Category Archives: view of world

Aura Keabadian di Candi Gunung Kawi

Candi, di Bali?

Di antara suara gemercik aliran Tukad Pakerisan dan angin yang berhembus sepoi-sepoi, tampak di hadapan saya, dinaungi hijau pepohonan dan tanaman merambat, tepat di seberang timur sungai kecil itu, terpapar pahatan bebatuan di tebing gunung, yang melapuk dan menggelap.

 

Itulah Candi Gunung Kawi, satu-satunya candi di Pulau Dewata, Bali.  Candi yang beda dengan candi-candi di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Rasa penasaran membawa saya ke situ awal Juni lalu.

Saya tak pernah tahu sebelumnya kalau terdapat candi di Pulau Bali. Bali yang terkenal dengan pantai pasir putih, pura keramat, gunung berapi, tradisi bakar mayat, puputan darah penghabisan, spa, ukiran dan lukisan, rupanya masih menyimpan pesonanya yang lain. Tersembunyi dan misterius.  Atau jangan-jangan, selama ini saya justru yang memakai kacamata kuda ketika melihat pesona Bali?

Dari literatur yang pernah saya baca, candi utamanya dibuat untuk dua hal: beribadah murni dan atau sebagai tempat persemayaman plus pemujaan.

Sisi timur.jpg

Candi-candi Budha kebanyakan digunakan untuk keperluan pertama, sedangkan candi Hindu untuk keperluan kedua. Candi Gunung Kawi sendiri yang merupakan candi Hindu, adalah candi tempat pemujaan (istilah arkeologis = candi pedharmaan) terhadap roh suci (dewa pitara) salah satu raja terbesar bali yakni Raja Udayana (989-1011 M) dan keturunannya yakni Raja Marakata dan Anak Wungsu. Maka tak heran, candi ini menyatu dengan pura yang masih satu kompleks sehingga sering juga dijuluki lengkap sebagai Candi Pura Gunung Kawi.

Dibelai angin, saya menuruni ratusan anak tangga semen sejauh kira-kira 250 meter. Terbentang sawah menguning siap panen sepanjang jalan. Pohon-pohon kelapa tua di pematang, dengan buah menggantung siap petik. Suara air dari Tukad Pakerisan. Dan selalu ada sesaji di mana-mana, di pinggir sawah, di sudut jembatan, di saluran irigasi, di sudut halaman rumah: penghormatan terhadap alam semesta. Eksotisme alam dan tradisi keagamaan Bali menyapa saya.

Sepanjang turunan, toko-toko souvenir sederhana menjual aneka kerajinan yang berwarna-warni. Di suatu sudut toko, saya lihat penjualnya sedang mengukir rambut di kepala Budha.

Tepat di ujung jalan sebelum memasuki candi, ada lorong dimana kita mesti memercikkan air di tempayan. Selain sebagai lambang ketenangan dan kesucian, di banyak kepercayaan air juga dianggap medium paling tepat sebagai penghantar ke alam spiritual. Ritual ini untuk memantaskan diri memasuki tempat sakral, membersihkan hati dan pikiran. Mirip dengan ketentuan yang saya temui di gerbang masuk, yakni kita mesti memakai kain seperti sarung untuk menutupi tubuh bagian bawah dan kaki, sebagai syarat kepantasan berada di situ.

Dua turis Jepang dengan patuh memerciki diri. Juga saling memotret dalam momen itu.

Berpose.jpg

Melewati gerbang lalu memandang bangunan candi, saya sadar mengapa candi yang dibangun pada abad ke 11 Masehi oleh Raja Anak Wungsu (1019-1077) ini berbeda. Monumen atau bangunan candinya tidak ada. Yang ada adalah pahatan di tebing dengan bentuk punden berundak sebagai bentuk dasar candi. Jika umumnya candi dibentuk dari bebatuan lepas yang disusun, diukir, dipahat dan digabungkan membentuk bangunan, maka Candi Gunung Kawi dibentuk dari bebatuan yang melekat pada tebing.  Candi Gunung Kawi adalah pahatan dinding batu.

 

Tukad Pakerisan 2.jpgTukad Pakerisan yang tersambung ke Pura Tirta Empul membelah lanskap candi menjadi sisi barat dan timur.  Selaras dengan konsepsi arkeologis bahwa umumnya candi dibuat dekat sumber air. Di sisi barat, berjejer 4 buah candi pemujaan bagi permaisuri-permaisuri raja. Sedang di sisi timur, ada 5 buah candi pemujaan bagi Raja Udayana dan kedua anaknya. Terdapat pancuran air yang dialirkan ke kolam penampungan yang berisi ikan dan dihiasi bunga teratai. Juga terdapat pura dan tempat pertapaan berupa lubang-lubang di dinding batu yang diselimuti lumut.

Berjalan di tengah-tengah kedua sisi itu, di tepian Tukad Pakerisan yang berbatu dan tak henti bergemericik, saya seakan-akan sedang memasuki portal waktu menuju keabadian masa lalu. Keabadian yang tenang, harmonis dengan rentang zaman selama seribu tahun ini.

Perasaan itu begitu saja hadir dengan kuatnya. Entah saya harus berterima kasih pada kurang terawatnya candi sehingga memunculkan aura masa silam dan energi spiritual yang kuat, atau malah prihatin melihat tidak terpeliharanya peninggalan seribu tahun yang meruapkan kejayaan Kerajaan Bali di masa silam.

Apalagi ketika datang satu keluarga Bali yang berpakaian adat dan pendeta Hindu yang hendak bersembahyang di pura (yang lagi-lagi seperti kurang terurus) di belakang candi bagian timur. Bayangan bahwa dahulu tempat ini penuh dengan anggota keluarga kerajaan yang bersila, bersimpuh dan berdoa bagi keabadian dan kedamaian roh suci raja-raja mereka, sambil melantunkan tembang-tembang pujian diantara harum dupa dan bunga, membuat imajinasi saya meluncur jauh. Andai saja ada mesin waktu, mungkin saat itu saya langsung pergi ke zaman itu, memuaskan petualangan imajiner saya.

Menuju candi 2.jpgDan oh iya, saat melihat anak gadis keluarga itu, salahkah saya kalau sekali lagi bilang kalau gadis Bali yang berbusana adat itu sungguh eksotis?

Hanya kemunculan turis-turis bule yang menyadarkan saya bahwa tempat ini dalam kenyataannya lebih nyata sebagai portal turisme global daripada portal masa lalu yang abadi.

Sepasang kakek nenek Jerman, asyik memotret cucunya yang tidak pernah diam. Turis Inggris sibuk mendengarkan guide lokal yang bersemangat menjelaskan mitos candi ini. Turis lokal? Kebanyakan datang dengan kurang antusias, dan sekilas saya mendengar salah satu dari mereka bicara, “Bagusan Borobudur. Ayoo kita langsung cari makan di Ubud aja..”.

Turis-turis asing terus saja datang dan pergi. Kadang saya lihat tangan mereka, sambil memegang buku panduan wisata, menunjuk ke candi dengan ekspresi wajah terkesima. Mungkin sebelumnya, The Fall (2008), sebuah film petualangan spiritual yang ber-setting tempat-tempat memukau di seluruh dunia (22 lokasi) telah menuntun mereka ke Candi Gunung Kawi karena candi inilah satu satu dari lokasi pengambilan gambarnya. Mungkin bagi mereka bertatapan dengan jejak peradaban manusia masa lalu adalah bentuk ziarah batin tersendiri. Tetapi mungkin saja, kunjungan ke Candi Gunung Kawi ini hanyalah semata oase persinggahan sebentar sebelum menuju Istana Tampak Siring dan Pura Tirta Empul yang lebih populer bagi turis.

Dari menguping si guide, saya mendengar kisah Kebo Iwa sebagai sang maestro pendirian candi. Sosok ini bukan melulu sosok mitologi. Sejarah mengungkap kalau ia adalah punggawa dan ahli bangunan kerajaan yang bijak dan berilmu tinggi. Ia hidup pada awal abad ke-14 Masehi.

Karena kehebatannya, oleh Gadjah Mada ia dianggap penghalang dan perlu disingkirkan demi ambisi Majapahit mempersatukan Nusantara. Tapi, bukan pertikaiannya dengan Gadjah Mada yang membuat Kebo Iwa terkait dengan Candi Gunung Kawi. Dalam mitos, dikatakan bahwa Kebo Iwa-lah yang mengukir candi di tebing batu itu.

Ia mengukirnya tidak menggunakan alat apapun melainkan hanya dengan kuku tangannya! Dengan kuku-kukunya yang setajam mata pahat dan tenaganya yang sebesar raksasa, hanya dalam sehari semalam candi tersebut didirikan dengan megah. Ia mendirikan Candi Gunung Kawi untuk menunjukkan kesetiaannya terhadap sang raja.

Saya pribadi beranggapan bahwa mitologi itu punya makna tertentu. Terlepas dari periode hidup Kebo Iwa yang tidak sinkron dengan catatan sejarah pendirian candi yang diakui luas, tampak bahwa mitologi ini sekali lagi memperlihatkan kekaguman masyarakat sekitar akan bangunan tersebut (dan juga terhadap sang pemahat) yang lalu dipersepsikan telah dibangun oleh kekuatan di luar batas kemampuan manusia biasa.

Pohon beringin yang rindang meneduhkan siang yang terik itu. Selepas puas berkeliling, memang nyaman duduk dan beristirahat di batu-batu sungai di bawah pohon, memandangi candi di seberang sungai sambil mendengar suara gemericik air. Saya tahu telah tersihir aura keabadian Candi Gunung Kawi. Bali adalah pesona yang tak habis ditelan zaman.

Dimuat di Sriwijaya Inflight Magazine, September 2017

 

Advertisements

Valencia, kota turis “segala ada”

Saya dan beberapa teman dari Castellon datang ke Valencia pada pertengahan Maret untuk membuktikan hal konyol. Bahwa di Bulan Maret, Valencia adalah kota segala ada di Spanyol bagi turis. Sungguh, saya cukup skeptis bahwa ada sebuah kota seperti itu. Banyak yang bilang, Valencia, kota ketiga terbesar di Spanyol, bisa memberi pelancong multi kenikmatan dalam kunjungannya.

Selepas satu jam perjalanan yang ditaburi pemandangan kebun Naranja (jeruk oranye) yang maha luas di kiri kanan kereta, sampailah saya pada bangunan stasiun kereta api yang indah, Estacio del Nord. Selain arsitektur menawan, lokasinya pas di jantung kota tua Valencia. Rasanya di Eropa ini, paling tidak ada satu diantara empat bangunan yang selalu tak biasa dan menimbulkan kekaguman dari segi arsitekturnya: City Hall, Kantor Pos, Gereja, atau Stasiun Kereta.

Bulan Maret adalah musim bergembira di sepanjang pesisir timur. Udara nyaman, cuaca tak panas namun cerah karena hujan kurang, juga awal musim tanam. Juga  musim corrida de torros (adu banteng) untuk Spring Season dan musim festival jalanan.

Mumpung belum begitu panas, kami putuskan menuju Playa de Patacona, pantai-nya Valencia, yang terletak agak di utara kota. Menaiki bus jalur 19 dari halte dekat stasiun. Hamparan pasir kecoklatan, memanjang sejauh pandangan. Hanya tampak pohon-pohon perdu kecil. Tak ada pohon kelapa. Ini bukan pantai tropis yang romantis dengan es kelapa muda yang segar.

Walau bukan pantai yang paling sering didatangi turis, seperti halnya Malva Rosa, Patacona tetap mempesona dengan warna langitnya yang membiru. Bagi pencari ketenangan, apa yang diberikannya sungguh merupakan harmoni keheningan pasir lembut dan syahdunya pantai Mediterania. Bagi yang hobi berenang, saat musim semi begini masih belum boleh. Tunggu nanti saat musim panas bulan Juli    atau Agustus. Jadilah kami hanya lari-larian, berfoto lompat-lompatan, lalu duduk-duduk di kafe, menikmati segelas bir dingin dan kacang. Agak aneh memang, minum bir pagi-pagi.

Puas di pantai, kami kembali ke dalam kota.  Kali ini menyusuri taman hijau di tepian Sungai Turia yang dikatakan sebagai taman terbesar di Spanyol. Seperti Sungai Thames di Inggris dan Rhein di Jerman, Sungai Turia membelah Valencia menjadi dua belahan kota. Pengunjung bisa menyewa sepeda untuk menyusuri pinggir Sungai Turia menuju salah satu penanda kota yang lain, yakni kompleks City of Arts and Sciences.

Seorang arsitek pasti akan suka dengan bangunan futuristik seperti ini, mengingatkan pada bangunan monumental lain seperti Sidney Opera House ataupun Bird Nest Stadium Beijing. Hanya saja, dengan enam bangunan berbeda, kompleks itu menawarkan beragam hal: museum seni rupa dan patung, koleksi tanaman endemik Valencia, L’ oceanographic yang berisi hewan-hewan hidup laut (sejenis Sea World), Reina Sofia yang berfungsi sebagai tempat pertunjukan opera dan teater, serta L’ agora yang berfungsi sebagai ruang pameran, seminar dan sport venue.

Tak terasa, sekitar satu jam perjalanan menyusuri Sungai Turia, selepas tengah hari, kami telah sampai lagi di Estadio de Nord. Gelanggang adu banteng, Plaza de toros Valencia, terletak di samping stasiun itu. Poster bertebaran di tembok gelanggang yang menjulang tinggi. Salah satunya bertulisakan:  “Plaza de toros de Valencia! – Extraordinaria Corrida!”.

Manzanares, sang matador yang saat itu menjadi idola, berdiri tegak. Pedang tusuk di tangannya terhunus, matanya menyipit membidik sang banteng. Harga tiket berkisar 9 – 120 euro, tergantung posisi duduk dan arah matahari. Saya tidak tertarik karena sudah pernah menonton corrida di Castellon beberapa hari yang lalu, dan rasanya, sekali sudah lebih dari cukup.

Festival di Valencia dinamai Las Fallas, dipusatkan di Plaza de la Reina di pusat kota tua. Fallas merupakan festival tradisional memperingati Santo Joseph sang pelindung kota. Biasanya berlangsung selama dua minggu. Festival ini telah dijadikan Situs Warisan Dunia Tak Benda sejak tahun 2016 oleh UNESCO. Untuk menyemarakkan pesta, tiap komunitas lokal (casal faller) dari kota sekitar seperti Sagunt, Alacant dan Teruel, berkontribusi menyajikan kuliner masing-masing (umumnya tapas dan paella) dan membikin boneka karakter yang disebut ninots. Tapas adalah kudapan kecil yang terbuat dari bahan makanan laut, sedang paella merupakan sejenis nasi uduk berbahan kunyit dan hasil laut (udang, cumi, ikan, kerang, dan sebagainya).

Tak jauh dari stasiun saya disambut puluhan ninots. Mirip ogoh-ogoh yang ramai dibuat menjelang Nyepi di Bali. Tapi bentuknya tak melulu raksasa, banyak juga yang kecil. Tidak juga melulu dibikin seram. Ninots dibuat sangat ekspresif, dan atraktif dengan warna-warna cerah. Diletakkan di sudut-sudut jalan, persimpangan atau di tengah taman. Anak-anak asyik berfoto dengan latar karakter yang mereka suka, seperti Bart Simpsons, Mickey Mouse atau Putri Salju. Sementara remajanya lebih memilih Popeye, Bajak Laut atau penari kelab malam.

Sayangnya, pada akhir Fallas, semua ninots yang indah itu akan dibakar, menjadikan kawasan kota tua  lautan api. Pearl de la Cruz, teman sekelas saya dari Filipina berujar,”Bisa kita minta nggak ya ninots yang kecil, ‘kan seru buat dipajang di flat”. Kami tidak berkomentar apa-apa. Ia lalu nyengir sendiri, menyadari bahwa hal itu tak mungkin.

Puas menikmati jalanan yang dipenuhi ninots, kami lalu menyusuri Carrer de Sant Vincent Martir menuju ke situs warisan dunia yang lain, La Lonja de La Seda. Berdiri sejak abad ke-15, bangunan berciri Gothic ini dulunya merupakan pusat perdagangan sutra dan komoditas lain di sepanjang pesisir Mediteraia. Langit-langitnya ditopang pilar-pilar melingkar yang diukir dengan halus, mengisyaratkan tradisi perdagangan maritim yang egaliter di abad-abad sebelumnya. Rasanya tiap rombongan turis pasti ke sini. Yang paling ramai turis dari Tiongkok, selalu berfoto di sudut manapun berada. Sedang turis Jepang, selalu paling teratur dalam atrian. Sang pemimpin rombongan membawa bendera yang diikat di tongkat kecil.

“Ayo, ke sebelah sini Bapak dan Ibu, saya akan terangkan, ketika arus perdagangan dengan Asia melonjak, Valencia kembali menegaskan posisinya sebagai pusat…”, sayup-sayup terdengar suara pemandu dalam bahasa Indonesia. Rupanya, rombongan turis dari Indonesia ada juga, pria dan wanita paruh baya yang necis pakaiannya.

Pearl, yang seorang Katolik taat, punya misi khusus ke Valencia. Ia sangat ingin melihat Holy Grail, atau cawan suci yang dipakai oleh Yesus saat perjamuan terakhir Kamis Putih bersama para rasulnya. Cawan tersebut disimpan di Katedral Santa Maria Valencia, tak jauh dari City Hall. Katedral ini telah berdiri sejak abad ke-13.

Legenda mengatakan bahwa Cawan Suci itu dibawa langsung dari Roma jauh sebelum Perang Salib, disembunyikan saat ekspansi dan kekuasaan Bangsa Moor dari Maroko oleh bangsawan lokal, dan baru kembali ke Valencia pada tahun 1427 atas perlindungan Raja Alfonso.

Konon, walau banyak klaim serupa dari belahan Eropa lain, beberapa ahli mengatakan bahwa inilah yang bisa dianggap memiliki kemungkinan terbesar sebagai cawan yang asli. Dari telaah manuskrip kuno dan perkiraan usia karbon diperkirakan cawan itu dibuat pada kisaran abad ke-4 sebelum Masehi sampai abad ke-1 sesudah Masehi. Tak heran, beberapa situs wisata lokal mulai memasang tagline bahwa Valencia adalah “City of Holy Grail”. Bahkan cawan itu pernah dipakai Paus Benediktus XVI untuk mempersembahkan ekaristi dalam suatu perjamuan misa pada Bulan Juli 2006.

Saat tiba sana, tampaklah katedral yang dibuka untuk umum. Katedral yang merupakan bekas masjid Bangsa Moor itu berornamen campuran Gothic dan beberapa aliran lain. Selain melihat relikui-relikui yang disimpan, kita dapat naik ke menaranya serta melihat ke sekeliling kota. Pearl sungguh antusias, beda dengan saya yang biasa saja soal beginian. Saya lihat ia berlutut, berdoa di depan altar.

Saya tidak tahu ia berdoa apa. Tapi saya harap ia berdoa agar cuaca tetap cerah sampai kami puas di Valencia dan kembali ke Castellon. Sagunt, desa kecil yang eksotis bekas reruntuhan Bangsa Moor di antara Valencia dan Castellon telah menanti untuk dijelajahi. Kami memilih hiking ke sana daripada menunggu Mascleta, festival kembang api yang diadakan tiap sore di halaman City Hall. Ketika semua ada di Valencia, tetap saja kami mesti memilih.

***

Dimuat di Majalah Travelounge Edisi Juli 2017

 

 

 

Petualangan kecil di Alpen

Bagi seseorang dari negeri tropis, pemandangan kota-kota yang dikelilingi gunung bersalju ibarat destinasi liburan impian. Jika Anda termasuk salah satu yang mendambakan hal itu, datanglah ke Innsbruck, Austria, kota yang dijuluki ibukota Pegunungan Alpen.

Terletak di lembah Inn, kota ini dikelingi gugusan gunung berselimut salju abadi. Di sebelah utaranya Gunung Nordkette (2.246 m), di selatannya ada Gunung Patscherkofel (2.246 m) dan Serles (2.718 m). Di antara gugusan gunungnya mengalir Sungai Inn yang membelah kota seluas 104,91 km persegi itu, memisahkan kota dengan Nordkette. Mungkin karena itu, nama Innsbruck diambil dari nama sungai dan Brucke (bahasa Jerman, berarti jembatan). Innsbruck, kota yang menjadi jembatan Sungai Inn.

Pada awal April udara sudah mulai menghangat. Namun, pagi di terminal bus Innsbruck masih terlalu dingin selepas perjalalan dua jam dari Munich menggunakan bus antarkota Flixbus. Perjalanan yang tak membosankan. Pucuk-pucuk gunung bersalju, pemandangan permai pedesaan di kaki gunung, melewati kota-kota kecil seperti Mittenwald dan Garmisch Partenkirchen yang legendaris dengan lanskap salju musim dinginnya.

Apa tujuan saya ke Innsbruck? Kali ini bukan hanya meng-eksplore kota yang kabarnya telah dihuni sejak zaman prasejarah di awal Stone Age, tapi juga hiking di kaki Pegunungan Alpen. Tidak. Jangan bayangkan hiking profesional dengan peralatan lengkap. Ini hanya petualangan kecil menelusuri rute menarik dan penuh pemandangan indah.

Mengingat terbatasnya waktu, saya memilih ke Nordkette yang di lamannya disebut sebagai Jewel of the Alps dengan Nordkettenbahn (kereta luncur menuju Nordkette). Barulah setelah itu menuruni lerengnya, melewati desa-desa kecil, Alpenzoo (kebun binatang Alpen), dan terakhir menyusuri Sungai Inn di mata kakinya.

Sudah masuk musim semi, sebagian salju telah mencair, dan kaki-kaki gunung telah kembali hijau kecoklatan. Ini menunjukkan dedaunan telah kembali tumbuh setelah musim dingin. Namun salju masih membentang dengan luasnya di area puncak Alpen. Tak heran, walau musim dingin sudah lewat, bagi penggemar olahraga salju, Innsbruck menawarkan tempat berolahraga yang tetap nyaman.  Sejak dari Hungerburgbahn di area Congress, stasiun pertama untuk naik ke Nordkette, sudah banyak orang yang membawa peralatan skiing dan snowboarding. Termasuk anak-anak kecil yang dengan ributnya berceloteh apa saja.

Tiket pp-nya 33 euro sampe ke Hafelekarspitze, yang merupakan puncak tertinggi Nordkette. Kereta ternyata hanya sampe di Hungerburg, tempat perhentian pertama untuk aktivitas skiing dan snowboarding. Jika ingin melanjutkan ke Hafelekar, mesti naik kereta gantung lagi.

Saya putuskan untuk turun dulu di Hungerburg karena di sini ada cafe legendaris, Alpenlounge Seegrube & Hafelekar Restaurant. Sambil menyeruput secangkir coklat panas saya duduk di kursi bersandar santai, tepat di pinggir tebing. Memanjakan lidah di ketinggian 1.900 m sambil memandang gugusan puncak-puncak bersalju, dipadu langit abu-abu, serta warna-warni jaket para penikmat olahraga salju yang meluncur menuruni salju di sisi gunung sungguh pengalaman tak biasa. Mereka hilir mudik di sekitar café, sambil menenteng sepatu ski atau snowboard yang kebanyakan disewa dari tempat persewaan peralatan di sebelah café.

Puas di Seegrube, saya putuskan melanjutkan perjalanan. Kali ini menggunakan kereta gantung sampai Station Hafelekar, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 20 menit untuk menggapai puncaknya. Tidak jauh dari stasiun, terpasang peringatan kalo area ini adalah akhir zona aman. Pengunjung wajib waspada akan bahaya avalanche (salju longsor) tiba-tiba. Saat tiba di puncak, ada salib kecil yang jadi ikon Hafelekarspietze. Pemandangan dari sini? Menakjubkan!

Tapi, ketinggian di atas 2.200-an meter berangin kencang bukanlah tempat yang nyaman berlama-lama. Hanya sekitar 15 menit, saya sudah menggigil. Karena angin dan hujan yang tiba-tiba turun.

Bergegas saya turun menuju stasiun, langsung menuju Innsbrucker Norkettenbahnen yang menjadi awal rute jalan kaki menuruni gunung. Dari Hermann Buhl Platz, yang beroleh nama dari seorang pendaki kenamaan Innsbruck dan penggagas konservasi Alpen Austria, kota Innsbruck terhampar dengan jelas. Sungai Inn meliuk-liuk, bersilang dengan jalan dan jembatan yang membentuk kota. Padang rumput hijau dan taman-taman kota, Goldenroof and City Tower, serta menara gereja di kawasan Altstadt tampak harmonis berpadu dengan deretan pegunungan di selatan Innsbruck.

Dengan bersemangat saya menyusuri jalan tanah berbatu. Berliku-liku menuruni jurang menuju dataran rendah. Namun jalannya sudah dibikin nyaman. Di pinggir jurang, pepohonan berjejer, seakan memagari jalan.

Ketika sampai di suatu persimpangan, saya beristirahat sambil duduk di kursi. Tak lama, datang satu rombongan. Mereka membawa bayi yang digendong di depan. Saat melintas di depan saya, salah satunya tiba-tiba menyapa dan bertanya dalam bahasa Jerman. Walau tidak begitu mengerti, nampaknya ia bertanya dimana letak Alpenzoo. Saya sebenarnya juga belum tahu arahnya, namun karena ingat bahwa di GPS arahnya ke kanan, maka dengan sok yakin saya sarankan ia ke sana. Semoga mereka tidak nyasar.

Tak lama, melintas sepeda yang ditunggangi pria paruh baya. Saya berpikir, kuat juga ini orang bersepeda di perbukitan. Jangan-jangan habis ini nenek-nenek yang lewat. Eh, beneran. Tak lama lewatlah dua orang nenek-nenek yang melangkah dengan walau sedikit terengah, tampak bersemangat sekali.

Di perjalanan, sering saya temui taman-taman bunga di dekat gazebo yang berdiri tepat di pinggir jurang. Dedaunan muda yang kehijauan segar mulai mengisi ranting dan cabang pepohonan sehabis merangggas di musim dingin. Juga ada rumah-rumah peristirahatan yang tampak kokoh.

Tidak jauh dari situ, terdapat Alpenzoo yang khusus berisi flora dan fauna khas gugusan Alpen. Terdapat sekitar 20 jenis mamalia ada di sana dari total 80 jenis yang menghuni Alpen, 60 jenis burung, 11 reptil dan hampir semua ikan yang hidup di Alpen. Beberapa hewan yang menjadi ikon seperti bison Eropa, Alpine Ibex, beruang, lynx, dan elang emas menjadi koleksi andalannya. Tiket masuk hanya 10 euro untuk dewasa. Walau ingin masuk, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Kira-kira setengah jam kemudian, sampailah saya di tepian Sungai Inn. Salah satu ikon fotografis Innsbruck yang banyak dijadikan lokasi berfoto para pelancong ada di sini: rumah warna-warni di perbukitan dengan latar depan Sungai Inn dan latar belakang Pegunungan Alpen bersalju putih di puncaknya.

Saya menikmati suasana dengan segenap perasaan di promenade Sungai Inn ini. Saya buka bekal burger yang dibeli di Seegrube. Badan yang segar sehabis hiking kecil, pikiran yang damai, dan perut yang telah terisi. Itu membuat lupa kalau waktu sudah hampir habis dan jadwal bis balik ke Munich sudah semakin dekat. Ibarat Innsbruck yang sudah lupa akan sisa-sisa pengeboman hebat saat Perang Dunia II dulu. Benarlah kutipan kata-kata Erhard A. Bellerman, seorang penyair Jerman yang saya lihat di Seegrube, saat ia mendeskripsikan Innsbruck:

Das Tal der Sorgen ist umgeben von Bergen des Gluecks

“Lembah penderitaan itu sesungguhnya dikelilingi oleh gunung-gunung kebahagiaan”

 

Dimuat di Majalah Travelounge, Desember 2016

Ada becak di Altstadt Muenchen

Saya pernah bertanya kepada teman Indonesia kelahiran Jerman yang saat ini menjadi pastor di Fulda, kota kecil di wilayah Hesse. “Kota apa sih yang paling ‘lebih’ di Jerman?” Ia menjawab, tentu saja Muenchen. Kota yang terletak di Bavaria ini punya segalanya. Wilayahnya paling luas dan paling kaya. Pemandangan Alpen dan wisata saljunya kelas dunia. Muenchen juga punya klub sepakbola tersukses di Jerman. Pusatnya teknologi dan ekonomi, universitas-universitas terbaik juga ada di sini.

Sapaan Guten Tag, yang berarti selamat siang, diganti jadi “Gruess Gott”. “Guten Tag tidak laku. Jadi, kalau kamu menyapa seseorang dengan Guten Tag di toko, siap-siap dapat pandangan aneh”.

Kok bisa?

Si Pastor tertawa, “Karena orang Bavaria itu tidak mau disamain. Mereka selalu ingin lebih dari yang lain. Mereka menganggap bukan Jerman yang membentuk Bavaria, tapi Bavaria-lah yang membentuk Jerman”. Saya membayangkan seragam sepakbola tim nasional Jerman yang sangat mirip dengan seragam klub Bayern Muenchen.

Ingatan akan percakapan itu selalu terbawa sampai kemudian saya bisa datang ke Muenchen untuk suatu acara dari kampus pada awal April kemarin. Saya tidak ingin membuktikan kebenaran jawaban Si Pastor karena mustahil tahu tentang zeitgeist, semangat zaman orang-orang Bavaria dalam beberapa hari di sini.  Yang saya ingin tahu sederhana saja: indahkah Bavaria di awal musim semi kali ini? Ini bukan Bulan Oktober, jadi Oktoberfest, pesta bir terbesar di dunia yang jadi magnet utama Muenchen bisa dikesampingkan.

Di pagi buta, saya sudah keluyuran di Marienplatz, kawasan Aldstat (kota tua)-nya Jerman. Lokasinya hanya sekitar 700 meter dari Hotel Maritim tempat saya menginap. Entah sejak kapan, saya mulai suka mengenali sebuah kota dengan keluyuran di pagi hari ketika kota tersebut masih sepi dan sebagian besar penghuninya masih belum beraktivitas.

Dingin yang masih tersisa tak menghalangi langkah prosesi personal dalam menikmati kota belum bangun. Lampu-lampu teras masih menyala. Kursi-kursi kafe pinggir jalan masih terbalik. Saat tiba di tujuan, saya terpaku pada bangunan berumur hampir 200 tahun, Neues Rathaus yang bergaya Flanders Gothic (gaya arsitektur gothic yang dipengaruhi Belanda). Dengan tinggi sekitar 100 meter dan atap-atap runcing, bangunan city hall itu tampak anggun mengalahkan zaman.

Tapi bukan itu yang jadi daya tariknya, melainkan Glockenspiel, menara lonceng yang diisi 32 miniatur. Tiap jam sebelas siang, 32 patung itu akan begerak menampilkan kisah tentang pernikahan seorang pangeran Bavaria, Duke Wilhem V dan Putri Renata dari Lorraine Perancis yang disambut gembira seluruh rakyat dengan berpesta. Namun, tak lama terjadi wabah penyakit, menyebar dengan ganas ke seluruh pelosok wilayah. Seorang pintar kemudian berkata bahwa hanya satu syaratnya: jangan tunjukkan kesedihan dan ketakutan, melainkan kesetiaan pada sang pangeran dengan menari di jalan-jalan pusat kota. Maka rakyat pun menari yang dipimpin oleh para pembuat kerajinan dari tembaga. Dan wabah itu hilang dengan sendirinya. Semua bersuka cita dan berpesta.

Pertunjukan berlangsung antara 10-15 menit. Tiga burung emas akan muncul di setiap akhir cerita dengan cuitan khasnya. Biasanya, momen inilah yang dijual oleh agen perjalanan atau guide lokal untuk memulai tur keliling kota. Mungkin itu mengapa orang Bavaria gemar berpesta ramai-ramai. Selain dengan guide jalan kaki, kita juga bisa mendapat guide dengan ikut Bus City Tour. Naik dari pool-nya yang terletak hanya 50 meter dari Haupbahnhof Muenchen.

Saya bertekad hendak minum kopi di Glockenspiel Caffe yang legendaris, cuma kayaknya kepagian. Andai saja saya bertahan sampe jam 11. Tapi siapa yang bisa menahan langkah untuk tidak terus jalan ke lain tempat, yang juga sama menariknya? Kawasan kota tua ini penuh dengan bangunan berumur ratusan tahun , seperti Old City Hall, yang terletak kurang dari 100 meter dari New City Hall. Serta Gereja St. Peter dimana pengunjung dapat menaiki 306 anak tangga tower-nya dengan bayar 1,5 euro buat melihat pertunjukan Glockenspiel. Kata sebuah blog yang saya baca, view-nya luar biasa. Juga ada Frauenkirche, Katedral Bunda Terkasih, yang terkenal dengan dua tower hijau bundarnya.

Di sekitar Altstadt banyak pub, bar dan restoran, dan bir adalah minuman yang tidak pernah ketinggalan. Bagi penikmat bir, pasti tahu Hofbraeuhaus yang terletak di Am Platz 9. Berdiri sejak 1589, inilah beer hall yang paling tua dan legendaris di antero Bavaria. Dimiliki oleh Duke Wilhems dan keluarganya secara turun temurun. Tong-tong bir dan wine telah siap di depan pintu, pelayan sudah mulai membersihkan meja-meja. Mereka tampak bersemangat dan antusias menyambut hari.

Beberapa pub umurnya sudah puluhan atau ratusan tahun. Ada plang yang menunjukkan usianya. Mereka kadang mengklaim sebagai bir nomor satu di Bavaria, padahal sebagai “ibukota bir”, Bavaria punya sekitar 40 tipe bir dengan 4000-an merk. Slogan main-main, save water by drinking more beer benar-benar berwujud di sini.

Perjalanan berlanjut ke Viktualienmarkt, masih bagian dari Altstadt, pasar makanan yang telah menjadi tradisi sejak abad ke-19. Hampir semua laman internet yang saya baca mencantumkan lokasi ini sebagai must-visit place saat di Muenchen. Penasaran saya, terbayang puluhan menu masakan lokal yang siap memanjakan lidah. Bayangan saya seperti open street food court, dimana makanan berjejer di tenda-tenda. Namun tenyata, bukan itu yang ada dihadapan saya pagi itu. Yang ada adalah aneka bahan makanan mentah seperti bumbu, bawang, sosis, daging, telur, sayur dan buah tradisional yang berasal dari daerah sekitar Bavaria. Ini sih pasar bahan makanan, bukan pasar makanan, kata saya bergumam.

Iseng saya bertanya ke salah satu penjualnya, apakah ada yang jual makanan siap santap? Bapaknya tampak heran, tapi terus bilang, kalau itu nanti. Sekarang belum buka. Datang lagi saja. Ah, sayang sekali, padahal saya sudah ngiler untuk makan di booth Schlemmermeyer yang menyajikan, katanya, sosis panggang terenak di Muenchen. Dan lalu beli kue di Die Schmalznudel buat bekal keliling kota. Lalu bapaknya bilang, orang Muenchen sejati itu, makan pertama jam 11 siang, menunya weisswurst (sosis putih), mustar manis, roti bretzel dan segelas besar bir.

Langkah saya teruskan ke River Isar, sungai kecil yang membelah kota. Memisahkan Muenchen barat dan timur. Di keheningan pagi, air sungai mengalir tenang dari utara ke selatan. Pantulan gedung tampak jelas di air sungai. Tidak ada sampah sedikit pun. Banyak pulau-pulau kecil di tengah sungai. Saya berjalan menyusuri promenade yang sepi, hanya ada beberapa orang berlari pagi atau bersepeda. Dari jembatan kecilnya, puncak-puncak runcing gereja atau bangunan tua menghiasi pinggir sungai. Begitu sendu, beda dengan hiruk pikuk Muenchen yang biasanya saat hari mulai beranjak siang. Pagi hari, inilah sisi lain Muenchen.

 

Di tepi River Isar, ada Deutsche Museum yang dapat dimasuki dengan membayar 11 euro buat dewasa dan 4 euro bagi anak-anak. Kata situsnya, ini museum terbesar di dunia untuk sains dan teknologi. Beragam koleksi dimilikinya, dari yang klasik sampai futuristik. Dari perkusi kuno sampai teknologi nano. Bagi anak-anak, tersedia koleksi permainan berbasis teknologi seperti ayunan dan katrol berat.

Lalu, tiba di Odeonplatz, di sisi utara Merienplatz. Di situ saya melihat becak! Iya becak turis kayak di Indonesia. Ada rombongan, mungkin dari Amerika, yang sedang dipandu oleh guide lokal bebahasa Inggris. Beberapa becak telah nangkring dengan drivernya yang masih muda-muda. Wah, tak beda dengan di Indonesia, becak sebagai kendaraan bebas polusi, juga dipakai dalam industri turisme. Entah apa sebutan becak dalam bahasa Jerman. Para penumpangnya diberi selimut untuk menahan angin dingin.

Di Maximillian Strasse, di dekat patung Raja Maximillian II, di tembok pagar ada tulisan well, I guess…some journeys begin when you arrive.  Entah siapa yang menulisnya. Rasanya betul juga, sebab perjalanan saya masih panjang di Bavaria ini. Sore nanti sehabis pertemuan, saya akan ke Schloss Nymphenburg, istana musim panas bangsawan Bavaria, yang usianya kini sudah 350 tahun dan tamannya yang sangat luas, yang jadi favorit untuk jogging atau bersepeda. Di sana ada kanal, yang dibangun karena obsesi sang pangeran pada Venice, Italy.

Setelah itu saya akan terus ke selatan, ke Mittenwald, sebuah kota perbatasan Jerman yang sangat terkenal dengan view kota tradisional Bavaria dengan latar salju di gunung-gunung. Lalu Innsbruck, Tyroll di Austria untuk menjejakkan kaki di puncak Pegunungan Alpen.

Dimuat di Majalah Travelounge edisi Juni 2016

Kota di Alpen

Saat akhirnya kau jejaki Puncak Alpen, apa yang ada dalam pikiranmu?

DSC_1961

Suatu senja di tepi Rhine

di tepi rhine

Tahukah teman, kadang bukan usia yang bikin kita busuk pelan-pelan. Tapi kesunyian.  Ia duduk, sendiri, memandangi Rhine yang berkilau ditempa matahari sore. Mungkinkah ia sedang merenung, mengingat banyak hal yang indah, atau tanpa berpikir, hanya menikmati cahaya?

Kotak sampah oranye itu juga kosong.