan Alpen. Terdapat sekitar 20 jenis mamalia ada di sana dari total 80 jenis yang menghuni Alpen, 60 jenis burung, 11 reptil dan hampir semua ikan yang hidup di Alpen. Beberapa hewan yang menjadi ikon seperti bison Eropa, Alpine Ibex, beruang, lynx, dan elang emas menjadi koleksi andalannya. Tiket masuk hanya 10 euro untuk dewasa. Walau ingin masuk, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Kira-kira setengah jam kemudian, sampailah saya di tepian Sungai Inn. Salah satu ikon fotografis Innsbruck yang banyak dijadikan lokasi berfoto para pelancong ada di sini: rumah warna-warni di perbukitan dengan latar depan Sungai Inn dan latar belakang Pegunungan Alpen bersalju putih di puncaknya.

Saya menikmati suasana dengan segenap perasaan di promenade Sungai Inn ini. Saya buka bekal burger yang dibeli di Seegrube. Badan yang segar sehabis hiking kecil, pikiran yang damai, dan perut yang telah terisi. Itu membuat lupa kalau waktu sudah hampir habis dan jadwal bis balik ke Munich sudah semakin dekat. Ibarat Innsbruck yang sudah lupa akan sisa-sisa pengeboman hebat saat Perang Dunia II dulu. Benarlah kutipan kata-kata Erhard A. Bellerman, seorang penyair Jerman yang saya lihat di Seegrube, saat ia mendeskripsikan Innsbruck:

Das Tal der Sorgen ist umgeben von Bergen des Gluecks

“Lembah penderitaan itu sesungguhnya dikelilingi oleh gunung-gunung kebahagiaan”

 

Dimuat di Majalah Travelounge, Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: