Ada becak di Altstadt Muenchen

Saya pernah bertanya kepada teman Indonesia kelahiran Jerman yang saat ini menjadi pastor di Fulda, kota kecil di wilayah Hesse. “Kota apa sih yang paling ‘lebih’ di Jerman?” Ia menjawab, tentu saja Muenchen. Kota yang terletak di Bavaria ini punya segalanya. Wilayahnya paling luas dan paling kaya. Pemandangan Alpen dan wisata saljunya kelas dunia. Muenchen juga punya klub sepakbola tersukses di Jerman. Pusatnya teknologi dan ekonomi, universitas-universitas terbaik juga ada di sini.

Sapaan Guten Tag, yang berarti selamat siang, diganti jadi “Gruess Gott”. “Guten Tag tidak laku. Jadi, kalau kamu menyapa seseorang dengan Guten Tag di toko, siap-siap dapat pandangan aneh”.

Kok bisa?

Si Pastor tertawa, “Karena orang Bavaria itu tidak mau disamain. Mereka selalu ingin lebih dari yang lain. Mereka menganggap bukan Jerman yang membentuk Bavaria, tapi Bavaria-lah yang membentuk Jerman”. Saya membayangkan seragam sepakbola tim nasional Jerman yang sangat mirip dengan seragam klub Bayern Muenchen.

Ingatan akan percakapan itu selalu terbawa sampai kemudian saya bisa datang ke Muenchen untuk suatu acara dari kampus pada awal April kemarin. Saya tidak ingin membuktikan kebenaran jawaban Si Pastor karena mustahil tahu tentang zeitgeist, semangat zaman orang-orang Bavaria dalam beberapa hari di sini.  Yang saya ingin tahu sederhana saja: indahkah Bavaria di awal musim semi kali ini? Ini bukan Bulan Oktober, jadi Oktoberfest, pesta bir terbesar di dunia yang jadi magnet utama Muenchen bisa dikesampingkan.

Di pagi buta, saya sudah keluyuran di Marienplatz, kawasan Aldstat (kota tua)-nya Jerman. Lokasinya hanya sekitar 700 meter dari Hotel Maritim tempat saya menginap. Entah sejak kapan, saya mulai suka mengenali sebuah kota dengan keluyuran di pagi hari ketika kota tersebut masih sepi dan sebagian besar penghuninya masih belum beraktivitas.

Dingin yang masih tersisa tak menghalangi langkah prosesi personal dalam menikmati kota belum bangun. Lampu-lampu teras masih menyala. Kursi-kursi kafe pinggir jalan masih terbalik. Saat tiba di tujuan, saya terpaku pada bangunan berumur hampir 200 tahun, Neues Rathaus yang bergaya Flanders Gothic (gaya arsitektur gothic yang dipengaruhi Belanda). Dengan tinggi sekitar 100 meter dan atap-atap runcing, bangunan city hall itu tampak anggun mengalahkan zaman.

Tapi bukan itu yang jadi daya tariknya, melainkan Glockenspiel, menara lonceng yang diisi 32 miniatur. Tiap jam sebelas siang, 32 patung itu akan begerak menampilkan kisah tentang pernikahan seorang pangeran Bavaria, Duke Wilhem V dan Putri Renata dari Lorraine Perancis yang disambut gembira seluruh rakyat dengan berpesta. Namun, tak lama terjadi wabah penyakit, menyebar dengan ganas ke seluruh pelosok wilayah. Seorang pintar kemudian berkata bahwa hanya satu syaratnya: jangan tunjukkan kesedihan dan ketakutan, melainkan kesetiaan pada sang pangeran dengan menari di jalan-jalan pusat kota. Maka rakyat pun menari yang dipimpin oleh para pembuat kerajinan dari tembaga. Dan wabah itu hilang dengan sendirinya. Semua bersuka cita dan berpesta.

Pertunjukan berlangsung antara 10-15 menit. Tiga burung emas akan muncul di setiap akhir cerita dengan cuitan khasnya. Biasanya, momen inilah yang dijual oleh agen perjalanan atau guide lokal untuk memulai tur keliling kota. Mungkin itu mengapa orang Bavaria gemar berpesta ramai-ramai. Selain dengan guide jalan kaki, kita juga bisa mendapat guide dengan ikut Bus City Tour. Naik dari pool-nya yang terletak hanya 50 meter dari Haupbahnhof Muenchen.

Saya bertekad hendak minum kopi di Glockenspiel Caffe yang legendaris, cuma kayaknya kepagian. Andai saja saya bertahan sampe jam 11. Tapi siapa yang bisa menahan langkah untuk tidak terus jalan ke lain tempat, yang juga sama menariknya? Kawasan kota tua ini penuh dengan bangunan berumur ratusan tahun , seperti Old City Hall, yang terletak kurang dari 100 meter dari New City Hall. Serta Gereja St. Peter dimana pengunjung dapat menaiki 306 anak tangga tower-nya dengan bayar 1,5 euro buat melihat pertunjukan Glockenspiel. Kata sebuah blog yang saya baca, view-nya luar biasa. Juga ada Frauenkirche, Katedral Bunda Terkasih, yang terkenal dengan dua tower hijau bundarnya.

Di sekitar Altstadt banyak pub, bar dan restoran, dan bir adalah minuman yang tidak pernah ketinggalan. Bagi penikmat bir, pasti tahu Hofbraeuhaus yang terletak di Am Platz 9. Berdiri sejak 1589, inilah beer hall yang paling tua dan legendaris di antero Bavaria. Dimiliki oleh Duke Wilhems dan keluarganya secara turun temurun. Tong-tong bir dan wine telah siap di depan pintu, pelayan sudah mulai membersihkan meja-meja. Mereka tampak bersemangat dan antusias menyambut hari.

Beberapa pub umurnya sudah puluhan atau ratusan tahun. Ada plang yang menunjukkan usianya. Mereka kadang mengklaim sebagai bir nomor satu di Bavaria, padahal sebagai “ibukota bir”, Bavaria punya sekitar 40 tipe bir dengan 4000-an merk. Slogan main-main, save water by drinking more beer benar-benar berwujud di sini.

Perjalanan berlanjut ke Viktualienmarkt, masih bagian dari Altstadt, pasar makanan yang telah menjadi tradisi sejak abad ke-19. Hampir semua laman internet yang saya baca mencantumkan lokasi ini sebagai must-visit place saat di Muenchen. Penasaran saya, terbayang puluhan menu masakan lokal yang siap memanjakan lidah. Bayangan saya seperti open street food court, dimana makanan berjejer di tenda-tenda. Namun tenyata, bukan itu yang ada dihadapan saya pagi itu. Yang ada adalah aneka bahan makanan mentah seperti bumbu, bawang, sosis, daging, telur, sayur dan buah tradisional yang berasal dari daerah sekitar Bavaria. Ini sih pasar bahan makanan, bukan pasar makanan, kata saya bergumam.

Iseng saya bertanya ke salah satu penjualnya, apakah ada yang jual makanan siap santap? Bapaknya tampak heran, tapi terus bilang, kalau itu nanti. Sekarang belum buka. Datang lagi saja. Ah, sayang sekali, padahal saya sudah ngiler untuk makan di booth Schlemmermeyer yang menyajikan, katanya, sosis panggang terenak di Muenchen. Dan lalu beli kue di Die Schmalznudel buat bekal keliling kota. Lalu bapaknya bilang, orang Muenchen sejati itu, makan pertama jam 11 siang, menunya weisswurst (sosis putih), mustar manis, roti bretzel dan segelas besar bir.

Langkah saya teruskan ke River Isar, sungai kecil yang membelah kota. Memisahkan Muenchen barat dan timur. Di keheningan pagi, air sungai mengalir tenang dari utara ke selatan. Pantulan gedung tampak jelas di air sungai. Tidak ada sampah sedikit pun. Banyak pulau-pulau kecil di tengah sungai. Saya berjalan menyusuri promenade yang sepi, hanya ada beberapa orang berlari pagi atau bersepeda. Dari jembatan kecilnya, puncak-puncak runcing gereja atau bangunan tua menghiasi pinggir sungai. Begitu sendu, beda dengan hiruk pikuk Muenchen yang biasanya saat hari mulai beranjak siang. Pagi hari, inilah sisi lain Muenchen.

 

Di tepi River Isar, ada Deutsche Museum yang dapat dimasuki dengan membayar 11 euro buat dewasa dan 4 euro bagi anak-anak. Kata situsnya, ini museum terbesar di dunia untuk sains dan teknologi. Beragam koleksi dimilikinya, dari yang klasik sampai futuristik. Dari perkusi kuno sampai teknologi nano. Bagi anak-anak, tersedia koleksi permainan berbasis teknologi seperti ayunan dan katrol berat.

Lalu, tiba di Odeonplatz, di sisi utara Merienplatz. Di situ saya melihat becak! Iya becak turis kayak di Indonesia. Ada rombongan, mungkin dari Amerika, yang sedang dipandu oleh guide lokal bebahasa Inggris. Beberapa becak telah nangkring dengan drivernya yang masih muda-muda. Wah, tak beda dengan di Indonesia, becak sebagai kendaraan bebas polusi, juga dipakai dalam industri turisme. Entah apa sebutan becak dalam bahasa Jerman. Para penumpangnya diberi selimut untuk menahan angin dingin.

Di Maximillian Strasse, di dekat patung Raja Maximillian II, di tembok pagar ada tulisan well, I guess…some journeys begin when you arrive.  Entah siapa yang menulisnya. Rasanya betul juga, sebab perjalanan saya masih panjang di Bavaria ini. Sore nanti sehabis pertemuan, saya akan ke Schloss Nymphenburg, istana musim panas bangsawan Bavaria, yang usianya kini sudah 350 tahun dan tamannya yang sangat luas, yang jadi favorit untuk jogging atau bersepeda. Di sana ada kanal, yang dibangun karena obsesi sang pangeran pada Venice, Italy.

Setelah itu saya akan terus ke selatan, ke Mittenwald, sebuah kota perbatasan Jerman yang sangat terkenal dengan view kota tradisional Bavaria dengan latar salju di gunung-gunung. Lalu Innsbruck, Tyroll di Austria untuk menjejakkan kaki di puncak Pegunungan Alpen.

Dimuat di Majalah Travelounge edisi Juni 2016

Kota di Alpen

Saat akhirnya kau jejaki Puncak Alpen, apa yang ada dalam pikiranmu?

DSC_1961

Suatu senja di tepi Rhine

di tepi rhine

Tahukah teman, kadang bukan usia yang bikin kita busuk pelan-pelan. Tapi kesunyian.  Ia duduk, sendiri, memandangi Rhine yang berkilau ditempa matahari sore. Mungkinkah ia sedang merenung, mengingat banyak hal yang indah, atau tanpa berpikir, hanya menikmati cahaya?

Kotak sampah oranye itu juga kosong.

Oma Anna

Saya menulis ini untuk mengenang seorang Tante Anna.

Telah dua minggu ia tinggal di rumah kami di Bogor. Sebelumnya hampir setahun ia pulang kampung ke Tomohon dan Manado. Ada rumahnya di Bogor, hanya beberapa rumah di sebelah kanan rumah kami. Namun karena tak terurus, perlahan rumah itu hancur. Tiap kali hujan deras, atap yang bocor makin besar dan masuknya air merusak semuanya. Maka, ketika datang kembali ke Bogor, Tante Anna tinggal di rumah kami.

Suaminya telah meninggal belasan tahun lalu. Mereka tidak dianugerahi anak, mungkin karena menikah tua. Kami hanya tahu namanya, Om Frans.

Sebelum pulang Tomohon, di usianya yang kepala enam ini, ia tinggal sendiri semenjak ditinggal suaminya. Kami tahu, memang pernah ada saudaranya, keponakan, dan istri dari keponakan yang lain, tinggal di situ. Tapi selalu tak pernah lama, entah kenapa, mungkin Tante tidak cocok, atau mereka tidak cocok dengannya.

Padahal tangan kiri Tante sudah tidak maksimal berfungsi sejak ia terkena penyumbatan pembuluh darah dan diopname di Jakarta selama sekitar tiga minggu. Pergelangan tangannya bengkok ke kiri dan beberapa jarinya kaku susah digerakkan. Ia tidak bisa menggenggam lagi, atau membawa barang berat dengan tangan itu.

Bagi kami, walaupun sedikit cerewet, Tante Anna seorang yang punya tempat khusus di hati kami. Setidaknya Tante rajin mengajak kami bareng ke gereja di hari Minggu, atau ikut sembahyang lingkungan. Sering di Minggu subuh, ia sudah berdiri di gerbang, dengan tampilan jauh lebih modis dari yang muda-muda, menunggu kami keluar. Ia tidak pernah telat dalam soal janji, seringnya kecepatan setengah jam sebelumnya.

Tante juga sering mengantar masakan Manado ke rumah, walau makanan itu tak habis karena kami sudah punya makanan sendiri. Oma juga yang pernah bersemangat memberi nasihat ke Naries soal makanan sehat, soal apa yang sebaiknya dan jangan dilakukan, ketika Naries hamil walaupun ia belum pernah hamil dan nasihatnya sering berlebihan.

Ketika tiba saat Jojo lahir, kami ingat Tante tak mau kehilangan momen menunggu di rumah sakit. Dengan baju merah, ia setia di kursi tamu. Ia juga turut berteriak saat Jojo pertama kami diperlihatkan kepada kami di boks bayi.

Semenjak Jojo lahir, ia kami panggil Oma. Ia selalu menganggap Jojo cucunya, walau tak pernah berani mengungkapkannya secara berlebihan. Ia juga tak pernah minta menggendong bayi Jojo karena sadar tangannya tidak kuat. Tapi pernah Oma sangat kukuh ingin menggendong Jojo, Naries sudah takut saja. Hari itu Oma ngeyel sekali, pokoknya harus bisa menggendong. Untungnya Jojo tidak kenapa-napa, Oma tampak bahagia.

Rupanya, ia habis itu tak lama pulang ke Manado. Katanya cuma dua atau tiga bulan. Kenyataannya berbulan-bulan lewat, rumahnya pun terbengkalai karena tak terawat. Oma lebih sering menghubungi kami, daripada kami menghubungi dia. Menanyakan Jojo, atau memberi kabar kalau dia baik-baik saja, tetap ikut terapi untuk tangan kirinya, walau kami tak menanyakannya. Memberi tahu kalau ia belum bisa ke Bogor karena mesti merayakan ulang tahun ibunya di sana. Oma saja sudah tua, bagaimana ibunya. Pasti jauh lebih tua.

Setelah hampir setahun, tiba-tiba mendekat akhir November, Oma Anna datang. Tanpa memberi kabar. Rupanya ia akan hanya berkunjung sebentar, hendak menjual rumahnya dan menetap kembali di Manado. Jadilah ia tinggal di rumah kami, menjadi bagian keluarga, makan dari makanan yang sama, menonton acara TV dari TV yang sama.

Selama tinggal di rumah, Oma kadang kagok karena terbiasa tinggal di rumah sendiri. Ia masak di dapur di waktu Naries masak makanan buat Jojo. Ia bangun jam empat pagi buta, mandi, untuk mengikuti misa pagi saat semuanya masih terlelap. Ia duduk dimana Jojo sering bermain. Kadang ia bereaksi berlebihan saat melihat Jojo berlari ke luar atau memegang benda-benda.

Sejak dua hari lalu Oma kena flu, batuk. Kami kuatir ia akan menulari Jojo, maka aturan pun coba diterapkan agar Oma banyak istirahat, pakai masker dan tidak dekat Jojo. Jojo tidak peduli, ia tetap main di mana Oma duduk, kadang tetap panggil-panggil Oma..Oma.

Tadi siang, Naries bilang Oma kena sesak nafas karena minum obat batuk dan obat pusing kepala. Kami duga itu salah obat, kontra indikasi. Karena sesaknya lama, sorenya dibawa ke RS PMI Bogor oleh keponakannya. Naries tidak mengantar karena ada Jojo. Entah keponakan kandung atau bukan, karena Oma tidak pernah jelas kalau bercerita. Semua orang muda yang ke rumahnya selalu dibilang keponakannya.

Naries bilang ia merasa punya perasaan tidak enak tentang Oma.

Keponakannya selalu berkabar dengan Naries, tentang semua hal. Malam, ada kabar Oma masuk ICU. Oma gagal jantung. Bukan salah minum obat. Tak lama, ada kabar Oma sudah tidak sadar. Lalu, ada kabar keluarga telah dipanggil oleh dokter tentang kondisinya.

Ujungnya, ada kabar Oma telah berpulang, sekitar setengah 11 malam. Kami tak percaya.

Kata dokter, Oma kena gagal jantung akibat tumor paru-paru. Ia tidak pernah bilang, karena juga mungkin tidak tahu. Ia hanya tahu punya riwayat penyakit jantung, namun tak seorangpun dari kami tahu itu.

Sekarang ini kami bersedih. Barangkali bukan karena mengingat Oma memilih tinggal di rumah di hari-hari terakhirnya. Melewati hari-hari dengan duduk di ruang TV kami, dan doa hening di kamar tamu rumah kami. Bukan juga karena mengingat betapa baiknya Oma pada kami. Hal-hal itu membuat kami haru.

Tapi karena kami mengerti, betapa selama ini, Oma telah sendiri di banyak hal dalam hidupnya. Ia sendiri, tak punya anak, tak ada saudara tinggal serumah. Pernikahannya telat, namun itupun sangat singkat. Diantara banyak kecerewetan dan keluhannya selama ini, justru soal kesendiriannya itu yang tak pernah kami dengar. Ia hanya mengeluh soal tangannya, soal hujan, soal macetnya jalanan di Bogor.

Sakit pun ia sendiri. Sampai akhir hayatnya, tak seorang pun tahu ada tumor dalam paru-parunya yang membuatnya terkena gagal jantung. Ia juga tidak ditunggui siapa-siapa dalam meninggalnya. Bahkan mungkin karena begitu mendadak, keluarganya di Manado tak tahu perkembangannya.

Saya tidak tahu bagaimana proses Oma meninggal. Tapi ia meninggal tidak sadar, ia pasti tidak merasakan sakit. Saya juga tidak mau berandai-andai bahwa karena Oma orang baik ia sekilas seperti tersenyum saat meninggal.

Yang saya tahu, Oma Anna akan dikremasi seperti suaminya dulu. Oma tidak akan dikalungi salib dan dikubur dengan peti. Oma sudah pergi dari dunia yang kami tempati ini. Kami tidak pernah bisa tahu bagaimana perjalanannya di dunia yang lain itu.

Kami hanya berharap ada belas kasih kepadanya dari Allah Bapa – yang ia percayai dengan sepenuh jiwa raganya – kepada Oma yang punya hati tulus, seorang nenek yang tangannya gemetar saat membuat tanda salib. Yang dengan memaksa, setahun lalu diantara tatapan kuatir Naries, telah berhasil menggendong Jojo dengan tangan gemetar dan tak sempurna.

Mata saya berkaca-kaca saat menulis ini.

Selamat jalan Oma Anna. Selamat berbahagia.

Bonn. 05.12.2015

 

 

 

 

Trier – Roma kecil di Barat Jerman

“Was ist die älteste Stadt in Deutschland?” tanya sang guide itu kepada kami para peserta ekskursi dari Universitas Bonn. Namanya si guide Beate Kirchel, dan karena usianya ia seharusnya dipanggil Frau Beate, namun ia memilih dipanggil sebagai Beate saja.

Kota manakah yang paling tua di Jerman? Agaknya Beate hanya berbasa-basi saja kepada kami. Kami semua telah tahu bahwa, di sinilah, di tempat kami berdiri saat itu, yang diklaim sebagai kota tertua di Jerman. Nama kota itu Trier.

Pada awal Agustus 2015 itu saya mengunjungi Trier. Kota kecil ini terletak tepi Sungai Moselle di Provinsi Rhine-Palatinate, di Barat Jerman dan berbatasan dengan Luxemburg. Konon, Trier didirikan oleh suku bangsa Treveri dari wilayah Celtics (Inggris Raya) dengan nama Treuorum pada sekitar 400 tahun sebelum Masehi. Nnamun atefak-artefak yang ditemukan belakangan menunjukkan usia yang ribuan tahun lebih tua. Kemudian diokupasi oleh bangsa Romawi seabad sebelum Masehi. Namanya diubah menjadi Trevorum. Namun lambat laun berubah lagi pengucapan internasionalnya menjadi Trier seperti yang kita kenal sekarang.

“Trier, di bawah Kaisar Konstantin Agung dari Romawi menjadi salah satu kota terpenting di wilayah Western Roman Empire. Empire ini luas sekali, membentang dari Inggris, Spanyol, Afrika bagian utara, Palestina, Suriah, Yunani, Makedonia, Jerman bagian Barat, Perancis, dan tentu saja Italia. Kejayaan itu terutama pada abad ke empat setelah kelahiran Yesus Kristus”, lanjut Beate.

“Tapi apa yang menjadikannya penting? Nanti kita lihat sama-sama”.

Mukanya tak bisa menyembunyikan kebanggaan dari seseorang yang lahir, tumbuh, besar, dan mencari nafkah di Trier ini sebagai pemandu tur berlisensi dari pemerintah kota.

Frau Beate terus saja bicara, “…dan inilah Porta Nigra yang merupakan landmark kota…”sayup-sayup suaranya memelan sebab saya menjauhkan diri dari kerumunan. Ya, kami memang berdiri di depan Porta Nigra, benteng pertahanan Trier di masa lalu. Menjulang, tampak masih kokoh dan unik, dengan batu hitam yang menyusunnya.

Porta Nigra berasal dari bahasa Latin yang artinya Gerbang Hitam. Kok hitam? Apakah batunya memang hitam? Ternyata tidak, asalnya dibuat dari sandstone abu-abu, namun polusi menjadikannya hitam. Ciri khas bangunan Romawi tampak sekali. Satuan batu yang luar biasa besar. Seperti batu bata tetapi dengan ukuran yang puluhan atau ratusan kali lebih besar, bahkan ada yang beratnya sekitar 6 ton.

Dibangun sekitar abad ke dua sesudah Masehi dan merupakan satu-satunya gerbang masuk kota Trier yang tersisa. Dengan lebar 36 meter dan tinggi lebih dari 30 meter, bangunan ini merupakan gerbang terbesar di seluruh wilayah bekas jajahan Romawi di utara Pegunungan Alpen. Saya melihatnya, dan menyadari bahwa Porta Nigra bukan hanya gerbang, tapi juga tempat tinggal, dimana tampak jendela-jendela yang lorong-lorong. Barulah setelah membaca brosur wisata Trier, saya tahu bahwa Porta Nigra dulunya juga adalah biara dan juga gereja. Seorang biarawan pertapa pada abad ke 10, Simeon dari Yunani, pernah tinggal dan dimakamkan di Porta Nigra. Karena ketaatannya, ia kemudian dikanonisasi dan menjadi salah satu santo dalam agama Katolik. Pengunjung bisa masuk dan naik ke atas dengan membayar 3 euro.

Salah seorang anggota rombongan kami dari Jepang, Ayaka, karena tidak bisa naik ke atas, memilih berfoto saja dengan pria yang berkostum prajurit Romawi. Lengkap dengan jubah merah, penutup kepala besi, jumbai merah di kepala dan tentu saja pedang dan sepatu bertali ala tentara Romawi. “Biar disangka di Roma”, katanya sambil tertawa, dan kemudian bilang mau mengunggahnya di laman facebook-nya.

Porta Nigra ini hanyalah satu dari sembilan UNESCO World Heritage Sites yang ada di Trier. Uniknya lagi di pusat kota, dalam wilayah yang hanya sekitar 3 km persegi, terdapat delapan situs warisan dunia. Satu situs yang lain yakni Igel Column (Pilar Igel), situs pemakaman kuno bangsawan Romawi berada agak jauh di tepi Sungai Moselle, sekitar 8 kilo dari pusat kota.

Dalam waktu kurang dari dua jam, dan hanya dengan berjalan kaki, kita sudah bisa melihat sembilan bangunan yang berusia ratusan tahun. Saya berpikir, wah berwisatanya bakal enak sekali kalau begini. Tidak capek tapi dapat banyak. Tak heran, Trier menjadi favorit wisatawan di wilayah Jerman bagian utara, terutama mereka yang menyukai sejarah dan ingin mengetahui jejak-jejak Romawi di Jerman. Rupanya inilah yang menjadi daya tarik utama di Trier. Trier tidak hanya tua, tapi juga kaya atas situs warisan dunia.

“Trier juga disebut sebagai Roma kecil di Utara”, tambah Beate ketika disinggung mengenai banyaknya peninggalan Romawi di Trier. Terkait dengan itu, setidaknya, ujar Beate, pada zaman Kekaisaran Romawi, saat kota-kota lain belum bertumbuh seperti sekarang, Trier penting dalam dua hal, yakni dalam hal penyebaran agama Katolik dan ekspansi politik perluasan wilayah kekuasaan.

Untuk melihat itu, Frau Beate membawa kami ke Trier Dom (katedral Trier) dan Church of Our Lady, dua gereja yang juga menjadi situs warisan dunia. Di katedral yang menjadi katedral tertua di Jerman itu, penyebaran agama Katolik berkembang ke seluruh Jerman, dan ke daerah-daerah yang sekarang dikenal sebagai Belanda dan Belgia. Lanjut Beate, karena pusat penyebarannya di bagian barat Jerman, maka tak heran ketika gerakan Protestanisme melanda Jerman, Jerman bagian barat kebanyakan masih setia kepada Katolik sementara di bagian tengah dan timur beralih kepada Protestan.

Yang unik dari katedral ini adalah tamannya yang indah di halaman dalam. Bunga-bunga bermekaran, hijau daunnya tampak kontras dengan langit biru dan warna bangunan yang kecoklatan. Selain itu, di menaranya, ada tulisan Latin: Nescitis Qva Hora Dominvs Veniet yang artinya “kamu tidak tahu kapan Ia akan datang”, yang bermakna agar kita senantiasa selalu berjaga-jaga dengan doa dalam hidup kita.

Saya hanya sebentar di katedral karena rombongan beralih ke Roman Imperial Throne atau Basilika Konstantin. Bangunan ini, menurut Beate, sangat khas Romawi. Bangunan ini memperlihatkan keinginan Konstantin untuk menjadi penguasa tunggal, sehingga bangunan sebesar itu hanya punya satu ruangan yang sangat besar dan tinggi. Mirip aula sehingga dikenal juga sebagai Aula Palatina. Dibuat dari fragmen-fragmen yang diambil dari Pegunungan Pyrenees di Perancis dan dari Afrika Utara. Dari ruang inilah, komando dijalankan untuk mengamankan daerah jajahan terutama di Gallic Empire yang meliputi Jerman ke arah barat sampai ke Inggris Raya.

Bosan dengan bangunan? Mari kita ke kolam pemandian bangsawan Romawi. Ujar Beate, jika di suatu kota bekas Romawi ada pemandian mewah, sudah bisa dipastikan bahwa kota itu penting bagi para bangsawan Romawi yang terkenal dengan gaya hidupnya yang senang kemewahan. Dan Trier, malah punya dua pemandian: Imperial Baths dan Barbara Baths. Kami pun menuju Imperial Bath.

“Dulu, saat mandi disini wanitanya sudah pakai bikini lho”. Beate menjelaskan itu sambil memperlihatkan hasil publikasi penelitian para akeolog. “Jadi sebenarnya usia bikini itu sudah setua kota ini”. Kami tertawa. Tak hanya itu, lanjut Beate, ini pemandian massal, bukan pribadi. Jadi, orang yang mandi sama-sama nyemplung, dengan air hangat yang dialirkan dari saluran tertentu. Selain itu, walau namanya pemandian, reruntuhan ini dulunya dipakai juga sebagai tempat bersantai, dengan fasilitas olahraga air dan ruangan khusus untuk negosiasi antar pembesar. Kami terpana mendengar penjelasannya. Saya membayangkan betapa pada zaman itu, sehabis mandi, para bangsawan bersantai mengudap hidangan yang disajikan pelayannya. Bercakap-cakap antar mereka sementara pelayan mengelap tubuh mereka dan memakaikan pakaian kebesaran. Kemewahan khas para bangsawan penguasa.

Cukup lama kami di pemandian, dan saat keluar kami melihat keramaian di kejauhan. Ternyata ada semacam “perkemahan Romawi”, dimana banyak tenda-tenda pasukan Romawi dengan orang-orang yang berpakaian ala zaman itu. Mengingatkan saya pada komik Asterix dan Obelix, karena orang-orang itu juga membawa pedang dan tameng, dengan rambut pirang dikepang. Ada yang seolah-olah sedang berlaga, lengkap dengan kuda tunggangan dan tongkat penusuk. Kayaknya seru! Namun ketika kami hendak masuk, ternyata tidak gratis. Untuk masuk dan terlibat di dalamnya mesti bayar 6 euro per orang.

Sinar matahari terasa menyengat di Trier, padahal sudah pukul empat sore. Mungkin karena summer, dan matahari memang baru tenggelam sekitar pukul sembilan malam. Masih ada agenda menuju situs warisan dunia berikutnya yakni Roman Bridge – yang sekali lagi – disebut sebagai jembatan tertua di Jerman. Namun saya untuk memilih jalan sendiri, agar lebih bebas mengambil foto-foto yang terbatas tadi saat bersama rombongan.

Di alun-alun kota suasana masih tetap ramai. Anak-anak kecil bermain ayunan sambil berteriak, sementara orang tuanya mengawasi dengan waspada. Penjual bunga di sepeda menawarkan dagangannya dengan santai. Sepedanya diletakkan begitu saja di tengah jalan. Di sudut, seorang seniman kawat memamerkan keahliannya membentuk rupa-rupa bentuk binatang atau bangunan dengan kawat.

Di sebuah bangku di ujung jalan saya beristirahat sambil mengudap es krim Italia seharga 3,3 euro yang saya beli Restoran Calchera di ujung jalan menuju katedral. Kelezatannya memang luar biasa, atau hanya karena perasaan saya yang gembira, atau karena udara yang panas? Entahlah, sesaat saya berpikir tentang kebanggaan Beate tentang kota kecilnya ini. Ia tidak hanya bangga karena ketuaan kotanya saja, tapi ia juga bangga melihat bagaimana kota ini memelihara warisannya.

Sehabis es krim ini, saya hendak menuju Museum Karl Marx. Yap, Karl Marx bapak komunisme dan sosialisme dunia itu memang dilahirkan di Trier, pada tanggal 5 Mei 1818. Rumah kelahirannya yang terletak di Brückenstrasse 10, agak di pinggiran kota itu, menjadi Museum Karl Marx dengan pendanaan dari Friedrich Ebert Foundation. Kota ini tak hanya menjaga warisan peradaban, ia juga mengabadikan salah satu anak manusia yang pernah dilahirkan di sini, dengen menyimpan diorama kehidupan dan perjalanan karya-karya dari seorang yang dianggap paling berpengaruh pada zamannya. Mengingat itu, saya tiba-tiba menyenangi kota ini lebih dari sebelumnya.

Saya pun mengamini tulisan di Roten Haus (rumah merah) di Trier Haubmarkt (pasar/pusat keramaian):

Ante Romam Treviris Stetit Annis Mille Trecentis Perstet et Eterna Pace Frvatvr. Amen.

“Sebelum Roma, Trier berdiri selama 1300 tahun. Semoga kota ini tetap berdiri dan menikmati kedamaian abadi. Amin”

Dimuat di Majalah Travelounge, November 2015