Petualangan kecil di Alpen

Bagi seseorang dari negeri tropis, pemandangan kota-kota yang dikelilingi gunung bersalju ibarat destinasi liburan impian. Jika Anda termasuk salah satu yang mendambakan hal itu, datanglah ke Innsbruck, Austria, kota yang dijuluki ibukota Pegunungan Alpen.

Terletak di lembah Inn, kota ini dikelingi gugusan gunung berselimut salju abadi. Di sebelah utaranya Gunung Nordkette (2.246 m), di selatannya ada Gunung Patscherkofel (2.246 m) dan Serles (2.718 m). Di antara gugusan gunungnya mengalir Sungai Inn yang membelah kota seluas 104,91 km persegi itu, memisahkan kota dengan Nordkette. Mungkin karena itu, nama Innsbruck diambil dari nama sungai dan Brucke (bahasa Jerman, berarti jembatan). Innsbruck, kota yang menjadi jembatan Sungai Inn.

Pada awal April udara sudah mulai menghangat. Namun, pagi di terminal bus Innsbruck masih terlalu dingin selepas perjalalan dua jam dari Munich menggunakan bus antarkota Flixbus. Perjalanan yang tak membosankan. Pucuk-pucuk gunung bersalju, pemandangan permai pedesaan di kaki gunung, melewati kota-kota kecil seperti Mittenwald dan Garmisch Partenkirchen yang legendaris dengan lanskap salju musim dinginnya.

Apa tujuan saya ke Innsbruck? Kali ini bukan hanya meng-eksplore kota yang kabarnya telah dihuni sejak zaman prasejarah di awal Stone Age, tapi juga hiking di kaki Pegunungan Alpen. Tidak. Jangan bayangkan hiking profesional dengan peralatan lengkap. Ini hanya petualangan kecil menelusuri rute menarik dan penuh pemandangan indah.

Mengingat terbatasnya waktu, saya memilih ke Nordkette yang di lamannya disebut sebagai Jewel of the Alps dengan Nordkettenbahn (kereta luncur menuju Nordkette). Barulah setelah itu menuruni lerengnya, melewati desa-desa kecil, Alpenzoo (kebun binatang Alpen), dan terakhir menyusuri Sungai Inn di mata kakinya.

Sudah masuk musim semi, sebagian salju telah mencair, dan kaki-kaki gunung telah kembali hijau kecoklatan. Ini menunjukkan dedaunan telah kembali tumbuh setelah musim dingin. Namun salju masih membentang dengan luasnya di area puncak Alpen. Tak heran, walau musim dingin sudah lewat, bagi penggemar olahraga salju, Innsbruck menawarkan tempat berolahraga yang tetap nyaman.  Sejak dari Hungerburgbahn di area Congress, stasiun pertama untuk naik ke Nordkette, sudah banyak orang yang membawa peralatan skiing dan snowboarding. Termasuk anak-anak kecil yang dengan ributnya berceloteh apa saja.

Tiket pp-nya 33 euro sampe ke Hafelekarspitze, yang merupakan puncak tertinggi Nordkette. Kereta ternyata hanya sampe di Hungerburg, tempat perhentian pertama untuk aktivitas skiing dan snowboarding. Jika ingin melanjutkan ke Hafelekar, mesti naik kereta gantung lagi.

Saya putuskan untuk turun dulu di Hungerburg karena di sini ada cafe legendaris, Alpenlounge Seegrube & Hafelekar Restaurant. Sambil menyeruput secangkir coklat panas saya duduk di kursi bersandar santai, tepat di pinggir tebing. Memanjakan lidah di ketinggian 1.900 m sambil memandang gugusan puncak-puncak bersalju, dipadu langit abu-abu, serta warna-warni jaket para penikmat olahraga salju yang meluncur menuruni salju di sisi gunung sungguh pengalaman tak biasa. Mereka hilir mudik di sekitar café, sambil menenteng sepatu ski atau snowboard yang kebanyakan disewa dari tempat persewaan peralatan di sebelah café.

Puas di Seegrube, saya putuskan melanjutkan perjalanan. Kali ini menggunakan kereta gantung sampai Station Hafelekar, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 20 menit untuk menggapai puncaknya. Tidak jauh dari stasiun, terpasang peringatan kalo area ini adalah akhir zona aman. Pengunjung wajib waspada akan bahaya avalanche (salju longsor) tiba-tiba. Saat tiba di puncak, ada salib kecil yang jadi ikon Hafelekarspietze. Pemandangan dari sini? Menakjubkan!

Tapi, ketinggian di atas 2.200-an meter berangin kencang bukanlah tempat yang nyaman berlama-lama. Hanya sekitar 15 menit, saya sudah menggigil. Karena angin dan hujan yang tiba-tiba turun.

Bergegas saya turun menuju stasiun, langsung menuju Innsbrucker Norkettenbahnen yang menjadi awal rute jalan kaki menuruni gunung. Dari Hermann Buhl Platz, yang beroleh nama dari seorang pendaki kenamaan Innsbruck dan penggagas konservasi Alpen Austria, kota Innsbruck terhampar dengan jelas. Sungai Inn meliuk-liuk, bersilang dengan jalan dan jembatan yang membentuk kota. Padang rumput hijau dan taman-taman kota, Goldenroof and City Tower, serta menara gereja di kawasan Altstadt tampak harmonis berpadu dengan deretan pegunungan di selatan Innsbruck.

Dengan bersemangat saya menyusuri jalan tanah berbatu. Berliku-liku menuruni jurang menuju dataran rendah. Namun jalannya sudah dibikin nyaman. Di pinggir jurang, pepohonan berjejer, seakan memagari jalan.

Ketika sampai di suatu persimpangan, saya beristirahat sambil duduk di kursi. Tak lama, datang satu rombongan. Mereka membawa bayi yang digendong di depan. Saat melintas di depan saya, salah satunya tiba-tiba menyapa dan bertanya dalam bahasa Jerman. Walau tidak begitu mengerti, nampaknya ia bertanya dimana letak Alpenzoo. Saya sebenarnya juga belum tahu arahnya, namun karena ingat bahwa di GPS arahnya ke kanan, maka dengan sok yakin saya sarankan ia ke sana. Semoga mereka tidak nyasar.

Tak lama, melintas sepeda yang ditunggangi pria paruh baya. Saya berpikir, kuat juga ini orang bersepeda di perbukitan. Jangan-jangan habis ini nenek-nenek yang lewat. Eh, beneran. Tak lama lewatlah dua orang nenek-nenek yang melangkah dengan walau sedikit terengah, tampak bersemangat sekali.

Di perjalanan, sering saya temui taman-taman bunga di dekat gazebo yang berdiri tepat di pinggir jurang. Dedaunan muda yang kehijauan segar mulai mengisi ranting dan cabang pepohonan sehabis merangggas di musim dingin. Juga ada rumah-rumah peristirahatan yang tampak kokoh.

Tidak jauh dari situ, terdapat Alpenzoo yang khusus berisi flora dan fauna khas gugusan Alpen. Terdapat sekitar 20 jenis mamalia ada di sana dari total 80 jenis yang menghuni Alpen, 60 jenis burung, 11 reptil dan hampir semua ikan yang hidup di Alpen. Beberapa hewan yang menjadi ikon seperti bison Eropa, Alpine Ibex, beruang, lynx, dan elang emas menjadi koleksi andalannya. Tiket masuk hanya 10 euro untuk dewasa. Walau ingin masuk, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Kira-kira setengah jam kemudian, sampailah saya di tepian Sungai Inn. Salah satu ikon fotografis Innsbruck yang banyak dijadikan lokasi berfoto para pelancong ada di sini: rumah warna-warni di perbukitan dengan latar depan Sungai Inn dan latar belakang Pegunungan Alpen bersalju putih di puncaknya.

Saya menikmati suasana dengan segenap perasaan di promenade Sungai Inn ini. Saya buka bekal burger yang dibeli di Seegrube. Badan yang segar sehabis hiking kecil, pikiran yang damai, dan perut yang telah terisi. Itu membuat lupa kalau waktu sudah hampir habis dan jadwal bis balik ke Munich sudah semakin dekat. Ibarat Innsbruck yang sudah lupa akan sisa-sisa pengeboman hebat saat Perang Dunia II dulu. Benarlah kutipan kata-kata Erhard A. Bellerman, seorang penyair Jerman yang saya lihat di Seegrube, saat ia mendeskripsikan Innsbruck:

Das Tal der Sorgen ist umgeben von Bergen des Gluecks

“Lembah penderitaan itu sesungguhnya dikelilingi oleh gunung-gunung kebahagiaan”

 

Dimuat di Majalah Travelounge, Desember 2016

Ada becak di Altstadt Muenchen

Saya pernah bertanya kepada teman Indonesia kelahiran Jerman yang saat ini menjadi pastor di Fulda, kota kecil di wilayah Hesse. “Kota apa sih yang paling ‘lebih’ di Jerman?” Ia menjawab, tentu saja Muenchen. Kota yang terletak di Bavaria ini punya segalanya. Wilayahnya paling luas dan paling kaya. Pemandangan Alpen dan wisata saljunya kelas dunia. Muenchen juga punya klub sepakbola tersukses di Jerman. Pusatnya teknologi dan ekonomi, universitas-universitas terbaik juga ada di sini.

Sapaan Guten Tag, yang berarti selamat siang, diganti jadi “Gruess Gott”. “Guten Tag tidak laku. Jadi, kalau kamu menyapa seseorang dengan Guten Tag di toko, siap-siap dapat pandangan aneh”.

Kok bisa?

Si Pastor tertawa, “Karena orang Bavaria itu tidak mau disamain. Mereka selalu ingin lebih dari yang lain. Mereka menganggap bukan Jerman yang membentuk Bavaria, tapi Bavaria-lah yang membentuk Jerman”. Saya membayangkan seragam sepakbola tim nasional Jerman yang sangat mirip dengan seragam klub Bayern Muenchen.

Ingatan akan percakapan itu selalu terbawa sampai kemudian saya bisa datang ke Muenchen untuk suatu acara dari kampus pada awal April kemarin. Saya tidak ingin membuktikan kebenaran jawaban Si Pastor karena mustahil tahu tentang zeitgeist, semangat zaman orang-orang Bavaria dalam beberapa hari di sini.  Yang saya ingin tahu sederhana saja: indahkah Bavaria di awal musim semi kali ini? Ini bukan Bulan Oktober, jadi Oktoberfest, pesta bir terbesar di dunia yang jadi magnet utama Muenchen bisa dikesampingkan.

Di pagi buta, saya sudah keluyuran di Marienplatz, kawasan Aldstat (kota tua)-nya Jerman. Lokasinya hanya sekitar 700 meter dari Hotel Maritim tempat saya menginap. Entah sejak kapan, saya mulai suka mengenali sebuah kota dengan keluyuran di pagi hari ketika kota tersebut masih sepi dan sebagian besar penghuninya masih belum beraktivitas.

Dingin yang masih tersisa tak menghalangi langkah prosesi personal dalam menikmati kota belum bangun. Lampu-lampu teras masih menyala. Kursi-kursi kafe pinggir jalan masih terbalik. Saat tiba di tujuan, saya terpaku pada bangunan berumur hampir 200 tahun, Neues Rathaus yang bergaya Flanders Gothic (gaya arsitektur gothic yang dipengaruhi Belanda). Dengan tinggi sekitar 100 meter dan atap-atap runcing, bangunan city hall itu tampak anggun mengalahkan zaman.

Tapi bukan itu yang jadi daya tariknya, melainkan Glockenspiel, menara lonceng yang diisi 32 miniatur. Tiap jam sebelas siang, 32 patung itu akan begerak menampilkan kisah tentang pernikahan seorang pangeran Bavaria, Duke Wilhem V dan Putri Renata dari Lorraine Perancis yang disambut gembira seluruh rakyat dengan berpesta. Namun, tak lama terjadi wabah penyakit, menyebar dengan ganas ke seluruh pelosok wilayah. Seorang pintar kemudian berkata bahwa hanya satu syaratnya: jangan tunjukkan kesedihan dan ketakutan, melainkan kesetiaan pada sang pangeran dengan menari di jalan-jalan pusat kota. Maka rakyat pun menari yang dipimpin oleh para pembuat kerajinan dari tembaga. Dan wabah itu hilang dengan sendirinya. Semua bersuka cita dan berpesta.

Pertunjukan berlangsung antara 10-15 menit. Tiga burung emas akan muncul di setiap akhir cerita dengan cuitan khasnya. Biasanya, momen inilah yang dijual oleh agen perjalanan atau guide lokal untuk memulai tur keliling kota. Mungkin itu mengapa orang Bavaria gemar berpesta ramai-ramai. Selain dengan guide jalan kaki, kita juga bisa mendapat guide dengan ikut Bus City Tour. Naik dari pool-nya yang terletak hanya 50 meter dari Haupbahnhof Muenchen.

Saya bertekad hendak minum kopi di Glockenspiel Caffe yang legendaris, cuma kayaknya kepagian. Andai saja saya bertahan sampe jam 11. Tapi siapa yang bisa menahan langkah untuk tidak terus jalan ke lain tempat, yang juga sama menariknya? Kawasan kota tua ini penuh dengan bangunan berumur ratusan tahun , seperti Old City Hall, yang terletak kurang dari 100 meter dari New City Hall. Serta Gereja St. Peter dimana pengunjung dapat menaiki 306 anak tangga tower-nya dengan bayar 1,5 euro buat melihat pertunjukan Glockenspiel. Kata sebuah blog yang saya baca, view-nya luar biasa. Juga ada Frauenkirche, Katedral Bunda Terkasih, yang terkenal dengan dua tower hijau bundarnya.

Di sekitar Altstadt banyak pub, bar dan restoran, dan bir adalah minuman yang tidak pernah ketinggalan. Bagi penikmat bir, pasti tahu Hofbraeuhaus yang terletak di Am Platz 9. Berdiri sejak 1589, inilah beer hall yang paling tua dan legendaris di antero Bavaria. Dimiliki oleh Duke Wilhems dan keluarganya secara turun temurun. Tong-tong bir dan wine telah siap di depan pintu, pelayan sudah mulai membersihkan meja-meja. Mereka tampak bersemangat dan antusias menyambut hari.

Beberapa pub umurnya sudah puluhan atau ratusan tahun. Ada plang yang menunjukkan usianya. Mereka kadang mengklaim sebagai bir nomor satu di Bavaria, padahal sebagai “ibukota bir”, Bavaria punya sekitar 40 tipe bir dengan 4000-an merk. Slogan main-main, save water by drinking more beer benar-benar berwujud di sini.

Perjalanan berlanjut ke Viktualienmarkt, masih bagian dari Altstadt, pasar makanan yang telah menjadi tradisi sejak abad ke-19. Hampir semua laman internet yang saya baca mencantumkan lokasi ini sebagai must-visit place saat di Muenchen. Penasaran saya, terbayang puluhan menu masakan lokal yang siap memanjakan lidah. Bayangan saya seperti open street food court, dimana makanan berjejer di tenda-tenda. Namun tenyata, bukan itu yang ada dihadapan saya pagi itu. Yang ada adalah aneka bahan makanan mentah seperti bumbu, bawang, sosis, daging, telur, sayur dan buah tradisional yang berasal dari daerah sekitar Bavaria. Ini sih pasar bahan makanan, bukan pasar makanan, kata saya bergumam.

Iseng saya bertanya ke salah satu penjualnya, apakah ada yang jual makanan siap santap? Bapaknya tampak heran, tapi terus bilang, kalau itu nanti. Sekarang belum buka. Datang lagi saja. Ah, sayang sekali, padahal saya sudah ngiler untuk makan di booth Schlemmermeyer yang menyajikan, katanya, sosis panggang terenak di Muenchen. Dan lalu beli kue di Die Schmalznudel buat bekal keliling kota. Lalu bapaknya bilang, orang Muenchen sejati itu, makan pertama jam 11 siang, menunya weisswurst (sosis putih), mustar manis, roti bretzel dan segelas besar bir.

Langkah saya teruskan ke River Isar, sungai kecil yang membelah kota. Memisahkan Muenchen barat dan timur. Di keheningan pagi, air sungai mengalir tenang dari utara ke selatan. Pantulan gedung tampak jelas di air sungai. Tidak ada sampah sedikit pun. Banyak pulau-pulau kecil di tengah sungai. Saya berjalan menyusuri promenade yang sepi, hanya ada beberapa orang berlari pagi atau bersepeda. Dari jembatan kecilnya, puncak-puncak runcing gereja atau bangunan tua menghiasi pinggir sungai. Begitu sendu, beda dengan hiruk pikuk Muenchen yang biasanya saat hari mulai beranjak siang. Pagi hari, inilah sisi lain Muenchen.

 

Di tepi River Isar, ada Deutsche Museum yang dapat dimasuki dengan membayar 11 euro buat dewasa dan 4 euro bagi anak-anak. Kata situsnya, ini museum terbesar di dunia untuk sains dan teknologi. Beragam koleksi dimilikinya, dari yang klasik sampai futuristik. Dari perkusi kuno sampai teknologi nano. Bagi anak-anak, tersedia koleksi permainan berbasis teknologi seperti ayunan dan katrol berat.

Lalu, tiba di Odeonplatz, di sisi utara Merienplatz. Di situ saya melihat becak! Iya becak turis kayak di Indonesia. Ada rombongan, mungkin dari Amerika, yang sedang dipandu oleh guide lokal bebahasa Inggris. Beberapa becak telah nangkring dengan drivernya yang masih muda-muda. Wah, tak beda dengan di Indonesia, becak sebagai kendaraan bebas polusi, juga dipakai dalam industri turisme. Entah apa sebutan becak dalam bahasa Jerman. Para penumpangnya diberi selimut untuk menahan angin dingin.

Di Maximillian Strasse, di dekat patung Raja Maximillian II, di tembok pagar ada tulisan well, I guess…some journeys begin when you arrive.  Entah siapa yang menulisnya. Rasanya betul juga, sebab perjalanan saya masih panjang di Bavaria ini. Sore nanti sehabis pertemuan, saya akan ke Schloss Nymphenburg, istana musim panas bangsawan Bavaria, yang usianya kini sudah 350 tahun dan tamannya yang sangat luas, yang jadi favorit untuk jogging atau bersepeda. Di sana ada kanal, yang dibangun karena obsesi sang pangeran pada Venice, Italy.

Setelah itu saya akan terus ke selatan, ke Mittenwald, sebuah kota perbatasan Jerman yang sangat terkenal dengan view kota tradisional Bavaria dengan latar salju di gunung-gunung. Lalu Innsbruck, Tyroll di Austria untuk menjejakkan kaki di puncak Pegunungan Alpen.

Dimuat di Majalah Travelounge edisi Juni 2016

Kota di Alpen

Saat akhirnya kau jejaki Puncak Alpen, apa yang ada dalam pikiranmu?

DSC_1961

Suatu senja di tepi Rhine

di tepi rhine

Tahukah teman, kadang bukan usia yang bikin kita busuk pelan-pelan. Tapi kesunyian.  Ia duduk, sendiri, memandangi Rhine yang berkilau ditempa matahari sore. Mungkinkah ia sedang merenung, mengingat banyak hal yang indah, atau tanpa berpikir, hanya menikmati cahaya?

Kotak sampah oranye itu juga kosong.

Oma Anna

Saya menulis ini untuk mengenang seorang Tante Anna.

Telah dua minggu ia tinggal di rumah kami di Bogor. Sebelumnya hampir setahun ia pulang kampung ke Tomohon dan Manado. Ada rumahnya di Bogor, hanya beberapa rumah di sebelah kanan rumah kami. Namun karena tak terurus, perlahan rumah itu hancur. Tiap kali hujan deras, atap yang bocor makin besar dan masuknya air merusak semuanya. Maka, ketika datang kembali ke Bogor, Tante Anna tinggal di rumah kami.

Suaminya telah meninggal belasan tahun lalu. Mereka tidak dianugerahi anak, mungkin karena menikah tua. Kami hanya tahu namanya, Om Frans.

Sebelum pulang Tomohon, di usianya yang kepala enam ini, ia tinggal sendiri semenjak ditinggal suaminya. Kami tahu, memang pernah ada saudaranya, keponakan, dan istri dari keponakan yang lain, tinggal di situ. Tapi selalu tak pernah lama, entah kenapa, mungkin Tante tidak cocok, atau mereka tidak cocok dengannya.

Padahal tangan kiri Tante sudah tidak maksimal berfungsi sejak ia terkena penyumbatan pembuluh darah dan diopname di Jakarta selama sekitar tiga minggu. Pergelangan tangannya bengkok ke kiri dan beberapa jarinya kaku susah digerakkan. Ia tidak bisa menggenggam lagi, atau membawa barang berat dengan tangan itu.

Bagi kami, walaupun sedikit cerewet, Tante Anna seorang yang punya tempat khusus di hati kami. Setidaknya Tante rajin mengajak kami bareng ke gereja di hari Minggu, atau ikut sembahyang lingkungan. Sering di Minggu subuh, ia sudah berdiri di gerbang, dengan tampilan jauh lebih modis dari yang muda-muda, menunggu kami keluar. Ia tidak pernah telat dalam soal janji, seringnya kecepatan setengah jam sebelumnya.

Tante juga sering mengantar masakan Manado ke rumah, walau makanan itu tak habis karena kami sudah punya makanan sendiri. Oma juga yang pernah bersemangat memberi nasihat ke Naries soal makanan sehat, soal apa yang sebaiknya dan jangan dilakukan, ketika Naries hamil walaupun ia belum pernah hamil dan nasihatnya sering berlebihan.

Ketika tiba saat Jojo lahir, kami ingat Tante tak mau kehilangan momen menunggu di rumah sakit. Dengan baju merah, ia setia di kursi tamu. Ia juga turut berteriak saat Jojo pertama kami diperlihatkan kepada kami di boks bayi.

Semenjak Jojo lahir, ia kami panggil Oma. Ia selalu menganggap Jojo cucunya, walau tak pernah berani mengungkapkannya secara berlebihan. Ia juga tak pernah minta menggendong bayi Jojo karena sadar tangannya tidak kuat. Tapi pernah Oma sangat kukuh ingin menggendong Jojo, Naries sudah takut saja. Hari itu Oma ngeyel sekali, pokoknya harus bisa menggendong. Untungnya Jojo tidak kenapa-napa, Oma tampak bahagia.

Rupanya, ia habis itu tak lama pulang ke Manado. Katanya cuma dua atau tiga bulan. Kenyataannya berbulan-bulan lewat, rumahnya pun terbengkalai karena tak terawat. Oma lebih sering menghubungi kami, daripada kami menghubungi dia. Menanyakan Jojo, atau memberi kabar kalau dia baik-baik saja, tetap ikut terapi untuk tangan kirinya, walau kami tak menanyakannya. Memberi tahu kalau ia belum bisa ke Bogor karena mesti merayakan ulang tahun ibunya di sana. Oma saja sudah tua, bagaimana ibunya. Pasti jauh lebih tua.

Setelah hampir setahun, tiba-tiba mendekat akhir November, Oma Anna datang. Tanpa memberi kabar. Rupanya ia akan hanya berkunjung sebentar, hendak menjual rumahnya dan menetap kembali di Manado. Jadilah ia tinggal di rumah kami, menjadi bagian keluarga, makan dari makanan yang sama, menonton acara TV dari TV yang sama.

Selama tinggal di rumah, Oma kadang kagok karena terbiasa tinggal di rumah sendiri. Ia masak di dapur di waktu Naries masak makanan buat Jojo. Ia bangun jam empat pagi buta, mandi, untuk mengikuti misa pagi saat semuanya masih terlelap. Ia duduk dimana Jojo sering bermain. Kadang ia bereaksi berlebihan saat melihat Jojo berlari ke luar atau memegang benda-benda.

Sejak dua hari lalu Oma kena flu, batuk. Kami kuatir ia akan menulari Jojo, maka aturan pun coba diterapkan agar Oma banyak istirahat, pakai masker dan tidak dekat Jojo. Jojo tidak peduli, ia tetap main di mana Oma duduk, kadang tetap panggil-panggil Oma..Oma.

Tadi siang, Naries bilang Oma kena sesak nafas karena minum obat batuk dan obat pusing kepala. Kami duga itu salah obat, kontra indikasi. Karena sesaknya lama, sorenya dibawa ke RS PMI Bogor oleh keponakannya. Naries tidak mengantar karena ada Jojo. Entah keponakan kandung atau bukan, karena Oma tidak pernah jelas kalau bercerita. Semua orang muda yang ke rumahnya selalu dibilang keponakannya.

Naries bilang ia merasa punya perasaan tidak enak tentang Oma.

Keponakannya selalu berkabar dengan Naries, tentang semua hal. Malam, ada kabar Oma masuk ICU. Oma gagal jantung. Bukan salah minum obat. Tak lama, ada kabar Oma sudah tidak sadar. Lalu, ada kabar keluarga telah dipanggil oleh dokter tentang kondisinya.

Ujungnya, ada kabar Oma telah berpulang, sekitar setengah 11 malam. Kami tak percaya.

Kata dokter, Oma kena gagal jantung akibat tumor paru-paru. Ia tidak pernah bilang, karena juga mungkin tidak tahu. Ia hanya tahu punya riwayat penyakit jantung, namun tak seorangpun dari kami tahu itu.

Sekarang ini kami bersedih. Barangkali bukan karena mengingat Oma memilih tinggal di rumah di hari-hari terakhirnya. Melewati hari-hari dengan duduk di ruang TV kami, dan doa hening di kamar tamu rumah kami. Bukan juga karena mengingat betapa baiknya Oma pada kami. Hal-hal itu membuat kami haru.

Tapi karena kami mengerti, betapa selama ini, Oma telah sendiri di banyak hal dalam hidupnya. Ia sendiri, tak punya anak, tak ada saudara tinggal serumah. Pernikahannya telat, namun itupun sangat singkat. Diantara banyak kecerewetan dan keluhannya selama ini, justru soal kesendiriannya itu yang tak pernah kami dengar. Ia hanya mengeluh soal tangannya, soal hujan, soal macetnya jalanan di Bogor.

Sakit pun ia sendiri. Sampai akhir hayatnya, tak seorang pun tahu ada tumor dalam paru-parunya yang membuatnya terkena gagal jantung. Ia juga tidak ditunggui siapa-siapa dalam meninggalnya. Bahkan mungkin karena begitu mendadak, keluarganya di Manado tak tahu perkembangannya.

Saya tidak tahu bagaimana proses Oma meninggal. Tapi ia meninggal tidak sadar, ia pasti tidak merasakan sakit. Saya juga tidak mau berandai-andai bahwa karena Oma orang baik ia sekilas seperti tersenyum saat meninggal.

Yang saya tahu, Oma Anna akan dikremasi seperti suaminya dulu. Oma tidak akan dikalungi salib dan dikubur dengan peti. Oma sudah pergi dari dunia yang kami tempati ini. Kami tidak pernah bisa tahu bagaimana perjalanannya di dunia yang lain itu.

Kami hanya berharap ada belas kasih kepadanya dari Allah Bapa – yang ia percayai dengan sepenuh jiwa raganya – kepada Oma yang punya hati tulus, seorang nenek yang tangannya gemetar saat membuat tanda salib. Yang dengan memaksa, setahun lalu diantara tatapan kuatir Naries, telah berhasil menggendong Jojo dengan tangan gemetar dan tak sempurna.

Mata saya berkaca-kaca saat menulis ini.

Selamat jalan Oma Anna. Selamat berbahagia.

Bonn. 05.12.2015