Keriuhan belum berakhir di Castellon

Restoran Tiga Pinguin itu terletak di pinggir Grao, istilah setempat untuk pantai. Kami duduk menghadap Laut Mediterania yang tenang. Meresapi hangatnya matahari sore yang berpadu dengan angin sepoi-sepoi. Minuman horchata dan kudapan tapas (snack seafood) menemani pembicaraan mengenai rencana menonton festival Maria Magdalena besok. Istri saya Naries, antusias membuka-buka brosur mengenai sejarah festival itu. Dan tentang Castellon, kota kecil yang bakal kami tinggali selama tiga bulan kedepan.

Castellon de La Plana, kota di pesisir Barat Spanyol itu, didirikan oleh Raja James I of Aragon tahun 1251.  Sudah 764 tahun umurnya, dua setengah abad lebih tua dari Jakarta.  Diapit oleh Barcelona di Utara dan Valencia di Selatan, Castellon menjadi kota kecil yang unik secara kultural. Ia ada di antara pengaruh budaya dan tradisi Catalan (Catalanion region: Barcelona dan sekitarnya) dan bangsa Castillian (berpusat di Madrid). Selain itu, ada pengaruh Bangsa Islam Moor dari Maroko yang pernah menguasai Semenanjung Iberia pada awal abad pertengahan. Kultur unik, berpadu lanskap Mediteranian yang hangat, iklim yang menyisakan musim dingin yang pendek dan kadang tanpa salju, diapit oleh pantai “Costa del Azahar” sepanjang 120 kilometer di Timur dan perbukitan tandus “Desert de las Palmes” di Barat, menciptakan karakter masyarakat yang berbeda dari Eropa bagian tengah dan utara.

Ramai senang bicara, hangat, penuh sapa, sedikit urakan dan norak serta tentu saja santai dengan waktu. Ada anggapan bahwa di daerah pesisir Mediterania, akhir pekan itu dimulai Kamis malam. Atau pernah dengar istilah siesta, tidur siang pada jam kerja selepas makan siang, untuk datang lagi sekitar pukul tiga dan pulang pukul lima sore?

Di Bulan Maret ini, mereka sedang berpesta selama seminggu penuh merayakan festival Maria Magdalena. Ini festival di Spanyol, kawan, di mana orang-orangnya memang terkenal suka pesta, dan suka makan. Tahukah bahwa menu makan malam orang Spanyol biasanya berat, berlapis-lapis dan selesainya jauh larut malam karena mereka dalam acara makan pasti berlama-lama bicara satu sama lain? Bayangkan, festival di kota pantai Mediterania, di awal musim semi: parade, makanan enak, udara hangat, bermatahari, maka romantisme Mediterania bukan isapan jempol belaka.

Saat horchata, minuman lezat campuran dari perasan tigernuts (sejenis kacang), air dan gula itu habis, hari mulai gelap. Orang-orang tua yang sebelumnya banyak berjalan-jalan sambil menuntun anjingnya pun pulang. Bergegas kami mengejar bus pulang ke rumah di Carrer Tarragona, dekat Plaza de Maria Agustina, pusat kota Castellon. Malam ini, kami telah punya agenda lain, diundang makan malam oleh teman sekelas di Universitas Jaume I asal Bangladesh. Makan malam bermenu kari, bukan Spanish dinner. Besok telah menanti petualangan sesungguhnya.

***

Sebagai kota yang sudah berabad-abad berdiri, dimanakah jejak-jejak zaman itu tampak? Yang pertama adalah Moorish Castle of Fadrell, didirikan pada awal abad 13, di bukit Desert de las Palmes, berjarak sekitar 7,5 kilometer dari kota. Bangunan tua itu adalah tempat tinggal pertama para pendiri kota Castellon sebelum dipindahkan ke tepi laut yang datar oleh para penakluk Spanish. Inilah yang menjadi latar belakang Festival Maria Magdalena, yang prosesinya berupa parade mengenang perjalanan ke lokasi di sekitar Kapel Maria Magdalena, orang kudus pelindung kota.

Walau menantang, paginya kami putuskan untuk tidak ke sana. Jauh dan transportasinya terbatas. Padahal  di sana telah dibangun taman rekreasi yang indah. Ada rute hiking keluarga, gardu pandang untuk melihat kota Castellon dan sekitarnya serta lautan biru Mediterania. Juga ada kebun Naranja (jeruk asli Valencia) yang berwarna oranye dan menjadi ciri khas hasil kebun pesisir Valencian Community.

Kami hanya jalan-jalan di kota menunggu parade. Sarapan dulu di Il Caffe di Roma, sebuah café kecil nan nyaman di Jalan Carrer Mayor, tidak jauh dari tempat tinggal kami. Menu pagi itu adalah roti khas el desayuno (sarapan) yakni magdalenas (kue cupcake yang gurih manis dengan sedikit campuran lemon), plus dengan minuman andalan, café con leche (ekspreso plus susu krim kental). Naries yang pengen coba menu lain, meminta churros dan coklat panas.

“Churros y chocolate caliente, por favor?” Katanya sedikit bergaya. Si pelayan yang ramah itu tersenyum dan membalas, “Mui bien, que mas: paella?” Ah, cukuplah, rasanya itu saja pagi ini, sebab paella cocoknya bukan buat sarapan. Churros adalah gorengan tepung terigu yang ditaburi gula, dibentuk bulat panjang. Semuanya sekitar 8 euro.

Setelah perut terisi, sambil menikmati suasana kota yang nyaman, kami melangkah sekitar 100 meter menuju bangunan gothic tertua di Castellon. Biasanya, selain City Hall, bangunan tua yang bertahan adalah gereja. Dan benar, bangunan tertua di pusat kota itu memang gereja, yakni Gereja Santa Maria yang dibangun pada akhir abad ke 13 dan direnovasi terakhir tahun 1936 oleh arsitek lokal Vicente Traver. Tampak kokoh dan masih dipergunakan untuk misa tiap minggu, walau menurut berita, kini jumlah umat yang beribadah ke gereja sedikit sekali di Castellon ini.

Di kanan kiri pintunya ada tulisan Ave Maria Gratia Plena, berarti “salam Maria penuh rahmat”, merupakan kata-kata pertama Doa Salam Maria umat Katolik. Gereja ini tidak besar dan megah. Biasa saja. Tak banyak yang tahu bahwa dulunya dari sinilah basis penyebaran agama Katolik berkembang ke daerah sekitar Castellon seperti Teruel, Bennicassim, Villareal, dan lain-lain.

Dari Gereja Santa Maria, kami menuju Ribalta Park. Taman yang rindang dan penuh pepohonan. Nyaman sekali buat bersantai menunggu parade mulai. Namun kemudian, ada keramaian. Beberapa orang pria tampak sibuk dengan wajan luar biasa besar, seukuran meja makan tampaknya. Mereka menuang air, beras, mengaduknya, memberi bumbu. Setelah diaduk rata, udang, cumi, daging ikan, kerang, dicampur ke situ, diletakkan di permukaan dengan rapi, kemudian ditutup. Setelah sekitar 45 menit, meruaplah wangi masakan yang gurih. Salah satu juru masak berseru kepada penonton dalam kalimat yang tidak kami mengerti. Orang orang lalu berbaris, mengambil piring plastik yang disediakan. Kami tak mau kalah, ikut antri sambil cengar-cengir, dan berasumsi barangkali ini gratis sehubungan dengan acara festival.

Ya, rupanya memang gratis, disediakan oleh salah satu restoran yang menjadi sponsor. Dan menunya itu lho, paella valenciana. Makanan khas Spanyol ini mirip nasi uduk jika di Indonesia, namun lauknya dimasak bersamaan dengan beras, dan diberi warna kuning dari kunyit. Awalnya berasal dari regional Valencia, karena itulah yang terkenal adalah paella valenciana, seperti yang sedang kami makan. Bedanya dengan paella daerah lain adalah campurannya yang berupa seafood, dan bukan daging ayam, sapi atau babi. Hmm…lezat sekali. Cocok dengan perut Indonesia yang motonya: tak ada nasi tak makan namanya.

Setelah kenyang, terdengar bunyi terompet tanda parade dimulai. Bergegas kami menuju Plaza Maria Agustina, dimana acara dipusatkan. Orang-orang sudah berdesakan di pinggir jalan. Wah, bakal seru.

Konsep karnaval juga dipakai dalam parade ini. Setelah diawali oleh rombongan pembuka yang membawa arakan patung Maria Magdalena, satu persatu rombongan peserta pawai lewat. Mereka berasal dari berbagai daerah di sekitar Castellon seperti Ribesalbes, Onda, Almassora, Borriana, Bennicassim, Borriol. Kostumnya mencerminkan masyarakat zaman dulu, dengan mantilla (sejenis kerudung), peineta (sasak rambut), dan gilet (sejenis rompi) bagi prianya. Ada yang berperan sebagai raja dan ratu, ada putri cantik yang diapit prajurit dan pangeran. Di lain waktu tampak kehidupan para petani. Lengkap dengan jerami dan kandang ayam. Selain itu juga tampak pria yang ditampilkan sebagai penitents (para pendosa) yang bertobat.

Yang bikin heboh dan ditunggu penonton tentu saja penari-penarinya. Gadis-gadis seksi berbusana daerah bergerak lincah dan sensual di hadapan penonton membawakan tarian tradisional yang riang gembira, dengan musik berirama lokal. Atasan putih, rok hitam lebar. Saat bergerak, rok mereka berkibar-kibar.

Juga ada rombongan yang berkostum Afrika utara, berdrama seolah-olah hendak menyerbu kota, lengkap dengan senjata dan kuda yang dihias meriah. Setiap kali sajian ditampilkan, entah tarian atau drama singkat, kerumunan massa bersorak dan bertepuk tangan. Apalagi seringkali para peserta melemparkan permen, snack kecil, bahkan suvenir kepada penonton untuk menarik perhatian.

Parade telah berlangsung kira-kira tiga jam, namun penonton belum bergerak.. Tiba-tiba banyak anak kecil berlarian sepanjang jalan seolah-olah dikejar sesuatu. Ternyata yang mengejar mereka adalah kepala banteng yang sedang menyeruduk, dipegang oleh salah seorang panitia acara. Ingat encierro (bull run) di Pamplona? Inilah imitasinya, dalam bentuk yang hanya suka-suka.

Puas menikmati parade, kami berjalan menuju Avenida de Jaume I, salah satu jalan protokol di sana. Untuk menikmati patung-patung raksasa yang dipasang di tepi jalan. Mirip ogoh-ogoh di Bali dan Ninot di Valencia. Cuma patungnya tidak tradisional, lebih kontemporer. Patung itu juga tidak akan dibakar di akhir festival.

Kami membeli sangria, minuman fermentasi buah-buahan untuk menghangatkan badan. Sambil menikmati malam yang mulai turun, kami duduk di kursi banyak banyak tersedia di pinggir jalan. Mendekati tengah malam masih ada acara puncak, yakni tarian cahaya dan kembang api yang dipusatkan di Plaza Santa Clara dan El Fadri Tower, yang konon menurut berita akan luar biasa. Malam ini di Castellon pasti akan semarak, ketika langit berwarna-warni, riuh oleh ledakan kembang api dan teriakan penonton berpesta. Besok dan lusa juga masih ada konser musik. Juga corrida de toros, adu banteng di gelanggang Plaza del Toros. Keriuhan belum berakhir di Castellon.

Dimuat di Majalah Travelounge, Juni 2015

Perjalanan Mimpi ke Athena

Pesawat Ryan Air yang saya tumpangi dari Dusseldorf, Jerman sebentar lagi mendarat di Bandara International Eleftherios Venizelos, sekitar 30 kilometer dari pusat kota Athena. Dari jendela, terbentang gugusan pulau memanjang dan garis pantai putih kecoklatan dibalut biru cyan lautan, dipadu gundukan pohon zaitun di tanah berbatu yang begitu tipikal daratan Aegean. Seketika saya disergap rasa yang ajaib. Ada perasaan berdebar-debar bahwa saya akan memasuki lorong waktu impian sejak kecil.

Athena adalah ingatan tentang banyak hal. Kota penuh dewa-dewi gagah dan cantik: Athena yang bijaksana, Poseidon sang penguasa lautan, Zeus sang Dewa tertinggi, Loki yang culas. Tentang asal ilmu pengetahuan, paham kenegaraan, filsuf Plato dan Socrates, tentang legenda kuda Troya.  Begitu banyak tentang, hanya untuk sebuah kota. Kota dimana kisah-kisah imajiner bertemu dunia modern yang nyata.

Perasaan itu makin kuat dalam Airport Bus Rute X95 menuju Syntagma Square. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit. Sepanjang jalan, saya merenungkan kepercayaan yang mengajarkan bahwa yang di depan mata itu sesungguhnya masa lalu. Sedang masa depan itu masih di belakang kita karena belum terlihat.

Di Athena, apa yang bakal saya jejaki adalah masa lalu, yang peninggalannya tetap agung dan gagah setelah ribuan tahun. Masa depan sepertinya tahu diri, ragu-ragu seakan ia hanyalah pengganggu keagungan dan kejayaan dunia lampau. Tapi perubahan tak terlawan, waktu berlalu, dan manusia hidup untuk masa depan, bukan? Belum memutari kota saja, pikiran saya sudah berkelana.

Dari Hotel Athens Backpacker, sekitar 500 meter dari bus station, setelah check in dan menaruh barang, saya memulai perjalanan impian itu: menengok kuil para dewa, lalu menyesap kehidupan kota.

Pukul tiga sore, berbekal peta saya menuju Acropolis. Terletak di bukit berbatu 150 meter di atas permukaan laut, Acropolis berumur lebih dari 3.000 tahun. Berasal dari kata Acron yang berarti perbatasan dan polis yang berarti kota. Kawasan 3 hektar ini merupakan tempat berdirinya beberapa monumen dan bangunan prasejarah bangsa Yunani kuno (21 buah), saat pengaruh Byzantium, Persia dan Ottoman memberi warna bagi budaya Yunani.

Untuk masuk ke Acropolis, pengunjung dikenakan biaya retribusi 12 euro. Pelajar dan mahasiswa gratis. Harga segitu tidak mahal karena sekaligus sebagai tiket terusan bagi beberapa spot wisata lain di sekitar Acropolis dan berlaku selama 3 hari. Saya tapaki jalan menuju Acropolis yang penuh imaji. Sepanjang jalan, pokok-pokok zaitun tumbuh di bebatuan berundak-undak. Warna kecoklatan berselang seling dengan warna hijau. Seakan sama setelah ribuan tahun karena tak satupun tampak bangunan modern yang berdiri di sekitarnya, yang ada reruntuhan. Rute dibuat dari batu alami yang disusun rapi.

Terbayang suatu laku perziarahan ke entitas yang lebih tinggi. Saya teringat kisah para Pandawa yang mengalami ujian saat mendaki Mahameru untuk bertemu dewa-dewa di surga setelah menangi perang Baratayudha. Dan apakah ini masih jalan yang dilalui Santo Paulus saat hendak berkhotbah di Aeropagus  dan lalu berdebat dengan para filsuf tentang konsep ketuhanan di masa kekristenan awal?

Di puncak bukit terhampar area yang datar dengan beberapa bangunan kuno berukuran besar. Inilah Acropolis. Saya disambut Propylaea, gerbang yang menjadi pintu masuk Acropolis. Pengunjung mesti mendaki anak tangga yang cukup banyak di antara pilar-pilar raksasa. Saya merasa agak familiar dengan bentuknya. Dan memang, setelah saya baca panduan wisata Acropolis, rupanya inilah bangunan yang menjadi inspirasi Bradenburg Gate di Berlin, yang dulunya pernah menjadi gerbang masuk kota Berlin pada abad ke-18. Siapapun yang memasuki Propylaea akan menyadari bahwa apa yang ada di balik gerbang ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Awan yang bergantung dan hamparan luas memberi suasana yang dramatis, menggambarkan dimensi kekuatan alam semesta. Di sebelah kanan,  Parthenon berdiri dengan gagah. Bangunan persegi panjang berukuran 70 x 30 meter persegi ini fungsi utamanya sebagai kuil pemujaan bagi Dewi Athena sang pelindung kota. Megah dengan pilar-pilar yang mendominasi, berdiri tegak sebagai lambang demokrasi.

Saat saya datang, Parthenon sedang direnovasi. Masa lalu bertemu upaya pelestarian bagi masa depan. Diperkuat dengan pancang-pancang besi, agar tidak semakin goyah. Sejak dibangun sekitar seribu tahun  sebelum Masehi, bangunan ini telah ditempa berbagai kejadian. Dirusak saat Athena diserbu bangsa Persia dalam Perang Plataea (479 SM), kemudian dibangun lagi oleh kaum Athenean (pemuja dewi Athena) di tahun 447 SM, kemudian diubah menjadi Gereja Parthenos Maria pada abad ke-6 Masehi oleh pengikut Kristen yang sedang tumbuh. Bahkan mungkin sedikit yang tahu bahwa Parthenon pernah menjadi masjid di bawah imperium Ottoman sekitar akhir abad ke-15. Kini ia tinggal reruntuhan yang menyisakan keagungan peradaban masa lalu.

Disamping nilai sejarahnya yang luar biasa, keagungan Parthenon semakin jelas pada cella. Cella adalah ukiran eksterior pada atas bangunan yang menggambarkan prosesi Panatheanic Games, suatu festival empat tahuan penduduk Athena yang melibatkan event olahraga, prosesi religius keagamaan, dan pertunjukan budaya. Seorang tour leader dengan rinci menjelaskan makna ukiran-ukiran itu.

Tak akan habis rasanya mengagumi Parthenon yang bergaya Doric (arsitektur Yunani klasik yang dicirikan kolom-kolom dan pilar yang dominan) dan bangunan-bangunan kuno disekitarnya. Saat berdiri di dekat Erechtheion, kuil untuk memuja Athena dan Poseidon di bagian utara Acropolis, tampaklah hiasan-hiasan berupa Carytids, yakni patung-patung wanita yang berfungsi sebagai pilar.

Dari pinggir Erechtheion, saya memandang lepas ke kota Athena. Bangunan rumah putih warna marmer. Bendera Yunani berkibar dengan keras ditiup angin. Tak jauh, tampak Dyonisius ancient theater, tempat di masa lalu masyarakat berkumpul untuk menonton pertunjukan. Setelah renovasi, terangkai kursi-kursi dari batuan yang disusun setengah lingkaran. Tembok tinggi menjulang sebagai pembatas arena. Bayangkan ribuan orang bersorak saat seorang orator ulung tampil mempertunjukkan keahliannya berpidato.

Sekitar dua jam saya habiskan waktu di Acropolis. Memuaskan mata dengan bangunan-bangunan spektakuler. Tapi, Athena tak hanya menyuguhkan Acropolis.

Sore mulai menjelang. Turun dari Acropolis, saya menikmatinya dalam labirin lorong-lorong berundak yang legendaris, Plaka. Singgah di sebuah tavern dan memesan Greek Salad dengan feta chesse. Ciri khas masakan Mediterranean, pasti ada minyak zaitun dan keju. Tak kenyang, saya kemudian juga pesan Gyross (daging domba yang dimasak dengan bumbu rempah yang kental) dengan harga 5 euro. Enak sekali.

Memutari Plaka, sampailah saya di Monastiraki, melting point di kaki Acropolis yang terkenal dengan flea marketnya. Burung-burung merpati beterbangan dengan bebasnya. Di suatu sudut, penjual pitta ramai dikerubungi turis, sementara penjual buah di gerobak mengingatkan saya akan penjual buah kaki lima di Indonesia.

Saya lalu memasuki Athens Flea Market itu, membeli Evil Eye Charms yang berwarna biru terbuat dari kaca marmer. Mitosnya, akan menjaga keberuntungan kita dari Matiasma, pengaruh jahat yang selalu mencari celah untuk mengganggu. Di toko Pericles, penjualnya bertanya apakah saya dari Indonesia. Ketika saya jawab, ia langsung menyambut dengan berkata bahwa di usianya yang mendekati 60 tahun, ia telah 50 kali berkunjung ke Bali. Bayangkan, 50 kali! Melihat muka saya yang hanya setengah percaya, ia terbahak-bahak dan berkata, tak ada untungnya dia berbohong. Ditunjukannya topeng-topeng Bali dan Jawa, bambu yang diukir motif khas Indonesia dan Bali. Bagi dia dan istrinya, Bali ibarat surga. Begitulah, bagi si penjual, surga itu nun jauh di suatu negeri tropis.

Terus Athena ini apa? Mungkin puisi berjudul Athens dari Kostas Kayotakis, penyair terkenal Yunani bisa menggambarkannya: A sweet hour. Athens sprawls like a hetaera offering herself to April. Sensuous scents are in the air, the spirit waits for nothing any more. Bahwa Athena seperti perempuan berkelas yang menggoda, dengan wangi yang membangkitkan perasaan nyaman bagi yang berdekatan dengannya, tapi hanya sekejab dan ia lalu pergi lagi.

Saya pun ingin mencecapinya lebih jauh. Maka perjalanan saya teruskan ke Pysry, sudut kota yang terkenal dengan pasar yang ramai dan Gereja Byzantium yang berusia ratusan tahun. Dan tentu saja tak akan saya lewatkan momen pergantian prajurit jaga di Syntagma Square.  Malam nanti, telah menunggu sensasi memutari Acropolis dari pinggir kawasannya, melihat Parthenon yang bercahaya disinari lampu penerang.

Dimuat di Majalah Travelounge, Mei 2014

Suatu Siang di Kota Tangan Terlempar

Malam telah turun, kabut yang ditiup angin tampak melayang. Permukaan air Sungai Scheldt yang bergoyang menampakkan pantulan sinar rembulan yang berpedar malu-malu. Di keremangan, duduk seorang raksasa di bawah pohon maple dekat dermaga kecil di pinggir sungai yang terletak di depan sebuah kastil yang tidak terlalu megah. Memiliki leluhur dari Rusia, raksasa yang bernama Druoon Antigoon itu dianugerahi raut muka yang aneh, secara alami berkesan kejam dan pemarah, dengan rahang kotak yang keras dan jidat yang lebar, dan sorot mata kelabu yang penuh rahasia. Kulitnya pucat, kasar dengan bulu yang serabutan. Tangannya besar, penuh otot dan bekas luka sayatan. Di genggamannya ada pedang, yang sepertinya dibuat dengan kasar, bukan seperti pedang para ksatria yang halus dan indah. Pedang itu penuh bercak gelap, dan kemungkinan besar, telah sering digunakan.

Mata si raksasa Antigoon tak henti mengawasi alur sungai yang mengarah ke pemukiman penduduk di ujung sungai sana. Gelisah, seringkali terlihat ia bersumpah serapah. ”Sudah berhari-hari dan tak ada kapal yang lewat. Sial!”, ia menggerutu lagi dengan raut muka semakin masam. Berkata-kata sendiri bahwa kesialannya ini barangkali ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu saat ia merampok dan kemudian memotong tangan seorang pedagang Romawi dari Brabant, kota kecil yang terletak tak jauh di utara.

Tiba-tiba terdengar suara air permukaan sungai yang pecah. Bayang-bayang memanjang mulai tampak. Rupanya ada kapal kecil yang membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari penduduk kota akan merapat ke dermaga kecil tempat ia menunggu. Sontak raut muka Antigoon berubah menjadi cerah. Ia bangkit dan menyeringai kejam.

***

Bukan seringai yang saya lihat di muka Prof. Hubeau, seorang guru besar Sosiologi dari University of Antwerp yang hari itu menjadi guide wisata dadakan. Melainkan senyum hangat yang ditujukan kepada kami, para peserta pelatihan tentang Land Management dari KU Leuven yang sedang studi ekskursi ke Antwerp. Antwerp, kota yang terletak sekitar 56 kilometer di utara Brussels, Belgia.

Saat itu kami sedang berada di MAS (Museum aan de Stroom) yang terletak di Port Antwerp. Bangunan unik setinggi 60 meter ini merupakan museum terbesar di Antwerp yang memiliki koleksi sekitar 500.000 buah, yang mencerminkan sejarah kota Antwerp. Berisi koleksi seperti lukisan, memorabilia, dan benda-benda antik yang berharga sejak zaman pendudukan Gallo-Romawi, ekspansi Spanyol, kedatangan kaum Yahudi Eropa, pendudukan Perancis, Jerman dan Belanda, sampai saat ini di era perdagangan berlian yang menjadi primadona.

Di lantai tertinggi museum, Prof. Hubeuau bercerita bahwa bagi sebagian turis, Antwerp adalah kota besar terindah di area Flanders (area yang penduduknya berbahasa Belanda), di negeri Belgia. Kota ini, yang juga kota terbesar kedua di Belgia setelah Brussels, adalah kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa Barat setelah Amsterdam. Jadi, kehidupan kotanya ditopang oleh perdagangan dan lalu lintas barang. Terutama lewat Sungai Scheldt yang membentang sejauh 350 kilometers dari dataran tinggi Perancis dan bermuara di North Sea.

Sambil mendengar tuturannya, saya melihat sekeliling dari ketinggian. Memandang kagum scenery kota Antwerp dan lanskap atap bangunannya yang indah. Tampak menara gereja Cathedral of the Virgin Mary Antwerp dan bangunan penting seperti City Hall menonjol menjulang. Mempesona, apalagi jejeran kapal-kapal di sepanjang Sungai Scheldt yang membelit kota, berjejer rapi dan menjadikan lanskap unik yang jarang ditemukan di belahan Belgia yang lain.Saya membatin, ini memang konsep pembangunan river-front city yang diterapkan dengan baik.

Kami tidak lama di situ karena perjalanan berlanjut ke sudut lain Antwerp. Jika di Eilandje Quarter yakni di Port Antwerp dan MAS kita terutama melihat konservasi dan tata kota, bangunan dan benda-benda, maka di area Central Station kita melihat sisi lain Antwerp, yakni pluralisme yang hidup dan menyatu dengan keseharian kota. Tepatnya antara penduduk lokal Flanders yang mayoritas Kristen dan kaum Jewish (Yahudi). Kawasan sekeliling Antwerp Central Station adalah kawasan Jewish. Ditandai dengan banyaknya sinagoga, restoran dan sekolah khusus Jewish, dan seringnya kita melihat mereka lalu-lalang dengan pakaian hitam-hitam pekat. plus topi dan rambut dikuncir bagi kaum laki-lakinya.

Menurut Prof. Hubeau, Antwerp adalah kota di Eropa dengan kaum Jewish terbanyak. Saat ini ada sekitar 15.000 orang, dan mayoritas dari mereka adalah kaum Jewish Haredi, yang walau masih ortodoks tapi lebih moderat, dan sisanya adalah Jewish Hasidim yang ultra-ortodoks. Mereka masih mempraktekkan tradisi kehidupan kaum Jewish yang relatif otentik, namun dengan gaya tersendiri sehingga mereka disebut secara khusus yakni “Jewish Antwerp” atau dalam bahasa Belanda-nya “Joods Antwerpen”.

“Kami sudah lama berinteraksi, sejak awal abad 16. Jadi walau pada awalnya sering terjadi pertikaian, karena perbedaan ideologi, gaya hidup, dan yah, karena eksklusivitas mereka, itu tidak menjadikan  mereka musuh,” tuturnya.

Walaupun apolitis, kaum Jewish mendominasi sektor perekonomian di Antwerp. Mereka memiliki toko-toko berlian di tengah kota yang terkenal sebagai pusat jual beli berlian berkualitas tinggi di Eropa. Toko-toko berlian bertaburan di sekitar stasiun seperti di Pelikaanstraat. Saya yang yakin harga berlian tersebut pasti selangit, hanya bisa melongok dari kaca luar karena hari itu adalah Hari Sabtu, yang menurut kepercayaan mereka adalah Hari Sabat yang dikhususkan bagi Tuhan saja, sehingga kegiatan lain selain keagamaan dikesampingkan.

Bagi saya, yang menarik bukan hanya keindahan berlian mereka. Tetapi bagaimana pemerintah kota Antwerp yang didominasi mayoritas Flemish saat ini berhasil mengatur kehidupan masyarakat yang heterogen ini tanpa adanya gejolak yang berarti. Mengingat pengaruh ekonomi kaum Jewish yang besar, agaknya yang menjadi benteng utama pluralisme itu adalah ekonomi kota yang stabil. Ini tersirat dikatakan Prof. Hubeau. Walau Belgia secara politik rentan karena segregasi regional yang menajam antara komunitas Flanders (komunitas penduduk berbahasa Belanda) di utara, dan minoritas Wallonia (penduduk berbahasa Perancis) di selatan, serta komunitas East Cantons di Liege yang berbahasa Jerman di tenggara Belgia, situasi di Antwerp seakan-akan tidak terpengaruh.

Tak terasa sudah lepas tengah hari dan perut pun lapar. Seakan ingin menegaskan semangat keberagaman yang sudah jadi keseharian, kami dibawa ke restoran Portugis di daerah yang dikenal sebagai “immigrant corner” atau “Borgerhout”, yang menjadi tempat bermukim sekitar 30.000 imigran. Saya lihat di area tersebut, suku bangsa membaur. Ada wajah Eropa Timur, seorang pria berambut pirang duduk dan tertawa-tawa dengan seorang pria lain berwajah Arab dan seorang wanita Belanda. Lalu lewat seorang wanita Timur Tengah yang berjilbab hitam menyeberang jalan. Dan di dalam restoran, percakapan dalam bahasa Portugis bercampur dengan bahasa Belanda. Memang menurut statistik tahun 2010, 36% warga Antwerp adalah imigran dari seluruh pelosok dunia.

Kami disajikan menu Cozido A Portuguesa, makanan ala Portugis dengan pork, dan sayuran seperti sawi asin, dan nasi yang pulen ditaburi kuah seperti kanji. Musah, seorang teman Muslim dari Kamerun, hampir saja kecolongan dengan menu itu. Untunglah ketika menu datang, Prof. Jos dari KU Leuven yang mendampingi kami iseng bertanya siapa diantara kami yang memiliki pantangan terhadap makanan tertentu karena alasan agama atau kesehatan. Musah langsung curiga dan bertanya-tanya. Akhirnya dia hanya makan ayam goreng biasa. “Untunglah, tadi itu hampir saja,” dia berkata sambil tertawa lega.

Selepas bersantap, sebelum melanjutkan perjalanan kembali, Prof. Hubeau berkata, “Sekarang kita akan pergi ke Historich Centrum, tempat yang paling disukai turis dan paling banyak toko suvenirnya”. Dia bercerita bahwa area inilah destinasi utama turisme di Antwerp dan menjadi meeting point penduduk Antwerp. Belum sah datang ke Antwerp jika belum ke Historich Centrum.

Grote Markt (main square) tak bisa dipungkiri adalah daya tarik utama di Historich Centrum, terutama karena area terbuka ini dikelilingi oleh banyak bangunan dengan arsitektur yang klasik dan indah. Dan ciri khas bangunan-bangunan tersebut adalah adanya dinding di muka rumah dengan kayu palang yang menjulang ke atas. Saya jadi ingat kota-kota di Jerman, terutama di daerah Muenster, North Rhine Westphalia, tempat saya menyelesaikan studi dulu. Bisa jadi, pengaruh Prussia juga masih tersisa di Antwerp. Salah satunya Stadhuis (City Hall), dibangun sekitar pertengahan abad ke-16 oleh arsitek Flemish Rennaissance yakni Cornellis Floris de Vriendt. Keindahan gedung Stadhuis ini terutama karena menaranya yang menjulang, dipadukan dengan logo dan lambang berwarna emas, serta bendera yang banyak dipasang.

Suasana cerah sore itu tampak membuat semua orang bergembira. Para seniman jalanan, baik yang necis dengan jas dan piano, maupun yang agak kumal dengan gitar butut, tampak bersemangat bersenandung untuk mengais rejeki dari para turis. Pada suatu waktu lain, saya melihat gadis-gadis berpakaian tradisional datang dengan kereta kuda, lalu menari-nari dengan ceria dan penuh tawa. Suasana sontak menjadi riuh.

Jika ingin menyewa sepeda untuk menjelajahi kota, kita dapat menghubungi bagian informasi yang terletak di dekat Grote Markt itu. Atau jika ingin bersantai sejenak, banyak kafe dan restoran di seputaran Grote Markt. Ada juga makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Papan daftar menu dipasang dengan provokatif, menggoda turis untuk singgah. Saya tak melewatkan kesempatan singgah di Irish Pub, untuk menyegarkan tenggorokan dengan minuman dingin. Saya pernah baca, alasan Irish Pub begitu marak dan terkenal dan hampir ada di tiap kota besar di Eropa adalah karena selain suasana yang dibuat nyaman dan bersahabat, orang Irlandia dikenal sebagai perantau yang melankolis, senang bernostalgia tentang tanah air Irlandia nun jauh di sana, dan karena itulah mereka selalu butuh tempat berkumpul dimanapun mereka berada. Jadi tak heran, dimana ada perantau-perantau Irlandia, pasti ada Irish Pub.

Selain City Hall, landmark kota yang lain adalah Katedral Santa Perawan Maria (Catedral of the Virgin Mary) yang terletak tak jauh dari Sungai Scheldt. Bangunan bergaya gothic ini mulai dibangun pada tahun 1352, dan baru selesai setelah 229 tahun kemudian di tahun 1521. Suatu periode panjang hanya untuk mendirikan sebuah bangunan. Dan itupun, menurut brosur wisata yang saya baca, masih ada yang kurang sempurna dari pembangunan gereja itu. Menaranya baru satu yang jadi dari dua buah yang direncanakan semula. Keindahan gereja ini, adalah pada arsitekturnya yang menjulang tinggi, ciri khas bangunan gereja di Eropa Barat. Saya ingat Gereja Koln yang juga berarsitektur sama, dan Gereja Squadra La Familia di Barcelona yang tidak kunjung selesai dibangun yang saya datangi tahun lalu. Di dalam gereja ini juga terdapat karya unik yakni tripthych (lukisan altar yang umumnya terdiri dari tiga panel) dan lukisan indah seperti The Resurrection of Christ (Kebangkitan Kristus) karya pelukis ternama Antwerp, Pieter Paul-Rubens yang terkenal dengan gaya Barock-nya.

Namun, dari semuanya itu, ada suatu monumen yang tampak ikonik tepat di depan City Hall. Patung seorang pria hijau yang sedang mengayunkan tangan, seakan-akan sedang melemparkan sesuatu. Siapa dia, dan mengapa dia dimonumenkan di situ?

***

Seringai si raksasa Antigoon menghilang ketika kapal tersebut merapat ke dermaga. Berganti dengan raut muka kejam tanpa belas kasihan. Dengan berteriak ia memanggil si pemilik kapal untuk keluar. Rupanya Antigoon berniat merampok isi kapal tersebut. Namun ia tidak tahu, kapal tersebut sesungguhnya kapal yang berisi seorang Jenderal Romawi, Silvius Brabo, seorang teman dekat Caesar, penguasa Kota Brabant dan ketujuh anak buahnya yang sengaja datang untuk menumpasnya. Kabar adanya raksasa perampok di Sungai Scheldt yang telah memotong banyak tangan penduduk telah mengusik sang penguasa.

Tiba-tiba dari dalam kapal, Brabo, dengan pedang terhunus melompat dan menyerang.  Pedangnya mengayun keras ke arah leher Antigoon. Namun dengan gampang Antigoon yang memang sangat kuat menepiskan serangan itu dengan pedangnya. Brabo terhuyung. Salah satu anak buah Brabo, Aleyns, kemudian mengambil busur dan memanah Antigoon tepat di lehernya. Antigoon sempoyongan, namun ia semakin marah dan masih sempat membanting dua anak buah Brabo yang lain dan melukai sisanya dengan pedang sebelum terjatuh. Melihat kesempatan itu, Brabo langsung melancarkan serangan. Diayunkan pedangnya tepat ke dada Antigoon. Darah menyembur seketika, namun Antigoon masih mencoba berdiri. Namun tak lama, si raksasa ambruk dan tewas. Membalaskan tindakan Antigoon sebelumnya, Brabo kemudian memotong pergelangan tangan Antigoon dan melemparkannya ke Sungai Scheldt. Dan ia berkata,”Kota ini sudah bebas dari Si Jahat sekarang, dan setiap orang dan penduduk kota, dapat berdagang dan hidup dengan bebas”.

***

Dan demikianlah, ujar Prof. Hubeau sebagai penutup tur singkat itu, bahwa patung pria hijau di tengah fountain (air mancur kecil) yang sedang berpose melempar sesuatu itu adalah monumen perunggu yang menggambarkan legenda Brabo saat menumpas kejahatan raksasa Antigoon, dibangun oleh  pematung Jef Lambeaux tahun 1887. Tambahnya, jika ingin melihat potongan tangan yang terlempar, kita dapat melihatnya di Meir Square dan di Central Station. Hanya saja, yang di stasiun posisinya menengadah ke atas dan dinamai “Peaceful Hand” atau tangan damai.

Terlepas dari kebenarannya, sebagian percaya bahwa Antwerp beroleh nama dari peristiwa itu: Ant berarti tangan, Werpen berarti melempar.  Jadi, dengan cerdas, legenda itu dikemas sebagai asal muasal Antwerp, dengan Brabo sebagai pendiri kota Antwerp (walau nama Brabo sebenarnya telah terlebih dulu diabadikan sebagai nama kota tetangga yakni Brabant), dan monumen itu sebagai lambang kebebasan, termasuk kebebasan berdagang dan berkehidupan di kota Antwerp. Saya lalu berpikir, barangkali mitologi Brabolah yang sesungguhnya menjadi  inspirasi dan zeitgeist (semangat zaman) kota Antwerp dalam menata kehidupan bermasyarakatnya. Mitologi memang dapat dijadikan ikon kota sekaligus pemanis pariwisata disuatu kota. Bagi pengunjung, lebih mudah mengingat sejarah yang dibalut mitologi daripada sejarah kota yang biasa-biasa saja.

Dari patung Brabo, kami lalu menuju tepi Sungai Scheldt. Ingin melihat tata sungai yang rapi di sepanjang esplanade-nya. Namun yang kami lihat justru pesta kaum homoseksual di sebuah kapal pesiar yang sedang berlabuh. Ada bendera pelangi di buritan kapal. Dalam hati saya membatin, kebebasan berekspresi seperti ini barangkali juga salah satu buah dari kultur kota yang dinamai “potongan tangan yang dilempar ke sungai” ini. Tidak akan ada yang seperti itu agaknya, andai yang menang dalam pertarungan adalah Si Raksasa Druon Antigoon. 

Dimuat di Koran Tempo Minggu, 17 November 2013

Hidupku lautku

Entah berapa orang yang kenal Tarempa, ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas, di Kepulauan Riau. Kampung kecil di Pulau Siantan, tak layak ia disebut kota. Sembilan jam perjalanan memakai kapal cepat dari Tanjungpinang. 24-30 jam pakai kapal perintis.

Ia pun hanya segaris lengkung di teluk yang kecil di bagian utara pulau, dengan rumah-rumah yang didirikan di pinggir laut. Hidup dari laut, hidup dengan laut, hidup di tepi laut.

Hasil laut adalah kebanggaan, melimpah tapi tak semua murah. Lebih menggiurkan dijual ke luar. Cumi murah, tapi kenapa udang mahal? Dan transportasi laut ternyata susah, dari Jemaja ke Tarempa, dari Tarempa ke Bunguran, Natuna hanya terbatas.

Orang laut, hidup bersama laut, pelan-pelan lebih mencintai darat. Gagahnya nenek moyang mereka di Gunung Kute, Pulau Matak sebagai penjelalah lautan Cina Selatan, dah hei.. mereka juga bajak laut, lanon dari Campa, beraksi Selat Malaka dan Selat Karimata di abad ke 15, serasa tak bersisa. Jalan raya dibikin di atas air, menyusur pinggiran agar lebih mudah berpergian dengan motor roda dua. Tak ada tempat untuk roda empat. Bukit hijau ditebas guna membikin akses jalan raya.  Biaya rumah mahal, setahun kontrak rumah dua kamar di bawah batu gunung pun 25 juta. Bikin rumah, hanya sepetak ratusan juta.

Sinyal selular mati hidup.

Dan lalu di ujung hari, saat duduk minum kopi dan makan mi Tarempa di pinggir laut, saya berpikir, apa yang membuat mereka bertahan, apa yang membuat sore dan pagi hari semarak dengan orang lalu-lalu menikmati pinggir laut, sebagian memancing ikan tamban, apa yang membuat tengah malam warung kopi di pasar tetap ramai dan hangat, dan bahkan membuat pendatang berdatangan di kepulauan yang dijuluki Raja Ampat dari Barat ini?

Saya yakin, ada sesuatu, yang tak terjangkau bagi saya orang asing yang naif, itu lebih dari hanya sekedar sinyal yang mati hidup. Dapatkah anak-anak kecil di Pasir Peti ini menjawabnya?

Anak di Tarempa

Tarempa, 22-25 Maret 2014

Terima kasih

Bapa di surga yang baik,
terima kasih
Saat ini Engkau beri hadiah hari jadi pernikahan kami yang menakjubkan.
Kesempatan menjadi pengantar seorang manusia kecil citra diri-Mu,
Ialah penyertaan ilahi yang sungguh terasa dalam hidup kami.

Semoga Engkau berkenan menolong kami, melindungi dia
Dalam mencintai dan menjaganya, sekarang, dalam lahirnya nanti, dan selamanya..
Memberikan orang-orang yang baik.

Hingga ia tumbuh sehat selalu, sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya.
Dan kami,
dapat mendampinginya sekuat jiwa raga kami.

Kami bertiga, engkau bertiga, kasihanilah kami. Yang lemah ini.

Amin.

Bogor, 2 Januari 2014

Antara Pototano dan Tongo

Seperti gadis yang telah dipinang. Molek berhias emas, tersembunyi di selimut hijau gunung dan hutan, di pedalaman biru laut dan pantai di pantai selatanmu.

Tapi siapa yang mendapatkanmu? Kegairahan apa yang kau bawa kepada mereka yang tak peduli apapun selain persinggahan karena emas?

Sumbawa Barat, 9-13 Juli 2012

Senja di Esplanade Sungai Sarawak

Subuh yang berkabut mengepung Entikong, Kalimantan Barat, pada pengujung April lalu. Meski hari masih prematur, suasana di gerbang Pos Pemeriksaan Lintas Batas telah ramai oleh ratusan orang yang hendak masuk ke Sarawak, Malaysia. Mereka sudah antre di pintu masuk, yang biasanya baru dibuka pada pukul 05.15. Kebanyakan adalah pekerja perkebunan kelapa sawit.

Saya juga antre. Bukan untuk mencari kerja, tapi hendak melancong ke Kuching, ibu kota Sarawak. “Ape you nak buat di Kuching? Berape lame?” tanya petugas imigrasi perbatasan Malaysia saat memeriksa paspor saya. Setelah saya menjawab hanya untuk berwisata, paspor langsung dicap visa social visit selama 14 hari. Separuh lebih singkat dari visa sejenis dari Singapura.

Rampung dengan urusan imigrasi, saya melanjutkan perjalanan dengan bus Eva, yang bernomor polisi Malaysia. Bus berpenyejuk udara yang membawa saya dari Pontianak, Kalimantan Barat, sejak semalam itu melaju di atas jalan beraspal mulus. Lalu lintas masih sepi. Hanya satu-dua mobil yang lewat. Sepeda motor tidak terlihat sama sekali.

Entikong-Kuching akan ditempuh sekitar dua jam. Deretan pepohonan dengan latar belakang perbukitan mendominasi awal perjalanan. Sinar matahari pagi mulai menyirami kanopi pepohonan yang masih bersaput kabut. Indah, khas pemandangan hutan hujan tropis.

 

*****

Awalnya, Sarawak adalah wilayah jajahan Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-15, saat pengaruh Majapahit pudar, Islam masuk ke sana lewat Kerajaan Brunei, yang kembali berkuasa. Dan masuk pula pengaruh Melayu dari pesisir timur Sumatera.

Atas pengaruh Inggris, Kesultanan Brunei kemudian menyerahkan Kota Kuching kepada seorang eks tentara Inggris, James Brooke. Ini adalah hadiah karena Brooke berjasa memadamkan pemberontakan penduduk lokal di Sarawak. Brooke kemudian diangkat menjadi Gubernur Sarawak. Bahkan, pada 1841, ia diberi wewenang menjadi penguasa penuh Sarawak dengan mendirikan dinasti, yang oleh bangsa Melayu disebut sebagai Dinasti Rajah Putih (1841-1946)–yang berarti “raja berkulit putih”.

Sungai Sarawak yang membelah Kuching merupakan urat nadi perkembangan kota itu serta menjadi pusat kegiatan dan perdagangan masyarakat. Di Kuching, para pedagang Cina banyak berdatangan, berbaur dengan penduduk asli Borneo, yakni Dayak di pedalaman (Bidayuh, Iban, Orang Ulu) yang masih berkerabat erat dengan Dayak di Kalimantan Barat, serta Melayu dari kesultanan-kesultanan di daerah Semenanjung Malaysia.

Nama Kota Kuching diperkirakan berasal dari pohon mata kucing yang banyak tumbuh di pinggir Sungai Sarawak. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kata “kuching” berasal dari cochin, kosakata India, yang berarti pelabuhan. Itu merujuk pada daerah yang mulai berkembang saat itu. Perantau India diduga datang paling awal dan ikut mendirikan kota ini.

Tapi, dari mana pun asalnya dan tanpa perlu ada kaitan nama Kuching dengan hewan kucing, saat ini pemerintah Sarawak dengan pintar memanfaatkan nama ibu kotanya itu menjadi brand name wisata. Mereka menggaungkan slogan yang menyebutkan bahwa Kuching adalah city of cats atau the world’s capital of cats. Juga dengan mendirikan Museum Kucing, memasang patung kucing di berbagai sudut kota, serta membuat berbagai ragam suvenir berbentuk atau bergambar kucing.

Kuching adalah kota yang lengang. Kesan kedua, kota ini sangat menghargai pluralisme. Tulisan Cina dipampang bersanding dengan Inggris dan Melayu hampir di mana-mana, termasuk untuk nama toko.

 

*****

Sesampai di terminal yang tidak besar, hanya setengah lapangan sepak bola, saya dijemput Peter House, anak pemilik homestay yang akan saya tinggali di daerah Taman Timberland. Dalam perjalanan, saya bertanya tentang penyebab sedikitnya sepeda motor di jalan. Ia menjawab sambil tertawa. Katanya, Pemerintah Kota Sarawak “agak gila” dengan memberikan pajak tahunan yang sama antara motosikal (sepeda motor) dan kereta (mobil). Itu membuat penduduk enggan memiliki sepeda motor dan lebih memilih mobil.

Saya akan tinggal di homestay dengan tarif 40 ringgit (sekitar Rp 120 ribu) semalam. Rumah penginapan Peter telah menjadi favorit bagi orang-orang Pontianak yang akan berwisata di Kuching ataupun berobat di sejumlah rumah sakit yang banyak tersebar di sana, seperti Timberland Hospital, Normah Medical Specialist Centre, dan Sarawak General Hospital.

Setelah sarapan di sebuah warung di dekat penginapan, hari itu saya berniat menjelajahi kota. Peter mengusulkan dua lokasi: Damai di Santubong dan Kuching Waterfront di pusat kota (bandar raya, dalam bahasa Malaysia).

Damai, berjarak sekitar 35 kilometer arah utara dari pusat kota, merupakan tujuan wisata terpopuler saat ini di Sarawak. Saya ke sana dengan menggunakan taksi. Sopirnya, Lua, seorang Cina Hakka (Khek), subetnis yang juga banyak bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat, berbicara dalam bahasa Melayu berlogat Cina.

Dalam perjalanan, Gunung Santubong tampak menjulang. Gunung setinggi 810 meter di atas permukaan laut itu terlihat dominan karena merupakan satu-satunya tempat tertinggi di daerah utara Sarawak yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Nama Santubong, gunung yang merupakan tempat suci suku Dayak Iban di masa lalu, berasal dari kata si-antu-bong, yang berarti kapal para roh (bong = kapal, antu = roh). Ia akan membawa roh dari orang mati ke dunia lain.

Setelah mengitari Santubong, Lua membawa saya masuk ke Damai Resort. Kawasan wisata Damai itu sudah dimiliki dan dikelola oleh swasta. Agar bisa masuk, pengunjung perlu merogoh kocek 3 ringgit (Rp 9.000) dengan imbalan bonus teh botol Sarawak. Resor itu merupakan tempat favorit turis-turis bule menginap. Tersedia homestay dengan harga bervariasi, dari 120 hingga 300 ringgit (Rp 350–900 ribu).

Jika para pengunjung ingin berjemur di pantai dan mandi di laut, mereka hanya perlu berjalan sebentar. Dan, bila mereka ingin mandi air tawar, tersedia kolam renang. Tampak beberapa pengunjung berenang agak ke tengah laut, sebagian berjemur di bawah pohon kelapa, sebagian lagi bermain banana boat. Bagi pengunjung resor yang ingin beraktivitas di luar ruang, tersedia fasilitas jungle trekking ke Gunung Santubong. Tersedia rute-rute dan pemandu.

Saya hanya duduk di bawah pohon kelapa, menikmati embusan angin. Bagi saya, suasana dan pantai di sana masih kalah eksotis dibanding pantai di Gili Trawangan, Lombok. Pasirnya juga kalah putih. Airnya tak begitu biru. Tapi yang membuat saja kagum adalah penataan ruang yang bagus dan fasilitasnya lengkap. Yang dijual bukan hanya pesona alam, tapi juga kenyamanan pengunjung.

Itu juga yang ditawarkan Sarawak Cultural Village, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Damai Resort. Di area seluas 17 hektare itu, pengunjung bisa menyaksikan kehidupan tradisional dan keseharian suku-suku yang mendiami Sarawak, seperti Bidayuh, Orang Ulu, Iban, Melayu, dan Cina. Terdapat sekitar 200 orang yang tinggal di wilayah itu. Mereka mengelola tujuh rumah tradisional, bercocok tanam, berpakaian adat, serta mengerjakan kerajinan tangan tradisional yang juga dijual kepada turis. Juga terdapat pertunjukan dan tarian adat yang mereka bawakan. Ya, seperti Taman Mini Indonesia Indah, hanya ini lebih berfokus pada etnik.

 

*****

Sekitar pukul 14.00, Lua mengantar saya ke Kuching Waterfront. Kawasan wisata favorit itu terletak di tepi Sungai Sarawak. Lapangan terbukanya (esplanade) ditata dengan rapi, menghadap ke arah matahari terbenam. Di latar belakangnya tampak astana (istana) yang beraksen Melayu dan Fort Margherita yang bergaya kolonial Inggris.

Astana yang dibangun oleh Charles Brooke (penerus James Brooke) pada 1870 itu adalah bekas kediaman penguasa Rajah Putih, yang kini menjadi kediaman resmi Yang Dipertuan Agung Sarawak. Anak-anak muda yang bermain bola dan keluarga muda dengan anak kecil yang bermain gelembung menghiasi esplanade yang diteduhkan oleh jajaran pohon. Suasana begitu hidup. Jika ingin mengunjungi Astana dan Fort Margherita di seberang sungai, kita dapat menaiki kapal klotok dengan biaya 0,5 ringgit (sekitar Rp 3.000).

Di suatu sudut, saya menjumpai seorang seniman dari suku Iban, dengan tubuh penuh tato, sedang memetik sape (gitar tradisional suku Dayak) dengan merdu. Melodi yang dia nyanyikan lembut mengiringi sore. Tak terasa, memori saya melayang ke suasana pedesaan kampung Dayak yang damai. Jika pengunjung ingin membeli suvenir Sarawak, di kawasan Waterfront inilah tempat yang tepat. Jejeran toko menjual segala jenis cendera mata, dari kaus bermotif Sarawak, tas kucing, gantungan kunci kucing, kain batik Dayak, sampai lada hitam dan teh khas Sarawak.

Berada di kawasan Waterfront, saya kembali merasa iri. Negara bagian yang juga tetangga Pontianak ini bisa “merayakan sungai” dengan pengelolaan sangat baik. Di Indonesia, begitu banyak kota yang dibesarkan dan tumbuh di pinggir sungai, misalnya Banjarmasin, Palembang, Tangerang, dan Pontianak, tapi hampir tak ada yang menjadikannya aset wisata kota nan nyaman dan murah meriah seperti di Kuching Waterfront ini.

Tapi saya malas memikirkannya. Saat ini saya hanya ingin menunggu matahari terbenam berlatar kubah Astana yang tampak megah.

Edisi cetak dimuat di Koran Tempo Minggu 27/5/2012

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.